<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296</id><updated>2012-01-10T02:06:31.886-08:00</updated><title type='text'>Carilah Diri Sejati</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>163</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-9120136871687898145</id><published>2008-12-31T03:56:00.000-08:00</published><updated>2009-04-21T06:23:35.335-07:00</updated><title type='text'>Syariat Dalam Perspektif Makrifat Jawa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Syariat Dalam Perspektif Makrifat Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi tasawuf jawa Al Qur’an terbagi atas dua macam pertama qur’an garing (kitab garing) dan kitab teles (kitab basah). Kitab garing adalah kitab al Qur’an yang tertulis sebagai petunjuk dalam memahami ayat-ayat Tuhan. Kitab basah adalah al Qur’an yang terdapat didalam hati. Kedudukan kitab basah derajatnya lebih tinggi, juga kedudukanya karena ia menyangkut ayat-ayat semesta, dan sebagai sumber untuk memahami makna kehidupan. Posisinya atas kitab basah, kitab kering berfungsi sebagai lampu penerang, agar kitab basah dapat berfungsi dengan baik dan tidak berjalan dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab suci yang kering, hanyalah sebagai tanah kosong yang perlu di cangkul, dipupuk dan ditanami. Untuk itulah diperlukan kitab suci basah, atau yang terdapat dalam diri manusia. Kitab suci sebagai formaslisme syariat yang harus menemukan benih yang tepat, yakni hati yang bersih, dan penanam yang tepat pula. Itulah sang salik, yang hatinya bersih, dan segenap jiwanya diarahkan kepada Allah. Hal ini menjadi salah satu berimbangan antara syariat dan makrifat. Berikut penulis petikkan dari serat nitisruti pupuh dhandhanggula bait 11~14 karya sunan kajenar yang terjemahanya sebagi berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“” Maksud ajaran yang permulaan mengenai kududukan uluma, bilamana sudah benar sesuai penempatanya, jujurnya perasaan didalam hati tiada tabir, karena sudah waspada kedudukanya yang di sembah dan yang menyembah, menjadi biasa dalam keberadaan sejati, menjadi mulia yang sebenarnya, selarasnya yang demikian itu sebenarnya, tidak terbuka dalam hati manusia, yang tanpa pengetahuan, dan yang masih bodoh, sungguh bodoh pemikiranya, oleh karena itu haruslah, hati terus berusaha, mengambil teladan guru, kepada para ulama yang mahir, sebagai kemuliaan sejati. Maksud rasa hati yang sudah sampai pada kebenaran, kotoran diri sudah sirna, mencegah segala yang tidak baik, bagaikan tubuh yang cantik, yang demikian itu bilamana, sudah sampai luar dalam, akhirnya selaras bersih tak bercampur, dalam dalam suasana yang indah yang di sebut benar-benar sirna sifat manusiawinya. Jelas sekali sebenarnya yang demikian itu sudah tak ada gusti dan hamba, karena sudah sirna rasanya, sedangkan yang tidak tau ,pengetahuan yang diuraikan, tak dapat diceritakan bagaimana cara hidupnya, sudah penuh bisa, hanya kedurjanaan yang dilakukan, lain halnya bagi yang sudah kokoh budinya...””&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuh diatas sangat mewakili ajaran mistik dan makrifat islam jawa. Terutama yang di sebarkan oleh sunan kajenar dan sunan kaliajaga. Mistik makrifat yang secara mudahnya berarti “inisiasi” adalah praktek kontak spiritual langsung dengan Tuhan melalui kontemplasi atau pengalaman psikologis. Oleh karenanya rahasia dan rasanya hanya dapat dirasakan oleh pelakunya saja, dan masing-masing pelaku ( salik ) akan selalu memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Namun secara jelas dan tegas dapat dinyatakan bahwa tanpa laku, tanpa penghayatan langsung dan nyata, maka keadaan yang sesungguhnya dari pengalaman keagamaan, rasa agama (al-halawat al-iman), atau apa pun namanya dari buah lelaku tersebut niscaya tidak dapat dirasakan dan tidak bisa diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula pengetahuan keagamaan sedalam apapun tidaklah bisa disebut sebagai makrifat. Mendalamnya ilmu syariat juga belum bisa tentu sanggup mengantarkan pemilikannya sampai pada kemakrifatan. Mungkin mereka mengetahui tentang Tuhan. Ia tahu segala sifat-sifatnya melalui buku dan guru. Karena mereka tahu tapi tidak pernah kontak, maka hasilnya juga menjadi kurang benar. Maka dalam makrifat di butuhkan lelaku. Dalam bahasa sufi, makrifat merupakan buah dari perjalanan, suluk, seorang hamba kepada Tuhannya. Dari proses perjalanan itulah maka akan tercapai makrifatullah. Dan di ketahui secara jelas apa itu sangkan paraning dumadi( inna lillahi wa inna ilaihi raji’un).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini syariat bukanlah sekedar aturan-aturan formal keagamaan, yakni yang sering hanya dibatasi sebagai fiqih. Sekarng ini kata-kata “syariat islam” telah direduksi oleh para agamawan hanya sebatas fiqih, aturan formal keagamaan yang dibakukan dalam berbagai karya hukum keagamaan oleh manusia. Fiqih sebenarnya hanyalah produk perjalanan ulama dalam sejarah islam, bukan syariat itu sendiri. Sedangkan syariat dalam tataran makrifat adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cara untuk menempuh laku syariat itu di sebut sebagai terekat, yang tentu terkait dengan masing-masing tempat, zaman, tradisi dan budaya yang berbeda.praksisme keagamaan inilah yang pernah diusung oleh parah tokoh sufi jawa pada abad ke 15 yang lalu.dalam hal ini bahwa syariat baru menjadi berarti setelah dilalui melalui proses tirakat atau lelakon. Dalam melakukan hal tersebut, maka yang pertama kali harus diperhatikan adalah upaya untuk melongok kedalam diri sendiri atau introspeksi. dalam hal inilah diperlukan adanya laku untuk mengendalikan hawa nafsu. Tahapan utama untuk ini adalah khalwat, tahannuts atau meditasi (menempuh laku heneng dan hening). Jika prose ini berhasil maka akan mengantarkan pelakunya untuk mendapatkan apa yang ia sebut sebagai inspirasi spiritual dan sebagainya. Dari ilham yang di peroleh maka akan melahirkan berbagai pengetahuan baru dan perilaku-perilaku yang berasas pada keluhuran budi sebagai buah ber-musyahadah (menyaksikan dan berkontak langsung dengan Allah), Atau buah iman. Dengan demikian maka kita berjalan menuju kepada –nya, kita menyatu dengan-nya, dan kita telah membangun sikap hidup yang berdasarkan kehendak Tuhan itu sendiri......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistimatika makrifat jawa persoalan sholat mendapatkan perhatian cukup penting. Dalam hal ini, yang cukup signifikan untuk dibahas pada tempat ini adalah yang berkaitan dengan tiga hal pokok, yang sering mendatangkan kontraversi, yakni tentang sholat tarek, sholat daim, dan tentunya, terkait dengan hal tersebut adalah tentang adanya sholat. Dalam qur’an sholat dikategorikanmenjadi dua seperti firman Allah SWT: “Peliharalah semua sholatmu dan sholat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam sholat) yang khusyu’ “ ( QS. AL-Bagarah/2:238).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem islam jawa makna sholatmu” dalam ayat tersebut mengacu pada sholat syariat atau lahir, dan sholat wustha pada sholat hati. Secara lahir sholat dilakukan dengan berdiri, membaca al-fatihah, sujud, duduk dan sebagainya, yang melibatkan keseluruhan anggota badan. Inilah sholat jasmani dan fisikal karena semua gerakan badan berlaku dalam semua sholat, maka dalam ayat tersebut disebut shalawati (segala shalat), yang berarti jamak. Dan ini menjadi bagian pertama, yakni bagian lahiriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua adalah shalat wustha. Yang di maksud secara sufistik adalah shalat hati. Wustha dapat diartikan pertengahan atau tengah-tengah. Karena hati terletak di tengah ,yakni di tengah”diri”, maka dikatakan shalat wustha sebagai shalat hati. Tujuan sholat ini adalah untuk mencapai kedamaian dan ketentraman hati. Hati terletak di tengah-tengah, antara kanan dan kiri, antara depan dan belakang, antara bawah dan atas, dan antara baik dan jahat. Hati menjadi titik tengah, poin pertimbangan. Hati juga di ibaratkan berada diantara dua jari Allah, dimana Allah membolak-balikkan kemana saja yang ia kehendaki. Maksud dari dua jari Allah adalah dua sifat Allah, yaitu sifat yang Maha Menghukum dan Mengazab dengan sifat yang indah, yang kasih sayang, yang lemah lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat dan ibadah yang sebenarnya adalah shalat serta ibadahnya hati, kondisi khusyu’ menghadapi kehidupan. Bila hati lalai dan tidak khusyu’, maka jasmaniahnya akan berantakan. Sehingga kalau ini terjadi kedamaian yang didambakan akan hancur pula. Apalagi sholat jasmani hanya bisa dicapai dengan hati yang khusyu’. Kalau hati tidak khusyu’, serta tidak dapat konsentrasi pada arah yang dituju dari shalat, maka hal itu tidak bisa disebut shalat. Juga tidak akan dipahami apa yang diucapkan, dan tentu apapun yang di lakukan dengan bacaan dan gerakanya tidak akan mengantarkan sampai kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urgensi kekhusukan itu berhubungan dengan inti shalat sebagai doa. Doa atau munajat, bukan sekedar permintaan hamba kepada Allah, akan tetapi berarti juga sebagai arena pertemuan. Dan tempat pertemuan itu adalah di dalam hati. Maka jika hati tertutup di dalam shalat, tidak perduli akan makna rohani sholat, shalat yang di lakukan tersebut tidak akan memberikan manfaat apapun. Sebab semua yang di lakukan jasmaninya sangat tergantung kepada hati sebagai zat untuk badan. Ingatlah sabda Rasulullah :” ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada sekeping daging, apabila daging itu baik, baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia rusak, rusak pulalah semua tubuh itu. Daging itu adalah hati...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhusukan hati akan membawa shalat yang menghasilkan kesehatan hati. Shalat khusuk akan menjadi obat bagi hati yang rusak dan jahat serta berpenyakit. Maka shalat yang baik haruslah dengan hati yang sehat dan baik pula, bukan dengan hati yang rusak,yakni hati yang tidak dapat hadir kepada Allah. Jika shalat dari sisi jasmaniah-fisik memiliki keterbatasan dalam semua hal: tempa, waktu, kesucian badan, pakaian dan sebagainya, maka shalat dari segi rohaniah tidak terbatas dan tidak dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Shalat secara rohaniah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Shalat ini selalul dilakukan terus-menerus sejak di dunia hingga akhirat. Masjid untuk rohani ada didalam hati. Jamaahnya terdiri dari anggota-anggota batin atau daya-daya rohaniah yang berzikir dan membaca al-asma’ al-husna dalam bahasa rohaniah. Imamnya dalam shalat rohani adalah kemauan atau keinginan yang kuat. Dan kiblatnya adalah Allah. Inilah shalat daim yang di ajarkan oleh guru saya yang memperoleh ajaran ini dari para orang bijak seperti sunan kajenar dan sunan kalijaga dan sebagainya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, shalat yang demikian itu hanya dapat dilakukan oleh hati yang ikhlas, hati yang tidak tidur dan tidak mati. Hati dan jiwa seperti itu kekal dan selalu beribadah atau shalat ketika jasmaninya sedang tidur. Inilah tahapan orang-orang yang sudah mencapai makrifatullah, tempat penyucian tertinggi. Di tempat itu ia ada tanpa dirinya, karena dirinya telah fana’ telah hilang lenyap. Ingatanya yang teguh dan suci tercurah hanya kepada Allah. pada tingkatan ini tidak ada lagi bacaan di mulut, tidak ada lagi gerakan berdiri, sujud, rukuk dan sebagainya. Dia telah telah berbincang-bincang dengan Allah.sebagaimana firman Allah:” Hanya engkau yang kami sembah, dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah/1:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friman tersebut menunjukkan betapa tingginya kesadaran insan kamil, yakni mereka yang telah mengalami beberapa tingkata alam rasa dan pengalaman rohani sehingga tenggelam dalam lautan tauhid atau keesaan Allah dan berpadu denganya. Nikmat yang mereka rasakan saat itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya orang yang mengalaminya yang dapat mengartikan kenikmatan tersebut. Namun, mereka pun sering tidak mau mengungkapkannya, tidak ingin membocorkan rahasia ketuhanan yang tersimpan di dalam lubuk hatinya oleh Allah. hal tersebut sama halnya dengan hakikat takbir, yang bukan semat-mata ucapan ‘Allahu akbar”. Takbir merupakan pengucapan yang lahir dari firman Allah untuk memuji kebesaran Dzatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi takbir sebenarnya merupakan suara Tuhan yang meminjam mulut hambanya. Bukan hasil dari dorongan emisional. Karenannya. Takbir sejati adalah menyatakan kebesaran Allah dari af’al Allah sendiri. Takbir sejati merupakan penghayatan diri terhadap sifat Allah. dan takbir sejati adalah penyebutan namanya yang lahir dari kehendak-Nya semata. Dengan takbir yang demikian itu, maka yang lain menjadi sangat kecil, dan menjadi tidak ada. Yang ada hanya Allah. kemanapun kita menghadap yang ada hanya wajah Allah. maka setelah berpadu ibadah lahir dan batin secara harmonis, Roh dan Hati seperti yang tergambar itu. Membawanya msuk kehadirat Allah, hatinya berpadu mesra dengan Allah. dalam alam nyata ia menjadi hamba yang alim dan wara’. Dalam alam rohani ia menjadi hamba yang ma’rifah yang telah sampai pada tingkatan kesempurnaan mengenal Allah. inilah makna bahwa shalat yang dilaksanakan mencegah perilaku keji dan moral. Sebaliknya menghasilkan kehalusan dan kemuliaan budi dan perilaku. Jika shalat telah dihilangkan makna hakikatnya, hanya menjadi sekedar pelaksanaan hukum fiqih sebagaimana tampak pada kebanyakan manusia dewasa ini. Sholat yang tidak tau makna hakikatnya mendapat kritik tajam dari sunan kajenar sebagai berikut: ” syahadat, shalat, puasa semua tanpa makna termasuk zakat dan haji ke mekkah itu semua telah menjadi palsu tidak bisa di jadikan panutan hanya menghasilkan kerusakan bumi membohongi makhluk lain, hanya ingin surga kelak orang bodoh mengikuti para wali sementara kenyataanya sama saja belum mencapai tahapan hening”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan kajenar mengkritik pelaksanaan hukum fiqih pada masa kerajaan demak. Karena ibadah-ibadah formal tersebut telah kehilangan makna dan tujuan, kehilangan arti dan hikmah kehidupan. Hal itu menjadikan semua ajaran agama yang diajarkan para ulama ketika itu menjadi kebohongan yang menina bobokkan publik dengan hanya menginginkan surga kelak, yang belum ada kenyataanya. Oleh karenannya. Para tokoh sufi jawa dan para sufi lainya yang sudah benar-benar mencapai tahapan ma’rifah mengajarkan shalat yang fungsional. Berbeda dengan para ulama yang hanya mengandalkan hukum fiqih semata. Shalat tarek sebagai bentuk ketaatan syariat, dan shalat daim sebagai shalat yang tertanam dalam jiwa, dan mewarnai seluruh budi pekerti kehidupan. Seseorang yang melaksanakan pekerjaan profesioanalnya secara benar, disiplin, ikhlas, dan karena melaksanakan fungsi lillahi ta’ala, maka orang tersebut telah melaksanakan shalat. Itulah bagian dari shalat daim. Sunan kalijaga pun memiliki wejangan shalat daim sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terjemahannya “””” wahai anak cucuku, setiap engkau menyelesaikan shalat lima waktu, segeralah mendirikan shalat daim, shalat kekal, shalat wustha. Mensucikan diri tanpa air melainkan dengan bacaan istighfar yang senilai suci. Caranya tanpa rukuk dan sujud, melainkan dengan serba merasa diri menghadap, mengabdi kepada Tuhan yang maha suci dikala engkau sedang diam, bergerak dan bekerja apa saja. Syaratnya hanya satu: niat menghambakan diri secara sempurna kepada Allah, dengan memberikan kebajikan kepada orang lain. Itulah wahai anak cucuku, jalan mencapai saat kematian sejati, memperoleh akhir hidup yang sempurna dikaruniai rahmat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi shalat daim tidak terbatas oleh waktu, keadaan atau batasan-batasanyang lain. Dalam sulik linglung sunan kalijaga menegaskan bahwa shalat daim dilaksanakan tanpa menggunakan air wudhu untuk menghilangkan najis dan hadas, shalat daim merupakan shalat batin yang sebenarnya. Shalat yang seseorang di dalamnya boleh dengan makan, tidur, bersenggama, maupun buang kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Bonang pun memiliki ajaran shalat daim sebagai berikut: “” Unggulnya diri itu mengetahui hakikat shalat, sembah dan pujian. Shalat yang sebenarnya bukan mengerjakan shalat isa atau maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila di sebut shalat, maka itu hanyalah hiasan dari shalat daim. Hanyalah tata krama.””&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelaslah bahwa shalat lima waktu yang hanya di lakukan berdasarkan ukuran formalitas, hanya sebentuk tata krama, aturan keberagaman. Sementara shalat daim merupakan shalat yang sebenarnya, yakni kesadaran total akan kehadiran dan keberadaan Yang Maha Agung di dalam diri-nya, dan dia merasakan dirinya sirna. Sehingga semua tingkah lakunya merupakan shalat. Wudhu, membuang air besar, makan dan sebagainya adalah tindakan sembahnya. Inilah hakikat dari niat sejati dan pujian yang tiada putus. Ya, shalat yang mampu membawa pelakunya untuk tidak menebar kekejian dan kemungkaran. Mampu menghadirkan ramatan lil ‘alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sukuk wujil Sunan Bonang pun memberikan penjelasan tentang makna shalat.&lt;br /&gt;“”Janganlah menyembah wahai engkau wujil, jika tidak kelihatan nyata. Sembah dan pujian tidak ada gunannya. Bila yang disembah itu jelas ada dihadapanmu, (maka engkau) mengerti adamu sebagai Yang Maha Agung, adamu sendiri tidak ada. Itulah yang dinamakan daim pada orang yang memuji, menjadi nyata kehendak purba.””&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang melaksanakan sembahyang, akan tetapi tidak bisa mengarahkan ibadahnya tersebut kepada pengetahuan akan Tuhan, dalam ajaran suluk islam jawa dianggap sia-sia. Demikian pula jika shalat hanya dimaksudkan untuk sekedar mendapatkan pahala, maka hal tersebut sia-sia. Orang yang menyembah harus mengetahui benar siapa yang disembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suluk wujil Sunan Bonang berkata:&lt;br /&gt;“” Manakah yang disebut shalat yang sesungguhnya itu? Janganlah menyembah bila tidak tahu siapa yang disembah. Akibatnya akan direndahkan martabat hidupmu. Apabila engkau tidak mengetahui siapa yang disembah di dunia ini, engkau seperti menyumpit burung. Pelurunya ditebar tak ada satupun yang mengenai burung sasaranya. Akhirnya, Cuma menyembah adam sarfin, penyembahnya menjadi sia-sia tidak ada gunanya.””&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam serat Wedhatama di sebutkan bahwa shalat merupakan sembah raga, yang pelakunya baru disebut magang, agar ia dapat menjalankan penyembahan pada kualitas yang lebih tinggi. Dalam tasawufnya di sebut sebagai riyadhah( latihan ). Adapun tujuan dari sembah raga adalah untuk memperoleh kondisi badan yang lebih sehat dan segar. Agar shalat daim/Dzikr yang dilaksanakan dapat mencapai sasaran yang optimal, maka pelaksanaanya harus dengan sepenuh hati dan pikiran, serta semua daya hanya ditujukan kepad Allah. hal tersebut dinyatakan salam suluk supanalaya, bahwa dzikr harus dengan amuntu hakikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni dengan mengheningkan cipta dan merenungkan hakikat Tuhan disertai dengan hati yang penuh dengan kerinduan atau hidayat Tuhan. Jika kinerja tersebut terdapat penyertaan dari Allah yang berupa diberikanya rahmat serta hidayahnya, maka dipastikan orang tersebut akan bisa manunggal dengan Allah. apa yang diciptakan terjadi, dan yang dikehendaki terlaksana. Selemat merenungkan galilah wawasan dari mana saja datangnya untuk pengetahuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Seperti telah banyak disinggung-singgung sebelumnya, bahwa di dunia ini GUSTI ALLAH menciptakannya secara berpasang-pasangan. Ada siang-ada malam, Ada baik-ada buruk, Ada besar-ada kecil. Demikian pula Gusti Allah menciptakan Kitab ajaran bagi manusia itu berpasangan. Ada Kitab secara agama, seperti Al Qur'an, Injil, Taurat, Zabur dan lain-lain yang disebut 'kitab kering'. Selain itu, GUSTI ALLAH juga menciptakan kitab yang disebut 'kitab teles (kitab basah)'. Apakah kitab basah itu? Kitab 'basah' itu adalah semua ciptaan GUSTI ALLAH di muka bumi ini.&lt;br /&gt;Kitab 'kering' dan 'basah' itu sama-sama merupakan petunjuk dari GUSTI ALLAH pada semua umat manusia yang ada di dunia ini. Jadi, selain mengaji pada 'kitab kering', kita juga harus mengaji pada 'kitab basah'. GUSTI ALLAH dalam sebuah surat di Al Qur'an berfirman yang kurang lebihnya berbunyi "Berjalan-jalanlah kamu dimuka bumi, maka kamu akan mengetahui kekuasaanKU bagi orang-orang yang berpikir".Dari arti ayat Al Qur'an tersebut yang perlu diperhatikan adalah kata-kata 'berjalan-jalan di muka bumi' dan 'bagi orang-orang yang berpikir'. Apakah maksud kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu bermaksud bahwa semua yang ada di muka bumi ini, apakah itu hewan, tumbuhan, gunung, sungai, awan, langit, dan masih banyak lagi adalah merupakan kekuasaan GUSTI ALLAH. Demikian pula dengan manusia. GUSTI ALLAH menyempurnakan kehidupan manusia sebagai makhluk paling mulia di muka bumi. Sedangkan kata-kata 'bagi orang-orang yang berpikir', merupakan sindiran dari GUSTI ALLAH kepada kita manusia. Artinya, apakah kita termasuk orang-orang yang berpikir dan menggunakan otak kita untuk memahami kekuasaan GUSTI ALLAH atau tidak. Atau malah pikiran kita yang buta dan termasuk orang yang tidak berpikir tentang kekuasaan GUSTI ALLAH. Sebagai makhluk mulia, seharusnya kita yang dibekali dengan pikiran dan akal sehat harusnya menggunakan pikiran dan akal sehat itu untuk meneliti, mempelajari, setelah itu, memuji kehebatan ciptaan GUSTI ALLAH, selanjutnya adalah Manembah (menyembah) GUSTI ALLAH dengan penuh keyakinan. Coba Anda perhatikan, Dalam surat Al Qur'an juga disebutkan bahwa dalam penciptaan Siti Hawa, GUSTI ALLAH mengambil salah satu tulang rusuk Nabi Adam. Apa buktinya? Ternyata kita bisa membuktikannya lewat hasil rongent antara seorang laki-laki dan perempuan. Tulang rusuk laki-laki jumlahnya 9, sedangkan tulang rusuk perempuan berjumlah 10. Bukankah itu tanda-tanda yang cukup jelas bagi orang-orang yang berpikir? Coba Anda pelajari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itu daunnya berwarna hijau ketika masih muda, lalu mulai berubah hijau kekuningan, dan berlanjut menjadi kuning kemudian rontok. Apa yang bisa kita pelajari dari situ? Ternyata kita manusia ini juga mengalami proses hidup layaknya tumbuh-tumbuhan, dari muda (hijau), remaja dan dewasa (hijau kekuningan) dan masa tua (kuning), kemudian mati (rontok). Dari berbagai contoh di atas, setidaknya menjadi pertimbangan bagi Anda semua. Bahkan yang dipikirkan di dunia ini tidak melulu hanya harta dunia yang tidak kekal saja. Tetapi juga memikirkan ciptaan GUSTI ALLAH. Coba Anda lebih banyak memikirkan makhluk-makhluk ciptaan GUSTI ALLAH yang ada di muka bumi. Pasti! Anda akan menjadi lebih dekat dengan sang Pencipta. Tidak ada Tuhan selain GUSTI ALLAH semata.&lt;/p&gt;jack kalijaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-9120136871687898145?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/9120136871687898145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=9120136871687898145' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/9120136871687898145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/9120136871687898145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/12/syariat-dalam-perspektif-makrifat-jawa.html' title='Syariat Dalam Perspektif Makrifat Jawa'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-241203278489084368</id><published>2008-12-31T03:55:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T21:25:04.531-08:00</updated><title type='text'>Mencapai Hidup Sejati Menurut Tasawuf Jawa</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Mencapai Hidup Sejati Menurut Tasawuf Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ajaran Sunan kajenar, tanda kehidupan itu adalah berdasarkan dalil hidup tidak akan mempan kematian, abadi selama-lamanya. Maka kehidupan sesungguhnya dapat di capai apabila sudah mampu menyatukan diri bersama Dzat Allah. Atas dasar itulah ia mengatakan bahwa alam didunia ini disebut alam kematian, bukan kehidupan. Ia berkata,”itulah sebabnya didunia yang saya tempati sekarang ini saya namai alam kubur. Di dunia ini saya menemukan raga bersifat jasad, sesuai dengan dalil al-‘alamu kullu maujudin yang artinya dalam tia-tiap alam, manusia menemukan raga bangkai. Maka sekarangpun sudah nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup saya di dunia ini menemukan wujud jisim,tiang, sumsum, otot, serta daging. Saya tersesat di dalam dunia kematian ini. Di sini saya berjumpa dengan penyesatan agung, goda rencana, iblis, setan, dan neraka yang banyak sekali jumlahnya. Di dunia ini pula jisim terbelenggu rantai dan air panas.saya sungguh menyesal dalam keadaan mati di dunia ini. Menggunakan panca indra yang bersifat baru, perut dan isi perut selalu minta diisi . haus dan lapar sudah saya derita, sakit dan sedih sudah saya alami, darah dan daging turut menumpang, padahal semua itu akhirnya menjadi debu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya denga Sunan kajenar, wali songo juga mengajarkan bahwa hidup sejati hanya bisa diraih jika sudah meniadakan kedirianya sebagai manusia yang menyatukan diri dengan Dzat tuhan yang abadi selamanya. Caranya adalah dengan tanazul dan taraqi, yakni memahami dan mempraktikan ajaran martabat tujuh secara menurun dan mendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tanazul(menurun)&lt;br /&gt; 1.Dzat Tuhan yang tidak bernama, karena tidak ada satu nama pun yang mampu mewakili keberadaanya. Maka ia di sebut Aku. Inilah tuhan sejati, hidup sejati, sebagaimana diidam-idamkan oleh syekh siti jenar. Inilah martabat ahadiyah dalam tataran martabat tujuh. Tuhan sejati atau Aku ini berdiri sendiri tiada berawal dan berakhir, serta maha esa. Dia sendiri dan ingin di kenal, namun tidak ada yang dapat mengenalnya karena tidak ada yang lain selain dirinya. Dia berkeinginan menciptakan makhluk agar makhluk tersebut mengenal-nya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menciptakan suatu makhluk dengan bahan dirinya, karena tidak ada bahan lain. Jadi makhluk yanga akan dia ciptakan itu berasal dari dirinya sendiri, atau dengan kata lain makhluk itu bukan barang baru namun hanya penampakan lain dari rupa diri tuhan.sebagaimana dijelaskan ibnu arabi awal penciptaan dimulai dengan iradah dari Allah Ta’ala.sebagaimana firmanya idza araada syai’an an yaqulalahu kun fayakun(jika dia telah berkehendak terhadap sesuatu, cukup dia mengatakan jadi’maka jadilah ia) segala sesuatu di alam semesta ini menjadi ada karena irodat atau kehendak Tuhan. Sunan kajenar lalu menolak mengatakan manusia dan alam semesta ini sebagai ciptaan. Namun mereka ada karena menemukan keadaan . ibarat ombak yang menemukan keadaanya dari samudra. Ombak pada dasarnya tidak ada , namun merupakan bagian dari samudra tersebut.demikian konsep penciptaan menurut Sunan kajenar dan pada akhirnya diyakini oleh Wali songo dan para sufi lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampakan Tuhan ini berjalan secara menurun dan penurunan yang pertama adalah sebagai nur muhammad. orang islam menyebutnya sebagai Allah. Atas dasar ini sunan kajenar menolak menyebut Allah sebagai tuhan sejati. Allah hanyalah nama untuk menyebut diri tuhan. Padahal sejatinya dia tidak bisa di jangkau dengan nama.menurutnya, menyebut nama Allah adalah suatu kebohongan , kedurjanaan dalam beragama. Allah ada karena. Ini hanyalah nama untuk mempermudah pengenalan terhadapnya saja, tidak mewakili tuhan sesungguhnya. Nur muhammad /Allah tiada beda, setidaknya demikian menurut sunan kajenar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2.Penampakan tuhan kedua dengan nama Allah ini ini sudah mengurangi kesempurnaan diri-nya. Sekali lagi sunan kajenar dan murid-muridnya enggan menyembah Allah. Dia mengatakan bahwa Allah bersemayam dalam Dzatnya. Mereka engan untuk sholat di masjid, puasa, zakat, serta haji dengan harapan surga sebagaimana yanga di janjikan Allah melaui Nabi “Muhammad.&lt;br /&gt;Penurunan ini bukan berarti bahwa tuhan ada dua .tetap satu. Dia hanya menampakkan diri dalam kualitas menurun agar lebih mudah di kenal. Dzat Tuhan terlalu suci untuk dikenal, dan nama Allah merupakan jembatan atau jalan tengah agar dia dapat lebih mudah dikenal. Tahapan ini biasa disebut dengan Martabat Wahdah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3.Rupanya, dengan penurunan diri dengan nama Allah ini pun masih belum cukup dikenal secara mudah. Maka Tuhan menurunkan diri lagi menjadi bersifat kemakhlukan, yakni Nur Muhammad yang tidak lagi bernama Allah. Nur Muhammad pada tahapan ini bersifat mendua, yakni selalu berpasang-pasangan sebagai cikal bakal penciptaan alam semesta. Tahapan ini biasa di sebut Martabat Wahidiyat. Bahan penciptaan alam semesta berasal dari Nur Muhammad pada martabat ini. Semuanya terkumpul menjadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 4. Dari Nur Muhammad yang telah bersifat kemakhlukan ini, terurai menjadi bagian-bagian halus yang belum nampak. Itulah roh-roh atau alam arwah. Roh merupakan sumber kehidupan bagi tiap-tiap benda. Roh ini berasal langsung dari Tuhan, ibarat diembuskan dari dirinya. Kehidupan syarat mutlak bagi makhluk untuk dapat mengenal Tuhan, maka dia menjadikan roh-roh ini sebagai sumber kehidupan. Hidup makhluk ini berasal dari roh-roh ini . atas dasar ini pulalah sunan kajenar mengatakan bahwa kehidupan makhluk ini hanyha semu saja karena berasal dari sumber yang kecil, Kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5. Sumber kehidupan berupa roh ini tidak akan mampu mewakili keinginan Tuhan jika tidak disertai sarana atau wadah. Untuk itu, Tuhan menjadikan wadah bagi kehidupan tersebut. Nur Muhammad yang bersifat makhluk itu terurai menjadi bagian-bagian terpisah yang masih halus. Inilah alam misal. Di dalamnya terkumpul berbagai jenis makhluk, seperti Malaikat, jin, setan, iblis, jiwa manusia , surga, neraka, dan sebagainya. Dalam Alam misal ini manusia sudah ada namun masih berbbbbbentuk jiwa. Ia belum memiliki raga. Selanjutnya Tuhan menampakkan Dzatnya sebagai wadah perbuatan, nama, dan sifatnya, sehingga muncullah alam ajsam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 6. Pada alam ajsam ini, Tuhan menampakkan diri secara menyeluruh. Raga adalah perwujudan rupa dirinya. Perbuatan, nama dan sifat alam semesta adalah wajahnya. Semua itu terbungkus dalam sifat kemakhlukan yang serba mendua, ada hitam dan putih, ada baik dan buruk, ada senang ada sedih. Jadi, hidup sebagai makhluk selalu diliputi sifat ketidak sempurnaan. Lain halnya Dzat Tuhan yang mandiri, langgeng, tunggal, tidak tersentuh rasa lapar, ngantuk, sakit dan sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 7. Setelah mengetahui hakikat diri secara menurun ini, maka tahulah bahwa alam semesta ini pada hakikatnya adalah gambaran rupa Tuhan. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, karena dibekali kemampuan untuk mendaki dan menyatu dengan Dzat maulana wajibul wujud hingga menjadikan dirinya sebagai wakil tuhan di dunia. Inilah manusia sempurna, manusia yang telah sampai pada hakikat dirinaya, yakni Dzat yang sempurna. Hidup Sejati sebagaimana yang di ajarkan oleh Wali Songo dan sunan kajenar akhirnya bermuara pada penyatuan kepada DZAT yang sejatinya.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                         2.Taraqi(mendaki)&lt;br /&gt; 1. Kehidupan yang di lihat orang-orang ini adalah kehidupan paling luar, fisik semata. padahal fisik atau jasmani ini adalah hijab atau penghalang Tuhan yang paling luar. Kebanyakan orang tertipu oleh penampakan jasmani ini. Manusia yang hidupnya hanya beroientasi pada fisik semata, ia tidak lebih seperti bangkai. Fisik manusia tidak ada bedanya dengan fisik hewan, tumbuhan, dan benda-benda bumi lainya. Semuanya berasal dari unsur tanah, air, api, udara, kenyataanya hampir semua orang saat ini lebih disibukkan dengan urusan fisik ini. Menjadikan fisik ini sebagai tolak ukur dalam hidupnya. Banyak sekali contoh yang bisa di lihat dalam kehidupan sehari-hari kita. Maka lengkaplah kebanyakan manusia lebih disibukkan dengan urusan-urusan fisik semata sehingga semakin tebal dinding untuk dapa melihat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Manusia adalah makhluk yang berjiwa ia di beri anugerah akal untuk dapat berpikir. Inilah yang membedakan derajat manusia dengan makhluk yang lain. Manusia juga di beri anugerah hati agar dapat merasakan. Manusia yang telah mampu mengaktifkan akal dan hatinya berarti ia telah selangkah lebih maju di bandingkan manusia yang sekedar mengandalkan kelebihan fisik semata. Ia telah mampu menggunakan akal dan hatinya namun Tuhan memberikan akal dan hati inipun rupanya bertingkat-tingkat. Kerja akal manusia yang paling bawah adalah ‘aql atau akal, sebagaimana di sebutkan dalam alqur’anafalaa ta’qilun. Kerja akal ini adalah memikirkan segala sesuatu yang bersifat kealaman. Dengan menggunakan akal ini akan ditemukan kebenaran dan kesalahan serta kebaikan dan keburukan, dalam perspektif duniawi. Demikian pula dengan kerja hati ia juga memiliki beberapa tingkatan, yang terendah adalah qalb atau hati yang selalu berbolak-balik, kadang baik kadang buruk. Manusia yang hanya menggunakan kerja ‘aql dan qalb ini cenderung akan serakah pada dunia. Ia akan rakus mencari uang. Kalaupun berbuat baik, lebih sering hal tersebut di sertai dengan pamrih lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Inilah hijab Tuhan yang lebih tipis dibandingkan dengan fisik. Setidaknya manusia yang sudah bisa mengendalikan kerja akal dan hati yang pertama ini akan lebih mudah mengenal tuhan daripada mereka yang masih terkungkung pada diri yang hanya berorientasu pada fisik semata. Lebih tinggi lagi, sebagian manusia yang sudah bisa mengaktifkan kerja akal kedua, yakni Fikr sebagaimana firman Allah ta’ala: afala tatafakkaruun. Dengan fikr ini manusia sudah mampu menjangkau hal-hal yang tidak tampak di dunia ini namun nyata kebenarannya seperti”: surga, neraka, malaikat, setanh, pahala, dosa dan sebagainya. Agana Islam diturunkan dengan membawa kabar gembira tentang adanya surga beserta kenikmatanya yang ada didalamnya. Juga membawa peringatan kepada manusia tentang adanya siksa yang pedih di akhirat kelak. Kebanyakan manusia sulit untuk dapat mengenal tuhan secara sempurna, maka Nabi Muhammad SAW diutus untuk memberikan jalan tengah agar mereka menyembah Tuhan sesuai kemampuanya. Adanya surga neraka serta malaikat-setan merupakan motivasi agar mereka mau menyembah tuhan. Seandainya surga dan neraka tidak ada bagaimana?? ... sebenarnya klo buat saya pribadi walaupun tidak ada surga dan neraka sebernya tujuan kita yang paling utama adalah untuk mengenal Tuhan sedekat-dekatnya karna dengan kedekatan itu tiada nikmat yang lain selainya bersama keagunganya atau kita bermujahadah langsung. Menurut Sayyidina Ali manusia yang menyembah Tuhan karna surga-neraka adalah manusia yang berjiwa budak dan berjiwa pedagang, yakni hanya mau menyembah Tuhan jika diancam dengan neraka dan di janjikan hadiah surga. Manusia yang beginilah yang tidak pernah akan maju sepiritualisnya. Cobalah belajar menjalankan makna kitab suci kita bukan menjalankan artinya sekali lagi makna dari Al Qur’An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Padahal klo kita mau belajar tentang makna Al Qur’An luar biasa sekali untuk diresapi. Inilah yang di lakukan para generasi muslim sesudah Kanjeng nabi khususnya para tokoh sufi. Persis sindiran tokoh sufi jawa sunan kajenar mengatakan: Sebagian kaum santri yang terkutuk dan mabok tobat, mereka beribadah bukan dengan niat yang tulus murni tetapi karena mengaharapkan sesuatu selain Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun setidaknya manusia yang sudah terbuka fikr-nya seperti ini lebih baik daripada mereka yang masih terkungkung oleh nafsu duniawi. Ini adalah jalan untuk mengenal tuhan lebih lanjut. Manusia yang telah memahami, menghayati, dan merasakan kehadiran alam surga,neraka,malaikat,setan, serta segala sesuatu yang berkaitan denganya berarti ia telah memasuki pengenalan terhadap alam misal sebagai bekal untuk mengenal tuhan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3.Selanjutnya manusia diharapkan mengenal rohnya.inilah nyawa yang membuat jasmani dan jiwa manusia menjadi hidup. Jasmani tidak akan bergerak jika tidak mendapat perintah dari jiwa, dan jiwa tidak dapat memberi perintah pada gerakan jasmani jika tidak terdapat roh didalamnya. Inilah yang bisa dipahami kebanyakan orang sebagai hidup. Selama roh masih melekat dalam badan jasmani seseorang maka orang tersebut di katakan hidup. Ketika sedang tidur manusia bergerak dan tidak merasakan sesuatu karena jiwanya keluar dari jasadnya. Namun ia tetap dikatakan hidup karena rohnya masih berada dalam jasad. Ketika bangun, jiwa kembali menyatu dalam badan hingga hidupnya di dunia menjadi sempurna. Ketika roh terlepas dari badan, otomatis jasmani tersebut tidak bisa dipakai lagi. Jiwa tidak lagi mampu menggunakanya, sehingga ia disebut mati. Roh ini disebut dengan nyawa. Dalam AL Qur’an, Tuhan meniupkan roh manusia ini yang berasal Roh Agung kepunya-anya. Ki Ageng Pengging mengatakan nyawa manusia berada dalam tirta nirmala atau air kehidupan atau maa’ul hayat. Ia berada dalam uni nong ana nung atau Dzat Tuhan. Jika kalau manusia sudah bisa mengerti tentang ilmu kasempurnaan tentang ini, maka ia bisa mencabut nyawanya sendiri seperti sunan kajenar, sunan kalijaga dan sebagainya. Karena beliau sudah melebur dirinya dengan Dzat Tuhan. Bagi para tokoh sufi yang sudah bisa menyatukan diri dengan Dzat Tuhan dan menganggap budi serta kesadaran manusia sebagai Tuhan. Baginnya kodrat atau kekuasaan dan iradat atau kehendak Tuhan sebagai ilmu sejati. Semua sifat Tuhan yang dua puluh jumlahnya, jika di gulung menjadi satu dan melekat dalam budi, maka budi menjadi lestari, kekal selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini berarti, wujud mutlak itu akan menjadi Dzat, tiada bermula, tiada berakhir, tiada berasal, tiada bertujuan. Sunan kajenar telah bersemayam dalam kodrat atau kekuasaan Tuhan hingga ia berkuasa untuk mengambil nyawanya sendiri, serta bersemayam dalam iradat atau kehendak Tuhan hingga kehendanya adalah kehendak Tuhan. Kapan saja ia mau, ia bisa melakukanya. Dengan mudah sunan kajenar dapat menutup sumber air kehidupannya, atas kuasa dan kehendak Dzat Tuhan dalam dirinya, sehingga ia pun mengambil nyawanya sendiri.&lt;br /&gt;Roh atau nyawa manusia berasal dari Tuhan secara langsung. Adapun jasmani ia adalah gambaran maya saja, Dzat yang tidak lebih hanya sekedar simbol. Jasmani ini akan menjadi penghalang bagi manusia yang atidak mampu menangkap rahasia diciptakanya jasmani tersebut. Namun bagi orang yang sudah tersingkap pandangan batinya. Ia akan melihat Dzaty Tuhan dalam Dzatnya. Bagi sunan kajenar jasad manusia adalah rupa Tuhan dan menurut Wali Sango kepala manusia adalah singgasana kemakmuran Tuhan , dada manusia adalah singgasana kemuliaan Tuhan, dan kemaluan manusia adalah singgasana kesucian Tuhan. Keduanya tak jauh berbeda, jasad manusia adalah gambaran dari rupa tuhan!! .......seperti yang tertulis didalam kitab ihya ulumudin”” wa Allahu dzahir al-insan, wabatinul insani baytullahu”” artinya : lahiiriah manusia itu wajah Tuhan dan batiniah manusia itu rumah Tuhan.. melalui pandangan ini, mengenal Tuhan pun bisa dilakukan jasmani dengan menganggapnya sebagai gambaran dari wajah Tuhan. Adapun Dzat sesungguhnya adalah dalam rahsa. Demikian pula dengan jiwa, ia adalah gambaran dari perbuatan, nama dan sifat Tuhan. Sehingga mengenal Tuhan juga bisa di lakukan melalui gambaran jiwa diri dan orang lain. Yaitu melihat perbuatan, nama, dan sifat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut sunan kajenar alam semesta ini tidak diciptakan tetapi menemukan keadaan. Tuhan tidak menciptakan barang baru. Dia maha tunggal sehingga apa saja yang dia ciptakan pada dasarnya adalah dia juga, karena bahanya berasal dari-Nya. Demikian pula dengan alam semesta ini, sebagai gambaran penampakanya. Alam ajsam atau alam jasmani ini adalah gambaran wajah Tuhan dan alam misal atau alam jiwa ini adalah gambaran perbuatan, nama, dan sifatnya. Semua itu pada dasarnya Tuhan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 4. Roh manusia satu dan roh manusia lainya pada dasarnya satu kesatuan, karena berasal dari sumber yang satu. Sumber Roh tersebut sdslsh Roh Agung atau Nur Muhammad dalam perspektif kemakhlukan ini di sebut martabat wahidiyat. Manusia yang mengira bahwa hidupnya bergantung pada Roh bagian yang berasal dari Roh Agung akan berpendapat bahwa hidupnya di dunia sebagai kehidupan yang sejati. Padahal, Roh yang ia peroleh hanyalah sekedar tiupan kecil dari Roh Agung tersebut. Berbeda dengan sunan kajenar, ia menganggap hidup di dunia ini sebagai kematian karena terlempar dari Roh Agung kepada Roh kecil di dunia. Maka ia begitu rindu untuk secepatnya kembali pada Rohnya yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5. Roh Agung pada martabat Wahdah ini bukan lagi sebagai makhluk, namun lebih dekat pada sifat ketuhanan. Dia adalah satu, namun masih masih bukan Tuhan yang sesungguhnya. Dalam keadaan ini, Roh bukan lagi makhluk dan tidak berkaitan dengan makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 6. Akhirnya semua sifat tuhan dalam Martabat Wahdah, termasuk sifat Hayyun atau Maha Hidup,yaitu ketika Roh Agung termasuk didalamnya, digulung menjadi satu. Jadilah Dzat Tuhan atau uni nong ana ning atau Aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam jack kalijaga..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-241203278489084368?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/241203278489084368/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=241203278489084368' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/241203278489084368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/241203278489084368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/12/mencapai-hidup-sejati-menurut-tasawuf.html' title='Mencapai Hidup Sejati Menurut Tasawuf Jawa'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-985409463706041846</id><published>2008-12-06T20:58:00.001-08:00</published><updated>2008-12-31T21:42:37.561-08:00</updated><title type='text'>Zakat Bukti Manusia Berjiwa Tuhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Zakat Bukti Manusia Berjiwa Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   Zakat terbagi menjadi dua jenis : zakat yang di tentukan oleh syariat agama. kedua zakat menurut pandangan ahli tasawuf atau zakat hakikat. zakat yang di tentukan oleh syariat adalah zakat yang di keluarkan untuk harta kekayaan yang di peroleh secara halal di dunia, yang berasal dari kelebihan harta dalam keluarga, dan dibagikan kepada mereka yang memerlukan dan ashnaf-ashnaf zakat. dan yang berhak menerimanya fakir miskin dan orang terlantar lainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   Zakat dari sudut pandang tasawuf adalah sebagian harta rohani yang di peroleh seseorang dan di bagikan yang memerlukanya, yakni fakir miskin dalam bidang rohani. zakat sejenis ini akan memberikan perwatakan untuk selalu memberikan sebagian dari semua hasilnya utk selalu di berikan orang lain, menolong mereka yang kelaparan, memperdayakan mereka yang menderita kemiskinan. apa saja yang diberikan dengan tujuan utk berzakat, pada hakikatnya terlebih dahulu jatuh ketangan Allah sebelum zakat itu jatuh ke tangan si penerimanya. karena itu sebenarnya zakat di perintahkan kepada kita,karena Allah sendiri maha pemberi segala keperluan. namun rahasia terdalamnya adalah agar menjadikan niat pemberi zakat untuk di terima Illahi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   Adapun mereka yang dekat dengan Allah mebagi-bagikan ganjaran rohaninya, hasil ibadah dan amal-salehnya dengan niat untuk menghadiahkan pahala amalan salehnya kepada orang-orang lain, yang derajat rohaninya berada di bawahnya, dan untuk orang-orang yang banyak kealpaanya kepada tuhan. dengan begitu Allah dengan segala rahmatnya mengampuni dosa-dosa hambanya yang berdosa dari hasil pembagian sebagian pahala dan ganjaran yang diperoleh hamba-hambanya yang saleh ini bentuk lain dari zakat rohani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;  Tegasnya, orang sufi dalam kategori ini sangat merahmati orang awan yang lalai dan menyia-nyiakan dirinya sendiri, amalan mereka kurang, malah maksiatnya bertambah. orang seperti ini berada dalam bahaya rohani yang sangat besar.karena itu para orang-orang sufi menaruh perhatian yang sangat besar kepada orang orang-orang itu. sehingga amalan baik para orang sufi bukan hanya utk dirinya sendiri tetapi di tujukan kepada orang banyak yang lalai dalam memahami hakikat ketuhanan. orang awam kebanyakan miskin rohani sehingga tidak memiliki bahan untuk dapat mengenali hakikat perjalanan menuju tuhan. karena itulah para sufi menzakati dari amalan saleh, kepada mereka yang miskin rohani agar bertambah pengetahuanya tentang perjalanan sesungguhnya menuju illahi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   Zakat harta dan Zakat rohaninya itu adalah sebagai bentuk keinginan orang sufi atas kecintaan Allah,keridaan, rahmat, belas kasih, ampunan,perlindungan perhatian, kedekatan, dan duduknya bersama untuk merasakan cahayanya. dan akhirnya ia bisa melihat wajahnya.itulah puncak karunia tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;  Para sufi jawa kuno memberikan makna aplikasi zakat sebagai sikap menolong orang laen dari penderitaan dan kekurangan.menolong orang laen agar bisa hidup yang sebenarnya di sisi tuhan. sekaligus bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. dari berbagai kata zakat di dalam qur'an sendir ternyata mempunyai makna 1.tidak mendustakan kebenaran 2. tidak melakukan kedurjanaan 3. tidak mengikuti hawa nafsu 4. tidak berbuat melampui batas seperti banyak yang terjadi pada kaum sebelumnya. padahal kita itu di suruh untuk mengikuti kehendak Allah bukan mengikuti kehendak nafsunya. jadi zakat adalah aplikasi dari sifat-sifat Allah itu sendiri dan Allah sendiri suka memberi kepada siapa saja tidak terkecuali. maka manusia itu sebenarnya di suruh mencotoh sifat Allah. karna perbendaharaan tuhan tidak akan kosong dan itu sesuai dengan firman Allah dalam surah QS Al-An'am/6:160. maka jelaslah  zakat adalah membentuk manusia yang bersih jiwanya sesuai kehendak tuhan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam jack kalijaga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-985409463706041846?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/985409463706041846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=985409463706041846' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/985409463706041846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/985409463706041846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/12/zakat-bukti-manusia-berjiwa-tuhan.html' title='Zakat Bukti Manusia Berjiwa Tuhan'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-2521018362753888321</id><published>2008-12-06T20:54:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T21:43:12.693-08:00</updated><title type='text'>Tiga Jalan Rohani</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 1. Cita Rasa (dzauq)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cita rasa adalah pengalaman spiritual langsung. dzauq merupakan tahapan atau lebih tepatnya haal(kondisi spiritual) pertama dalam pengalaman pengungkapan diri Allah&lt;br /&gt;(tajalli) rasa ini di peroleh dari perjalanan rohani dalam berbagai maqomat,serta berbagai perilaku dzikir dari seorang sufi. dari dzauq perjalan seorang sufi terus diarahkan dan hanya larut dalam keesaan tuhan atau syurb  (meminum hidangan rohani illahi), sehingga dahaga/haus spiritual menjadi terpuaskan. terkadang tahapan seperti ini juga di sebut sukr atau mabuk spiritual yang secara tidak sadar di luar kendali diri manusia sehingga memunculkan ungakapan spiritual yang luar biasah seperti yang terjadi pada diri al hallaj kalau di jawa ada sunan kali jaga dan sunan kajenar.hal ini terjadi karena rasa terkuasaan oleh wujud tuhan dalam rohaninya. sehingga keakuan manusia benar-benar hilang tidak ada apa-apa selain tuhan itu sendiri kadang tuhan berbicara lewat manusia karna untuk memuji dirinya sendiri seperti ana al haq tau subhani pada dasarnya itulah manusia rohani yang benar-benar yang sudah mencapai tahapan tertinggi. kelanjutan proses dzauq dan bagaimana kondisi rohani seseorang yang larut di dalamnya tidak dapat di tangkap melalui kata-kata "orang-orang yang merasakannya pasti tau, dan mereka yang belum merasakannya pasti tidak akan mendapatkan gambaran yang paling pas tentang fenomena ini. dan yang jelas dzauq gerbang utama untuk memperoleh pengetahuan langsung tentang Allah dan dari Allah.jadi seorang sufi yang belum merasakan cita rasa spiritual tidak mungkin akan dapat melampui tahap makrifatullah. mungkin kalau sebatas pengetahuan tentang Allah. secara minim sudah didapatkan, namun pengetahuan tentang langsung dari Allahsebagai inti makrifat belum tentu diperolehnya, kecuali dengan perasaan dzauq. dimana seorang hamba larut dalam penyaksian langsung dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penyingkapan(kasyf)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kasyf adalah penyingkapan atau pengetahuan langsung yang diperoleh dari Allah setelah seorang sufi berhasil melampui tahapan dzauq. Kasyf merupakan salah satu jenis pengetahuan langsung, yang dengan itu pengetahuan hakikat diungakapkan pada hati seorang sufi. dengan sifat rahmatnya Allah memberikan kepadanya sebuah pengungkapan diri Allah. tidak hanya menambah pengetahuan tentang Allah tetapi juga menambah kerinduan yang menggelora dalam lautan cinta kepada Allah. di sinilah seorang sufi sampai pada tahapan ahl al-kasyf wa al-wujud. dalam penyingkapan itulah mereka menemukan dan bertemu Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia sufi terdapat lima jenis penyingkapan yang sering terjadi pada diri sufi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Kasyf'aqli penyingkapan melaui akal merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.Allah tidak bisa di ketahui dan dicintai melalui akal, karena akal membelenggu dan menghalangi manusia dalam tahap-tahap akhir kenaikanya menuju Allah seperti hadist qudsi berikut: Bumi dan langitku tidak sanggup memuatku hanya hati hambaku yang beriman. yang sanggup memuatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Kasyf-i arwah atau penyingkapan ruh-ruh. diawali dengan pengatahuan tentang ruh diri sendiri, kemudian tentang ruh-ruh manusia dan mahkluk lain, lalu naik ke ruh seluruh dimensi alam al ghaib.puncaknya adalah pengetahuan langsung tentang ruh idhafi dan diarahkanya menuju ruh al-haqq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.kasyf bashari/Kasyf Kauni.merupakan penyingkapan segala tataran mahkluk. penyingkapan visual yang terjadi melalui penciptaan yang dilakukan Allah.dalam suatu peristiwa,tempat,tindakan atau ucapan manusia. seorang yang suci bisa menjadi tempat penyingkapan visual ini. Allah adalah yang maha mutlak. dia adalah keindahan (jamal) dan keagungan(jalal).melalui mahkluknya Allah bisa mengungkapkan dirinya kepada hambanya lewat salah satu nama keindahannya yang akan menimbulkan kemanisan dan kesenangan.atau lewat salah satu nama keagunganya yang akan melahirkan ketakziman dan ketakutan.disinal peranan asmaul husna serta asma al-nabi sangat strategis untuk mengantarkan dan membawa seorang sufi kedalam samudra penghayatan rohaniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Kasyf Iman iadalah penyingkapan melalui keimanan.penyingkapan ini terjadi melalui ketulusan iman seorang mukmin. kadar penyingkapan ini bisa berfungsi  sebagai penghubung yang mengaktifkan sang mukminuntuk lebih banyak lagi mencari ilmu dan pengetahuan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam jack kalijaga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-2521018362753888321?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/2521018362753888321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=2521018362753888321' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/2521018362753888321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/2521018362753888321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/12/tiga-jalan-rohani.html' title='Tiga Jalan Rohani'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-8748470549647709403</id><published>2008-12-02T00:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T21:45:38.418-08:00</updated><title type='text'>Makna Keimanan Dan Makrifat</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Keimanan kepada unsur-unsur yang harus di imani bagi para ahlinya. bukanlah sesuatu yang berada di luar manusia  .namun hal-hal yang harus diimani, merupakan aplikasi dalam diri manusia dan harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa keimanan bukan hanya sesuatu yang berupa turunya hidayah dari tuhan kepada manusia. akan tetapi keimanan merupakan perpaduan antara kehendak Allah dalam memilih manusia untuk beriman, dengan kehendak manusia untuk mengenal tuhannya, pada giliranya sbb: manusia mengejawentahkan keimanan dalam perilaku sehari-hari. dan inilah yang akan menjadi modal awal proses menjalani kehidupan spiritual menuju Allah.adapun keimanan tersebut menurut tokoh sufi jawa sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Imannya iman, maksudnya adalah tidak adanya keraguan, dan tidak adanya unsur penyekutuan sekecil apapun baik dalam keyakinan hati, pelafatan lisan dan maupun aplikasi sehari-hari. semuanya harus menunjukkan dan menampakkan adanya keberadaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Imannya tauhid,maksudnya tiadanya rasa sangsi dalam menjalankan pola keagamaan dan adanya keyakinan penuh terhadap fakta bahwa manusia adalah tempatnya pertemuan dengan Allah. yang di gambarkan oleh Allah sendiri dalam surat Qs Qaaf/50:15. dan manusia mencerminkan penampakan sifat dan perbuatan Allah. seperti firman Allah sbb:&lt;br /&gt;"maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka . dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar. tetapi Allah-lah yang melempar. dan untuk memberi kemenangan orang-orang mukmin,dengan kemenangan yang baik. sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui. Qs Al-Anfaal 8:17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Imannya syahadat,maksudnya adalah tidak adanya lagi perasaan was-was serta benar-benar telah munculnya pengalaman penyaksian bahwa diri manusia yang sejati merupakan sifatullah(sifatnya Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Imannya makrifat, yang intinya adalah pengetahuan langsung yang diperoleh dari Allah melalui pengalaman kerohanian, sehingga dirinya menjadi alat kewaspadaan Allah(perwujudan dari sifat Al-Hafidz Allah di muka bumi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Imannya Sholat, berupa keyakinan sepenuhnya akan kehadiran Allah dalam diri kita, dan dirinya selalu hadir dalam penyaksian Allah.sehingga ia memiliki posisi sebagai media bagi menghadap Allah. hal inilah yang kemudian memunculkan fenomena sholat yang arti luas dalam kehidupan kesehariannya. bukan sholat syariat saja .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Imanya kehidupan, yang mengandung makna keyakinan sepenuhnya bahwa hidup manusia hanyalah sebagian kecil yang tak terpisahkan dari  kehidupan 'Allah'.  sehingga di dalam dirinya  juga terdapat bukti bahwa manusia menjadi bagian dari media kehidupan Allah. wajar jika manusia diarahkan untuk mencapai sumber kehidupan tersebut, bukan mengarahkan gerak kehidupannya kepada orang laen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Imannya Takbir,maksudnya adalah bahwa setelah manusia sampai pada pengalaman kerohanian yang tinggi (fana' dan baqa'), ia mencerminkan diri sebagai bagian dari sifat jalal dan kamal . sehingga manusia tersebut menjadi kepunyaan keagungan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Imannya shadrahu(dalam dadamu), maksudnya adalah bahwa dalam dirinya sudah tidak ada lagi rasa was-was, kebimbangan atau perasaan ragu-ragu bahwa dirinya merupakan arena pertemuan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Imannya kematian,maksudnya adalah mengandung arti tentang keyakinan penuh bahwa kehidupan manusia di dunia ini adalah perjalanan kematian, yang melalui kematian fisik tersebut, pada giliranya ia akan berada dalam kesucian Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Imannya Junud yakni adanya keyakinan sepenuhnya tanpa keraguan sedikitpun bahwa Insan Al Kamil adalah wadah dari Allah dari buah hasil hamba yang sudah bisa bertemu dengan Allah itu sendiri.karna cahaya di atas cahaya berasal darinya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Imannya jinabat, bahwa orang yanag sudah mengalami pencerahan  rohani memiliki keyakinan sepenuhnya bahwa dalam dirinya terkandung inti bertambahnya nikmat dan anugerah Allah. karena orang yang merasakan lezatnya keimanan. melalui pengalaman rohani dipastikan akan menemuinya dan bersama Allah .setelah kematian fisiknya seperti firman Allah QS: yunus:10:26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.Imannya Wudhu. Wudhu secara syariat merupakan cara membersihkan semua kotoran fisik dan rohani. Imannya Wudhu mengandung makna kesucian Allah. yang tercermin dalam segenap nama-namanya .sehingga dalam hal ini yang di maksudkan adalah, tidak adanya keraguanng sedikitpun, bahwa manusia yang sudah memasuki kebersamaan dengan Allah, merupakan wujud dari asma Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Imannya kalam (perkataan),yaitu keyakinan utuh tanpa kesangsian sedikitpun bahwa ia adalah ucapan Allah. apa yang ia ungkapkan dalam bentuk perkataan dan perbuatan selalu mencerminkan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.Imannya Akal.keimanan ini merupakan bentuk dari konsekuensi keimanan sebelumnya. pada konteks ini . manusia yang menempuh jalan sepiritual dan sudah dapat menyaksikan tentang hakikat ketuhanan itu sendiri.dan berarti ia adalah juru bicara Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Imannya nur(cahaya), maksudnya adalah tidak adanya kesangsian lagi bahwa dirinya adalah wujudullah, yaitu tempat berkumpulnya seluruh jagad yaitu: dunia, akhirat, surga, neraka, arsy kursi, loh kalam, , bumi langit, manusia, jin, iblis, malaikat, nabi, wali, oramg mukmin, nyawa semua itu berkumpul di pucuknya jantung, yang di sebut alam kiyal(alam al-khayal), maksudnya adalah yang memiliki sifat lahut(ketuhanan), maksudnya adalah angan-angan tuhan yang di sebut alam misal, yang maksudnya adalah awal pengetahuan , yaitu kesucian dzat sifat asma' af'al, yang di sebut alam arwah, maksudnya berkumpulnya nyawa yang adalah di penuhi sifat kamal jamal, ia merupakan angan-angan tuhan" artinya ia sepenuhnya adalah perwujudan dari apa yang menjadi keinginan tuhan serta maksud keberadaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam jack kalijaga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-8748470549647709403?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/8748470549647709403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=8748470549647709403' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/8748470549647709403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/8748470549647709403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/12/makna-keimanan-dan-makrifat.html' title='Makna Keimanan Dan Makrifat'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-6801737407283512293</id><published>2008-12-01T21:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T21:49:15.984-08:00</updated><title type='text'>Ajaran Makrifat Menurut WaliSongo</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam Wirid Hidayat Jati ajaran makrifat yang di wejangkan ini adalah wejangan yang berasal dari delapan wali tanah jawa. yang sudah di kumpulkan menjadi satu. isi ajaran tersebut bersumber dari intisari firman Allah swt. yang dijelaskan dalam hadist nabi kepada sayyidina ali melalui telinga kiri.&lt;br /&gt;Dzat dan Rumah Tuhan&lt;br /&gt;ajaran pertama tentang adanya dzat dan singgasana Tuhan.Ajaran tersebut terbagi menjadi delapan bagian sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adanya Dzat&lt;br /&gt;Sesungguhnya tidak ada apa-apa karena pada waktu masih dalam keadaan kosong, belum ada sesuatupun. yang ada hanyalah aku. tidak ada tuhan selain aku. aku adalah hakikat dzat yang maha suci yang meliputi sifatku, yang menyertai Nama-ku, dan yang menandai perbuatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kejadian Dzat&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku adalah dzat yang maha sempurna, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu, terjadi dalam seketika ,sempurna dari kodratku ,sebagai tanda yang nyata bagi perbuatanku pertama yang aku ciptakan adalah sebuah pohon bernama sajaratul yakin. pohon itu tumbuh dalam alam adam makdum(kosong hampa) yang azali dan abadi. setelah itu aku menciptakan cahaya yang bernama nur muhammad, kemudian cermin bernama mir'atul haya'i nyawa yang di sebut roh idhafi pelita yang bernama kandil, permata yang bernama dzarrah, dan jalal (keperkasaan) yang disebut hijab(penutup), yang menjadi sekat penampakan-Ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Uraian Tentang Dzat&lt;br /&gt;Sebenarnya manusia itu adalah rahsa-Ku dan Aku adalah rahsa manusia, karena aku menciptakan adam dalam empat unsur yaitu : udara, tanah, air, dan api. keempat unsur itu adalah perwujudan sifatku. kemudian aku memasukkan ke dalam tubuh adam lima macam dzarrah, yaitu :nur, rahsa, ruh, nafsu dan budi. yang merupakan dinding yang merupakan dinding penghalang wajah-Ku yang maha suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Singgasana Baitul Makmur&lt;br /&gt;Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul Makmur, yaitu rumah tempat kesukaanku. tempat itu berada dalam kepala adam .dalam kepala ada otak, dalam otak ada manik dalam manik ada budi, dalam budi ada nafsu, dalam nafsu ada suksma, dalam suksma ada rahsa, dalam rahsa ada Aku. tidak ada tuhan selain Aku. Dzat yang meliputi semua keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Singgasana Baitul Muharram&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku mengatur singgasana berada dalam baitull muharram, yaitu rumah tempat pinggitanku . tempat itu berada dalam dada adam, didalam dada itu ada hati,dalam hati itu ada jantung, dalam jantung ada budi, didalam budi ada jinem(angan-angan),dalam jinem itu ada suksma, didalam suksma itu ada rahsa,dalam rahsa itu ada Aku, tiada tuhan selain Aku. dzat yang meliputi semua keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Baitul Muqaddas&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku mengatur singgasana di dalam baitul muqaddas. tempat yang aku sucikan.itu adalah rumah yang aku sucikan .berada dalam buahnya(penis) adam ,dalam buahnya adam ada pringsilan(buah pelir), diantara buah pringsilan ada nuthfah(mani), dalam mani itu ada madzi, dalam madzi ada wadi, didalam wadi ada manikem, di dalam manikem itu ada rahsa, di dalam rahsa itu ada aku. tiada tuhan selain aku . dzat yang meliputi semua keadaan, bertahta dalam nukat gaib, turun menjadi jauhar awal. di situlah alam ahadiyat berada (alam wahdat dan alam wahidiyat), alam arwah, alam misal, alam ajsam, dan alam insan kamil, menjadi manusia sempurna yaitu sifatku yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah wejangan wali songo tentang ajaran makrifat. yang pada dasarnya semua sama seperti ajaran para wali lainya hanya bahasa dan cara tarekat atau olah batinya saja yang berbeda.&lt;br /&gt;dalam hal ini penulis tidak dapat menjabarkan secara detail tentang ajaran ini karna belum dapat restu dari sang guru . dan juga tidak bisa membuka lebar karena waktu dan tempat yang kurang berkenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup sejati adalah hidup yang telah berhasil&lt;br /&gt;membuka pintu pertemuan dengan sang kekasih.yaitu Allah swt.&lt;br /&gt;yang dalam bahsa tasawuf di sebut makrifat kepada Allah .&lt;br /&gt;makrifat kepada Allah dapat tercapai bila diri kita mampu mengungkap selubung&lt;br /&gt;eksistensi diri kita sendiri.berlatih meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia&lt;br /&gt;dan selalu mengaktualkan nama -nama indah dari tuhan itu sendiri kedalam kehidupan&lt;br /&gt;sehari-hari kita.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;Penjelasan Tentang Wirid Hidayat Jati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Wejangan ke-1 Ananing Dzat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, sajatine kang maha suci anglimputi ing sipatIngsun, anartani ing asmanIngsun, amratandhani ing apngalIngsun.Nasehat ke-1 Adanya Dzat.&lt;br /&gt;(Sesungguhnya tidak ada apa pun ketika masih sunyi hampa belum ada sesuatu, yang paling awal adanya adalah AKU, sesungguhnya yang Maha Suci meliputi sifatKU, menyertai namaKU, menandakan perbuatanKU).&lt;br /&gt;Nasehat di atas menunjukkan kepada kita bahwa pada mulanya alam semesta ini tidak ada, semuanya masih sunyi hampa (awang-uwung), yang paling dahulu ada adalah AKU (Allah). Jadi tidak ada sesuatu pun yang mendahului adanya AKU (Allah), dalam ajaran agama Islam biasa disebut bahwa Allah bersifat Qidam (Dahulu tidak ada yang mendahului), dan AKU (Allah) adalah sumber dari segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wejangan ke-2 Wahananing Dzat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sajatine Ingsun dat kang amurba amisesa kang kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi sanalika, sampurna saka kodrat Ingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning apngalIngsun kang minangka bebukaning iradatIngsun, kang dhingin Ingsun anitahake kayu aran sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam ngadammakdum ajali abadi. Nuli cahya aran nur muhammad, nuli kaca aran mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh ilapi, nuli damar aran kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing jalal aran kijab. Iku kang minangka warananing kalaratIngsun.Nasehat ke-2 Tempat Dzat.&lt;br /&gt;Sesungguhnya AKU (Allah) adalah dzat yang maha kuasa yang kuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika, sempurna berasal dari kuasaKU (Allah), di situ telah nyata tanda perbuatanKU yang sebagai pembuka kehendakKU, yang pertama AKU menciptakan Kayu bernama Sajaratulyakin tumbuh di dalam alam yang sejak jaman azali (dahulu) dan kekal adanya. Kemudian Cahya bernama Nur Muhammad, berikutnya Kaca bernama Mir’atulhayai, selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi, lalu Lentera (damar) bernama ‘Kandil’, lalu Permata (sesotya) bernama Darah, lalu dinding pembatas bernama Hijab. Itu sebagai tempat kekuasaanKU (Allah).&lt;br /&gt;Nasehat di atas menunjukkan pada kita bahwa AKU (Allah) merupakan dzat yang maha kuasa yang kuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan satu sabda saja yaitu KUN, maka seketika jadi (FA YAKUN), semua ciptaannya sempurna sebagai pertanda perbuatan (af’al)KU (Allah).&lt;br /&gt;Pertama diciptakan adalah Pohon (kayu) bernama SajaratulYakin, mungkin yang dimaksudkan adalah sajaratulkaun (pohon kejadian) yang merupakan awal dan asal mula penciptaan.&lt;br /&gt;Kedua diciptakan Cahaya yang diberi nama Nur Muhammad. Menurut beberapa ahli, nur muhammad ini merupakan bibit alam semesta. Nur Muhammad dimaksudkan adalah bukan sebagai cahaya dari muhammad, nabinya orang Islam, melainkan secara bahasa berarti cahaya yang terpuji, sehingga dikatakan semua ciptaan pasti berasal dari nur muhammad ini, mengandung nur muhammad. Hal itu pula yang mengisyaratkan adanya pemahaman bahwa dalam tingkatan tertentu kebenaran hanyalah satu, adanya ajaran-2 yang berbeda setelah mencapai tahap tertentu ternyata sama belaka, karena bersumber dari dari Cahaya yang terpuji, cahaya kebenaran, yaitu Nur Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga Allah menciptakan Kaca bernama Miratulhayai (Cermin Kehidupan atau Cermin Malu), dimana ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa setelah diciptakannya Cermin ini, Nur Muhammad akhirnya dapat melihat wujudnya, yang mengakibatkan dirinya bergetar hebat dan berkeringat, dari tetesan keringat inilah makhluk hidup berasal.&lt;br /&gt;Keempat diciptakan Nyawa yang diberi nama Roh Idhofi.&lt;br /&gt;Kelima diciptakan Lentera yang diberi nama Kandil.&lt;br /&gt;Keenam diciptakan Permata diberi nama Darah&lt;br /&gt;Ketujuh diciptakan dinding pembatas antara kehidupan fisik dan non fisik, antara yang kasar dan halus, yang disebut hijab. Hijab ini sendiri dalam keilmuan banyak jenisnya, (insya allah suatu saat akan saya bahas juga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wejangan ke-3 Kahananing Dzat  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sajatine manungsa iku rahsanIngsun lan Ingsun iku rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake adam asal saka anasir patang prakara, bumi, geni, angin, banyu. Iku kang dadi kawujudaning sipat Ingsun, ing kono Ingsun panjingi mudah limang prakara, nur, rahsa, roh, napsu, budi. Iya iku minangka warananing wajah Ingsun kang maha suci.Nasehat ke-3 Keadaan Dzat&lt;br /&gt;Sesungguhnya manusia itu rahsaKU dan AKU itu rahsanya manusia, karena AKU menciptakan Adam berasal dari empat perkara, bumi, api, angin, air. Itu sebagai perwujudan sifatKU, di sana AKU tempatkan lima perkara, nur, rahsa, roh, nafsu, budi. Itulah sebagai perwujudan wajahKU yang maha suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat ke-3 menerangkan bahwa manusia diciptakan sebagai ‘rahsa’ (bukan rasa, sebab antara rasa dan rahsa dalam keilmuan jawa berbeda) dari Allah, dan Allah itu sebagai ‘rahsa’ dari manusia. Yang dimaksud adalah bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambaranNya atau menurut citraNya, seperti pernah saya kemukakan bahwa pada tubuh manusia tertulis huruf ALLAH, yaitu : (terlihat saat mengangkat kedua tangan, seperti dalam takbiratul ihram, membaca allahu akbar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alif sebagai garis dari ujung jari tangan kanan turun hingga ke ujung jari kaki kanan,&lt;br /&gt;lam pertama dari ujung jari tangan kanan turun melalui bahu kanan dan naik ke puncak kepala,&lt;br /&gt;lam kedua dari puncak kepala turun melalui bahu kiri dan naik hingga ujung jari tangan kiri,&lt;br /&gt;ha sebagai garis dari ujung jari tangan kiri turun hingga ujung jari kaki kiri.&lt;br /&gt;Dan manusia diciptakan berasal dari empat unsur yang merupakan gambaran sifatNya yaitu bumi, api, angin dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi dalam tubuh kita terwujud pada hal-2 yang bersifat kedagingan, dan dibagi menjadi dua hal yaitu yang merupakan unsur dari bapak berupa tulang, otot, kulit dan otak, dan unsur dari ibu berupa daging, darah, sungsum dan jerohan.&lt;br /&gt;Api dalam tubuh menjadikan empat nafsu yaitu aluamah, amarah, supiyah dan mutmainah.&lt;br /&gt;Aluamah berwatak suka terhadap makanan, sifatnya membangkitkan kekuatan badan&lt;br /&gt;Amarah berwatak suka marah, emosi, sifatnya membangkitkan kekuatan kehendak (bhs jawa : karep)&lt;br /&gt;Supiyah berwatak keinginan, keterpesonaan, keinginan memiliki, bersifat membangkitkan kekuatan pikir berupa akal&lt;br /&gt;Mutmainah berwatak kesucian dan ketenangan, bersifat membangkitkan kekuatan untuk berpantang (bhs jawa : tarakbrata)&lt;br /&gt;Angin dalam tubuh kita terwujud dalam empat hal yaitu napas, tannapas, anapas dan nupus.&lt;br /&gt;Napas merupakan ikatan badan fisik, bertempat di hati suwedhi, yaitu jembatan hati, berpintu di lisan&lt;br /&gt;Tannapas merupakan ikatan hati, bertempat di pusar, berpintu di hidung&lt;br /&gt;Anapas merupakan ikatan roh, berpintu di telinga&lt;br /&gt;Nupus merupakan ikatan rahsa, bertempat di hati puat yang putih yaitu jembatan jantung, berpintu di mata.&lt;br /&gt;Air dalam tubuh menjadikan empat elemen roh yaitu roh hewani, roh nabati, roh rabbani dan roh nurrani.&lt;br /&gt;Roh hewani, menumbuhkan kekuatan badan&lt;br /&gt;Roh nabati menumbuhkan rambut, kuku, dan menghidupkan budi&lt;br /&gt;Roh rabbani menumbuhkan rahsa (dzat hamba)&lt;br /&gt;Roh nurrani menumbuhkan cahaya.&lt;br /&gt;Setelah empat unsur alam terbentuk dalam tubuh manusia, kemudian Allah menempatkan pula lima hal yaitu dzat hamba (jawa : mudah) sebagai gambaran wajahNya yaitu nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.&lt;br /&gt;Nur, merupakan terangnya cahya, jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menerangi lahir batin&lt;br /&gt;Rahsa, rasa jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menumbuhkan daya ketenteraman di lahir batin&lt;br /&gt;Roh, penglihatan roh jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menjadikan penguasaan sempurna&lt;br /&gt;Nafsu, kekuatan nafsu jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan kekuatan kehendak yang sentosa&lt;br /&gt;Budi, penciptaan budi jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan daya cipta yang sentosa.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah beberapa orang mengatakan bahwa manusia mempunyai sifat-2 Tuhan dan juga mempunyai kesucian wajah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wejangan ke-4 Pambukaning tata malige ing dalem betalmakmur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmakmur, iku omah enggoning parameyanIngsun, jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning sirah iku dimak, yaiku utek, kang ana antaraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsn, dat kang nglimputi ing kaanan jati.Nasehat ke-4 Pembukaan tahta dalam baitulmakmur&lt;br /&gt;Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitulmakmur, itu rumah tempat pestaKU, berdiri di dalam kepala Adam. Yang pertama dalam kepala itu ‘dimak’ yaitu otak, yang ada di antara otak itu ‘manik’ di dalam ‘manik’ itu budi, di dalam budi itu nafsu, di dalam nafsu itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu AKU, tidak ada Tuhan selain hanya AKU, dzat yang meliputi keberadaan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat ini menyatakan bahwa Allah bertahta atau bersinggasana di dalam baitul makmur, yang berada di dalam kepala manusia. Barangkali kalau memakai bahasa orang-2 reiki yang dimaksud dengan baitul makmur adalah cakra mahkota yang ada di puncak kepala. Di dalam kepala manusia terdapat otak. Di antara otak itu sendiri terdapat lapisan-2 sebagai berikut :&lt;br /&gt;Yang pertama ‘manik’&lt;br /&gt;Di dalam manik terdapat budi&lt;br /&gt;Dalam budi terdapat nafsu&lt;br /&gt;Dalam nafsu terdapat suksma&lt;br /&gt;Dalam suksma terdapat rahsa&lt;br /&gt;Dalam rahsa terdapat AKU (Allah)&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya tidak ada Tuhan selain hanya AKU (Allah), dzat yang meliputi segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wejangan ke-5 Pambuka tata malige ing dalem betalmukarram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sajatine Ingsun anata malige sajroning betalmukarram, iku omah enggoning lalaranganIngsun, jumeneng ana ing dhadhaningg adam. Kang ana sajroning dhadha iku ati, kang ana antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem , yaiku angen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana pangeran anging Ingsun dat kang anglimputi ing kaanan jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat ke-5 Pembuka tahta dalam baitul mukarram&lt;br /&gt;Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitulmukarram, itu rumah tempat laranganKU, berdiri di dalam dada adam. Yang ada di dalam dada itu hati, yang ada di antara hati itu jantung, dalam jantung itu budi, dalam budi itu jinem, yaitu angan-2, dalam angan-2 itu suksma, dalam suksma itu rahsa, dalam rahsa itu AKU. Tidak ada Tuhan kecuali hanya AKU dzat yang meliputi keberadaan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam nasehat ini Allah menyatakan bahwa diriNya bertahta di baitul muharram yang menjadi tempat larangan, berada di dalam dada manusia. Mungkin yang dimaksud adalah cakra jantung. Disebutkan bahwa di dalam dada manusia itu terdapat susunan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Pertama hati (kalbu)&lt;br /&gt;Di antara hati terdapat jantung,&lt;br /&gt;Di dalam jantung ada budi&lt;br /&gt;Di dalam budi ada angan-2&lt;br /&gt;Di dalam angan-2 ada suksma&lt;br /&gt;Di dalam suksma ada rahsa&lt;br /&gt;Di dalam rahsa ada AKU&lt;br /&gt;Di atas dikatakan bahwa jantung terdapat di antara hati. Yang dimaksud dengan hati ini bukanlah lever atau hati secara fisik, melainkan hati secara maknawi, karena pada diri manusia ada terdapat lebih dari satu hati, yang menurut keilmuan ada yang namanya hati puat, hati suwedhi, dll.&lt;br /&gt;Kembali di wejangan ke-5 ini ditegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain AKU (Allah), dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya (kahanan jati). Mengapa itu perlu ditegaskan, karena untuk menghindari salah pengertian bagi mereka yang telah mendapatkan wejangan ini, jangan sampai karena merasa bahwa AKU (Allah) bertahta di kepala dan di dala manusia, lalu manusia tersebut mengaku dirinya sebagai Tuhan, atau menjadi bagian dari Tuhan. Jika itu yang terjadi, maka manusia tsb telah jauh tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wejangan ke-6 Pambuka tata malige ing dalem betalmukadas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmukadas, iku omah enggoning pasucenIngsun, jumeneng ana ing kontholing adam. Kang ana sajroning konthol iku prinsilan, kang ana ing antaraning pringsilan ikku nutpah, yaiku mani, sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana pangeran anging Ingsun dat kang anglimputi ing kaanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing alam akadiyat, wahdat, wakidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, dadining manungsa sampurna yaiku sajatining sipatIngsun.&lt;br /&gt;Nasehat ke-6 Pembuka tahta dalam baitulmuqaddas&lt;br /&gt;Sesungguhnya AKU bertahta di dalam baitul muqaddas, itu rumah tempat kesucianKU, berdiri di penis/alat kelamin (konthol) adam. Yang ada di dalam penis itu buah pelir (pringsilan), di antara pelir itu nutfah yaitu mani, di dalam mani itu madi, di dalam madi itu wadi, di dalam wadi itu manikem, di dalam manikem itu rahsa, di dalam rahsa itu AKU. Tidak ada Tuhan kecuali AKU dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya, berdiri di dalam nukat gaib, turun menjadi johar awal, di situ keberadaan alam ahadiyat, wahdat, wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, jadinya manusia sempurna yaitu sejatinya sifatKU.Nasehat ini menyatakan bahwa ALLAH bertahta di baitul muqaddas atau baitul maqdis yang merupakan tempat suciNYA yang berada di alat kelamin manusia yang tersusun atas hal-2 sebagai berikut :&lt;br /&gt;Pertama pelir, yang berisi nutfah atau mani&lt;br /&gt;Madi yang merupakan sari dari mani&lt;br /&gt;Wadi sebagai sari dari madi&lt;br /&gt;Manikem sebagai sari dari wadi&lt;br /&gt;Di dalam manikem ada rahsa&lt;br /&gt;Di dalam rahsa ada AKU.&lt;br /&gt;Di sini disebutkan pula bahwa manusia sempurna adalah sebagai perwujudan sifatNYA dan terbentuk melalui tujuh tahapan alam yang dilaluinya, biasa dikenal dengan istilah martabat pitu atau martabat tujuh yaitu&lt;br /&gt;Pertama alam ahadiyah&lt;br /&gt;Kedua wahdat&lt;br /&gt;Ketiga wahidiyah&lt;br /&gt;Keempat arwah&lt;br /&gt;Kelima misal&lt;br /&gt;Keenam ajsam&lt;br /&gt;Ketujuh insan kamil (manusia sempurna).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wejangan ke-7 Panetep santosaning iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusan IngsunNasehat ke-7 Penetapan iman sentosa&lt;br /&gt;AKU menyaksikan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali hanya AKU dan AKU menyaksikan sesungguhnya muhammad itu adalah utusanKU.&lt;br /&gt;Dalam nasehat ini Allah menyatakan kesaksianNya yang ditujukan kepada makhluk ciptaanNya, bahwa tidak ada tuhan lain kecuali hanya Dia semata, dan muhammad adalah benar-benar rasul atau utusanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wejangan ke-8 Sasahidan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingsun anekseni ing DatIngsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusanIngsun. Iya sejatine kan aran Allah iku badanIngsun, rasul iku rahsaNingsun, muhammad iku cahayaNingsun. Iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kaanan jati, iya Ingsun kang waskitha, ora kasamaran ing sawiji-wiji. Iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerthi, byar sampurna padhang terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodratIngsunNasehat ke-8 Sahadat / kesaksian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU menyaksikan pada DzatKU sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali AKU, dan menyaksikan AKU sesungguhnya muhammad itu utusanKU. Sesungguhnya yang bernama Allah itu badanKU, rasul itu rahsaKU, muhammad itu cahayaKU. AKUlah yang hidup tidak bisa mati, AKUlah yang ingat tidak bisa lupa, AKUlah yang kekal tidak bisa berubah dalam keberadaan yang sesungguhnya, AKUlah waskita, tidak ada tersamar pada sesuatu pun. AKUlah yang berkuasa berkehendak, yang kuasa bijaksana tidak kurang dalam tindakan, terang sempurna jelas terlihat, tidak terasa apa pun, tidak kelihatan apa pun, kecuali hanya AKU yang meliputi alam semua dengan kuasa (kodrat)KU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat ini merupakan penutup yang berupa sahadat atau penyaksian. Nasehat pertama sampai dengan kedelapan merupakan satu rangkaian yang tidak boleh diputus, sebab jika terputus maka pemahamannya akan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam jack kalijaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-6801737407283512293?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/6801737407283512293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=6801737407283512293' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/6801737407283512293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/6801737407283512293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/12/ajaran-makrifat-menurut-walisongo.html' title='Ajaran Makrifat Menurut WaliSongo'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-2685869189826480887</id><published>2008-12-01T05:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T21:57:48.192-08:00</updated><title type='text'>Tentang Hakikat Muhammad Dalam Penyaksian</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;  Dalam bahasa tasawuf/sufi hakikat muhammad berhubungan dengan roh al quddus dengan roh al-muhammadiyah. dibawah ini penulis kemukakan analis hal tsb dalam perspektif wali agung syaikh abdul qodir al-jaelani dan juga dalam perspektif wali di tanah jawa , yang sebagian perjalanan pemahaman tentang tasawufnya banyak di pengaruhi oleh wali agung syaikh al-jaelani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anda mungkin pernah bertanya-tanya mengapa wajah rasulullah tidak bisa atau tidak boleh di gambarkan? .. alasan yang muncul kadang karena pada saat itu belum ada fotografi sehingga gambarnya tidak mungkin tepat. kalau hanya itu alasanya .kurang tepat bagi saya, karena pasa masa nabi-nabi yang laen juga belum ada tekhnik foto, dan tidak dipermasalahkan gambar-gambar para nabi dan wali yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau kita melihat banyak kitab dan buku yang ada, pengambaran Allah dan Nabi Muhammad diilustrasikan dengan dengan cahaya yang terang benderang. inspirasi dari ilustrasi cahaya tsb sebenarnya berasal dari QS:Al-Nur:35 tentang nur illahi.sementara muhammad adalah personalisasi di dunia nur tsb. maka dalam hal sosok muhammad yang harus di perhatikan bukan person historisnya ,akan tetapi essensinya dalam bentuk substansi nur muhammad. cahaya pilihan dalam bentuk manusia yang terpuji (Sempurna). karena justru dengan nur muhammad itulah, maka person historis Nabi Muhammad bermakrifat secara musyahadah dan dengan mata telanjang(Ibn Arabi:26) dan dengan cahaya makrifat Nabi Muhammad maka seluruh makhluk dapat mengenali, dan melalui keutamaannya mengungguli seluruh makhluk, mereka memberi pengakuan. jelas menurut syaikh al-jaelani,Nur Muhammad ciptaan pertama dan utama Allah,yang di cipta dari nur Allah (esensi) sendiri, atau memang cahaya khusus yang di karuniakan Allah sendiri, untuk merujuk pada keutamaan dan kemuliaanya sebagai prototipe al-insan al-kamil(al-jaelani:121).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam kaitan bahwa Nabi Muhammad Hakikatnya bukan sosok historisnya yang harus di rujuk, maka asma' Muhammad bukanlah nama asal dari rasulullah yang agung ini. muhammad adalah nama dunianya, dimana nama aslinya sejak kecil adalah "Ahmad", sosok yang penuh dengan keterpujian. sementara secara sepiritualnya,dan dalam posisinya terhadap Allah,  Rasulullah mengemukakan dirinya sendiri bahwa:Ana Ahmadun bi-la mim" .Artinya pada dirinya tidak laen penyandang nama "Ahad" dia adalah pengejawentahan dari yang esa. inilah yang juga di sebut Roh Al- Quds, roh suci untuk meneruskan penzahiran yang paling sempurna dalam peringkat alam lahut(Al-jaelani:27) dalam hal ini para wali kuno tanah jawa memberikan penjelasan secara tepat sbb:&lt;br /&gt;'.... Muhammad itu pada hakikatnya Nur Allah, yang dalam bentuk lahir ialah muhammad "...&lt;br /&gt;persis ungkapan Al ghazali: bahwa muhammad yang seorang nabi/rasul dengan muhammad yang seorang arab mesti kita harus bisa membedakan walaupun memang kenyataanya nabi muhammad lahir di jazirah arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Disinilah rahasia dari menyatunya syahadat rasul ke dalam syahadat tauhid, dan inilah jawaban mengapa sejak Nabi Adam AS menghuni surga, digerbangnya sudah terdapat tulisan syahadat rasul ini. ya Nur Muhammada selalu menyertai roh dari semua jiwa yang akan dan pernah ada di alam semesta ini. ini pula kunci rahasia mengapa para nabi yang pernah ada memohon kepada Allah agar di jadikan sebagai umat Nabi Muhammad saw.(Al-jaelani :121).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur muhammad dalam perspektih Syaikh Abdul Qodir Al-jaelani di sebut dengan sebutan Roh Muhammad, yang diciptakan dari cahaya ketuhanan (nurun ala nurin) nur Muhammad merupakan realitas gaib yang menjadi inti segala penciptaan. oleh karenannya kadang ia disebut Nur, Roh, Qalam (tercipta dari perkataan kun). ia merupakan realitas yang memiliki banyak nama menurut fungsi dan dari mana sudut mana kita memandang (al-jaelani:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Maka realitas batin seperti inilah yang diberikan kepada orang-orang sufi sebagai Hakikat Al-Muhammadiyah. jika disebut dengan nur tau cahaya  karena ia memang bebas dan bersih dari segala kegelapan, karena adanya cahaya tsb. realitas dalam fungsinya didunia tampak pada gelarnya sebagai 'Aql al-kull(Akal semesta) karna pengetahuanya tentang segala sesuatu.ia mendapat gelar Qalam.karena dari pengetahuanya dalam akal semesta ia menyebarkan ilmu dan hikmah dan menzahirkan ilmu dalam bentuk huruf dan perkataan. ia disebut roh karena menjadi esensi kehidupan, dan memunculkan yang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Maka menurut Al-jaelani ,Muhammad adalah nama insan dalam alam gaib, dimana roh berkumpul, yang menjadi sumber dan asal segala sesuatu. di sinilah letak dari logika bahwa Allah menciptakan alam, karena akan menciptakan person dari muhammad utk keperluan alam ini. dari kelahiran nur muhammad inilah diikuti oleh penciptaan makhluk-makhluk yang lain serta Arsy-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dalam pengejawentahanya,menurut al jaelani dan para tokoh sufi lainya, Allah kemudian menurunkan nur dari tempat kejadianya, yaitu alam lahut ke alam asma' Allah, yaitu alam penciptaan sifat-sifat Allah dan alam akal roh semesta. kemudian di turunkan lagi ke alam malaikat utk di pakaikan pakaian kemalaikatan. lalu di turunkan lagi ke alam ajsam yang terjadi unsur api, udara, air dan tanah, disitulah roh diberikan jasmaniah beserta nafsu-nafsunya(al-jaelani:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah roh mengalami badanisasi inilah ia mulai mengalami kehilangan nur, dan lupa akan asal serta perjanjian azalinya dengan Allah. namun Allah juga tetap memberikanya bekal utk kembali dalam bentuk mata hati atau bashirah yang menjadi gerbang bagi gerak bebas roh al -idhafi sebagai mursyid setiap jiwa. hanya saja , basirah ini akan berfungsi optimal kalau seseorang  selalu berada dalam taqarrubnya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan bashirahnya inilah ia akan sanggup menembus kabut alam gaib, dan menyingkap segala hijab yang menjadi penghalangnya utk kembali kepada Allah. orang sudah dapat memfungsikan bashirahnya dan mendayagunakan Roh Al-Muhammad-nya sebagai pusat perjalanan sepiritualnya. maka ia akan bisa menembus semesta, karena letak nur muhammad itu sendiri berada di langit tujuh berada dalam arsy-nya yang menyatu dan menyanding dengan Allah itu sendiri. ia akan dapat kembali terserap dalam kesatuan nur essensial. sehingga ia dapat melihat apa yang belum pernah dilihat, dan mengatasi semua penglihatan dan benda yang dapat dilihat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut Al-jaelani, hal yang di perlukan orang awam utk membuka bashirahnya adalah dengan mencari orang yang bashiraohnya sudah terbuka dan sudah di daya gunakan secara optimal. hanya melalui orang yang sudah mata hatinya sudah di fungsikan secara semestinya, orang awam dapat memasuki dunia sufisme, serta menunggu giliranya utk terbukanya mata bashirohnya kepada Allah.karna hanya dengan terbukanya pintu bashirohnya inilah, maka ia dapat menjalani fungsi utamanya di ciptakan didunia, yakni utk bermakrifatullah. yang harus di ingat adalah bahwa bahwa posisi Roh Al-Muhammadiyah ini hanya dapat bertahan dan berfungsi pada pribadi rasul,nabi,auliya' dan kekasih-kekasinya. maka tidak ada pilihan lain bagi diri kita masing-masing utk semaksimal mungkin agar dapat menjadi hamba dan kekasih Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tentu sempat muncul pertanyaaan , mengapa roh suci ini di turunkan kedunia yang fana' ini ? ia di hantarkan ketempat yang paling terendah supaya ia dapat kembali keasalnya yaitu berpadu dan berdampingan dengan Allah saja atau innal lillahi wa inna ilahi rajiun. seperti ketika ia berada dalam pakaian daging, darah,  dan tulang itu. melalui mata hati yang ada di dalam wadag-nya, ia dapat selalu menanam, memelihara  dan memupuk benih kesatuan dan ke-esaan, serta berusaha menyuburkan rasa "berpadu" dan berdampingan" dengan Allah. demikian menurut Syaikh Abdul QodirAl-Jaelani (al-jaelani:28).inilah hakikat roh suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adapun ganjaran bagi roh suci, menurut al-jaelani, adalah melihat makhluk yang pertama dilahirkan. ketika itu, ia akan dapat melihat keindahan Allah. kepadanya di perlihatkan rahasia illahiah. penglihatan dan pendengaranya menjadi satu. tidak ada perbandingan, tidak ada persamaan, dengan sesuatu apapun. dilihatnya kesatuan jalal (kegagahan, kemurkaan)dengan sifat jamal(keindahan, kecantikan) Allah. sifat jalal dan jamal menjadi satu dalam pandanganya(al-jaelani:27). inilah kunci kearifan dirinya sebagai buah makrifat dan hakikat yang telah di saksikan dan dialami oleh roh suci. ia mendapat karunia kebeningan dan kesucian batinya berupa shafa' al-asror (rahasia-rahasia suci). dan pengalaman parawali inilah yang menjadikan benar-benar hidup di sisi tuhanya, walaupun jasad kita kembali kepada zatnya masing. inilah kehidupan sejati yang perlu kita capai hidup penuh dengan kesempurnaan di sisi illahi rabbi......................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam jack kalijaga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-2685869189826480887?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/2685869189826480887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=2685869189826480887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/2685869189826480887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/2685869189826480887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/12/tentang-hakikat-muhammad-dalam.html' title='Tentang Hakikat Muhammad Dalam Penyaksian'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-7221687119469197295</id><published>2008-10-22T17:20:00.001-07:00</published><updated>2008-12-31T22:03:06.351-08:00</updated><title type='text'>Serat Dewa Ruci</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Kisah Bima mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi ‘asal dan tujuan hidup manusia’ atau manunggaling kawula Gusti. Dalam kisah ini termuat amanat ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan amanat bagaimana manusia kembali menuju Tuhannya. Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan, Mahatahu, dan Mahabesar. Ia tan kena kinaya ngapa ‘tidak dapat dikatakan dengan apa pun’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Jalan menuju Tuhan yang ditempuh oleh Bima dalam menuju manusia sempurna disebutkan melalui empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa).&lt;br /&gt;pendahuluan Kisah tokoh utama Bima dalam menuju manusia sempurna dalam teks wayang Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus mengalami perjalanan batin untuk menemukan identitas dirinya. Peursen (1976:68) menamakan proses ini sebagai “identifikasi diri”, sedangkan Frans Dahler dan Julius Chandra menyebutnya dengan proses “individuasi” (1984:128).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pencarian untuk menemukan identitas diri ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi Man ‘arafa nafsahu faqad rabbahu. ‘Barang siapa mengenal dirinya niscaya dia akan mengenal Tuhannya’. Hal ini dalam cerita Dewaruci tersurat pada pupuh V Dhandhanggula bait 49: Telas wulangnya Sang Dewaruci, Wrekudara ing tyas datan kewran, wus wruh mring gamane dhewe, …’Habis wejangan Sang Dewruci. Wrekudara dalam hati tidak ragu sudah tahu terhadap jalan dirinya …’ (Marsono, 1976:107).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Perjalanan Empat Tahap Menuju Manusia Sempurna oleh BimaKisah tokoh Wrekudara dalam menuju manusia sempurna pada cerita Dewaruci dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa disebut: laku raga, laku budi, laku manah, dan laku rasa (Mangoewidjaja, 1928:44;Ciptoprawiro, 1986:71). Atau menurut ajaran Mangkunegara IV seperti disebutkan dalam Wedhatama (1979:19-23), empat tahap laku ini disebut: sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan SyariatSyariat (Jawa sarengat atau laku raga, sembah raga) adalah tahap laku perjalanan menuju manusia sempurna yang paling rendah, yaitu dengan mengerjakan amalan-amalan badaniah atau lahiriah dari segela hukum agama. Amalan-amalan itu menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping amalan-amalan seperti itu, dalam kaitan hubungan manusia dengan manusia, orang yang menjalani syariat, di antaranya kepada orang tua, guru, pimpinan, dan raja, ia hormat serta taat. Segala perintahnya dilaksanakaannya. Dalam pergaulan ia bersikap jujur, lemah lembut, sabar, kasih-mengasihi, dan beramal saleh.Bagian-bagian cerita Dewaruci yang secara filosofis berkaitan dengan tahap syariat adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Taat kepada Guru&lt;br /&gt;Tokoh Bima dalam cerita Dewaruci diamanatkan bahwa sebagai murid ia demikian taat. Sewaktu ia dicegah oleh saudara-saudaranya agar tidak menjalankan perintah gurunya, Pendeta Durna, ia tidak menghiraukan. Ia segera pergi meninggalkan saudara-saudaranya di kerajaan guna mencari tirta pawitra. Taat menjalankan perintah guru secara filosofis adalah sebagai realisasi salah satu tahap syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Hormat kepada Guru&lt;br /&gt;Selain taat tokoh Bima juga sangat hormat kepada gurunya. Ia selalu bersembah bakti kepada gurunya. Dalam berkomunikasi dengan kedua gurunya, Pendeta Durna dan Dewaruci, ia selalu menggunakan ragam Krama. Pernyataan rasa hormat dengan bersembah bakti dan penggunaaan ragam Krama kepada gurunya ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian laku syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Tarekat&lt;br /&gt;Tarekat (Jawa laku budi, sembah cipta) adalah tahap perjalanan menuju manusia sempurna yang lebih maju. Dalam tahap ini kesadaran hakikat tingkah laku dan amalan-amalan badaniah pada tahap pertama diinsyafi lebih dalam dan ditingkatkan (Mulder, 1983:24). Amalan yang dilakukan pada tahap ini lebih banyak menyangkut hubungan dengan Tuhan daripada hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Pada tingkatan ini penempuh hidup menuju manusia sempurna akan menyesali terhadap segala dosa yang dilakukan, melepaskan segala pekerjaan yang maksiat, dan bertobat. Kepada gurunya ia berserah diri sebagai mayat dan menyimpan ajarannya terhadap orang lain. Dalam melakukan salat, tidak hanya salat wajib saja yang dilakukan. Ia menambah lebih banyak salat sunat, lebih banyak berdoa, berdikir, dan menetapkan ingatannya hanya kepada Tuhan. Dalam menjalankan puasa, tidak hanya puasa wajib yang dilakukan. Ia lebih banyak mengurangi makan, lebih banyak berjaga malam, lebih banyak diam, hidup menyendiri dalam persepian, dan melakukan khalwat. Ia berpakaian sederhana dan hidup mengembara sebagai fakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian cerita Dewaruci yang menyatakan sebagian tahap tarekat di antaranya terdapat pada pupuh II Pangkur bait 29-30. Diamanatkan dalam teks ini bahwa Bima kepada gurunya berserah diri sebagai mayat. Sehabis berperang melawan Raksasa Rukmuka dan Rukmakala di Gunung Candramuka Hutan Tikbrasara, Bima kembali kepada Pendeta Durna. Air suci tidak didapat. Ia menanyakan di mana tempat tirta pawitra yang sesungguhnya. Pendeta Durna menjawab, “Tempatnya berada di tengah samudra”. Mendengar jawaban itu Bima tidak putus asa dan tidak gentar. Ia menjawab, “Jangankan di tengah samudra, di atas surga atau di dasar bumi sampai lapis tujuh pun ia tidak akan takut menjalankan perintah Sang Pendeta”. Ia segera berangkat ke tengah samudra. Semua kerabat Pandawa menangis mencegah tetapi tidak dihiraukan. Keadaan Bima yeng berserah diri jiwa raga secara penuh kepada guru ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian tahap laku tarekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Hakikat&lt;br /&gt;Hakikat (Jawa laku manah, sembah jiwa) adalah tahap perjalanan yang sempurna. Pencapaian tahap ini diperoleh dengan mengenal Tuhan lewat dirinya, di antaranya dengan salat, berdoa, berdikir, atau menyebut nama Tuhan secara terus-menerus (bdk. Zahri, 1984:88). Amalan yang dilakukan pada tahap ini semata-mata menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Hidupnya yang lahir ditinggalkan dan melaksanakan hidupnya yang batin (Muder, 1983:24). Dengan cara demikian maka tirai yang merintangi hamba dengan Tuhan akan tersingkap. Tirai yang memisahkan hamba dengan Tuhan adalah hawa nafsu kebendaan. Setelah tirai tersingkap, hamba akan merasakan bahwa diri hamba dan alam itu tidak ada, yang ada hanyalah “Yang Ada”, Yang Awal tidak ada permulaan dan Yang Akhir tidak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, hamba menjadi betul-betul dekat dengan Tuhan. Hamba dapat mengenal Tuhan dan melihat-Nya dengan mata hatinya. Rohani mencapai kesempurnaan. Jasmani takluk kepada rohani. Karena jasmani takluk kepada rohani maka tidak ada rasa sakit, tidak ada susah, tidak ada miskin, dan juga maut tidak ada. Nyaman sakit, senang susah, kaya miskin, semua ini merupakan wujud ciptaan Tuhan yang berasal dari Tuhan. Segala sesuatu milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, manusia hanya mendaku saja. Maut merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil kepada kebebasan yang luas, mencari Tuhan, kekasihnya. Mati atau maut adalah alamat cinta yang sejati (Aceh, 1987:67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap ini biasa disebut keadaan mati dalam hidup dan hidup dalam kematian. Saat tercapainya tingkatan hakikat terjadi dalam suasana yang terang benderng gemerlapan dalam rasa lupa-lupa ingat, antara sadar dan tidak sadar. Dalam keadaan seperti ini muncul Nyala Sejati atau Nur Ilahi (Mulyono, 1978:126).Sebagian tahap hakikat yang dilakukan atau dialami oleh tokoh Bima, di antaranya ialah: mengenal Tuhan lewat dirinya, mengalami dan melihat dalam suasana alam kosong, dan melihat berbagai macam cahaya (pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Mulai Melihat Dirinya&lt;br /&gt;Setelah Bima menjalankan banyak laku maka hatinya menjadi bersih. Dengan hati yang bersih ini ia kemudian dapat melihat Tuhannya lewat dirinya. Penglihatan atas diri Bima ini dilambangkan dengan masuknya tokoh utama ini ke dalam badan Dewaruci.&lt;br /&gt;Bima masuk ke dalam badan Dewaruci melalui “telinga kiri”. Menurut hadis, di antaranya Al-Buchari, telinga mengandung unsur Ketuhanan. Bisikan Ilahi, wahyu, dan ilham pada umumnya diterima melalui “telinga kanan”. Dari telinga ini terus ke hati sanubari. Secara filosofis dalam masyarakat Jawa, “kiri” berarti ‘buruk, jelek, jahat, tidak jujur’, dan “kanan” berarti ‘baik (dalam arti yang luas)’. Masuk melalui “telinga kiri” berarti bahwa sebelum mencapai kesempurnaan Bima hatinya belum bersih (bdk. Seno-Sastroamidjojo, 1967:45-46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Bima masuk dalam badan Dewaruci, ia kemudian melihat berhadapan dengan dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima sewaktu kecil. Dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima waktu muda itu adalah Dewaruci; penjelmaan Yang Mahakuasa sendiri (bdk. Magnis-Suseno, 1984:115). Bima berhadapan dengan Dewaruci yang juga merupakan dirinya dalam bentuk dewa kerdil. Kisah Bima masuk dalam badan Dewaruci ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima mulai berusaha untuk mengenali dirinya sendiri. Dengan memandang Tuhannya di alam kehidupan yang kekal, Bima telah mulai memperoleh kebahagiaan (bdk. Mulyono, 1982:133). Pengenlan diri lewat simbol yang demikian secara filosofis sebagai realisasi bahwa Bima telah mencapai tahap hakikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Mengalami dan Melihat dalam Suasasa Alam Kosong&lt;br /&gt;Bima setelah masuk dalam badan dewaruci melihat dan merasakan bahwa dirinyatidak melihat apa-apa. Yang ia lihat hanyalah kekosongan pandangan yang jauh tidak terhingga. Ke mana pun ia berjalan yang ia lihat hanya angkasa kosong, dan samudra yang luas yang tidak bertepi. Keadaan yang tidak bersisi, tiada lagi kanan kiri, tiada lagi muka belakang, tiada lagi atas bawah, pada ruang yang tidak terbatas dan bertepi menyiratkan bahwa Bima telah memperoleh perasaan batiniahnya. Dia telah lenyap sama sekali dari dirinya, dalam keadaan kebakaan Allah semata. Segalanya telah hancur lebur kecuali wujud yang mutlak. Dalam keadaan seperti ini manusia menjadi fana ke dalam Tuhan (Simuh, 1983:312).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala yang Ilahi dan yang alami walaupun kecil jasmaninya telah terhimpun menjadi satu, manunggal (Daudy, 1983:188). Zat Tuhan telah berada pada diri hambabnya (Simuh, 1983:311), Bima telah sampai pada tataran hakikat.Disebutkan bahwa Bima karena merasakan tidak melihat apa-apa, ia sangat bingung. Tiba-tiba ia melihat dengan jelasDewaruci bersinar kelihatan cahayanya. Lalu ia melihat dan merasakan arah mata angin, utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah, serta melihat matahari. Keadaan mengetahui arah mata angin ini menyiratkan bahwa ia telah kembali dalam keadaan sadar. Sebelumnya ia dalam keadaan tidak sadar karena tidak merasakan dan tidak melihat arah mata angin. Merasakan dalam keadaan sadar dan tidak sadar dalam rasa lupa-lupa ingat menyiratkan bahwa Bima secara filosofis telah sampai pada tataran hakikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengalami suasana alam kosong antara sadar dan tidak sadar, ia melihat berbagai macam cahaya. Cahaya yang dilihatnya itu ialah: pancamaya, sinar tunggal berwarna delapan, empat warna cahaya, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar. Hal melihat berbagai macam cahaya seperti itu secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah sampai pada tataran hakikat. Ia telah menemukan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Melihat Pancamaya&lt;br /&gt;Tokoh utama Bima disebutkan melihat pancamaya. Pancamaya adalah cahaya yang melambangkan hati yang sejati, inti badan. Ia menuntun kepada sifat utama. Itulah sesungguhnya sifat. Oleh Dewaruci, Bima disuruh memperlihatkan dan merenungkan cahaya itu dalam hati, agar supaya ia tidak tersesat hidupnya.Hal-hal yang menyesatkan hidup dilambangkan dengan tiga macam warna cahaya, yaitu: merah, hitam, dan kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Melihat Empat Warna Cahaya&lt;br /&gt;Bima disebutkan melihat empat warna cahaya, yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih. Isi dunia sarat dengan tiga warna yang pertama. Ketiga warna yang pertama itu pengurung laku, penghalang cipta karsa menuju keselamatan, musuhnya dengan bertapa. Barang siapa tidak terjerat oleh ketiga hal itu, ia akan selamat, bisa manunggal, akan bertemu dengan Tuhannya. Oleh karena itu, perangai terhadap masing-masing warna itu hendaklah perlu diketahui.Yang hitam lebih perkasa, perbuatannya marah, mengumbar hawa nafsu, menghalangi dan menutup kepada hal yang tidak baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang tidak baik, iri hati dan dengki keluar dari sini. Hal ini menutup (membuat buntu) kepada hati yang selalu ingat dan waspada. Yang kuning pekerjaannya menghalangi kepada semua cipta yang mengarah menuju kebaikan dan keselamatan. Oleh Sri Mulyono (1982:39) nafsu yang muncul dari warna hitam disebut aluamah, yang dari warna merah disebut amarah, dan yang muncul dari warna kuning disebut sufiah. Nafsu aluamah amarah, dan sufiah merupakan selubung atau penghalang untuk bertemu dengan Tuhannya.Hanya yang putih yang nyata. Hati tenang tidak macam-macam, hanya satu yaitu menuju keutamaan dan keselamatan. Namun, yang putih ini hanya sendiri, tiada berteman sehingga selalu kalah. Jika bisa menguasai yang tiga hal, yaitu yang merah, hitam, dan kuning, manunggalnya hamba dengan Tuhan terjadi dengan sendirinya; sempurna hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Melihat Sinar Tunggal Berwarna Delapan&lt;br /&gt;Bima dalam badan Dewaruci selain melihat pancamaya melihat urub siji wolu kang warni ‘sinar tunggal berwarna delapan’. Disebutkan bahwa sinar tunggal berwarna delapan adalah “Sesungguhnya Warna”, itulah Yang Tunggal. Seluiruh warna juga berada pada Bima. Demikian pula seluruh isi bumi tergambar pada badan Bima. Dunia kecil, mikrokosmos, dan dunia besar, makrokosmos, isinya tidak ada bedanya. Jika warna-warna yang ada di dunia itu hilang, maka seluruh warna akan menjadi tidak ada, kosong, terkumpul kembali kepada warna yang sejati, Yang Tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Melihat Benda bagaikan Boneka Gading yang Bersinar&lt;br /&gt;Bima dalam badan Dewaruci di samping melihat pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, ia melihat benda bagaikan boneka hading yang bersinar. Itu adalah Pramana, secara filosofis melambangkan Roh. Pramana ‘Roh’ kedudukannya dibabtasi oleh jasad. Dalam teks diumpamakan bagaikan lebah tabuhan. Di dalamnya terdapat anak lebah yang menggantung menghadap ke bawah. Akibatnya mereka tidak tahu terhadap kenyataan yang ada di atasnya (Hadiwijono, 1983:40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filisofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Makrifat&lt;br /&gt;Makrifat (Jawa laku rasa, sembah rasa) adalah perjalanan menuju manusia sempurna yang paling tinggi. Secara harfiah makrifat berarti pengetahuan atau mengetahui sesuatu dengan seyakin-yakinnya (Aceh, 1987:67). Dalam tasawuf, makrifat berarti mengenal langsung atau mengetahui langsung tentang Tuhan dengan sebenar-benarnya atas wahyu atau petunjuk-Nya (Nicholson, 1975:71), meliputi zat dan sifatnya. Pencapaian tataran ini diperoleh lewat tataran tarekat, yaitu ditandai dengan mulai tersingkapnya tirai yang menutup hati yang merintangi manusia dengan Tuhannya. Setelah tirai tersingkap maka manusia akan merasakan bahwa diri manusia dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada. Dalam hal seperti ini zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Manusia telah merealisasikan kesatuannya dengan Yang Ilahi. Keadaan ini tidak dapat diterangkan (Nicholson, 1975:148) (Jawa tan kena kinaya ngapa) (Mulyono, 1982:47), yang dirasakan hanyalah indah (Zahri, 1984:89). Dalam masyarakat Jawa hal ini disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, pamoring kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti, warangka manjing curiga curiga manjing warangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini manusia tidak akan diombang-ambingkan oleh suka duka dunia. Ia akan berseri bagaikan bulan purnama menyinari bumi, membuat dunia menjadi indah. Di dunia ia menjadi wakil Tuhan (wakiling Gusti), menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan memberi inspirasi kepada manusia yang lain (de Jong, 1976:69; Mulder, 1983:25). Ia mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia yang masih diselubingi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan dunia yang fana ini (Aceh, 1987:70). Tindakan diri manusia semata-mata menjadi laku karena Tuhan (Subagya, 1976:85).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan yang dialami oleh Bima yang mencerminkan bahwa dirinya telah mencapai tahap makrifat, di antaranya ia merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan ombak, nikmat dan bermanfaat, segala yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan purnama menyinari bumi.&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Hamba (Bima) dengan Tuhan bagaikan Air dengan Ombak&lt;br /&gt;Wujud “Yang Sesungguhnya”, yang meliputi segala yang ada di dunia, yang hidup tidak ada yang menghidupi, yang tidak terikat oleh waktu, yaitu Yang Ada telah berada pada Bima, telah menunggal menjadi satu. Jika telah manunggal penglihatan dan pendengaran Bima menjadi penglihatan dan pendengaran-Nya (bdk. Nicholson, 1975:100-1001). Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu.Namun, bagaimana pun juga hamba dengan zat Tuhannya tetap berbeda (Nicholson, 1975:158-159). Yang mendekati kesamaan hanyalah dalam sifatnya. Dalam keadaan manunggal manusia memiliki sifat-sifat Ilahi (Hadiwijono, 1983:94).Perumpamaan manusia dalam keadaan yang sempurna dengan Tuhannya, bagaikan air dengan ombak ada kesamaannya dengan yang terdapat dalam kepercayaan agama Siwa. Dalam agama Siwa kesatuan antara hamba dengan dewa Siwa disebutkan seperti kesatuan air dengan laut, sehingga keduanya tidak dapat dibedakan lagi. Tubuh Sang Yogin yang telah mencapai kalepasan segera akan berubah menjadi tubuh dewa Siwa. Ia akan mendapatkan sifat-sifat yang sama dengan sifat dewa Siwa (Hadiwijono, 1983:45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Merasakan Nikmat dan Bermanfaat&lt;br /&gt;Bima setelah manunggal dengan Tuhannya tidak merasakan rasa khawatir, tidak berniat makan dan tidur, tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat yang memberi berkah karena segala yang dimaksud dapat tercapai. Hal ini menyebabkan Bima ingin manunggal terus. Ia telah memperoleh kebahagiaan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat. Sinar Ilahi yang melahirkan kenikmatan jasmani dan kebahagian rohani telah ada pada Bima. Oleh kaum filsafat, itulah yang disebut surga (Hamka, 1984:139). Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Segala yang Dimaksud oleh Bima Tercapai&lt;br /&gt;Segala yang menjadi niat hatinya terkabul, apa yang dimaksud tercapai, dan apa yang dicipta akan datang, jika hamba telah bisa manunggal dengan Tuhannya. Segala yang dimaksud oleh Bima telah tercapai. Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tataran makrifat.Segala yang diniatkan oleh hamba yang tercapai ini kadang-kadang bertentangan dengan hukum alam sehingga menjadi suatu keajaiban. Keajaiban itu dapat terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi (Nicholson, 1975:132). Ada dua macam keajaiban, yang pertama yang dilakukan oleh para wali disebut keramat dan yang kedua keajaiban yang dilakukan oleh para nabi disebut mukjizat (Nicholson, 1975:129).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Bima Merasakan Bahwa Hidup dan Mati Tidak Ada Bedanya&lt;br /&gt;Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan atau mematikan nafsu yang tidak baik dalam dalam kematian manusia akan kembnali menjadi satu dengan Tuhannya. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Suksma. Ia kemudian bebas merdeka sesuai kehendaknya kembali manunggal kepada Yang Kekal (Marsono, 1997:799). Keadaan bahwa hidup dan mati tidak ada bedanya secara filosofis melambangkan bahwa tokoh Bima telah mencapai tahap makrifat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Filosofis Hati Bima Terang bagaikan Bunga yang Sedang Mekar&lt;br /&gt;Bima setelah mengetahui, menghayati, dan mengalami manunggal sempurna dengan Tuhannya karena mendapatkan wejangan dari Dewaruci, ia hatinga terang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar. Dewaruci kemudian musnah. Bima kembali kepada alam dunia semula. Ia naik ke darat kembali ke Ngamarta. Keadaan hati yang terang benderang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Kisah Bima dalam mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi ‘asal dan tujuan hidup manusia’ atau manunggaling kawula Gusti. Dalam kisah ini termuat amanat ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan bagaimana manusia menuju Tuhannya. Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Ia dijadikan dari air. Ia wajib menuntut ilmu. Dalam menuntut ilmu tugas guru hanya memberi petunjuk. Manusia tidak memiliki karena segala yang ada adalah milik-Nya. Ia wajib selalu ingat terhadap Tuhannya, awas dan waspada terhadap segala godaan nafsu yang tidak baik, sebab pada akhirnya manusia akan kembali kepada-Nya. Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan, Mahatahu, dan Mahabesar. Ia tan kena kinaya ngapa ‘tidak dapat dikatakan dengan apa pun’.Kisah perjalanan batin Bima dalam menuju manusia sempurna ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam jack kalijaga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-7221687119469197295?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/7221687119469197295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=7221687119469197295' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/7221687119469197295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/7221687119469197295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/10/serat-dewa-ruci.html' title='Serat Dewa Ruci'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-3147150763444162139</id><published>2008-10-22T16:43:00.001-07:00</published><updated>2008-12-31T22:11:36.692-08:00</updated><title type='text'>Suluk Syekh Jangkung</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;MUQADIMAH&lt;br /&gt;Bismillah, wengi iki ingsung madep, ngawiti murih pakerti, pakertining budi kang fitri, sujud ingsun, ing ngarsané Dzat Kang Maha Suci.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Bismillah, malam ini hamba menghadap, mengawali meraih hikmah/ hikmah budi yang suci, hamba bersujud, di hadapan Keagungan Yang Mahasuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah ar-rahman ar-rahim, rabu mbengi, malam kamis, tanggal lima las, wulan poso, posoning ati ngilangi fitnah, posoning rogo ngeker tingkah.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Bismillâh ar-Rahmân ar-Rahîm, Rabu malam Kamis, tanggal 15 bulan Ramadhan, puasa hati menghilangkan fitnah, puasa raga mencegah tingkah buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, dhuh Pangeran Kang Maha Suci, niat ingsun ndalu niki, kawula kang ngawiti, nulis serat kang ingsun arani, serat Hidayat Bahrul Qalbi, anggayuh Sangkan Paraning Dumadi.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Bismillâh, wahai Tuhan Yang Mahasuci, niat hamba malam ini, hamba yang mengawali, menulis surat yang dinamai, surat Hidayat Bahrul Qalbi, untuk memahami asal tujuan hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, dhuh Pangeran mugi hanebihna, saking nafsu ingsun iki, kang nistha sipatipun, tansah ngajak ing laku drengki, ngedohi perkawis kang wigati.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Bismillâh, wahai Tuhan semoga Engkau menjauhkan, dari nafsu hamba ini, yang buruk sifatnya, senantiasa mengajak berlaku dengki, menjauhi perkara yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, kanthi nyebut asmaning Allah, Dzat ingkang Maha Welas, Dzat ingkang Maha Asih, kawula nyenyuwun, kanthi tawasul marang Gusti Rasul, Rasul kang aran Nur Muhammad, mugiya kerso paring sapangat, kanthi pambuka ummul kitab.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Bismillâh, dengan menyebut nama Allah, Dzat Yang Maha Pengasih, Dzat Yang Maha Penyayang, hamba memohon, melalui perantara Rasul, Rasul yang bernama Nur Muhammad, semoga berkenan memberi syafaat, dengan pembukaan membaca ummul kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun tulis kersaneng rasa, rasaning wong tanah Jawa, sun tulis kersaneng ati, atining jiwa kang Jawi, ati kang suci, tanda urip kang sejati, sun tulis kersaning agami, ageming diri ingkang suci.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Hamba tulis karena rasa, perasaan orang tanah Jawa, hamba tulis karena hati, hati dari jiwa yang keluar, hati yang suci, tanda hidup yang sejati, hamba tulis karena agama, pegangan diri yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang tinulis dudu ajaran, kang tinulis dudu tuntunan, iki serat sakdermo mahami, opo kang tinebut ing Kitab Suci, iki serat amung mangerteni, tindak lampahé Kanjeng Nabi.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Yang tertulis bukan ajaran, yang tertulis bukan tuntunan, surat ini sekadar memahami, apa yang tersebut dalam Kitab Suci, surat ini sekadar mengetahui, perilaku hidup Kanjeng Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kang ana ing serat iki, mong rasa sedehing ati, ati kang tanpa doyo, mirsani tindak lampahing konco, ingkang tebih saking budi, budining rasa kamanungsan, sirna ilang apa kang dadi tuntunan.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Apa yang ada di surat ini, hanya rasa kesedihan hati, hati yang tiada berdaya, melihat sikap perilaku saudara, yang jauh dari budi, budi rasa kemanusiaan, hilang sudah apa yang menjadi tuntunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mugi-mugi dadiho pitutur, marang awak déwé ingsun, syukur nyumrambahi para sadulur, nyoto iku dadi sesuwun, ing ngarsane Dzat Kang Luhur.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Semoga menjadi petunjuk, terhadap diri hamba sendiri, syukur bisa berguna untuk sesama, itulah yang menjadi permohonan, di hadapan Dzat Yang Mahaagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01. SYARIAT&lt;br /&gt;Mangertiyo sira kabéh, narimoho kanthi saréh, opo kang dadi toto lan aturan, opo kang dadi pinesténan, anggoning ngabdi marang Pangeran.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Mengertilah kalian semua, terimalah dengan segala kerendahan jiwa, terimalah dengan tulus dan rela, apa yang menjadi ketetapan dan aturan, apa yang telah digariskan, untuk mengabdi pada Keagungan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basa sarak istilah ‘Arbi, tedah isarat urip niki, mulo kénging nampik milih, pundhi ingkang dipun lampahi, anggoning ngabdi marang Ilahi.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Istilah syarak adalah bahasa Arab, yang berarti petunjuk atau pedoman untuk menjalani kehidupan ‘agama’, untuk itulah diperbolehkan memilih, mana yang akan dijalani sesuai dengan kemampuan diri, guna mengabdi pada Keagungan Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saréngat iku tan ora keno, tininggal selagi kuwoso, ageming diri kang wigati, cecekelan maring kitab suci, amrih murih rahmating Gusti.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Apa yang telah di-syari‘at-kan hendaknya jangan kita tinggal, selama diri ini mampu untuk menjalankan, aturan yang menjadi pegangan hidup kita, aturan yang sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Qur’an, Itu semua, tidak lain hanya usaha kita untuk mendapat rahmat, dan pengampunan dari Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saréngat iku keno dén aran, patemoné badan lawan lésan, ono maneh kang pepiling, sareh anggoné kidmat, nyembah ngabdi marang Dzat.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Syariat juga diartikan, sebuah pertemuan antara badan dengan lisan, bertemunya raga dengan apa yang dikata, ada juga yang memberi pengertian, bahwa syariat adalah pasrah dalam berkhidmat, menyembah dan mengabdi pada Keagungan Yang Mahasuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saréngat utawi sembah raga iku, pakartining wong amagang laku, sesucine asarana saking warih,&lt;br /&gt;kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Syari`at atau Sembah Raga itu, merupakan tahap persiapan, di mana seseorang harus melewati proses pembersihan diri, dengan cara mengikuti peraturan-peraturan yang ada, dan yang sudah ditentukan—rukun Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulo iling-ilingo kang tinebut iki, sadat, sholat kanthi kidmat, zakat bondo lawan badan, poso sak jroning wulan ramadhan, tinemu haji pinongko mampu, ngudi luhuring budi kang estu.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Maka ingat-ingatlah apa yang tersebut di bawah ini, syahadat dengan penuh keihklasan, shalat dengan khusuk dan penuh ketakdhiman, mengeluarkan zakat harta dan badan untuk sesame, puasa pada bulan ramadhan atas nama pengabdian pada Tuhan, menunaikan ibadah haji untuk meraih kehalusan budi pekerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limo cukup tan kurang, dadi rukune agami Islam, wajib kagem ingkang baligh, ngaqil, eling tur kinarasan, menawi lali ugi nyauri.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Lima sudah tersebut tidak kurang, menjadi ketetapan sebagai rukun Islam, wajib dilakukan bagi orang ‘Islam’ yang sudah baligh, berakal, tidak gila dan sehat, adapun, jika lupa menjalankan hendaknya diganti pada waktu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaringat ugi kawastanan, laku sembah mawi badan, sembah suci maring Hyang, Hyang ingkang nyipto alam, sembahyang tinemu pungkasan.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Syariat juga dinamakan, melakukan penyembahan dengan menggunakan anggota badan, menyembah pada Keagungan Tuhan, Tuhan yang menciptakan alam, Sembah Hyang, begitu kiranya nama yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYAHADAT&lt;br /&gt;Sampun dados pengawitan, tiyang ingkang mlebet Islam, anyekseni wujuding Pangeran, mahos sadat kanthi temenan, madep-manteb ananing iman.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Sudah menjadi pembukaan, bagi orang yang ingin masuk Islam, bersaksi akan wujudnya Tuhan, bersungguh-sungguh membaca syahadat, disertai ketetapan hati untuk beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Tinucapo mawi lisan, Sareh legowo tanpa pameksan, Mlebet wonten njroning ati, Dadiho pusoko anggoning ngabdi.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ucapkanlah dengan lisan, penuh kesadaran tanpa paksaan, masukkan maknanya ke dalam hati, semoga menjadi pusaka untuk terus mengabdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan ana Pangeran, kang wajib dén sembah, kejawi amung Gusti Allah, semanten ugi Rasul Muhammad, kang dadi lantaran pitulungé umat.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Hamba bersaksi bahwa tak ada tuhan, yang wajib disembah, kecuali Allah swt, begitu pula dengan Nabi Agung Muhammad saw, yang menjadi perantara pertolongan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHALAT&lt;br /&gt;Syarat limo ajo lali, kadas najis, badan kedah suci, nutup aurat kanti kiat, jumeneng panggonan mboten mlarat, ngerti wektu madep kiblat, sampurno ingkang dipun serat.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Lima syarat jangan lupa, badan harus suci dari hadats dan najis, menutup aurat jika tidak kesulitan, dilaksanakan di tempat yang suci, mengerti waktu untuk melakukan shalat, lalu menghadap kiblat, sempurna sudah yang ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wolu las kang dadi mufakat, rukun sahe nglakoni shalat, niat nejo, ngadek ingkang kiat, takbir banjur mahos surat, al-fatihah ampun ngantos lepat.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Delapan belas yang menjadi mufakat, rukun sahnya menjalankan shalat, niat melakukan shalat, berdiri bagi kita yang mampu, mengucapkan takbiratul ikhram membaca surat, al-Fatichah jangan sampai keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukuk, tumakninah banjur ngadek, aran iktidal kanti jejek, tumakninah semanten ugi, banjur sujud tumurun ing bumi, sareng tumakninah ingkang mesti, kinaranan ing tumakninah, meneng sedelok sak wuse obah.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Rukuk dengan tenang lalu berdiri, disebut i’tidal dengan tegap, hendaknya juga tenang seperti rukuk, lalu sujud turun ke bumi, bersama thumakninah yang benar, dinamakan thumakninah, diam sebentar setelah bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewelas iku lungguh, antarane rong sujudan, tumuli tumakninah, kaping telulas lungguh akhir,&lt;br /&gt;banjur maos pamuji dikir.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Sebelas itu duduk, di antara dua sujud, disertai thumakninah, tiga belas duduk akhir, lalu membaca pujian dzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limolas iku moco sholawat, kagem Gusti Rosul Muhammad, tumuli salam kang kawitan,&lt;br /&gt;sertane niat rampungan, tertib sempurna dadi pungkasan.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Lima belas membaca shalawat, kepada Rasul Muhammad, kemudian salam yang pertama, bersama niat keluar shalat, tertib menjadi kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZAKAT&lt;br /&gt;Zakat iku wus dadi prentah, den lampahi setahun pindah, tumprap wong kang rijkine torah, supados bersih awak lan bondo, ojo pisan-pisan awak déwé leno.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Zakat sudah menjadi perintah, dilakukan setahun sekali, bagi orang yang hartanya berlimpah, supa bersih raga dan harta, jangan sekali-kali kita lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umume wong dho ngenthoni, malem bodho idul fitri, zakat firah den arani, bersihaké badan lawan ati, zakat maal ugo mengkono, nanging kaprahing dho orak lélo.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Umumnya orang mengeluarkan, malam Hari Raya Idul Fitri, zakat fitrah dinamai, membersihkan raga dan hati, zakat harta juga begitu, namun umumnya pada tidak rela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ampun supé niating ati, nglakoni rukun pardune agami, lillahi ta`ala iku krentekno, amrih murih ridaning Gusti, supados dadi abdi kang mulyo.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Jangan lupa niat di hati, menjalankan rukun fradhunya agama, karena Allah tanamkanlah, untuk mendapat keridhaan-Nya, supaya menjadi hamba yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUASA&lt;br /&gt;Islam, balék, kiat, ngakal, papat sampun kinebatan, wonten maleh ingkang lintu, Islam, balék lawan ngakal, dados sarat nglampahi siam.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Islam, baligh, kuat, berakal, empat sudah disebutkan, ada juga yang mengatakan, Islam, baligh, dan berakal, menjadi syarat menjalankan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kados sarat rukun ugi sami, kedah dilampai kanthi wigati, niat ikhlas jroning ati, cegah dahar lawan ngombé, nejo jimak kaping teluné, mutah-mutah kang digawé.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Seperti syarat, rukun juga sama, harus dijalanlan dengan hati-hati, niat ikhlas di dalam hati, mencegah makan dan minum, jangan bersetubuh nomor tiga, jangan memuntahkan sesuatu karena sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papat jangkep sampun cekap, dadus sarat rukuné pasa, ngatos-ngatos ampun léna, mugiyo hasil ingkang dipun seja, tentreming ati urip kang mulya.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Empat genap sudah cukup, menjadi syarat rukunnya puasa, hati-hati jangan terlena, semoga berhasil apa yang diinginkan, tentramnya hati hidup dengan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAJI&lt;br /&gt;Limo akhir dadi kasampurnan, ngelampahi rukun parduné Islam, bidal zaroh ing tanah mekah,&lt;br /&gt;menawi kiat bandane torah, lego manah tinggal pitnah kamanungsan.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Lima terakhir menjadi kesempurnaan, menjalankan rukun fardhunya Islam, pergi ziarah ke tanah Makah, jika kuat dan hartanya berlimpah, hati rela menjauhi fitnah kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pitu dadi sepakatan, sarat kaji kang temenan, Islam, balik, ngakal, merdeka, ananing banda lawan sarana, aman dalan sertané panggonan.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Tujuh jadi kesepakatan, syarat haji yang betulan, Islam, baligh, berakal, merdeka, adanya harta dan sarana, aman jalan beserta tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikram sertané niat, dadi rukun kang kawitan, wukuf anteng ing ngaropah, towaf mlaku ngubengi kakbah, limo sangi ojo lali, sopa marwah pitu bola-bali.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Ikhram beserta niat, menjadi rukun yang pertama, thawaf berjalan mengelilingi ka‘bah, lima sa’i jangan lupa, safa-marwah tujuh kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02. THARIQAT&lt;br /&gt;Muji sukur Dzat Kang Rahman, tarékat iku sak dermo dalan, panemoné lisan ing pikiran, nimbang nanting lawan heneng, bener luputé sira kanthi héling.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Puji syukur Dzat Yang Penyayang, tarekat hanyalah sekadar jalan, bertemunya ucapan dalam pikiran, menimbang memilih dengan tenang, benar tidaknya engkau dengan penuh kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarékat ugi kawastanan, sembah cipto kang temenan, nyegah nafsu kang ngambra-ambra, ngedohi sipat durangkara, srah lampah ing Bathara.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Tarekat juga dinamakan, sembah cipta yang sebenarnya, mencegah nafsu yang merajalela, menjauhi sifat keburukan, berserah di hadapan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semanten ugi aweh pitutur, makna tarékat ingkang luhur, den serupaaken kados segoro, minongko saréngat dadus perahu, kang tinemu mawi ngélmu.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Kiranya juga memberi penuturan, makna tarekat yang luhur, diibaratkan laksana samudera, dengan syariat sebagai perahunya, yang ditemukan dengan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mila ampun ngantos luput, dingin nglampahi saréngat, tumuli tarékat menawi kiat, namung kaprahé piyambak niki, supe anggenipun ngawiti.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Maka jangan sampai keliru, mendahulukan menjalani syariat, kemudian tarekat jika mampu, namun umumnya kita ini, lupa saat memulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mila saksampunipun, dalem sawek sesuwunan, mugiya tansah pinaringan, jembaring dalan kanugrahan,&lt;br /&gt;rahmat welas asihing Pangeran.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Maka setelahnya, hamba senantiasa memohon, semoga terus mendapat, lapangnya jalan anugerah, cinta dan kasih sayang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYAHADAT&lt;br /&gt;Lamuno sampun kinucapan, rong sadat kanthi iman, kaleh puniko dereng nyekapi, kangge ngudari budi pekerti, basuh resék sucining ati.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Jika sudah diucapkan, dua syahadat dengan iman, dua ini belumlah cukup, untuk mengurai budi pekerti, membasuh bersih sucinya hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prayuginipun ugi mangertosi, sifat Agungé Hyang Widhi, kaleh doso gampil dipun éngeti, wujud, kidam lawan baqa, mukalapah lil kawadisi.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Seyogyanya juga mengerti, sifat Keagungan Tuhan, dua puluh mudah dimengerti, wujud, qidam, dan baqa, mukhalafah lil hawâdis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limo qiyam binafsihi, wahdaniyat, kodrat, irodat, songo ilmu doso hayat, samak basar lawan kalam,&lt;br /&gt;pat belas iku aran kadiran.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Lima qiyâmuhu bi nanafsihi, wahdaniyat, qodrat, iradat, sembilan ilmu, sepuluh hayat, sama&amp;amp;lsquo, bashar, kalam, empat belas qadiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muridan kaping limolas, aliman, hayan pitulasé, lawan samian ampun supé, banjur basiron madep manteb, mutakalliman ingkang tetep.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Muridan nomor lima belas, aliman, hayan nomor tujuh belas, kemudian samian jangan lupa, terus bashiran dengan mantab, mutakalliman yang tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuli papat kinanggitan, dadi sifat mulyané utusan, sidik, tablik ora mungkur, patonah sabar kanthi srah,&lt;br /&gt;anteng-meneng teteping amanah.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Kemudian empat disebutkan, menjadi sifat kemuliaan utusan, sidiq, tabligh tidak mundur, fathanah sabar dengan berserah, diam tenang bersama amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaleh doso sampun kasebat, mugiyo angsal nikmating rahmat, tambah sekawan tansah ingeti, dadiho dalan sucining ati, ngertosi sir Hyang Widhi.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Dua puluh sudah disebut, semoga mendapat nikmatnya rahmat, ditambah empat teruslah ingat, jadilah jalan mensucikan hati, mengetahui rahasia Yang Mahasuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHALAT&lt;br /&gt;Limang waktu dipun pesti, nyekel ngegem sucining agami, agami budi kang nami Islam, rasul Muhammad dadi lantaran, tumurune sapangat, rahmat lan salam.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Lima waktu sudah pasti, memegang kesucian agama, agama budi yang bernama Islam, rasul Muhammad yang menjadi perantara, turunnya pertolongan, rahmat, dan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rino wengi ojo nganti lali, menawi kiat anggoné nglampahi, kronten salat dadi tondo, tulus iklasing manah kito, nyepeng agami tanpo pamekso.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Siang malam jangan lupa, jika kuat dalam menjalani, karena shalat menjadi tanda, tulus ikhlasnya hati kita, mengikuti agama tanpa dipaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngisak, subuh kanthi tuwuh, tumuli luhur lawan asar, dumugi maghrib ampun kesasar, lumampahano srah lan sabar, jangkep gangsal unénan Islam.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Isyak, Shubuh dengan penuh, kemudian Luhur dan Ashar, sampai Maghrib jangan kesasar, jalanilah dengan pasrah dan sabar, genap lima disebut Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanthi nyebut asmané Allah, Sak niki kita badé milai, ngudari makna ingkang wigati, makna saéstu limang wektu, pramila ingsun sesuwunan, tambahing dungo panjengan.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Dengan menyebut nama Allah, sekarang kita akan mulai, mengurai makna yang tersembunyi, makna sesungguhnya lima waktu, karenanya hamba memohon, tambahnya doa Anda sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISYAK&lt;br /&gt;Sun kawiti lawan ngisak, wektu peteng jroning awak, mengi kinancan cahya wulan, sartané lintang tambah padang, madangi petengé dalan.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Hamba mulai dengan isyak, waktu gelap dalam jiwa, malam bersama cahaya bulan, bersanding bintang bertambah terang, menerangi gelapnya jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semono ugi awak nira, wonten jroning rahim ibu, dewekan tanpa konco, amung cahyo welasing Gusti,&lt;br /&gt;ingkang tansah angrencangi.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Seperti itu jasad kamu, di dalam rahim seorang ibu, sendirian tanpa teman, hanya cahaya kasih Tuhan, yang senantiasa menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHUBUH&lt;br /&gt;Tumuli subuh sak wusé fajar, banjur serngéngé metu mak byar, padang jinglang sedanten kahanan,&lt;br /&gt;sami guyu awak kinarasan, lumampah ngudi panguripan.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Kemudian shubuh setelah fajar, lalu matahari keluar bersinar, terang benderang semua keadaan, bersama tertawa badan sehat, berjalan mencari kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh sedulur mangertiya, iku dadi tanda lahiring sira, lahir saking jroning batin, batin ingkang luhur,&lt;br /&gt;batin ingkang agung.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Wahai saudara mengertilah, itu menjadi tanda kelahiranmu, lahir dari dalam batin, batin yang luhur, batin yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZHUHUR&lt;br /&gt;Luhur teranging awan, tumancep duwuring bun-bunan, panas siro ngraosaké, tibaning cahyo serngéngé,&lt;br /&gt;lérén sedélok gonmu agawé.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Zhuhur terangnya siang, menancap di atas ubun-ubun, panas kiranya kau rasakan, jatuhnya cahaya matahari, berhenti sebentar dalam bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semono ugo podho gatékno, lumampahing umur siro, awet cilik tumeko gedé, tibaning akal biso mbedakké, becik lan olo kelakuné.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Seperti itu juga pahamilah, perjalanan hidup kamu, dari kecil hingga dewasa, saat akal bisa membedakan, baik dan buruk perbuatanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASHAR&lt;br /&gt;Ngasar sak durungé surup, ati-ati noto ing ati, cawésno opo kang dadi kekarep, ojo kesusu ngonmu lumaku, sakdermo buru howo nepsu.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Ashar sebelum terbenam, hati-hatilah menata hati, persiapkan apa yang menjadi keinginan, jangan tergesa-gesa kamu berjalan, hanya sekadar menuruti hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulo podho waspadaha, dho dijogo agemaning jiwa, yo ngéné iki kang aran urip, cilik, gedé tumeko tuwo, bisoho siro ngrumangsani, ojo siro ngrumongso biso.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Maka waspadalah, jagalah selalu pegangan jiwa, ya seperti ini yang namanya hidup, kecil, besar, sampai tua, bisalah engkau merasa, janganlah engkau merasa bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAGHRIB&lt;br /&gt;Maghrib kalampah wengi, serngéngé surup ing arah kéblat, purna oléhé madangi jagad, mego kuning banjur jedul, tondo rino sampun kliwat.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Maghrib mendekati malam, matahari terbenam di arah kiblat, selesai sudah menerangi dunia, mega kuning kemudian keluar, tanda siang sudah terlewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh sedérék mugiyo melok, bilih urip mung sedélok, cilik, gedé tumeko tuwa, banjur pejah sak nalika,&lt;br /&gt;wangsul ngersané Dzat Kang Kuwasa.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Wahai saudara saksikanlah, bahwa hidup hanya sebentar, kecil, besar, sampai tua, kemudian mati seketika, kembali ke hadapan Yang Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZAKAT&lt;br /&gt;Lamuno siro kanugrahan, pikantuk rijki ora kurang, gunakno kanthi wicaksono, ampun supé menawi tirah,&lt;br /&gt;ngedalaken zakat pitrah.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Jika engkau diberi anugerah, mendapat rezeki tidak kurang, gunakanlah dengan bijaksana, jangan lupa jika tersisa, mengeluarkan zakat fitrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat lumantar ngresiki awak, lahir batin boten risak, menawi bondo tasih luwih, tumancepno roso asih,&lt;br /&gt;zakat mal kanthi pekulih.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Zakat untuk membersihkan diri, lahir batin tidak rusak, jika harta masih berlimpah, tanamkanlah rasa belas kasih, zakat kekayaan tanpa pamrih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakir, miskin, tiyang jroning paran, ibnu sabil kawastanan, lumampah ngamil, tiyang katah utang, rikab, tiyang ingkang berjuang, muallap nembé mlebu Islam.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Fakir, miskin, orang berpergian, ibn sabil dinamakan, kemudian amil, orang yang banyak hutang, budak, tiyang ingkang berjuang, muallaf yang baru masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat nglatih jiwo lan rogo, tumindak becik kanthi lélo, ngraosaken sarané liyan, ngudari sifat kamanungsan, supados angsal teteping iman.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Zakat melatih jiwa dan raga, menjalankan kebajikan dengan rela, merasakan penderitaan sesame, mengurai sifat kemanusiaan, supaya mendapat tetapnya iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUASA&lt;br /&gt;Posoning rogo énténg dilakoni, cegah dahar lan ngombé jroning ari, ananging pasaning jiwa, iku kang kudhu dén reksa, tumindak asih sepining cela.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Puasa badan mudah dilakukan, mencegah makam dan minum sepanjang hari, namun puasa jiwa, itu yang seharusnya dijaga, menebar kasih sayang menjauhi pencelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semanten ugi pasaning ati, tumindak alus sarengé budi, supados ngunduh wohing pakerti, pilu mahasing sepi, mayu hayuning bumi.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Demikian pula puasa hati, sikap lemah lembut sebagai cermin kehalusan budi, supaya mendapat kebaikan sesuai dengan apa yang dingini, tiada harapan yang diinginkan, kecuali hanya ketentraman dan keselamatan dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAJI&lt;br /&gt;Kaji dadi kasampurnan, rukun lima kinebatan, mungguhing danten tiyang Islam, zarohi tanah ingkang mulyo, menawi tirah anané bondo.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Haji menjadi kesempurnaan, rukum lima yang disebutkan, untuk semua orang Islam, mengunjungi tanah yang mulia, jika ada kelebihan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanging ojo siro kliru, mahami opo kang dén tuju, amergo kaji sakdermo dalan, dudu tujuan luhuring badan, pak kaji dadi tembungan.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Tapi janganlah engkau keliru, memahami apa yang dituju, karena haji hanya sekadar jalan, bukan tujuan kemuliaan badan, jika pulang dipanggil Pak Haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaji ugi dadi latihan, pisahing siro ninggal kadonyan, bojo, anak lan keluarga, krabat karéb, sederek sedaya, kanca, musuh dho lélakna.&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Haji juga untuk latihan, perpisahanmu meninggalkan keduniaan, istri, anak, dan keluarga, karib kerabat, semua saudara, teman dan musuh relakanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-3147150763444162139?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/3147150763444162139/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=3147150763444162139' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3147150763444162139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3147150763444162139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/10/suluk-syekh-jangkung.html' title='Suluk Syekh Jangkung'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-5990790057509721440</id><published>2008-10-22T11:51:00.000-07:00</published><updated>2008-12-31T22:38:54.680-08:00</updated><title type='text'>SYEKH BELA BELU</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;SYEKH BELA BELU&lt;br /&gt;Babad Demak menyebutkan bahwa setelah Majapahit runtuh karena serangan Demak, banyak putra-putri keturunan Brawijaya yang mengungsi menyelamatkan diri. Salah satunya ialah Raden Dhandhun, putra Prabu Brawijaya dari selir.&lt;br /&gt;Dalam usia yang masih terbilang muda, Raden Dhandhun terpisah dari keluarganya, keluar masuk hutan, mendaki gunung, menuruni jurang, terlunta-lunta tak jelas arah tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu ketika Raden Dhandhun tiba di Desa Mancingan, Yogyakarta. Pada waktu itu, di Mancingan ada seorang pendeta Budha (Hindu?) yang sangat mumpuni ilmu agamanya dan bernama Kyai Selaening. Oleh sang pendeta, Raden Dhandhun diganti namanya menjadi Kyai Bela-belu untuk keperluan penyamaran identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau diperintahkan untuk ke puncak gunung sebelah barat Gunung Sentana yaitu setelah Gunung Bantheng. Kyai Bela Belu ini sejak tiba sudah terlihat kalau ia rajin melakukan tapa. Ia biasa tidak tidur hingga tiga sampai empat hari. Tetapi, Raden Dhandhun tidak kuat menahan lapar, sebentar-sebentar ia harus makan. Sebab, tiap hari ia biasa makan tiga sampai empat kali. Kesukaannya adalah nasi ayam liwet yaitu nasi yang dimasak menggunakan santan kelapa dan dalamnya diisi dengan daging ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, kemudian Kyai Selaening meminta Raden Dhandhun untuk mencuci beras di Sungai Beji, sebelah utara Parangendhog, kira-kira 5 km dari Gunung Bantheng. Dengan cara seperti itu nafsu makannya dapat dikurangi menjadi sekali dalam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking gemarnya melakukan ulah batin, Kyai Bela Belu pun kemudian memperoleh kelebihan yang bisa digunakan untuk menolong warga desa sekitarnya. Karena itu, sampai makamnya saja hingga kini masih dianggap keramat. Setelah Kyai Selaening masuk Islam, Kyai Bela Belu juga ikut pula masuk Islam. Oleh Syekh Maulana, Kyai Bela Belu diberikan sebutan sebagai Syekh yang berarti sang guru, meskipun beliau adalah seorang putra raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babad tidak menyebutkan apakah Kyai Bela Belu itu menikah atau tidak. Sebab tidak ada orang yang mengaku sebagai keturunannya Syekh Bela Belu. Bahkan setelah wafat pun tidak ada yang tahu dimana makam beliau yang sesungguhnya. Tetapi yang pasti, makamnya terdapat di sebelah barat Gunung Sentana. Letak makam Syekh Bela Belu baru ditetapkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IV sewaktu ia berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang disebutkan oleh R. Ng. Djadjalana dalam Bab Pesanggrahan Parangtritis tahun 1933. Disebutkan sekitar tahun 1830 di Grogol (sebelah utara Parangtritis) ada seorang sesepuh desa yang juga menjabat sebagai Demang Pemajegan (Pemaosan) yang masih merupakan keturunan dari Kyai Selaening dan sering melakukan tapa. Pada suatu malam tatkala Demang Pemajegan pergi ke Segara Kidul (Laut Selatan), ia melihat cahaya rembulan yang tampak dari balik Gunung Sentana dan jatuh di Gunung Bantheng. Di lain hari lagi, ia melihat cahaya seperti tugu yang terus amblas di Gunung Bantheng. Kejadian ini dialami berkali-kali. Kemudian Lama-lama tempat jatuhnya cahaya di Gunung Bantheng ini ditandainya dengan tanda dari kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini kemudian diceritakannya kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IV sekalian memohon izin untuk menggali dasar dari patok makam, siapa tahu diketemukan benda-benda yang aneh. Setelah disetujui, dilakukanlah penggalian. Pada saat itu ditemukan obyek berupa empat buah batu hitam yang berjejeran, dua di utara dan dua di selatan. Seperti makam yang berdampingan tetapi tanpa nisan yang membedakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekatnya ditemukan sebuah lempengan batu hitam bergambar ilir (semacam kipas dari anyaman bamboo) dan iyan (semacam tampah yang juga terbuat dari anyaman bamboo). Dimana iyan dan ilir adalah alat untuk mendinginkan nasi, yakni setelah nasi diler di tampah barulah dikipasi dengan kipas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian atas temuan inipun kemudian diberitahukan kepada Sri Sultan. Dan dilihat dari diketemukannya gambar ilir dan iyan, Sri Sultan pun kemudian menetapkan bahwa kuburan itu adalah makamnya Syeh Bela Belu. Sedangkan yang di sebelahnya adalah makam adiknya Kyai Dami (Gagang) Aking, yang juga terkenal akan tapa tanpa henti hingga lupa akan makan dan minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesungguhan Syekh Bela Belu dan juga Kyai Gagang Aking dalam melakukan tapa, maka keduanya kemudian bisa mencapai apa yang dicita-citakan, yaitu pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian atas perintah Sri Sultan pulalah makam di Gunung Bantheng ini kemudian dicungkup kayu jati. Bagian luarnya dilapisi menggunakan batu hitam dan atasnya dilangse. Kini, makam dijaga oleh abdi dalem keraton yang juga adalah penjaga makam dari Syekh Maulana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kisah di atas, Syekh Bela Belu serta adiknya Syekh Dami Aking juga diyakini sebagai murid dari Sunan Kalijaga, yang diperintahkan untuk melakukan tapa di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Pertapaan Lemah Putih, yang sangat melegenda di daerah Nganjuk, Jawa Timur.__________________&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-5990790057509721440?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/5990790057509721440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=5990790057509721440' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5990790057509721440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5990790057509721440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/10/syekh-bela-belu.html' title='SYEKH BELA BELU'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-7918203847914188682</id><published>2008-09-11T17:13:00.000-07:00</published><updated>2008-12-31T22:20:41.682-08:00</updated><title type='text'>Suluk Gedong</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;1Sesungguhnya tidaklah ada yang tahu Bahwa umpamanya Ia bersemayam di gedung ituTapi diketahuiNya ia yang tahu Serta bagaimana segala mahluk berperilaku Sungguh sebelum terjadiIa telah mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2Ketahuilah Sebelum segalanya terjadi Ketika jagad kosong tanpa isiBahkan sebelum awang-uwung itu sendiriYang ada hanya Tuhan Sang Maha WidiHanya Ia pula yang mengetahui Zat Mahaluhur dan Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3Maka dibikinNya semua mahkluk ini Agar ada yang mengenali Diciptakannya jagat semesta Dengan hanya satu sabda Segalanya mengada seketika :“Kun”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4Sempurna tak ada kekurangan Karena Tuhan yang menciptakan Ia berkuasa karena DiriNya sendiriTanpa kesalahan sama sekali Demikianlah tatkala semua terjadi Bertahap menjadi dan menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5Maka bersabdalah Ia Kenapa segenap alam yang dijadikanNya nyata“Sungguh tak Kujadikan Jin dan manusia Kecuali untuk satu, Menyembah kepadaKu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6Menyembah untuk melihat Dengan cara memandang yang khas Menyembah seperti berkaca dalam cermin Berjuang menemukan rupa yang hakiki Karena yang diperlihatkan oleh kacaTidaklah sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9Ketika engkau menyembah memuji Tajamkan penglihatan Kepada yang menggerakan sembahyang Yakni Allah sejati, Kau sembah Ia dengan pasti Tidak setengah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10Menatap ini dan menatap itu Sampai pula segala sesuatu Tak ada yang kosong oleh NyaIa meliputi dan memenuhi apa saja Bahkan ZatNya tampak Bagi setiap mata yang waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11Lainnya tiada, kecuali yang terlihat Apabila sudah arif makrifat Namun jika rabun oleh segala rupaYang tampak itu hakiki disangkanya Lantaran tak tahu ajaran yang benar Bingung yang terlihat dan terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12Tak bingung kalau tahu yang sejati Bagi yang ingin melihatnya Sirnakan segala rupaYakni dinding yang menutupi batin mata Kalau sudah tercapai ia Itulah makrifat namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13Menempuh jalan, mencari WajahNya yang kelihatan Demikian engkau tahu menemukan Tuhan Demikian engkau menempuh jalanYang sejak sediakala disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14Kalau dipandang tiada. Ia tiadaMaka jangan ragukan tempatNya Kalau dipandang tiada, Ia tiada selamanya Dari awal hingga akhirTak ada yang mengerti Karena itulah dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15Kalau dipandang ada, Ia ada, anakku Hendaklah engkau waspada menatapNya Lantaran tak ada lagi selain IaTinggal bagai sepi Satu wujud Abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam jack kalijaga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-7918203847914188682?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/7918203847914188682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=7918203847914188682' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/7918203847914188682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/7918203847914188682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/09/suluk-gedong.html' title='Suluk Gedong'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-6819493725353546320</id><published>2008-09-11T17:01:00.000-07:00</published><updated>2008-12-31T22:24:50.662-08:00</updated><title type='text'>Islam Dan mistik Jawa</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Berjalanlah, seorang dewa Hindu, Wisnu didorong oleh keinginannya yang besar untuk mencari titik temu antara ajaran Hindu dan Islam, rela menempuh perjalanan jauh, dengan mengarungi lautan dan daratan, untuk datang ke negeri Rum (Turki), salah satu pusat negeri Islam, yang kala itu dalam penguasaah Daulah Usmaniyah. Untuk mencapai maksud itu, Wisnu mengubah namanya menjadi Seh Suman. Dia pun menganut dua agama sekaligus, lahir tetap dewa Hindu namun batinnya telah menganut Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikianlah, setelah menempuh perjalanan yang demikian jauh dan melelahkan, sampailah Seh Suman di Negeri Rum. Kebetulan pada masa itu Seh Suman bisa menghadiri musyawarah para wali itu bertujuan untuk mencocokkan wejangan enam mursid (guru sufi):1) Seh Sumah,2) She Ngusman Najid,3) Seh Suman sendiri,4) Seh Bukti Jalal,5) Seh Brahmana dan6) Seh Takru Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ikhtisah Suluk Saloka Jiwa karya pujangga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Raden Ngabei Ranggawarsita, kitab ini nampaknya diilhami oleh tradisi permusyawaratan para wali atau ahli sufi untuk membehas ilmu kasampuranan atau makrifat yang banyak berkembang di dunia tarekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Serat Soluk Saloka Jiwa ini berbicara soal dunia penciptaan, yaitu dari masa manusia berasal dan ke mana bakal kembali (sanggkan paraning dumadi). Ini terlihat dari hasil perbincangan enam sufi di Negeri Rum yang juga dihadiri oleh Seh Suman alias Dewa Wisnu tersebut. Dari sinilah, Seh Suman berkesimpulan bahwa sesungguhnya antara ajaran Islam dan Jawa memiliki paralelisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ranggawarsita, sebagaimana digambarkan dari hasil percakapan enam sufi, Allah SWT itu ada sebelum segala sesuatu ada. Yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah :* al-nur yang kemudian terpancar darinya 4 unsur : tanah, api, udara, dan air.* Kemudian diciptakanlah jasad yang terdiri dari 4 unsur: darah, daging, tulang dan tulang rusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api melahirkan 4 jenis jiwa/nafsu : aluamah (dlm ejaan Arab lawwmah) yang memancarkan :1) warna hitam;2) amarah (ammarah) memancarkan warna merah;3) supiah (shufiyyah) berwarna kuning dan4) mutmainah (muthma’inah) berwarna putih.&lt;br /&gt;Dari udara lahir nafas, tanaffus, anfas dan nufus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham penciptaan ini jelas kemudian sangat berpengaruh terhadap tradisi kejawen yang memang mengambil dari ajaran Islam yang berpadu dengan kebudayaan lokal. Memang konsep-konsep tentang jiwa (nafs) juga diruntut dalam tradisi Islam sufistik, seperti yang dikembangkan Al-Ghazali. Namun demikian, konsep tentang nafsu-nafsu itu kemudian berkembang dikalangan kebatinan Jawa secara luas, bahkan juga berpengaruh bagi kalangan penganut kebatinan Jawa nonmuslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ikhtisar Suluk Saloka Jiwa sebagaimana dirangkumkan oleh Simuh (1991: 76). Menurut Simuh, kitab ini tampaknya “di-ilhami” oleh tradisi permusyawaratan para wali atau ahli sufi untuk membahas ilmu kasampurnan atau makrifat yang banyak berkembang di dunia tarekat. Pendapat senada terdapat dalam disertasi Dr Alwi Shihab di Universitas ‘Ain Syams, Mesir, Al Tashawwuf Al-Islami wa Atsaruhu fi Al-Tashawwuf Al-Indunisi Al-Ma’asir. Hanya saja, dalam disertasi Shihab, nama tokoh-tokohnya ditulis menurut ejaan Arab. Seh Suman ditulisnya sebagai Sulaiman, Seh Ngusman Najid ditulis Syaikh Ustman Al-Naji. Meskipun begitu, alur cerita yang digambarkan tidak berbeda. Keduanya juga menyebut bahwa karya Ranggawarsita yang satu ini memiliki pertalian yang erat dengan upaya menyinkronkan ajaran Islam dan Jawa (Hinduisme), inti pokok ajaran kebatinan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serat Suluk Saloka Jiwa ini berbicara soal dunia penciptaan, yaitu dari mana manusia berasal dan ke mana bakal kembali (sangkan paraning dumadi). Ini terlihat dari hasil perbincangan enam sufi di Negeri Rum yang juga dihadiri oleh Seh Suman alias Dewa Wisnu tersebut. Dari sinilah, Seh Suman berkesimpulan bahwa sesungguhnya antara ajaran Islam dan Jawa memiliki paralelisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ranggawarsita, sebagaimana digambarkan dari hasil percakapan enam sufi, Allah itu ada sebelum segala sesuatu ada. Yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah al-nur yang kemudian terpancar darinya tanah, api, udara, dan air. Kemudian diciptakanlah jasad yang terdiri dari empat unsur: darah, daging, tulang-tulang, dan tulang rusuk. Api melahirkan empat jenis jiwa/nafsu: aluamah (dalam ejaan Arab lawwamah) yang memancarkan warna hitam; amarah (ammarah) memancarkan warna merah; supiah (shufiyyah) berwarna kuning dan mutmainah (muthma’inah) yang berwarna putih. Dari udara lahir nafas, tanaffus, anfas dan nufus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham penciptaan ini jelas kemudian sangat berpengaruh terhadap tradisi kebatinan Jawa yang memang mengambil dari ajaran Islam yang berpadu dengan kebudayaan lokal. Memang konsep-konsep tentang jiwa (nafs) juga diruntut dalam tradisi Islam sufistik, seperti yang dikembangkan Al-Ghazali. Dalam kaitan pemilahan an-nafs(nafsu) ini, Al-Ghazali membagi tujuh macam nafsu, yaitu mardhiyah, radhiyah, muthmainah, kamilah, mulhammah, lawwamah, dan ammarah(Rahardjo; 1991: 56). Namun, yang berkembang dalam kebatinan Jawa bukan tujuh macam nafsu, namun tetap empat nafsu di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter-cendekiawan Jawa dari Semarang, dr Paryana Suryadibrata, pada tahun 1955, pernah menulis karangan “Kesehatan Lahir dan Batin” bersambung lima nomor di Majalah Media Yogyakarta. Ia, misalnya, menyebut 4 (empat) macam tingkatan nafsu manusia:1. ammarah(egosentros) ,2. supiyah(eros) ,3. lawwamah(polemos) , dan4. muthmainah(religios ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep tentang empat nafsu itu kemudian berkembang luas di kalangan kebatinan Jawa secara luas, bahkan juga berpengaruh bagi kalangan kebatinan Jawa yang non-muslim. Karena itu, tidak salah jika Alwi Shihab menyebut sosok Ranggawarsita sebagai Bapak Kebatinan Jawa atau Kejawen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinkretisme atau Varian Islam?&lt;br /&gt;· Lantas, apa yang bisa diambil bagi generasi masa kini atas keberadaan Suluk Saloka Jiwa?&lt;br /&gt;· Benarkah Ranggawarsita, dengan karya suluknya ini, telah membawa bentuk sinkretisme Islam-Jawa?&lt;br /&gt;· Lantas, mungkinkah semangat pencarian titik temu antar-nilai suatu agama ini bisa dijadikan desain strategi  budaya  untuk membangun pola relasi antar-umat beragama di Indonesia dewasa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanya an ini agaknya tidak bisa dipandang enteng, mengingat kompleksnya permasalahan. Yang jelas, masing-masing pertanyaan di atas memiliki korelasi dengan konteksnya masing-masing, tinggal bagaimana seorang penafsir mengambil sudut pandang. Anggapan bahwa ajaran mistik Jawa sebagaimana tercermin dalam Suluk Saloka Jiwa merupakan bentuk sinkretisme antara Islam dan Jawa (Hinduisme) boleh dikata merupakan pendapat yang umum dan dominan. Apalagi, sejak semula Ranggawarsita sendiri-lewat karyanya itu-seakan telah memberi legitimasi bahwa memang terdapat paralelisme antara Islam dan Hinduisme. Hal ini seperti tercermin dalam kutipanpupuh berikut ini:Yata wahu / Seh Suman sareng angrungu / pandikanira / sang panditha Ngusman Najid / langkung suka ngandika jroning wardoyo // Sang Awiku / nyata pandhita linuhung / wulange tan siwah / lan kawruhing jawata di / pang-gelare pangukute tan pra beda // .&lt;br /&gt;Artinya:Ketika Seh Suman (Wisnu) mendengar ajaran Ngusman Najid, sangat sukacita dalam hatinya. Sang ulama benar-benar tinggi ilmunya, ajarannya ternyata tidak berbeda dengan ajaran para dewa (Hinduisme). Pembeberan dan keringkasannya tidak berbeda dengan ilmu kehinduan. Atas pernyataan ini, kalangan pakar banyak yang berpendapat bahwa Ranggawarsita seperti telah menawarkan pemikiran “agama ganda” bagi orang Jawa, yaitu lahir tetap Hindu namun batin menganut Islam, karena antara Hindu dan Islam menurutnya memang terdapat keselarasan teologi. Simuh, misalnya, menyatakan, “Maka, menurut Ranggawarsita, tidak halangan bagi priayi Jawa menganut agama rangkap seperti Dewa Wisnu: Lahir tetap hindu sedangkan batin mengikuti tuntunan Islam” (Simuh; 1991: 77).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsiran demikian ini tidak dilepaskan dari konteks sosio-kultural pada saat itu. Hal tersebut tidak terlepas dari strategi budaya yang diterapkan keraton-keraton Islam di Jawa pasca-Demak, yang mencari keselarasan antara masyarakat pesisiran yang kental dengan ajaran Islam dan masyarakat pedalaman yang masih ketat memegang keyakinan-keyakinan yang bersumber dari Hindu, Buddha, dan kepercayaan- kepercayaan asli,agar tidak ada perpecahan ke agamaan. Upaya-upaya ini telah dilakukan secara sistematis, utamanya sejak dan oleh Sultan Agung, raja ketiga Mataram Islam. Di antaranya, Sultan Agung mengubah kalender Saka (Hindu) menjadi kalender Jawa, yang merupakan perpaduan antara sistem penanggalan Saka dan sistem penanggalan Islam (Hijriah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, benarkah bahwa Islam Jawa merupakan bentuk sinkretisme Islam dengan ajaran Hindu, Buddha dan kepercayaan Jawa? Pendapat yang dominan memang demikian, khususnya bagi yang mengikuti teori trikotomi-santri- priayi-abangan- Clifford Geertz sebagaimana tercermin dalam The Religion of Java yang monumental itu. Namun, seorang pakar studi Islam lainnya, Mark R Woodward, yang melakukan penelitian lebih baru dibanding Geertz, yaitu pada tahun 1980-an, berkesimpulan lain.&lt;br /&gt;Woodward, yang sebelumnya telah melakukan studi tentang Hindu dan Buddha, ternyata tidak menemukan elemen-elemen Hindu dan Buddha dalam sistem ajaran Islam Jawa. “Tidak ada sistem Taravada, Mahayana, Siva, atau Vaisnava yang saya pelajari yang tampak dikandungnya (Islam Jawa) kecuali sekadar persamaan… sangat sepele,” demikian tulis Woodward (1999: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wordward, Islam Jawa-yang kemudian disimplikasikan sebagai kejawen-sejatinya bukan sinkretisme antara Islam dan Jawa (Hindu dan Buddha), tetapi tidak lain hanyalah varian Islam, seperti halnya berkembang Islam Arab, Islam India, Islam Syiria, Islam Maroko, dan lain-lainnya. Yang paling mencolok dari Islam Jawa, menurutnya, kecepatan dan kedalamannya mempenetrasi masyarakat Hindu-Buddha yang paling maju atau sophisticated (ibid: 353). Perubahan itu terjadi dengan begitu cepatnya, sehingga masyarakat Jawa seakan tidak sadar kalau sudah terjadi transformasi sistem teologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, konflik yang muncul dengan adanya Islam Jawa sebenarnya bukanlah konflik antar-agama (Islam versus Hindu dan Buddha), melainkan konflik internal Islam, yakni antara Islam normatif dan Islam kultural, antara syariah dan sufisme. Dalam kaitan ini, Woodward menulis:&lt;br /&gt;“Perselisihan keagamaan (Islam di Jawa) tidak didasarkan pada penerimaan yang berbeda terhadap Islam oleh orang-orang Jawa dari berbagai posisi sosial, tetapi pada persoalan lama Islam mengenai bagaimana menyeimbangkan dimensi hukum dan dimensi mistik.” (ibid: 4-5).Namun, harus diakui, menyimpulkan apakah Suluk Saloka Jiwa mengajarkan sinkretisme Islam dan Hindu-Buddha atau tidak memang tidak gampang. Ini membutuhkan penelitian lebih lanjut dan mendalam. Namun,&lt;br /&gt;pendapat Woodward bahwa problem keagamaan di Jawa lebih karena faktor konflik Islam normatif dan Islam kultural tersebut juga bukan tanpa alasan, setidak-tidaknya memang konsep nafs (nafsu) seperti yang ditulis Ranggawarsita itu memang sulit dicarikan rujukannya dari sumber-sumber literatur Hindu, Buddha ataupun kepercayaan asli Jawa, namun akan lebih mudah ditelusur dengan mencari rujukan pada literatur-literatur tasawuf (sufisme) Islam, seperti yang dikembangkan oleh Al-Ghazali, As-Suhrawardi, Hujwiri, Qusyayri, Al-Hallaj dan tokoh-tokoh sufi Islam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran bahwa Islam Jawa kemungkinan akan “menyeleweng” dari Islam standar tidaklah hanya dikhawatirkan oleh kalangan Islam modernis saja, melainkan kelompok-kelompok lain yang mencoba menggali Islam Jawa dan mencoba mencocokkannya dengan sumber-sumber Islam standar. Seorang intelektual NU, Ulil Abshar-Abdalla, ketika mengomentari Serat Centhini (Bentara, Kompas, edisi 4 Agustus 2000), menulis sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya tunjukkan dalam tulisan ini adalah bagaimana Islam menjadi elemen pokok yang mendasari seluruh kisah dalam buku ini [Serat Centhini], tetapi telah mengalami “pembacaan” ulang melalui optik pribumi yang sudah tentu berlainan dengan Islam standar. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang “membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodoksi yang standar. Sebaliknya, dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan bertindak secara leluasa untuk “membaca kembali” Islam dalam konteks setempat, tanpa ada ancaman kekikukan dan kecemasan karena “menyeleweng” dari kanon resmi. Nada yang begitu menonjol di sana adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan antara Islam dan kejawaan, meskipun yang terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan “resistensi” . Penolakan tampil dalam nada yang “subtil”, dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme”.. ..&lt;br /&gt;Ulil-Abshar barangkali ingin mengatakan inilah cara orang Jawa melakukan perlawanan: Menang tanpa ngasorake… Islam tampaknya telah mengalami kemenangan di Jawa, namun sesungguhnya Islam telah “disubversi” sedemikian rupa, dengan menggunakan tangan Islam sendiri, sehingga sesungguhnya yang tetap tampil sebagai pemenang adalah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Mitis ke Epistemologis&lt;br /&gt;Pada akhirnya, dalam kaitannya relasi Islam-Jawa, bila yang digunakan pendekatan adalah pandangan “kita” versus “mereka”, dan karena itu “Jawa” dan “Islam” berada dalam posisi oposisional dan tanpa bisa didialogkan, serta mendudukannya secara vis-a-vis, maka sebenarnya tanpa sadar kita pun telah ikut melegitimasi konflik. Kalau itu yang terjadi, dalam konteks pembangunan toleransi antarpihak, kita sebenarnya tidak memberikan resolusi, namun justru antisolusi. Karena itu, dalam konteks ini, resolusi harus dicarikan pendekatan lain. Dan pendekatan yang layak ditawarkan adalah pendekatan transformatif, yaitu tranformatif dari cara berpikir “mitis” ke pola berpikir “epistemologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transformasi berpikir “mitis” ke “epistemologis” adalah membawa alam pikiran masyarakat dari semula yang “tidak berjarak” dengan alam menuju cara berpikir yang “mengambil jarak” dengan alam. Dengan adanya keberjarakan dengan alam, manusia bisa memberi penilaian yang obyektif terhadap alam semesta. Ini tentu saja berbeda dengan cara berpikir “mitis”, manusia berada “dalam penguasaan” alam.&lt;br /&gt;Karena itu, ketika mereka gagal memberi rasionalitas terhadap gejala-gejala alam, seperti gunung meletus, angin topan, banjir bandang, maka yang dianggap terjadi adalah alam sedang murka. Berpikir mitos pada akhirnya yang terjadi. Dengan berpikir epistemologis, mengambil jarak dengan alam, maka manusia bisa memberi gambaran yang rasional tentang alam, dan kemudian mengolahnya, demi kesejahteraan umat manusia. Alam pun berubah menjadi sesuatu yang fungsional, bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-6819493725353546320?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/6819493725353546320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=6819493725353546320' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/6819493725353546320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/6819493725353546320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/09/islam-dan-mistik-jawa.html' title='Islam Dan mistik Jawa'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-7368117228939325160</id><published>2008-09-11T16:52:00.000-07:00</published><updated>2008-12-31T22:29:59.541-08:00</updated><title type='text'>Suluk Syekh Wali Lanang</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Ketika selesai membangun pesantren, Raden Paku teringat salah satu bungkusan yg harus dibukanya. Ia ingat kata2 ayahnya kalau bingkisan itu berisi rahasia ilmu sejati yg harus dibacanya. Dengan hati2 dibukanya bungkusan tsb. Didalamnya ada beberapa lembar daun lontar bertuliskan huruf arab pegon. Segera dibacanya tulisan tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tentang Macam Ilmu Manusia.&lt;br /&gt;Adalah suatu yg pasti terjadi anakku, ketahuilah ini, renungkan demi kasampurnaan ilmumu. Di dunia ini, entah kapan, sakit, dan mati pasti terjadi. Maka hendaklah waspada, tidak urung kita juga akan mati, jangan lupa pada sangkan paran dumadi. Untuk itu, di dunia ini hendaklah selalu prihatin. Agar benar2 sempurna engkau berilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memperbincangkan ilmu kasempurnaan ini, jangan lupa arti bahasanya jika engkau mempertanyakannya. Karena mengetahui arti bahasa adalah kuncinya. Kesungguhanlah yg pasti, itulah yg perlu benar2 engkau mengerti. Jangan takut pd biaya. Bukan emas, bukan dirham, dan bukan pula harta benda. Namun hanya niat ikhlas saja yg diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ilmu manusia itu ada 2, anakku. Yang pertama adalah ilmu kamanungsan yg lahir daru jalan indrawi dan melalui laku kamanungsan. Yang kedua adalah ilmu kasampurnaan yg lahir melalui pembelajaran langsung dari Sang Khalik. Untuk yg kedua ini, ia terjadi melalui 2 cara, yaitu dari luar dan dari dalam. Yang dari luar, dilalui dg cara belajar. Sedangkan yg dari dalam, dilalui dg cara menyibukan diri dg jalan bertapa ( bertafakur ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bertafakur secara batin itu sepadan dg belajar secara lahir. Belajar memilki arti pengambilan manfaat oleh seorang murid dari gerak seorang guru. Sedangkan tafakur memilki makna batin, yaitu suksma seorang murid yg mengambil manfaat dari suksma sejati, ialah jiwa sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksma sejati dalam olah ngelmu memilki pengaruh yg lebih kuat dibandingkan berbagai nasehat dari ahli ilmu dan ahli nalar. Ilmu2 seperti itu tersimpan kuat pada pangkal suksma, bagaikan benih yg tertanam dalam tanah, atau mutiara di dasar laut.&lt;br /&gt;Ketahuilah anakku, kewajiban orang hidup tidak lain adalah selalu berusaha menjadikan daya potensial yg ada di dalam dirinya menjadi suatu bentuk aksi (perbuatan) yg bermanfaat. Sebagaimana engkau juga wajib mengubah daya potensial yg ada dalam dirimu menjadi perbuatan, melalui belajar. Sejatinya dalam belajar, suksma sang murid menyerupai dan berdekatan dg suksma sang guru. Sebagai yg memberi manfaat, guru laksana petani. Dan sbg yg meminta manfaat, murid ibarat bumi atau tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku ketahuilah, ilmu merupakan kekuatan seperti benih atau tepatnya seperti tumbuh2an. Apabila suksma sang murid sudah matang, ia akan menjadi seperti pohon yg berbuah, atau seperti mutiara yg sudah dikeluarkan dari dasar laut. Jika kekuatan badaniah mengalahkan jiwa, berarti murid masih harus terus menjalani laku prihatin dalam olah ngelmu dg menyelami kesulitan demi kesulitan dan kepenatan demi kepenatan, dalam rangka menggapai manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Cahaya Rasa mengalahkan macam2 indra, berarti murid lebih membutuhkan sedikit tafakur ketimbang banyak belajar. Sebab suksma yg cair atau dalam bahasa arab dsb nafs al-qabil akan berhasil menggapai manfaat walau hanya dg berfikir sesaat, ketimbang proses belajar setahun yg dilakukan oleh suksma yg beku nafs al-jamid.&lt;br /&gt;Jadi, engkau bisa meraih ilmu dg cara belajar, dan bisa juga mendapatkannya dg cara bertafakur. Walaupun sebenarnya dalam belajar itu juga memerlukan proses tafakur. Dan dg tafakur engkau tahu manusia hanya bisa mempelajari sebagian saja dari seluruh ilmu dan tidak bisa semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ilmu2 mendasar atau yg dsb annazhariyyah dan penemuan2 baru, berhasil dikuak oleh orang2 yg memilki kearifan. Dg kejernihan otak, kekuatan daya fikir dan ketajaman batin, mereka berhasil menguak hal2 tsb tanpa proses belajar dan usaha pencapaian ilmu yg berlebihan.&lt;br /&gt;Dg bertafakur, manusia berhasil menguak ajaran sangkan paraning dumadi . Dg begitu terbukalah asumsi dasar dari keilmuan sehingga persoalan tidak berlarut2 dan segera tersingkap kebodohan yg menyelimuti kalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah kuberitahukan sebelumnya anakku, suksma tidak bisa mempelajari semua yg di inginka, baik yg bersifat sebagian ( juz’i / parsial ) maupun yg menyeluruh ( kulli / universal ) dg cara belajar. Ia harus mempelajari dg induksi, sebagian dg deduksi sebagaimana umumnya manusia dan sebagian lagi dg analogi yg membutuhkan kejernihan berfikir. Berdasarkan hal ini, ahli ilmu terus membentangkan kaidah2 keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah anakku.Seorang ahli ilmu tidak bisa mempelajari apa yg dibutuhkan seluruh hidupnya. Ia hanya bisa mempelajari keilmuan umum dan beragam bentuk yg merupakan turunannya dan hal itu menjadi dasar untuk melakukan qiyas terhadap berbagi persoalan lainnya. Begitu pula para tabib, tidaklah bisa mempelajari seluruh unsur obat2an untuk orang lain. Meraka hanya mempelajari gejala2 umum. Dan setiap orang diobati menurut sifat masing2 Demikian juga para ahli perbintangan, mereka mempelajari hal2 umum yg berkaitan dg bintang, kemudian berfikir dan memutuskan berbagai hukum.Demikian juga halnya seorang ahli fikih dan pujangga. Begitu seterusnya, imajinasi dan karsa yg indah2 berjalan. Yang satu menggunakan tafakur sbg alat pukul, semacam lidi, sedangkan yg lain menggunakan alat bantu lain untuk merealisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku jika pintu suksma terbuka, ia akan tahu bagaimana cara bertafakur dg benar dan selanjutnya ia bisa memahami bagaimana merealisasikan apa yg diinginkan. Karena itu hati pun menjadi lapang, pikiran jadi terbuka dan daya potensial yg ada dalam diri akan lahir menjadi aksi (perbuatan) yg berkelanjutan dan tak mengenal lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Memahami Ilmu Kasampurnaan.&lt;br /&gt;Ketahuilah anakku bahwa ilmu kasampurnaan itu ada 2 macam,&lt;br /&gt;Pertama, diberikan melalui wahyu.&lt;br /&gt;Apabila suksma manusia telah sempurna, niscaya akan sirna segala sesuatu yg dapat mengotori watak, seperti halnya sikap rakus dan impian semu. Suksma akan menghadap Sang Pencipta, merengkuh cintaNya dan berharap manfaat serta limpahan cahayaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah akan menyambut suksma itu secara total. Tatapan Ketuhan memandanginya dan menjadikannya seperti papan. kemudian Allah akan menjadikan pena dari suskma sejati. Dan pena itu diukirkan ilmu pada papan tadi.&lt;br /&gt;Suksma sejati laksana guru, suksma manusia suci ibarat sang murid. Sehingga dicapailah seluruh ilmu, dan padanya semua bentuk terukir tanpa proses belajar maupun berfikir. Dalilnya : “Dan Dialah yg mengajarkanmu apa2 yg tidak kamu ketahui” (QS. An-Nisa:213).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu para nabi lebih tinggi derajatnya dibandingkan ilmu mahluk2 yg lain. Karena ilmu tsb diperoleh langsung dari YME tanpa perantara. Kau bisa memahami dalam kisah para malaikat dg kanjeng Nabi Adam. Sepanjang usianya para malaikat terus belajar. Dan dg berbagi cara mereka berhasil mendapatkan banyak macam ilmu, sehingga mereka menjadi mahluk yg paling berilmu dan mahluk paling berpengetahuan.&lt;br /&gt;Sementara itu Adam tidaklah tergolong ahli ngelmu karena ia tidak pernah belajar dan berjumpa dg seorang guru. Malaikat bangga dan dg besar hati mereka berkata:” padahal kami Senantisa bertasbih dg memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” (QS. Al-Baqarah:30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanjeng Nabi Adam kembali menuju Sang Pencipta. Lantas beberapa bagian dalam hati Kanjeng Nabi oleh Allah dikeluarkan ketika ia menghadap dan memohon pertolongan kepada Tuhan. Lalu Allah ajarkan seluruh nama2 benda. “Kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat, lantas Allah berfirman: “Sebutkanlah kepadaku nama benda2 itu jika kamu memang orang2 yg benar” (QS. Al-Baqarah:31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, malaikat menjadi kerdil dihadapan Adam. Ilmu mereka menjadi terlihat sempit. Mereka tak bisa berbangga dan besar hati, justru yg ada hanya rasa tak berdaya. “Maha Suci Engkau, tidak ada yg kami ketahui selain dari apa yg Engkau ajarkan kpd kami” (QS. Al-Baqarah:32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kepada mereka Adam diberitahukan bbrp bagian ilmu dan hal2 yg masih tersembunyi. Akhirnya jelaslah bagi kaum berakal, bahwa ilmu gaib yg bersumber dari wahyu lebih kuat dan lebih sempurna dibandingkan ilmu yg diperoleh dg penglihatan langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu yg diperoleh melalui wahyu merupakan warisan dari hak para nabi. Namun mulai masa Kanjeng Nabi Muhammad pintu wahyu telah ditutup oleh Allah. Sebab Muhammad adalah penutup para nabi. Dia mewakili sosok paling berilmu dan paling fasih dikalangan manusia. Allah telah mendidiknya dg budi pekertinya menjadi baik.&lt;br /&gt;Ketahuilah anakku, Ilmu Rasul itu lebih sempurna, lebih mulia, dan kuat. Karena ilmu tsb diperoleh langsung dari Sang Khalik. Beliau sama sekali tidak pernah menjalankan proses belajar-mengajar insani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Kasampurnaan yg Kedua,&lt;br /&gt;disampaikan sebagai ilham yaitu peringatan suksma sejati terhadap suksma manusia berdasarkan kadar kejernihan, penerimaan dan daya kesiapannya. Ilham boleh dikatakan mengiringi wahyu. Kalau wahyu merupakan penegasan perkara gaib, maka ilham merupakan penjelasannya. Ilmu yg diperoleh dg wahyu itulah sejatinya ilmu kenabian, sedangkan yg diperoleh dg ilham itulah sejatinya ilmu kewalian.&lt;br /&gt;Ilmu kewalian diperoleh secara langsung, tanpa perantara antara suksma dan Sang Pencipta. Ilmu Kasampurnaan itu laksana secercah cahaya dari alam gaib, yang datang menerpa hati yg jernih, hampa dan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ilmu merupakan produk pengetahuan yg diperoleh dari suksma sejati yg terdapat dalam inti sangkan paraning dumadidg menisbatkan pada RASA SEJATI, seperti penisbatan Siti Hawa kepada Kanjeng Nabi Adam.&lt;br /&gt;Ketahuilah anakku, rasa sejati lebih mulia, lebih sempurna dan lebih kuat dari disisi Allah dibandingkan suksma sejati. Sedangkan suksma sejati lebih terhormat, lebih lembut dan lebih mulia dibandingkan mahluk2 lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ilham itu terlahir dari melimpahnya rasa sejati dan juga terlahir dari melimpahnya pancaran sinar suksma sejati. Jika wahyu menjadi perhiasan para nabi, maka ilham menjadi perhiasan para wali. Adapun ilmu yg diperoleh dari wahyu adalah sebagaimana suksma tanpa rasa atau wali tanpa nabi. Begitu pula ilham tanpa wahyu akan menjadi lemah. Ilmu akan menjadi kuat jika dinisbatkan kepada wahyu yg bersandar pada penglihatan ruhani. Itulah ilmu para nabi dan wali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, ilmu yg diperoleh dg wahyu hanya khusus bagi para rasul, seperti diberikan kepada Adam, Musa, Ibrahim, Isa, Muhammad saw dan para rasul lain. Itulah yg menbedakan antara risalah dg nubuwwah .Adapun nubuwwah adalah perolehan hakikat dari ilmu dan rasionalitas2 oleh suksma yg suci kepada orang2 yg mengambil manfaat. Barangkali perolehan semacam itu didapat salah satu suksma, tetapi ia tidak berkewajiban menyebarkannya karena suatu alasan dan oleh sebab2 tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu kasampurnaan menjadi milik seorang nabi dan wali, sebagaimana dimilki Khidir a.s. Hal itu terdapat pd dalil: “Dan yg telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. Al-Kahfi:65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah ketika khalifah Ali berujar: “Kumasukan lisanku kemulutku, hingga terbukalah dihatiku seribu pintu ilmu, yg pada setiap pintu terdapat seribu pintu yg lain”. Dan ia berkata: “Andai kuletakkan bantal dan aku duduk diatasnya, niscaya aku akan mengambil putusan hukum bagi penganut Taurat berdasarkan Taurat mereka, bagi penganut Injil berdasarkan Injil mereka, dan bagi penganut al-Quran berdasarkan al-Quran mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat seperti ini tidak bisa diterima dg melalui ilmu kemanungsa semata yg hanya dari pembelajaran insani. Pastilah seseorang yg telah mencapai derajat tsb telah dikarunia ilmu kasampurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Allah menghendaki kebaikan pada dirimu, Dia akan menyingkap tabir atau hijab yg menhalangi dirimu dg suksma yg menjadi papan itu. Dg demikian, sebagian rahasia dari apa2 yg tersembunyi akan ditampakan pdmu. segenap makna yg terkandung didalam rahasia tsb akan terpahat pd suksmamu. Dan suksma itupun mengungkapkan sebagaimana engkau ingin karena dikehendakiNya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, kearifan bisa lahir dari ilmu kasampurnaan. Selama engkau belum mencapai derajat atau tingkatan ini, engkau tidak akan menjadi seorang arif.Karena kearifan merupakan pemberian Hyang Widi.Dalilnya : ” Allah menganugrahkan al-hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar2 telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang2 yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran ” (QS. Al-Baqarah:269).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu karena orang2 yg berhasil mencapai ilmu kasampurnaan tidak perlu lagi banyak berusaha memahami ilmu secara induktif dan berpayah-payah belajar. Orang yg demikian sedikit belajar, banyak mengajar, sedikit capai, banyak istirahat.&lt;br /&gt;Ketahuilah anakku, setelah wahyu terputus dan sesudah pintu risalah ditutup, umat manusia tidak lagi membutuhkan kehadiran rasul atau utusan. Mereka tidak lagi memerlukan penampakan dakwah setelah penyempurnaan agama. Bukanlah termasuk kearifan menampakan nilai lebih tidak berdasarkan kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketahuilah anakku, pintu ilham itu tidak pernah ditutup. Pancaran cahaya suksma sejati tidak pernah terputus. Karena suksma terus membutuhkan arahan, pembaharuan dan peringatan. Umat manusia tidak memerlukan risalah dan dakwah, tetapi masih membutuhkan peringatan sebagai akibat dari tenggelamnya mereka pada rasa was-was dan terhanyut oleh gelombang syahwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Allah menutup pintu wahyu sebagai pertanda bagi hamba-Nya dan membuka pintu ilham sebagai rahmat serta menyiapkan segala sesuatu menyusun tingkatan2 supaya mereka tahu bahwa Allah Maha Lembut kepada hamba2-Nya, memberikan rezeki kepada siapa saja yg dikendaki tanpa perhitungan. Selesai sudah nasehatku tentang kawruh kesejatian yg kubeberkan padamu. Hendaklah engkau bisa menggunakan sebaik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sikap takzim, Raden Paku ( Sunan Giri ) menerawang ke depan membayangkan wajah ayahandanya mengucapkan sendiri kata2 yg barusan dibacanya. Digengamnya erat2 lembaran lontar itu, lalu didekapkan didada serasa hendak menggoreskan makna dalam hatinya. Suatu makna dari nasehat orang suci yg tak lain adalah ayahandanya sendiri Syeh Wali Lanang / Syeh Awallul Islam ( Maulana Ishak ), lelaki suci keturunan manusia utama.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-7368117228939325160?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/7368117228939325160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=7368117228939325160' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/7368117228939325160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/7368117228939325160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/09/suluk-syekh-wali-lanang.html' title='Suluk Syekh Wali Lanang'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-4867847217333141600</id><published>2008-09-11T16:42:00.001-07:00</published><updated>2008-12-31T22:34:30.659-08:00</updated><title type='text'>Tentang Martabat Tujuh</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;DALAM SULUK SUJINAH DAN SERAT WIRID HIDAYAT JATI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencari ridhoNya, para sufi menggunakan jalan yang bermacam-macam. Baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dengan melalui kearifan, kecintaan dan tapa brata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, pada akhir abad ke-8, muncul aliran Wahdatul Wujud, suatu faham tentang segala wujud yang pada dasarnya bersumber satu. Allah Ta’ala. Allah yang menjadikan sesuatu dan Dialah a’in dari segala sesuatu. Wujud alam adalah a’in wujud Allah, Allah adalah hakikat alam. Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan antara wujud qadim dengan wujud baru yang disebut dengan makhluk. Dengan kata lain, perbedaan yang kita lihat hanya pada rupa atau ragam dari hakikat yang Esa. Sebab alam beserta manusia merupakan aspek lahir dari suatu hakikat batin yang tunggal, Tuhan Seru Sekalian Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faham wahdatul wujud mencapai puncaknya pada akhir abad ke-12. Muhyidin Ibn Arabi,seorang sufi kelahiran Murcia, kota kecil di Spanyol pada 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M adalah salah seorang tokoh utamanya pada zamannya. Dalam bukunya yang berjudul Fusus al-Hikam yang ditulis pada 627 H atau 1229 M tersurat dengan jelas uraian tentang faham Pantheisme (seluruh kosmos adalah Tuhan), terjadinya alam semesta, dan keinsankamilan. Di mana faham ini muncul dan berkembang berdasarkan perenungan fakir filsafat dan zaud (perasaan) tasauf.&lt;br /&gt;Faham ini kemudian berkembang ke luar jazirah Arab, terutama berkembang ke Tanah India yang dipelopori oleh Muhammad Ibn Fadillah, salah seorang tokoh sufi kelahitan Gujarat (…-1629M). Di dalam karangannya, kitab Tuhfah, beliau mengajukan konsep Martabat Tujuh sebagai sarana penelaahan tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Menurut Muhammad Ibn Fadillah, Allah yang bersifat gaib bisa dikenal sesudah bertajjali melalui tujuh martabat atau sebanyak tujuh tingkatan, sehingga tercipta alam semesta dengan segala isinya. Pengertian tajjali berarti kebenaran yang diperlihatkan Allah melalui penyinaran atau penurunan — di mana konsep ini lahir dari suatu ajaran dalam filsafat yang disebut monisme. Yaitu suatu faham yang memandang bahwa alam semesta beserta manusia adalah aspek lahir dari satu hakikat tunggal. Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Simuh dalam Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, Suatu Studi Terhadap Serat Wirid Hidayat Jati menyatakan; “Konsep ajaran martabat tujuh mengenai penciptaan alam manusia melalui tajjalinya Tuhan sebanyak tujuh tingkatan jelas tidak bersumber dari Al Qur’an. Sebab dalam Islam tak dikenal konsep bertajjali. Islam mengajarkan tentang proses Tuhan dalam penciptaan makhluknya dengan Alijad Minal Adam, berasal dari tidak ada menjadi ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, konsep martabat tujuh di Jawa dimulai sesudah keruntuhan Majapahit dan digantikan dengan kerajaan Demak Bintara yang menguasai Pulau Jawa. Sedangkan awal perkembangannya, ajaran martabat tujuh di Jawa berasal dari konsep martabat tujuh yang berkembang di Tanah Aceh — terutama yang dikembangkan oleh Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai (…-1630) dan Abdul Rauf (1617-1690).&lt;br /&gt;Lebih lanjut ditambahkan; “Ajaran Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf kelihatan besar pengaruhnya dalam perkembangan kepustakaan Islam Kejawen. Pengaruh Abdul Rauf berkembang melalui penyebaran ajaran tarekat Syatariyah yang disebarkan oleh Abdul Muhyi (murid Abdul Rauf) di tanah Priangan. Ajaran tarekat Syatariyah segera menyebar ke Cirebon dan Tegal. Dari Tegal muncul gubahan Serat Tuhfah dalam bahasa Jawa dengan sekar macapat yang ditulis sekitar tahun 1680.”&lt;br /&gt;Sedangkan Buya Hamka mengemukakan bahwa faham Wahddatul Al-Wujud yang melahirkan ajaran Martabat Tujuh muncul karena tak dibedakan atau dipisahkan antara asyik dengan masyuknya. Dan apabila ke-Ilahi-an telah menjelma di badan dirinya, maka tidaklah kehendak dirinya yang berlaku, melainkan kehendak Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Simuh pun kembali menambahkan, dalam ajaran martabat tujuh, Tuhan menampakkan DiriNya setelah bertajjali dalam tujuh di mana ketujuh tingkatan tersebut dibagi dalam dua wujud. Yakni tiga aspek batin dan empat aspek lahir. “Tiga aspek batin terdiri dari Martabat Ahadiyah (kesatuan mutlak), Martabat Wahdah (kesatuan yang mengandung kejamakan secara ijmal keseluruhan), dan Martabat Wahadiyah (kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batas setiap sesuatu). Sedangkan aspek lahir terdiri Alam Arwah (alam nyawa dalam wujud jamak), Alam Mitsal (kesatuan dalam kejamakan secara ijmal), Alam Ajsam (alam segala tubuh, kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batasnya) dan Insan Kamil (bentuk kesempurnaan manusia).&lt;br /&gt;Menanggapi hal ini, Buya Hamka mengutip dari karya Ibnu Arabi yang berjudul Al-Futuhat al-Makkiya fi Marifa Asrar al-Malakiya (589 H atau 1201 M), bahwa tajjalinya Allah Ta’ala yang pertama adalah dalam alam Uluhiyah. kemudian dari alam Uluhiyah mengalir alam Jabarut, Malakut, Mitsal, Ajsam, Arwah dan Insan Kamil — di mana yang dimaksud dengan alam Uluhiyah adalah alam yang terjadi dengan perintah Allah tanpa perantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martabat Pertama, Ahadiyah&lt;br /&gt;Martabat pertama adalah Martabat Ahadiyah yang diungkapkan sebagai Martabat Lata’ayyun, atau al-Ama (tingkatan yang tidak diketahui). Disebut juga Al-Tanazzulat li ‘l-Dhat (dari alam kegelapan menuju alam terang), al-Bath (alam murni), al-Dhat (alam zat), al-Lahut (alam ketuhanan), al-Sirf (alam keutamaan), al-Dhat al-Mutlaq (zat kemutlakan), al-Bayad al-Mutlaq (kesucian yang mutlak), Kunh al-Dhat (asal terbuntuknya zat), Makiyyah al-Makiyyah (inti dari segala zat), Majhul al N’at (zat yang tak dapat disifati), Ghayb al Ghuyub (gaib dari segala yang gaib), Wujud al-Mahad (wujud yang mutlak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berikut adalah nukilan dari terjemahan tingkat pertama yang disebut Martabat Ahadiyah dalam Suluk Sujinah dan Serat Wirid Hidayat Jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suluk Sujinah&lt;br /&gt;Ada pengetahuan perihal tingkatan dalam kehidupan manusia, yang diceritakan dengan ajalollah dan dikenal dengan sebutan martabat tujuh, diawali dengan kegaiban. Zat yang membawa pengetahuan tentang Diri-Nya, dan tanpa membeberkan tentang kenyataan (fisik), Keadaannya kosong namun dasarnya ada. Tapi dalam martabat ini belum berkehendak. Martabat Akadiyah disebut juga dengan Sarikul Adham. Awal dari segala awal.Dalam alam ahadiyah dimulai dengan aksara La dan bersemayam ila. Itulah kekosongan pertama dari empat bentuk kekosongan. Kedua bernama Maslub. Ketiga adalah Tahlil, dan keempat Tasbeh. Maslub bermakna belum adanya bentuk atau wujud roh atau jiwa. Tak berbentuk badan atau wujud lainnya.Tahlil berarti tak bermula dan tak berakhir. Sedangkan Tasbeh bermakna Tuhan Maha Suci dan Tunggal. Tuhan tak mendua atau bertiga. Tak ada Pangeran lain kecuali Allah yang disembah dan dipuja, yang asih pada makhluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serat Wiirid Hidayat Jati&lt;br /&gt;Sajaratul Yakin tumbuh dalam alam adam makdum yang sunyi senyap azali abadi, artinya pohon kehidupan yang berada dalam ruang hampa yang sunyi senyap selamanya, belum ada sesuatu pun, adalah hakikat Zat Mutlak yang qadim. Zat yang pasti terdahulu, yaitu zat atma, yang menjadi wahana alam Ahadiyah.&lt;br /&gt;Di dalam Suluk Sujinah, tingkat pertama disebut dengan alam Ahadiyah, yaitu alam tentang tingkat keesaan-Nya. Keesaan-Nya agung, dan bukan obyek dari pengetahuan khusus mana pun dan karena itu tidak dapat dicapai oleh makhluk apa pun. Hanya Allah yang mengetahui diri-Nya dan keesaan-Nya.&lt;br /&gt;Dalam keesaan-Nya tak ada sesuatu pun yang menguasai dan mengetahui kecuali diri-Nya. Firmannya adalah diri-Nya sendiri, begitu pun malaikat-Nya dan nabi-Nya. Allah dalam tingkatan ini berada pada kondisi al-Kamal, yaitu, dalam kesempurnaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat-Nya, keesaan-Nya adalah tempat berkumpulnya seluruh keragaman dan tenggelam atau lenyap dalam kesatuan-Nya. Dalam alam Ahadiyah keragaman dan kejamakan tersebut tidak dapat dipertentangkan dengan gagasan metafisis tentang tahapan atau tingkatan eksistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tingkatan ini, Allah berada dalam kondisi Ghayb al-Ghuyub, yaitu, keberadaan-Nya yang gaib. Tuhan tak dapat diindrawi. Sebab Allah tidak membeberkan tentang kenyataan yang fisik. Allah dalam keadaan yang tak berujud, yang tak dapat dideteksi oleh manusia atau para wali, nabi, bahkan para malaikat terdekat-Nya. Sebab Ia masih dalam kesendirian-Nya. Allah belum menguraikan atau menciptakan sesuatu. Di dalam derajat ini, semua sifat umum kumpul melebur di dalam diri-Nya. Perbedaan sifat pun ada dalam kesatuan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan dalam alam pertama disebut juga al-Unsur Adam, Allah adalah unsur yang pertama, dan tak ada makhluk-makhluk lainnya yang mendahului. Diri-Nya adalah unsur yang terdahulu yang bersifat agung. Zat-Nya adalah substansi universal dan hakikat-Nya yang tak dapat dipahami. Dalam sifat adam-Nya, hakikat-Nya tak dapat dipahami. Sebab awalnya adalah Ada dalam ketiadaan. Dan ketiadaan-Nya adalah hakikat yang tak terlukiskan dan tak dapat dimengerti oleh siapa pun. Hakikatnya di luar segala perumpamaan dan citraan yang memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, alam Ahadiyah terbagi dalam empat tingkatan. Tahap pertama dikenal dengan kata La yang bersemayam di dalam kata illa. La dan illa adalah dua kata yang manunggal, karena setiap realitas-realitas hanya merupakan refleksi dari realitas-realitas Allah. La dan illa menunjukan pada asal segala sesuatu yaitu dalam ketiadaan-Nya, diri-Nya Ada. Sedangkan pengertian illa juga menunjukan pada kembali sesuatu dalam kesatuan-Nya yang bersifat keabadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memperhatikan tatanan ontologis, bila diterapkan La dan illa akan mengisyaratkan pemisahan antara ada Ilahi dan para makhluknya. Dengan demikian, Ad-Nya pertama menjadi tabu bagi adanya yang kedua. Pengetian La dan illa dalam masyarakat sufi memiliki tiga makna. Pertama, adalah tiada Tuhan melainkan Allah. Kedua adalah tiada Ma’bud melainkan Allah dan ketiga tiada maujud melainkan Allah. Pengertian pertama mengacu pada keberadaan pada kekuasaan-Nya. Yaitu penegasan tiada Tuhan yang pantas menjadi penguasa selain Allah yang Esa. Pengertian kedua, Allah adalah Zat yang wajib disembah sebab Allah bersifat disembah. Tiada penguasa yang wajib disembah selain Allah, Zat yang Maha Suci. Sedangkan pengertian ketiga, Allah adalah awal segala yang berwujud. Sebab Zat-Nya adalah wujud yang pertama dan tak berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga pengertian tersebut di atas adalah suatu kesatuan yang tak dapat dikaji secara terpisah. Sebab, segala bentuk yang maujud ini pada hakikatnya sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah Allah. Jadi, kalau yang ada ini semuanya dikatakan ada, artinya ada dalam Allah. Inilah konsep dasar dari Widhatul al-Wujud. Sementara, tingkatan kedua dari alam Ahadiyah adalah Nafi Uslub, yaitu, tingkat ketiadaan-Nya yang ada. Dalam ketiadaan-Nya, Allah tak dapat digambarkan atau dilukiskan oleh siapa pun. Allah dalam keadaan Al-Ama, yaitu, tingkatan yang tak dapat diketahui. Allah dalam tingkatan ini hanya mempunyai hubungan murni dalam hakikat dan tanpa bentuk. Sedang tingkatan yang ketiga dalam alam Ahadiyah adalah Tahlil. Pengertian Tahlil berarti kondisi Tuhan yang bermakna La illa illaha. Tahlil pun bermakna suatu kondisi pemujaan Allah dengan pengucapan syahadat tentang persaksian akan keberadaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimah Syahadah yang diucapkan dengan niat bulat dan mengakui bahwa Allah berkuasa sendirian, tidak menghendaki pertolongan dari siapa pun, ia suci dan kaya. Kalimah Syahadah adalah kalimat yang wajib bagi pemeluk Islam, di mana intinya adalah pengakuan akan adanya Allah yang menjadi pemimpin kehidupan, di samping itu, adanya pengakuan rasul Allah. Yaitu Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tingkat empat adalah Ahadiyah Tasbih, yang bermakna kemahaluasan Allah. Tingkatan ini berintikan kalimat Subhhanallah, artinya, maha suci Allah dan mengingatkan serta menunjukan seluruh keyakinan untuk selalu mempersucikan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang pada Serat Wirid Hidayat Jati, ajaran pertamanya dikenal dengan sebutan Sajaratul Yakin. Yaitu sebagai lambang pohon kehidupan yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Kajeng Sejati dan memiki makna pengertian tentang kehidupan atau hayyu.&lt;br /&gt;Hayyu berarti atma, jiwa atau ruh. Dalam Sajaratul Yakin Allah adalah Wujud al-Sirf, kondisi wujud yang utama. Atma-Nya belum tersifati, namun ruh-Nya adalah al-Lahut (bersifat ke-ilahi-an). Ia merupakan hakikat zat mutlak dan qadim, yaitu, asal zat dari segala zat yang bersifat abadi. Zat-Nya tak ada dalam penguraian. Segala penguraian-Nya adalah bersifat negatif. Sebab Allah bersifat Makiyyah al Makiyyah, yaitu, inti dari segala zat yang ada di kemudian hari. Atmanya adalah esa dari yang tak teruraikan dan diuraikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zat ruh-Nya sesungguhnya adalah zat yang bersifat esa. Ruh itulah sejatinya Tuhan Yang Mahasuci. Ruh-Nya adalah subyek absolut, di mana benda yang termasuk subyek individu hanyalah obyektivisasi-obyektivisasi ilusi. Sebab Allah adalah Kunh al-Dhat, asalnya zat terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitabnya Daqiqul Akbar, Imam Abdurahman menuliskan, pada awal permulaan Allah menciptakan sebatang pohon kayu bercabang empat. Pohon kayu tersebut dikenal dengan Syajaratul Yakin. Dan Syajaratul Yakin tercipta dalam alam kesunyian yang bersifat qadim dan azali. Pengertian sunyi di sini bukan bermakna tak adanya sesuatu. Namun bermakna belum terciptanya alam, kecuali tajjali-Nya yang pertama dalam bentuk Syajaratul Yakin. Sedangkan pengertian qadim dan azali adalah wujud dari sifat-Nya yang terawal dan tak berakhir. Zat-Nya adalah terdahulu, tak ada sesuatu pun yang mendahului dan tak ada akhir karena masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syajaratul yakin afdalah awal sifat-Nya. Dalam pohon kehidupan sifat-Nya yang menonjol adalah tentang hidup — hidup (al-Hayat) adalah sifat wajib yang ada pada Diri-Nya. Sebab sifat al-Hayat adalah qadim dan azali. Al-Hayat dalam segala martabat-Nya menjadi pangkal bagi segala macam kenyataan yang lahir dan kekal. karena hidup atau hayyu atau atma adalah subyek yang absolut, maka, hakikat atma atau hidup adalah mutlak yang qadim. Dan Allah adalah zat pertama dan sumber dari hidup itu sendiri. Diri-Nya adalah kekal bersamaan dengan kekalnya zat kehidupan.&lt;br /&gt;Keduanya adalah ada dalam kemanunggalan. Zat-Nya yang al-Hayat adalah sumber munculnya perkara-perkara sifat wajib-Nya. Yaitu, ilmu, iradat, kalam dan baqa. Artinya, karena adanya ruh atau hayyu (al-Hayat), maka, muncul ilmu (pengetahuan). Timbulnya pengetahuan (al-ilm) menciptakan atau mengalirnya kehendak (iradat), dan firman-Nya. Dan ketiga sifat-Nya adalah kekal, baqa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam jack kalijaga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-4867847217333141600?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/4867847217333141600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=4867847217333141600' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/4867847217333141600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/4867847217333141600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/09/tentang-martabat-tujuh.html' title='Tentang Martabat Tujuh'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-5014345900400547981</id><published>2008-08-27T18:34:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T00:50:11.996-07:00</updated><title type='text'>Tarekat Ala Syekh Suchrawardi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Syeikh Ziauddin Jahib Suhrawardi, mengikuti disiplin Sufi kuno, Junaid al-Baghdadi, dianggap sebagai pendiri tarekat ini pada abad kesebelas Masehi. Seperti halnya tarekat-tarekat lain, guru-guru Suhrawardi diterima oleh pengikut Naqsyabandi dan lainnya.&lt;br /&gt;India, Persia dan Afrika semuanya dipengaruhi aktikitas mistik mereka melalui metode dan tokoh-tokoh tarekat, kendati pengikut Suhrawardi ada diantara pecahan terbesar kelompok-kelompok Sufi.&lt;br /&gt;Praktek-praktek mereka diubah dari kegembiraan mistik kepada latihan diam secara lengkap untuk ‘Persepsi terhadap Realitas’.&lt;br /&gt;Bahan-bahan instruksi (pelajaran) tarekat seringkali, untuk seluruh bentuk, hanya merupakan legenda atau fiksi. Bagaimanapun bagi penganut, mereka mengetahui materi-materi esensial untuk mempersiapkan dasar bagi pengalaman-pengalaman yang harus dijalani murid. Tanpa itu, diyakini, ada kemungkinan bahwa murid dengan sederhana mengembangkan keadaan pemikiranang sudah berubah, yang membuatnya tidak cakap dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;IBNU YUSUF SI TUKANG KAYU&lt;br /&gt;Pada suatu waktu, terdapat seorang tukang kayu bernama Nazhar bin Yusuf. Ia menghabiskan sebagian hidupnya selama bertahun-tahun untuk mempelajari kitab-kitab kuno yang berisi banyak pengetahuan yang sudah agak terlupakan.&lt;br /&gt;Ia mempunyai pelayan setia, dan suatu hari ia berkata padanya: “Aku sekarang berhasil memperoleh pengetahuan kuno yang harus digunakan untuk menjamin keberadaanku selanjutnya. Oleh karena itu aku ingin engkau membantuku menyelesaikan proses yang akan membuatku muda lagi dan abadi.”&lt;br /&gt;Ketika ia menjelaskan prosesnya, si pelayan pertama kali merasa segan untuk menyelesaikannya. Si pelayan memotong-motong Nazar dan memasukkannya di dalam sebuah tong besar, diisi dengan cairan tertentu.&lt;br /&gt;“Aku tidak dapat membunuhmu,” ujar pelayan.&lt;br /&gt;“Ya, engkau harus, karena toh aku akan mati, dan engkau akan kehilangan. Ambillah pedang ini. Jaga terus tong ini, jangan katakan siapa pun apa yang sesungguhnya engkau lakukan. Setelah duapuluh delapan hari, bukalah tongnya dan keluarkan aku. Aku akan memperoleh kembali kemudaanku.”&lt;br /&gt;Setelah beberapa hari, dalam kesepiannya, pelayan mulai merasa sangat tidak nyaman, dan semua jenis keraguan pun menjangkitinya. Maka ia mulai membiasakan diri dengan peran anehnya. Secara teratur orang datang ke rumah dan menanyakan majikannya, tetapi ia cuma dapat menjawab, “Sementara ini ia tidak di sini.”&lt;br /&gt;Akhirnya pihak berwenang datang, curiga bahwa si pelayan berbuat sesuatu pada majikannya sehubungan dengan lenyapnya dia. “Biarkan memeriksa rumah,” kata mereka, “Jika kami tidak menemukan apa pun, kami akan menahanmu sampai majikanmu muncul.”&lt;br /&gt;Si pelayan tidak tahu apa yang harus dilakukan, pada saat itu sudah berlangsung selama duapuluh satu hari. Tetapi ia mengambil keputusan, dan berkata;&lt;br /&gt;“Tinggalkan aku di sini bersama tong ini sebentar, dan kemudian aku siap ikut denganmu.”&lt;br /&gt;Ia pun pergi ke kamar dan membuka tutup tong.&lt;br /&gt;Tiba-tiba manusia kecil, tampak lebih muda tetapi persis seperti majikannya, kendati cuma setinggi tangan, melompat keluar tong, dan berlari berputar-putar, sambil terus berucap.&lt;br /&gt;“Terlalu cepat, terlalu cepat…”&lt;br /&gt;Kemudian, saat pelayan masih memandang dengan terkejut, benda kecil itu lenyap di udara.&lt;br /&gt;Pelayan keluar dari kamar, petugas menangkapnya. Majikannya tidak pernah terlihat lagi, kendati banyak sekali legenda tentang Nazar bin Yusuf si tukang kayu; tetapi harus kita tinggalkan untuk kesempatan lain.&lt;br /&gt;GADIS YANG KEMBALI DARI KEMATIAN&lt;br /&gt;Pada zaman dulu terdapat seorang gadis cantik; putri seorang pria yang baik, seorang perempuan yang kecantikan dan kehalusan gerak-geriknya tiada banding.&lt;br /&gt;Ketika usianya dewasa, tiga pemuda, masing-masing menunjukkan kapasitas yang tinggi dan menjanjikan, melamarnya.&lt;br /&gt;Setelah memutuskan bahwa ketiganya sebanding, sang ayah menyerahkan keputusan akhir pada putrinya.&lt;br /&gt;Berbulan-bulan sudah, dan si gadis tampaknya belum juga mengambil keputusan.&lt;br /&gt;Suatu hari ia tiba-tiba jatuh sakit. Dalam beberapa saat ia meninggal. Ketiga pemuda tersebut, bersama-sama ikut ke makam, membawa jasadnya ke pemakaman dan dikebumikan dengan kesedihan yang sangat dalam.&lt;br /&gt;Pemuda pertama, menjadikan pusara sebagai rumahnya, menghabiskan malam-malamnya di sana dalam penderitaan dan perenungan, tidak dapat memahami berjalannya takdir yang membawanya pergi.&lt;br /&gt;Pemuda kedua, memilih jalanan dan berkelana ke seluruh dunia mencari pengetahuan, menjadi seorang fakir.&lt;br /&gt;Pemuda ketiga, menghabiskan waktunya untuk menghibur sang ayah yang kehilangan.&lt;br /&gt;Sekarang, pemuda yang menjadi fakir dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat di mana terdapat seorang yang terkenal karena karya seninya yang luar biasa. Melanjutkan pencarian pengetahuan, ia kemudian berdiri di sebuah pintu, dan diterima di meja tuan rumah.&lt;br /&gt;Ketika tuan rumah mengundangnya makan, ia sudah mulai menyantap hidangan ketika seorang anak kecil menangis, cucu orang bijak tersebut.&lt;br /&gt;Si guru menggendong bocah dan melemparnya ke api.&lt;br /&gt;Seketika si fakir melompat dan meninggalkan rumah, menangis:&lt;br /&gt;“Iblis keji! Aku sudah membagi penderitaanku ke seluruh dunia, tetapi kejahatan ini melebihi semua yang pernah dicatat sejarah!”&lt;br /&gt;“Jangan berpikir apa pun,” ujar tuan rumah, “Untuk hal-hal sederhana akan tampak muncul secara terbalik, kalau engkau tidak memiliki pengetahuan.”&lt;br /&gt;Sambil berkata, ia membaca suatu mahtera dan mengacungkan sebuah emblem berbentuk aneh, bocah tersebut keluar dari api tanpa luka.&lt;br /&gt;Si fakir mengingat-ingat kata-kata dan emblem tersebut, pagi berikutnya ia kembali ke pemakaman di mana kekasihnya dimakamkan.&lt;br /&gt;Singkat kata, si gadis berdiri di depannya, kembali hidup sepenuhnya.&lt;br /&gt;Gadis itu kembali ke ayahnya, sementara para pemuda berselisih siapa diantara mereka yang bakal dipilih.&lt;br /&gt;Yang pertama berkata, ‘Aku tinggal di pusara, memeliharanya dengan kesiap-siagaanku, berhubungan dengannya, menjaga kebutuhan ruhnya akan dukungan duniawi.”&lt;br /&gt;Yang kedua mengatakan, “Kalian berdua mengabaikan kenyataan, bahwa akulah yang sesungguhnya berkeliling dunia mencari pengetahuan, dan akhirnya menghidupkannya kembali.”&lt;br /&gt;Yang ketiga mengatakan, “Aku telah berduka untuknya, dan seperti seorang suami serta menantu aku tinggal di sini, menghibur ayah, membantu merawatnya.”&lt;br /&gt;Mereka meminta si gadis menjawab, yang kemudian dijawabnya:&lt;br /&gt;“Ia yang menemukan mantera untuk mengembalikan aku, adalah seorang pengasih sesama manusia; ia yang merawat ayahku seolah anak baginya; ia yang berbaring di sisi pusaraku - ia bertindak seperti seorang kekasih. Aku akan menikahinya.”&lt;br /&gt;PERUMPAMAAN TUAN RUMAH DAN TAMU&lt;br /&gt;Para guru seperti tuan di rumahnya sendiri. Tamu-tamunya adalah mereka yang mencoba mempelajari ‘Jalan’. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak pernah di rumah tersebut sebelumnya, dan mereka hanya mempunyai pemikiran yang samar, seperti apa sebenarnya rumah tersebut. Meskipun demikian, rumah itu ada.&lt;br /&gt;Ketika tamu memasuki rumah dan melihat tempat khusus untuk duduk, mereka bertanya, “Apakah ini?” Dijawab, “Ini tempat di mana kami duduk.” Maka mereka duduk di kursi, dengan sedikit kesadaran tentang fungsi kursi.&lt;br /&gt;Tuan rumah menjamu mereka, tetapi mereka terus bertanya, kadang-kadang tidak berhubungan. Sebagai tuan rumah yang baik, ia tidak menyalahkan mereka. Mereka ingin tahu, misalnya, di mana dan kapan mereka akan makan. Mereka tidak tahu kalau tidak seorang pun sendirian, dan pada saat itu juga ada orang lain yang memasak makanan, serta terdapat ruang lain di mana mereka akan duduk dan menikmati makanan. Karena mereka tidak dapat melihat makanan atau persiapannya, maka mereka bingung, barangkali penuh keraguan, kadang-kadang perasaannya kurang tentram.&lt;br /&gt;Tuan rumah yang baik, mengetahui masalah tamunya, harus menentramkan mereka, sehingga mereka dapat menikmati makanan saat disajikan. Pada mulanya mereka segan mendekati makanan. Sebagian tamu cepat mengerti dan menghubungkan satu hal tentang rumah tersebut kepada yang lain. Mereka ini adalah orang-orang yang dapat mengkomunikasikan kepada teman mereka yang lambat. Tuan rumah, sementara itu, memberi jawaban kepada masing-masing tamu sesuai kapasitasnya memahami kesatuan dan fungsi sebuah rumah.&lt;br /&gt;Namun hal itu tidaklah cukup untuk keberadaan sebuah rumah –karena harus siap menerima tamu– maka harus ada tuan rumahnya. Seseorang harus latihan secara aktif tentang fungsi rumah, supaya orang asing yang menjadi tamu serta mereka yang menjadi tanggung jawab tuan rumah, memungkinkannya terbiasa dengan rumah tersebut. Pada awalnya, sebagian besar dari mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah tamu, dan apa makna tamu sesungguhnya; apa yang dapat mereka bawa, dan apa yang diberikan kepada mereka.&lt;br /&gt;Tamu yang berpengalaman, yang telah belajar tentang rumah dan keramahan, pada akhirnya berkurang kikuknya, dan ia kemudian berada pada kedudukan untuk lebih memahami rumah dan beberapa bentuk kehidupan di dalamnya. Sementara ia tetap mencoba memahami apa rumah itu, atau mencoba mengingat aturan-aturan etika, perhatiannya terlalu banyak disita oleh faktor-faktor ini sehingga dapat meneliti, katakanlah, keindahan, nilai atau fungsi perabotan.&lt;br /&gt;ILMU PERBINTANGAN&lt;br /&gt;Suatu ketika, melalui ilmunya, seorang Sufi mengetahui bahwa sebuah kota akan diserang musuh. Ia mengatakannya kepada tetangga, yang menyadari bahwa ia orang yang jujur tetapi sederhana, kemudian menganjurkan:&lt;br /&gt;‘Aku yakin kalau engkau benar, dan engkau harus pergi memberitahu raja. Tetapi jika engkau ingin dipercaya, tolong katakan bahwa engkau diilhami, bukan dari kearifan, tetapi dari ilmu perbintangan. Maka ia akan bertindak, dan kota mungkin selamat.”&lt;br /&gt;Sufi tersebut melakukannya, dan penduduk kota diselamatkan dengan tindakan pencegahan yang tepat.&lt;br /&gt;PERKATAAN SYEIKH ZIAUDDIN&lt;br /&gt;Pembenaran diri lebih buruk daripada perasaan murni.&lt;br /&gt;TIGA CALON SUFI&lt;br /&gt;Tiga orang berhasil memasuki lingkaran Sufi, meminta izin untuk pengajarannya. Salah seorang diantara mereka hampir saja melepaskan diri, marah karena perilaku aneh sang guru.&lt;br /&gt;Yang kedua, diberitahu oleh murid-murid lainnya (atas petunjuk guru) bahwa guru tersebut seorang penipu. Ia segera mengundurkan diri.&lt;br /&gt;Yang ketiga dibiarkan bicara, tetapi ia sama sekali tidak ditawari pelajaran dalam waktu yang lama, hingga ketertarikannya hilang dan meninggalkan lingkaran tersebut.&lt;br /&gt;Ketika semuanya pergi, sang guru berkata demikian:&lt;br /&gt;“Orang pertama adalah gambaran tentang prinsip: ‘Jangan menilai hal-hal fundamental melalui penglihatan’.”&lt;br /&gt;Orang kedua adalah gambaran tentang keputusan, ‘Jangan menilai hal-hal yang amat penting hanya dengan mendengarkan.’&lt;br /&gt;Orang ketiga adalah contoh tentang ucapan: ‘Jangan menilai melalui pidato (ceramah), atau kekurangan akan hal itu’.”&lt;br /&gt;Ditanya oleh murid, mengapa para pelamar tidak diberi petunjuk dalam persoalan tersebut, sang guru menjawab:&lt;br /&gt;“Aku di sini untuk memberi pengetahuan yang lebih tinggi; bukan mengajar orang-orang yang menganggap bahwa mereka sudah tahu di lutut ibunya.”&lt;br /&gt;MEMBUATKU BERPIKIR TENTANG …&lt;br /&gt;Suhrawardi mengatakan:&lt;br /&gt;“Aku pergi menemui teman, dan kami duduk mengobrol.&lt;br /&gt;Terdapatlah seekor unta melintas dengan lambat, dan aku berkata padanya:&lt;br /&gt;Apa yang membuatmu berpikir?’&lt;br /&gt;Katanya, ‘Makanan.’&lt;br /&gt;‘Tetapi engkau bukan orang Arab; sejak kapan daging unta untuk makanan?’&lt;br /&gt;‘Tidak, tidak seperti itu,’ katanya. ‘Kau lihat, semuanya membuatku berpikir tentang makanan’&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-5014345900400547981?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/5014345900400547981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=5014345900400547981' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5014345900400547981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5014345900400547981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/08/tarekat-ala-syekh-suchrawardi.html' title='Tarekat Ala Syekh Suchrawardi'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-4741369472171705095</id><published>2008-08-02T22:22:00.001-07:00</published><updated>2008-08-02T22:23:56.094-07:00</updated><title type='text'>Tafsir Ala Sufi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ini adalah kisah Bahlul, seorang bawahan Khalifah Harun ar-Rasyid yang prilakunya sering konyol, lugu, tapi menarik. Suatu hari Bahlul datang menemui penguasa dinasti Abbasiah itu dengan wajah kecut, seperti memendam kecewa."Kamu darimana saja Bahlul?" tanya Harun ar-Rasyid."Aku baru saja dari neraka, Baginda," jawab Bahlul enteng saja. "Dari neraka? Buat apa ke sana?" tanya Baginda keheranan."Saya khawatir kalau-kalau negeri kita kekurangan api, Tuan. Saya ke neraka ingin meminta api, untuk persediaan di sini. Tetapi sayang saya tak berhasil membawanya.""Kenapa?""Kata para penghuninya, di neraka tak ada api.""Mereka pasti bohong! Bagaimana bisa tak ada? Di neraka kan pusat dari segala api.""Saya pikir juga begitu, Tuan. Saya bahkan sudah mendesak dan memohon dengan sangat, tetapi jawaban mereka tetap satu: di neraka tak ada api! Saya tanya, kenapa bisa begitu? Nah kata mereka, setiap penghuninya datang ke sini membawa api (yang akan membakar)-nya sendiri-sendiri."Kisah itu saya kutip dari sebuah kolom ringan Sabrur R Soenardi. Lalu kisah kecil, pendek, tapi bermagnet ini kemudian dibukukan dengan judul yang seperti di atas. Saya dimintai Sabrur memberi pengantar sekira tahun 2003.Menurut Sabrur, neraka yang termaktub di sana adalah "neraka huthamah" sebagaimana dipahami kaum sufi. Dalam Al-Quran surat 104 ayat 6-7 digambarkan bahwa "neraka huthamah" adalah "api yang kobarannya naik sampai ke hati". Oleh kaum sufi neraka itu dipahami ketika hati terbakar oleh ego; ketika hati kalah oleh kecenderungan2 jahat.Apa yang dikemukakan oleh Sabrur itu adalah tafsir sufistik. Biasanya cara orang sufi memandang atau "menegur" masalah berbeda dengan para peneguh formalis. Kaum agamawan formalis yang biasanya kita lihat setiap hari menenteng umpatan dan cacian terus-menerus memompa sekuat-kuatnya ketakutan kepada umatnya bahwa dosa sang pendosa mendapatkan ganjaran jilatan api neraka.Ih, betapa mengerikannya itu Tuhan, yang kerjanya hanya membakar dan membakar dan membakar. Tiap waktu. Hidup kita pun seperti dalam titian ketakutan. Dan ketika ketakutan mendominasi sukma dan raga, maka kreativitas memudar hingga ke titik nadir: bego.Tapi wacana sufistik menawarkan keindahan tafsir yang lain: "Di neraka tak ada api... sebab apinya sudah dibawa oleh masing2 orang untuk membakar dirinya sendiri." Hah, betapa jauhnya cara memahami kedua anasir agama di atas. Yang satu membakar dan kelihatan membara; yang kedua sejuk dan terasa menyentuh di pedalaman jiwa.Kita membutuhkan yang kedua ini untuk bisa menerangi golak hidup yang kian tak keruan saat ini. Wacana sufistik mengajak orang untuk kembali kepada dirinya, kepada pedalaman jiwanya. Ia menyentuh akal hati seorang insan dan bukan sekadarwadak-raganya sebagaimana yang ternisbah dalam praktik agama yang lazim.Sufi tak berkompeten untuk "menghajar" para pendosa yang dicap dina dengan serentetan celaan, gertakan, dan dakwaan, melainkan "mengajar" dan turut mendoakan mereka agar selalu mendapat percik cahaya kebajikan (hidayah) dari Allah--sekerak apa pun dosa yang telah ia perbuat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;gus muh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;jalantrabas&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-4741369472171705095?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/4741369472171705095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=4741369472171705095' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/4741369472171705095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/4741369472171705095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/08/humor-sufi.html' title='Tafsir Ala Sufi'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-1509999971167103316</id><published>2008-07-28T18:13:00.000-07:00</published><updated>2008-12-01T23:18:15.143-08:00</updated><title type='text'>An-Nifary</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Sufi besar ini lahir di Iraq. Ketinggiannya ilmunya sangat luar biasa Ia adalah teoritikus sufi sekaligus sastrawan besar.&lt;br /&gt;Nama mistikus an-Nifary mungkin agak asing ditelinga kita.Tidak seperti al Bustami maupun al Hallaj, ia seakan kurang begitu terdengar. Padahal di mata ahli tasawuf pandangan-pandangan sufistiknya sangat berpengaruh. Para sufi sesudahnya banyak yang mengikuti jejak pria kelahiran Iraq ini.&lt;br /&gt;Walau lirih, An-Nifary telah meninggalkan tapak-tapak yang tidak kalah penting dibanding al Hallaj maupun al Bustami.Bahkan dalam memaknai tasawuf an-Nifary dipandang lebih hati-hati dan tidak kontroversial. Meskipun sosoknya bisa dibilang agak sulit, tetapi dirinya menjadi tokoh panutan yang tiada banding.&lt;br /&gt;Bernama lengkap Muhammad ibnu Abd Jabbar bin al Husain an-Nifary, dikenal tidak hanya sebagai seorang sufi saja. Dunia kesusastraan telah menempatkan dirinya dalam pada puncak kemasyhuran. Kehidupan tokoh ini sulit terlacak. Di duga ia dilahirkan di Basrah Iraq dengan tanggal dan tahun yang sulit ditemukan. Minimnya data disebabkan oleh pribadi an-Nifary. Sang sufi dikenal sebagai seorang yang suka menyendiri. Disamping itu kesehariannya lebih dikenal sebagai sosok pengelana.&lt;br /&gt;Kesohor sebagai pengembara menjadikan pengamat sufisme Dr. Margareth Smith menjulukinya sebagai Guru Besar di Jalan Mistik Sifat itu membikin karya-karyanya jarang terlacak. Kalaupun sekarang ada, tak lebih dari jasa orientalis Inggris, Arthur John Arberry. Pengamat Islam ini berhasil menerjemahkan beberapa karyanya tahun 1934. Meski demikian tidak banyak karya-karyanya yang terlacak. Pengembaraan menjadi salah satu cirinya. Karya-karyanya juga penuh dengan perjalanan spiritual yang mengagumkan. Tidak kalah jauhnya dengan pengembaraannya di dunia nyata. Tahap demi tahap dilakukannya sampai pada puncak yang paling tinggi.&lt;br /&gt;Itulah salah satu kalimat dari beberapa karya an-Nifary. Tokoh ini terasa unik. Berbeda dengan sufi lainnya, dalam diri an-Nifary ada dua kelebihan. Di dunia sastra sufi, an-Nifary sama seperti ar Rumi maupun maupun al Aththar. Dibanding dengan keduanya, karya an-Nifary lebih mendalam. Pertama, ia seorang sastrawan sufis. Kedua, ia seorang teoritikus mistik.&lt;br /&gt;Pengalaman spiritual dibingkai dalam bahasa sastra yang tinggi dan elok. Tidak dapat dipungkiri, nama an Niffrari berderet diantara sufi-sufi agung dan sastrawan sepanjang zaman. Bait-bait puisinya tidak pernah luput dari pemaknaan tentang Tuhan. Seperti puisinya tentang penyerahan kepada Allah berikut ini:&lt;br /&gt;Ilmu adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh perbuatan. Dan perbuatan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh keikhlasan. Dan keikhlasan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh kesabaran. Dan kesabaran adalah huruf yang tak terungkap oleh penyerahan&lt;br /&gt;Sifat pasrah berhasil diungkapkan dalam bahasa yang indah. Puisi ini menggambarkan bagaimana sebaiknya mengartikan kepasrahan secara mendasar. Totalitas penyerahan kepada Tuhan akan menghasilkan pemaknaan yang benar tentang Islam. Dan itulah pula makna sujud yang dilakukan oleh umat Islam dalam sholat. Tidak hanya kening yang melekat di hamparan sajadah. Tetapi jauh lagi adalah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah.&lt;br /&gt;Pemahamannnya yang tinggi terhadap tasawuf menempatkannya dalam deretan teoritikus mistik sepanjang zaman. Ada yang berpendapat bahwa an-Nifary mempunyai kemiripan dengan alHallaj. Keduanya telah mencapai Wahdatusy Syuhud (Penyatuan Penyaksian). Bedanya hanya soal kehati-hatian. An-Nifary cenderung lebih hati-hati untuk tidak mengatakan seperti al Hallaj atu al Bustami. Kalau al Hallaj mungkin lebih memilih untuk berkata ," Akulah al Haq!". Atau al Bustami dengan kredonya yang terkenal, "Mahasuci daku, alangkah agungnya perihalku."&lt;br /&gt;Al Hallaj dalam menanggapi perjalanan spiritualnya sering kali terlihat menimbulkan kontroversi. Bahkan gara-gara pencapaiannya ini, ia dihukum mati. Berbeda dengan al Bustami maupun an-Nifary. Dua sosok ini lebih hati-hati dalam mengungkapkan pencapaian-pencapaian spiritualitasnya. Walau begitu kesalahan pemahaman terhadap keduanya juga sering bermunculan.&lt;br /&gt;Karya-karya an-Nifary&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, pemikiran tasawuf dengan sangat memukau. Tasawuf di kaji secara mendalam dengan argumentasi yang cerdas. Sufisme menjadi bahasa spiritual sekaligus ilmu pengetahuan. Melalui simbol-simbol tampak sekali perjalanan dan konsepnya tentang tasawuf. Meski dengan hati- hati, ia mampu menerjemahkannya dalam sebuah pola berfikir yang jitu.&lt;br /&gt;Ada sebuah karyanya yang penting dan dapat dinikmati sampai sekarang. Kitab berjudul al Mawafiq wal Mukhthabat ( Posisi-Posisi dan Percakapan-Percakapan). Diakui banyak pengamat, karyanya ini sarat dengan simbol. Hasilnya bahasa-bahasa kiasan itu sering menimbulkan kontroversi. Dimungkinkan kalau tidak hati-hati akan menimbulkan pemaknaan yang salah.&lt;br /&gt;Selanjutnya karya ini menjadi dua bagian penting. Namun keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Ada sebuah cerita menarik tentang karyanya ini. Menurut pendapat satu-satunya pemberi syarah karya an-Nifary, Afifuddin at-Tilmisani bahwa ia tidak menulis sendiri karyanya. An-Nifary hanya mendiktekan ide dan pengalaman spiritualnya pada sang anak. Atau ia hanya menulis dalam potongan-potongan kertas dan kemudian disusun kembali oleh putranya itu. Dimungkinkan kalau karyanya ditulis dan disusun sendiri akan lebih sempurna dan indah.&lt;br /&gt;Dalam bagian pertama kitab ini diterangkan maqam, posisi atau tempat berdiri seseorang. Mawafiq yang merupakan jamak dari mauqif menunjukkan posisi seseorang dalam tingkatan spiritualitas. Posisi itu sendiri disebut waqfah. Menurutnya waqfah ini merupakan sumber ilmu. Tentang hal ini Dr.Fudholi Zaini menulis,” Waqfah adalah ruh dari ma’rifat, dan pada ma’rifat adalah ruh dari kehidupan. Pada waqfah telah tercakup di dalamnya ma’rifah, dan pada ma’rifah telah tercakup di dalamnya ilmu. Waqfah berada dibalik kejauhan ( al ab’ud ) dan kedekatan (al qurb), dan ma’rifah berada dalam kedekatan, dan ilmu ada dalam kejauhan. Waqfah adalah kehadiran Allah dan ma’rifah adalah ucapan Allah, dan ilmu adalah tabir Allah. Dengan demikian urutan dari besar ke kecil sebagai berikut: waqfah, ma’rifah dan ilmu.”&lt;br /&gt;Proses penyaksiaan ini menjadi hal yang sangat pribadi. Bila orang mencapai maqam tinggi, perkataannya bisa menjadi sesuatu yang tidak jelas dan sulit dimengerti. Bahkan dalam beberapa hal sukar untuk dikomunikasikan. Maka dari itu an-Nifary memilih diam ketika melewati tahapan spiritualitasnya. Baginya kata-kata tidak pernah bisa menampung penglihatannya.&lt;br /&gt;Dalam kitab ini juga diterangkan tentang ilmu dan amal perbuataan atau makrifat dengan ibadah. Ia mengatakan berpendapat hakekat ilmu adalah perbuatan. Hakekat perbuatan adalah keihlasan. Hakekat keikhlasan adalah kesabaran, dan hekekata kesabaran adalah penyerahan. Baginya hehekat tidak akan terbentuk kecuali dengan syariat. Demikian pula ide tidak akan terlaksana kalau tidak ada penerapan dan perbuatan. Makanya kerterkaitan antara syariat dan hakaket menjadi penting artinya.&lt;br /&gt;Sedang dalam al Mukhathabat berisi kata-kata batin dan kata-kata yang Maha Kuasa dalam diri sang sufi. Di mana dalam posisi terakhir ini an-Nifary lebih memilih diam. Pengalaman ruhani yang luar biasa ini menimbulkan spontanitas yang membuatnya menjadi gagap. Menutut Dr.Fudholi Zaini, kitab al Mukhathabat ini biasanya diawali dengan ungkapan”Ya abd!” (Wahai hamba). Di tulis juga dalam kitab ini bahwa ilmu menempati posisi yang utama. Semua jalan menuju Tuhan harus lewat ilmu.&lt;br /&gt;Tak salah kalau AJ Arberry memandang an-Nifary sebagai teoritikus ulung. Spiritualitas di tangannya bisa lebih dipahami. Dengan pengungkapan melalui bahasa sastra yang indah, beberapa pokok pandangan sufistiknya mengalir lancar. Sebagai ulama yang sangat memegang syariat, cara bertuturnyapun cenderung tidak melewati aturan. Emosi pengembaraan spiritual tergambar pelan-pelan menuju puncak Ilahiyah.&lt;br /&gt;Kata-kata Bijak an-Nifary&lt;br /&gt;Membaca ujaran-ujaran an-Nifary kita akan melihat cara pandangnya. Beberapa pemikirannya tentang ilmu, tabir sampai persaksian dengan Tuhan berhasil dijelaskan. Tidak ada kata yang meledak-ledak. Padahal simbol dan makna yang diungkapkannya kadang terasa aneh dan gelap. Berikut beberapa ujaran an-Nifary yang berhasil dihimpun oleh pengamat sufisme Margareth Smith sebagaimana ditulis dalam buku ujaran-ujaran dan Karyanya :&lt;br /&gt;“ Keabadian melagukan pujian kepada-Ku dan ia adalah salah satu sifat-Ku yang wajib melakukan hal itu, dan telah Aku ciptakan dari pujiannya malam dan siang dan telah Aku buat keduanya dalam selubung-selubung yang merentang mengelilingi mata dan pikiran manusia, dan mengelilingi benak dan kalbu mereka. Malam dan siang adalah dua selubung yang saling merentangi semua yang telah Aku ciptakan, tetapi karena Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku, telah Aku angkat kedua selubung itu agar kau bisa melihat Ku dan kau telah melihat Ku , karenanya berdirilah dihadapan Ku dan teruslah dalam penglihatan Ku, karena kau tidak akan terpisah oleh sesuatu yang tak mungkin megak dan serahkanlah hanya kepada Ku semua yang pernah Aku wujudkan kepadamu.”&lt;br /&gt;Disamping itu juga ditulis,” Tuhan berkata kepadaku : “Tanyakan kepada-Ku dan katakan,” Duhai Tuhan , berapa lama aku harus berpegang teguh kepada Mu , agar ketika hari pembalasan tiba, engkau tidak menghukumku dengan hukuman Mu dan Engkau tidak berpaling dariku ?” Dan Aku akan berkata kepadamu ,” Berpegang teguhlah pada hukum agama (Sunah) dalam pengetahuan dan tindakan, dan perpegang teguhlah engkau pada ilmu yang telah Aku berikan kepadamu kedalam kalbumu, dan ketahuilah bahwa ketika Aku menjadikan diri Ku terlihat olehmu, Aku tidak akan menerima darimu dari apa yang datang kepadamu dari penjelmaan Ku yang terlihat untukmu, karena kepada kaulah Aku telah berbicara. Kau telah mendengarkan Ku, kau mengetahui bahwa kau mendengarkan Ku dan kau memahami bahwa semua benda berasal dari Ku”Sedang Dr.Fudholi Zaini menerjemahkan beberapa ujarannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Ia menghentikanku dalam posisi kebangggan dan berkata kepadaku: Akulah yang lahir dan tak ada yang tampak dariku. Dekatnya tak bisa memantauku dan wujudnya tak bisa menujukku. Akulah penyembunyi yang batin dan aku lebih tersembunyi darinya. Dalilnya tak bisa melacakku dan lorongnya tak sampai kepadaku.&lt;br /&gt;Kebodohan itu tabirnya penglihatan dan ilmu juga tabirnya penglihatan. Akulah yang lahir tanpa tabir dan hijab, dan akaulah yang batin tanpa singkap. Siapa yang telah mengenal hijab maka ia akan segera menjelang singkap.” Selanjutnya ia menulis, “ Kedirian seorang waqif adalah diamnya. Kedirian seorang arif adalah ucapannya. Kedirian seorang alim adalah ilmunya.”&lt;br /&gt;Itulah salah satu kalimat dari beberapa karya an-Nifary. kata-kata diatas menggambarkan pemaknaan yang cukup dalam tentang pengetahuan dan makrifat. tiap kali bertambah ilmu serta makrifat, semakin sedikitlah kata kata yang bisa diungkapkan. Yang ada hanya ketakjuban akan pesona keindahan dan kebesaran Sang segala keindahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt; from sufitik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;jalantrabas&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-1509999971167103316?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/1509999971167103316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=1509999971167103316' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/1509999971167103316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/1509999971167103316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/nifary.html' title='An-Nifary'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-4907599690556165429</id><published>2008-07-28T18:11:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T18:12:09.851-07:00</updated><title type='text'>Suluk Wujil</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;1Inilah ceritera si WujilBerkata pada guru yang diabdinyaRatu WahdatRatu Wahdat nama gurunyaBersujud ia ditelapak kaki Syekh AgungYang tinggal di desa BonangIa minta maaf Ingin tahu hakikatDan seluk beluk ajaran agamaSampai rahasia terdalam&lt;br /&gt;2Sepuluh tahun lamanya Sudah WujilBerguru kepada Sang WaliNamun belum mendapat ajaran utamaIa berasal dari MajapahitBekerja sebagai abdi rajaSastra Arab telah ia pelajariIa menyembah di depan gurunyaKemudian berkata Seraya menghormat Minta maaf&lt;br /&gt;3“Dengan tulus saya mohon Di telapak kaki tuan Guru Mati hidup hamba serahkanSastra Arab telah tuan ajarkanDan saya telah menguasainyaNamun tetap saja saya bingungMengembara kesana-kemariTak berketentuan.Dulu hamba berlakon sebagai pelawakBosan sudah saya Menjadi bahan tertawaan orang&lt;br /&gt;4Ya Syekh al-Mukaram! Uraian kesatuan hurufDulu dan sekarangYang saya pelajari tidak berbedaTidak beranjak dari tatanan lahirTetap saja tentang bentuk luarnyaSaya meninggalkan MajapahitMeninggalkan semua yang dicintaiNamun tak menemukan sesuatu apaSebagai penawar&lt;br /&gt;5Diam-diam saya pergi malam-malamMencari rahasia Yang Satu dan jalan sempurnaSemua pendeta dan ulama hamba temui Agar terjumpa hakikat hidupAkhir kuasa sejatiUjung utara selatanTempat matahari dan bulan terbenamAkhir mata tertutup dan hakikat mautAkhir ada dan tiada&lt;br /&gt;6Ratu Wahdat tersenyum lembut“Hai Wujil sungguh lancang kauTuturmu tak lazimBerani menagih imbalan tinggiDemi pengabdianmu padakuTak patut aku disebut Sang ArifAndai hanya uang yang diharapkanDari jerih payah mengajarkan ilmuJika itu yang kulakukanTak perlu aku menjalankan tirakat&lt;br /&gt;7Siapa mengharap imbalan uangDemi ilmu yang ditulisnyaIa hanya memuaskan diri sendiriDan berpura-pura tahu segala halSeperti bangau di sungaiDiam, bermenung tanpa gerak. Pandangnya tajam, pura-pura suciDi hadapan mangsanya ikan-ikanIbarat telur, dari luar kelihatan putihNamun isinya berwarna kuning&lt;br /&gt;8Matahari terbenam, malam tibaWujil menumpuk potongan kayuMembuat perapian, memanaskanTempat pesujudan Sang ZahidDi tepi pantai sunyi di BonangDesa itu gersangBahan makanan tak banyakHanya gelombang lautMemukul batu karangDan menakutkan&lt;br /&gt;9Sang Arif berkata lembut“Hai Wujil, kemarilah!”Dipegangnya kucir rambut WujilSeraya dielus-elusTanda kasihsayangnya“Wujil, dengar sekarangJika kau harus masuk nerakaKarena kata-katakuAku yang akan menggantikan tempatmu”…&lt;br /&gt;11“Ingatlah Wujil, waspadalah!Hidup di dunia iniJangan ceroboh dan gegabahSadarilah dirimu Bukan yang HaqqDan Yang Haqq bukan dirimuOrang yang mengenal dirinyaAkan mengenal TuhanAsal usul semua kejadianInilah jalan makrifat sejati”&lt;br /&gt;12Kebajikan utama (seorang Muslim)Ialah mengetahui hakikat salatHakikat memuja dan memujiSalat yang sebenarnyaTidak hanya pada waktu isya dan maghribTetapi juga ketika tafakurDan salat tahajud dalam keheninganBuahnya ialah menyerahkan diri senantiasaDan termasuk akhlaq mulia&lt;br /&gt;13Apakah salat yang sebenar-benar salat?Renungkan ini: Jangan lakukan salatAndai tiada tahu siapa dipujaBilamana kaulakukan jugaKau seperti memanah burungTanpa melepas anak panah dari busurnyaJika kaulakukan sia-siaKarena yang dipuja wujud khayalmu semata&lt;br /&gt;14Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?Dengar: Walau siang malam berzikirJika tidak dibimbing petunjuk TuhanZikirmu tidak sempurnaZikir sejati tahu bagaimanaDatang dan perginya nafasDi situlah Yang Ada, memperlihatkanHayat melalui yang empat15Yang empat ialah tanah atau bumiLalu api, udara dan airKetika Allah mencipta AdamKe dalamnya dilengkapiAnasir ruhani yang empat:Kahar, jalal, jamal dan kamalDi dalamnya delapan sifat-sifat-NyaBegitulah kaitan ruh dan badanDapat dikenal bagaimanaSifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana&lt;br /&gt;16Anasir tanah melahirkanKedewasaan dan keremajaanApa dan di mana kedewasaanDan keremajaan? Dimana letakKedewasaan dalam keremajaan?Api melahirkan kekuatanJuga kelemahanNamun di mana letakKekuatan dalam kelemahan?Ketahuilah ini17Sifat udara meliputi ada dan tiadaDi dalam tiada, di mana letak ada?Di dalam ada, di mana tempat tiada?Air dua sifatnya: mati dan hidupDi mana letak mati dalam hidup?Dan letak hidup dalam mati?Kemana hidup pergiKetika mati datang?Jika kau tidak mengetahuinyaKau akan sesat jalan&lt;br /&gt;18Pedoman hidup sejatiIalah mengenal hakikat diriTidak boleh melalaikan shalat yang khusyukOleh karena itu ketahuilahTempat datangnya yang menyembahDan Yang DisembahPribadi besar mencari hakikat diriDengan tujuan ingin mengetahuiMakna sejati hidup Dan arti keberadaannya di dunia 19Kenalilah hidup sebenar-benar hidupTubuh kita sangkar tertutupKetahuilah burung yang ada di dalamnyaJika kau tidak mengenalnyaAkan malang jadinya kauDan seluruh amal perbuatanmu, WujilSia-sia semataJika kau tak mengenalnya.Karena itu sucikan dirimuTinggalah dalam kesunyianHindari kekeruhan hiruk pikuk dunia&lt;br /&gt;20Keindahan, jangan di tempat jauh dicariIa ada dalam dirimu sendiriSeluruh isi jagat ada di sanaAgar dunia ini terang bagi pandangmuJadikan sepenuh dirimu CintaTumpukan pikiran, heningkan ciptaJangan bercerai siang malamYang kaulihat di sekelilingmuPahami, adalah akibat dari laku jiwamu!&lt;br /&gt;21Dunia ini Wujil, luluh lantakDisebabkan oleh keinginanmuKini, ketahui yang tidak mudah rusakInilah yang dikandung pengetahuan sempurnaDi dalamnya kaujumpai Yang AbadiBentangan pengetahuan ini luasDari lubuk bumi hingga singgasana-NyaOrang yang mengenal hakikatDapat memuja dengan benarSelain yang mendapat petunjuk ilahiSangat sedikit orang mengetahui rahasia ini22Karena itu, Wujil, kenali dirimuKenali dirimu yang sejatiIngkari bendaAgar nafsumu tidur terlenaDia yang mengenal diriNafsunya akan terkendaliDan terlindung dari jalanSesat dan kebingunganKenal diri, tahu kelemahan diriSelalu awas terhadap tindak tanduknya&lt;br /&gt;23Bila kau mengenal dirimuKau akan mengenal TuhanmuOrang yang mengenal TuhanBicara tidak sembaranganAda yang menempuh jalan panjangDan penuh kesukaranSebelum akhirnya menemukan dirinyaDia tak pernah membiarkan dirinyaSesat di jalan kesalahanJalan yang ditempuhnya benar&lt;br /&gt;24Wujud Tuhan itu nyataMahasuci, lihat dalam keheninganIa yang mengaku tahu jalanSering tindakannya menyimpangSyariat agama tidak dijalankanKesalehan dicampakkan ke sampingPadahal orang yang mengenal TuhanDapat mengendalikan hawa nafsuSiang malam penglihatannya terangTidak disesatkan oleh khayalan&lt;br /&gt;25Diam dalam tafakur, WujilAdalah jalan utama (mengenal Tuhan)Memuja tanpa selang waktuYang mengerjakan sempurna (ibadahnya)Disebabkan oleh makrifatTubuhnya akan bersih dari nodaPelajari kaedah pencerahan kalbu iniDari orang arif yang tahuAgar kau mencapai hakikatYang merupakan sumber hayat&lt;br /&gt;36Wujil, jangan memujaJika tidak menyaksikan Yang DipujaJuga sia-sia orang memujaTanpa kehadiran Yang DipujaWalau Tuhan tidak di depan kitaPandanglah adamuSebagai isyarat ada-NyaInilah makna diam dalam tafakurAsal mula segala kejadian menjadi nyata&lt;br /&gt;38Renungi pula, Wujil!Hakikat sejati kemauanHakikatnya tidak dibatasi pikiran kitaBerpikir dan menyebut suatu perkaraBukan kemauan murniKemauan itu sukar dipahamiSeperti halnya memuja TuhanIa tidak terpaut pada hal-hal yang tampakPun tidak membuatmu membenci orangYang dihukum dan dizalimiSerta orang yang berselisih paham&lt;br /&gt;39Orang berilmuBeribadah tanpa kenal waktuSeluruh gerak hidupnyaIalah beribadahDiamnya, bicaranyaDan tindak tanduknyaMalahan getaran bulu roma tubuhnyaSeluruh anggota badannyaDigerakkan untuk beribadahInilah kemauan murni&lt;br /&gt;40Kemauan itu, Wujil!Lebih penting dari pikiranUntuk diungkapkan dalam kataDan suara sangatlah sukarKemauan bertindakMerupakan ungkapan pikiranNiat melakukan perbuatanAdalah ungkapan perbuatanMelakukan shalat atau berbuat kejahatanKeduanya buah dari kemauan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Sunan Bonang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;jalantrabas&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-4907599690556165429?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/4907599690556165429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=4907599690556165429' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/4907599690556165429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/4907599690556165429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/suluk-wujil.html' title='Suluk Wujil'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-6283890372244137474</id><published>2008-07-28T16:19:00.000-07:00</published><updated>2008-10-22T16:52:46.628-07:00</updated><title type='text'>Sunan Panggung/Syekh Malang Sumirang</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sunan panggung/syekh malang sumirang ,yang memiliki nama asli raden watiswara,diperkirakan hidup antara tahun 1483-1573 m. beliau putra dari sunan kalijaga hasil perkawinan dari siti zaenab saudara sunan gunungjati.menurut babab jalasutra sebelum di jatuhi hukuman bakar hidup-hidup, ia memiliki istri wasi bagena dari jatinom klaten yang masih cucu brawijaya 8.&lt;br /&gt;Kepribadian sunan panggung sangatlah unik.beliau memiliki lelewa (tingkah laku) mirip ayahnya yang menjadi wali nyentrik sunan kalijaga. dan berguru kepada syekh siti jenar,Sunan  kalijaga , dan sangat menghormati ayah andanya dan gurunya yg terkenal wali nyentrik di tanah jawa.semula beliau dikirim raden patah ke pengging untuk menjadi mata-mata. namun beliau justru tertarik dengan ajaran-ajaran syekh siti jenar dan menjadi pengikut setianya.&lt;br /&gt;Karena sikapnya itu ia mendapatkan peringatan keras dari dewan wali sanga, kecuali ayahnya sendiri sunan kalijaga, yang tetap membiarkan anaknya mengikuti syekh siti jenar (hal ini bisa di maklumi karena paham teologi-sufi sunan kalijaga dan syek siti jenar sama.hanya penyampaianya saja yang berbeda). peringatan keras dari pihak demak dan dewan wali tidak digubras oleh sunan panggung .karena dalam hal ini beliau sudah membuktikan sendiri melalui laku dan perjalanan spiritualnya ,tentang ajaran syekh siti jenar dan bisa membedakan dengan ajaran syar'iyah pada waktu itu. yang hanya menuntut diberlakukan syar'i dan maknanya.maka akidah yang beliau ikuti adalah penyatuan dengan tuhan/ilmu makrifat yang sesuai dengan ajaran syekh siti jenar.syariat yang beliau jalankan adalah sholat daim,dan cara penyebaran ajaranya adalah secara terbuka,untuk umum,tidak ada yang di rahasiakan.dan tidak menganggap orang laen lebih bodoh darinya, sehingga setiap orang selalu bebas untuk memperoleh kesempatan mendapat ilmu agama jenos apapun.&lt;br /&gt;Sampailah suatu saat ,terjadinya tragedi dihukumnya guru agungnya syekh siti jenar. sunan panggung marah besar .sebab parawali menjatuhkan hukuman sadis kepada orang yang tidak berdosa.untuk itu ia mengatur strategi dan siasat, setelah belajar dari dua kasus pendahulunya yang dihukum mati yaitu ki ageng penging dan gurunya syekh siti jenar.&lt;br /&gt;Sunan Panggung mendirikan paguron lemah abang di pengging.dan beliau berhasil merekrut siswa yang sangat banyak .bahkan kyai yang semula di kader oleh dewan walisanga yang di doktrin untuk menyingkirkan ajaran syekh siti jenar ,justru menjadi murid setia sunan panggung.&lt;br /&gt;Selain itu,sunan panggung berprilaku aneh cara memperingatkan dewan walisanga .sebagai balasan atas arogansi dewan walisanga. sunan panggung kemudian melakukan tindakan balasan yang bersifat melecehkan dewan walisanga . dengan cara memelihara dua ekor anjing yang di peliharanya sejak kecil , yang di berinama&lt;br /&gt;ki tokid(tauhid) dan ki iman.kemudian anjing itu di ajak berlari-lari mengelilingi masjid jami' ,sambil bergurau.&lt;br /&gt;Tindakan ini di samping menggambarkan pendapat al hallaj.agar nafsu hewan di buang ke luar dari jiwa manusia.juga sekali9us menunjukkan kepada dewan wali sanga dan penguasa demak,bahwa anjing tersebut juga beriman dan bertauhid kepada allah .dan anjing tidak menjalani kehidupan kehendaknya sendiri seperti kebanyakan manusia . yang di balut dengan alasan keagamaan .padahal agama itu hanya berdasarkan tafsir nalar dan dasar hukum syara' yang dhohir.&lt;br /&gt;Karna perguruan sunan panggung di anggap membahayakan oleh dewan wali dan demak khususnya.karna ajaran yang dulu pernah dilarang .kini malah di hidupkan kembali.untuk itu penguasa dan dewan wali mengadakan sidang untuk mengambil tindakan untuk sunan panggung. dari hasil sidang di sepakatati bahwa pemanggilan kepada sunan panggung harus dengan cara halus dan diundang untuk memecahkan masalah pemerintahan.jika sudah hadir ,maka dewan wali membujuk ,untuk menutup perguruannya dan bergabung dengan dewan wali.termasuk mematuhi konsep keagamaan yang sudah di gariskan kerajaan demak.selain itu juga di sepakati ,agar penghukuman terhadap sunan panggung jangan sampai memunculkan kehebohan sebagaimana pendahulunya.yakni agar sunan panggung di bakar hidup-hidup,dan tempatnya langsung disediakan di alun-alun sebelum sunan panggung datang.&lt;br /&gt;. Sunan panggung diundang oleh pihak kerajaan.dan akhirnya sunan panggung menyanggupi undangan tersebut bersama utusan dari pihak demak.sunan panggung beragumentasi ,bahwa inilah saat yang tepat untuk mengkritik model dan materi dakwah ,serta arogansi agama syar'i yang di jalankan pihak demak .&lt;br /&gt;Sunan panggung datang kedemak di sertai dua anjingnya .sesampai di alun-alun, ia melihat tumpukan kayu yang di siram minyak . sunan panggung sudah menduga siasat penguasa demak yang akan di lakukan padanya .namun sunan panggung sudah berketatapan hati untuk mengahadapi apapun yang terjadi .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Setelah matahai sebesar kemiri condong ke barat, Gunung Muria merendah, Alun-alun Demak menjulang, orang-orang masih berdesakan. Mereka tak percaya sesuatu yang terlihat oleh mata, Malang Sumirang raganya tidak tersentuh oleh amukan api. Sang tanur menjadi mahligai elok berhias permai dikelilingi pertamanan. Bertabur kembang lengkap dengan hamparan mutiara. Busana dari surga yang teramat wangi harum semerbak laksana busana Nabi Ibrahim yang diturunkan dari surga."Lihat! Sunan tidak terbakar. Bisa mati di dalam hidup, dan hidup dalam mati.""Memancar cahaya kemilau dan bau harum semerbak."Orang-orang berguman dalam hati, Malang Sumirang diuji dengan dibakar hidup-hidup, tetapi terus hidup. Dalam semarak amukan api, Malang Sumirang menulis suluk dengan pembuka Dhandhanggula. Malang Sumirang telah menaiki burung Sadrah kerena begitu mendalamnya rindu dalam pencarian ilmu kesejatian hidup yang sempurna.Malang Sumirang nyata lahir batinnya keliputan sanyata wali, mulia pikirannya tiada batas jadi barang yang diinginkannya sempurna sampai hakikat rasa puncaknya ilmu. Ilmu sejati rasa yang meliputi rasa. Rasa yang sejati.Sejatinya rasa. Bukan rerasan yang diucapkan, bukan rasa yang ke enam, bukan pula rasa yang tercecap di lidah. Bukan rasa yang terbersit di hati, bukan rasa yang ciptakan, bukan pula rasa yang dirasakan tubuh. Bukan rasa yang dirasakan suara dan bukan pula rasa kenikmatan dan derita sakit. Sejatinya rasa yang meliputi rasa, rasa pusarnya rasa.Para wali yang telah menjatuhkan hukuman mati dengan dibakar hidup-hidup, hanya terbengong. Sunan Kudus, kemenakannya, menjadi limbung. Bingun melihat kenyataan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Para wali telanjur menghukum Malang Sumirang, karena dituduh telah menyebarkan ilmu sesat.Gemar memelihara anjing dan dilatih untuk menurut sampai mengerti bahasa manusia. Tidak saja menghindari shalat di masjid, malah sering mencemari masjid membawa anjing piaraan, binatang yang sangat jorok, liurnya najis.Jalan yang ditempuh Malang Sumirang "alan kegilaan", Tariq Majnun Rabbani. Gila karena tergila-gila kepada Tuhan. Linglang-linglung lupa daratan, terbenam senang dalam nikmat dahsyat. Kegilaannya itu pada mulanya ditujukan oleh ketidaktifannya sendiri, sikap acuh tak acuh pada hukum. Para wali menunduh Malang Sumirang telah menyingkir dari ajaran agama, tata syariat dilalaikan.Para santrinya malah menyebutnya, Sunan Panggung. Sunan yang hidup di tengah hutan dengan pohon-pohon berbatang besar, pang-gung atau cabang besar. Sunan, Susuhunan, Susunan, atau Sinuhun, "Dia yang Dijunjung". Gelar ini sesungguhnya khusus untuk hierarki wali Islam yang memiliki wilayah perdikan dan sebutan bagi penguasa tertinggi Mataram. Para santrinya sangat menghormati, tunduk dengan segala perintah dan mengikuti semua ajarannya. Para santri diajari mencari kehidupan yang sempurna, kesempurnaan yang benar-benar sempurna."Manusia tidak lain hanyalah jasad-jasad mati yang dipenuhi oleh nafsu lauwamah, amarah, sufiah dan mutmainah. Kita lepaskan nafsu-nafsu itu karena di tengah-tengah nafsumu bertakhta sirr atau rahasia yang tersembunyi, roh dalam jiwa, kesempurnaan yang benar-benar sempurna.""Inggih, Sunan.""Wayang dan bayangan harus menyatu dalam satu jiwa. Roh dalam jiwa memainkan mahkluk-makhluk atas kehendak-Nya.""Inggih, Sunan.""Sejatinya yang memerintah kita bukanlah tubuh kita, tetapi roh dalam jiwa.""Inggih, Sunan.""Seperti Kresna yang memerintah kerajaan, hakikatnya bukan Kresna. Tetapi Kresna Dwarawati. Kresna yang di dalamnya bertakhta roh Wisnu. Kresna titisan Wisnu.""Inggih, Sunan.""Bebaskan roh kalian dari ikatan hukum-hukum yang menghalangi kebebasan roh yang menuju dan menyatu dengan Tuhan.""Inggih, Sunan.""Hakikat hidup abadi baru dimulai sesudah mati."Mendengar kalimat terakhir, para santri secara serentak tiba-tiba memukuli dirinya sendiri. Menyiksa dirinya sendiri, membentur-benturkan kepalanya di sembarang tempat sambil berteriak, "Aku ingin mati....aku ingin mati!""Aku ingin bunuh diri!"Desa Ngundung, daerah tempat tinggal Malang Sumirang, menjadi gempar. Para santri Malang Sumirang mencari mati. Mencari orang yang mau menolong untuk membunuhnya. Semua orang diteror agar penduduk menjadi marah, ini suatu jalan untuk mencari kematian. Melihat tingkah santri-santrinya, Malang Sumirang menjadi bingung, dia berlarian mengejar dan memanggil para santri, sambil berteriak, "Bunuh diri dosa besar!"Teriakan Malang Sumirang, menghentikan polah dan perilaku para santri. Secara serentak para santri menghambur mendekati Malang Sumirang dan berlutut mengelilingi. Para santri merunduk dan terdiam, suasana menjadi hening. Beberapa saat setelah larut dalam diam, Malang Sumirang mengajak santri-santri melepaskan roh dari badannya.Kesengsaraan dunia ini tidak lain suatu kegilaan, orang-orang mencari kebutuhan badaniah tanpa memperhatikan kebutuhan rohani. Orang-orang mencari kenikmatan, namun hanya penderitaan yang dijumpai. Manusia bingung karena tidak mengenal dirinya sendiri, karena dijadikan buta oleh hawa nafsu.Mencari ilmu suci tidak mungkin diperoleh dengan alat panca indra, karena sifatnya yang kotor, najis dan palsu. Kebaruan adalah kepalsuan, kekotoran dan kenajisan, yang segera hancur bersama-sama tibanya ajal. Hidup sesudah lahir adalah kebaruan maka itu palsu, najis, dan kotor. Hidup sesudah kelahiran adalah kematian yang sesungguhnya.Kedaaan kematian itulah yang membuat manusia tidak bisa bebas dari nafsu, kebohongan, kebutuhan kekuasaan, makan, minum, bahkan shalat, puasa, zakat, haji. Kembalinya manusia ke asal dari mana ia lahir, sesudah ajal tiba nantilah hidup yang sesungguhnya, ketika manusia tidak lagi membutuhkan apa pun, termasuk keinginan, karena keinginan adalah awal dari kesengsaraan.Di mata Malang Sumirang para wali telah keliru memanjakan pemerintahan yang tidak adil, menindas dan korup. Makna tidak memiliki kekayaan apa-apa dalam bahasan dan perenungan tanpa adanya pemikiran. Syeh Siti Jenar, sebuah perlawanan terhadap para wali yang mendukung Demak.Maka oleh penguasa ajaran Syeh Siti Jenar dianggap bukan hanya sesat tetapi juga mengganggu ketenteraman masyarakat dan mengancam stabilitas kerajaan Raden Patah. Karena gagal membujuk, atas nama Raja Demak, Dewan Agama menetapkan hukuman mati bagi Siti Jenar."Berbadan roh". Malang Sumirang berguman seperti mendengung. Para santri menirukan apa yang diucapkan Malang Sumirang secara bersama dan berulang seperti berzikir."Berbadan roh""Aku bukan Siti Jenar, aku Malang Sumirang, kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Para wali mengajarkan hukum syar'i, tetapi tidak memahami lambang-lambang."Para santri tenggelam dalam ekstase kegilaan, jagad suwung, angin seperti berhenti berembus lari ke awang-awang dan uwung-uwung. Jagad menjadi pertapaan sunyata, bumi resah! Malang Sumirang mencari ilmu kesejatian. Berguru pada Sunan Giri Prampen, tatkala diajari ilmu sejati, usianya baru tujuh belas tahun. Sejak saat itu sering menyiksa raga, bertapa. Malang Sumirang mengaku berbadan rohani. Para wali menyebut Malang Sumirang sebagai orang yang tidak senonoh, tak pantas, dan anarkis, bahkan teroris, menjadi simbol antitatanan.Pengakuan Malang Sumirang dan perilaku santri-santrinya membuat para wali geram. Para wali menuduh Malang Sumirang mewariskan suluk liar mengingkari semua tatanan atas nama anarki jalan kegilaan. Menyingkap tabir rahasia, menyurat yang tersembunyi.Setelah mempertimbangkan pendapat para wali Sultan Demak, memutuskan Malang Sumirang dihukum dengan dibakar, pati obong, di Alun-alun Demak. Mendengar keputusan majelis para wali Malang Sumirang tidak menampakan ketakutan, bahkan menantang keponanakannya, Sunan Kudus, untuk segera menyalakan unggun.Sebelum berjalan menuju api pembakaran, Malang Sumirang minta disediakan tinta dan kertas dua bendel. Sultan Demak dan para wali semakin bingung, permintaan Malang Sumirang sangat aneh.Malang Sumirang berjalan menuju api pembakaran, tidak ada kata lain yang terucap dari mulutnya selain kata, kebenaran. Api membubung ke angkasa, Malang Sumirang bergegas naik ke atas unggun dan dua anjingnya yang setia mengikuti, terjun ke dalam api.Matahari semakin mengecil, Gunung Muria kembali menyembul, angin bergegas dari awang-awung dan uwung-uwung melintasi Alun-alun Demak. Kobaran api semakin menggila, Malang Sumirang tidak tersentuh amukan api."Lihat! Di dalam api dengan enaknya Sunan menulis. Api terus menjilat, menyala lama namun Sunan tetap tenteram seakan bernaung di kolam bening. Raganya tak mempan amukan api."" Ya, seperti Sinta...'"Seperti Nabi Ibrahim..."Orang-orang terperanjat dan mundur beberapa langkah melihat dua sosok keluar dari amukan api. Dua anjing Malang Sumirang keluar dari unggun membawa lembaran kertas yang telah tertulis suluk Seh Malang Sumirang. Lembaran kertas itu dibagikan pada semua yang ada di Alun-alun Demak, termasuk para wali, Sultan Demak dan para petinggi kerajaan lain.Beberapa saat ketika orang-orang belum selesai membenahi keterperanjatannya, Malang Sumirang keluar dari api unggun. Seluruh tubuh dan baju yang dikenakan tidak ada tanda-tanda tersentuh oleh jilatan api. Orang-orang semakin takjub, berusaha menahan kedipan mata."Walaupun dituturkan sampai capai, ditunjukkan jalannya, sesungguhnya dia tidak memahami karena hanya sibuk menghitung dosa-dosa kecil yang diketahui. Tentang hal kufur-kafir yang ditolaknya itu, bukti bahwa ia adalah orang yang masih mentah pengetahuannya.Walaupun tidak pernah lupa sembahyang, puasanya dapat dibangga-banggakan tanpa sela, tapi ia terjebak menaati yang sudah ditentukan Tuhan. Sembah puji puasa yang ditekuni, membuat orang justru lupa akan sangkan paran. Karena itu, ia lebih konsentrasi melihat dosa-dosa besar-kecil yang dikhawatirkan, dan ajaran kufur-kafir yang dijauhi justru membuatnya bingung.Tidak ada dulu dinulu. Tidak merasa, tidak menyentuh. Tidak saling mendekati sehingga buta orang itu. Takdir dianggap tidak terjadi, salah-salah menganggap ada dualisme antara Maha Mencipta dan Maha Memelihara ".Suluk Seh Malang Sumirang tercipta dari amukan api yang tiada mampu menyentuh jasad Malang Sumirang. Suluk sang sufi gila, sosok antitatanan yang tidak terjangkau poros kekuasaan. Malang Sumirang mewariskan suluk liar mengingkari semua tatanan. Menyingkap tabir rahasia, menyurat yang tersembunyi. Suluknya lebih tajam dari pedang Sultan Demak..."...Manusia, sebelum tahu maknanya Alif, akan menjadi berantakan...Alif menjadi panutan sebab huruf, Alif adalah yang pertama. Alif itu badan idlafi sebagai anugerah. Dua-duanya bukan Allah. Alif merupakan takdir, sedangkan yang tidak bersatu namanya alif lapat. Sebelum itu jagad ciptaan-Nya sudah ada. Lalu Alif menjadi gantinya, yang memiliki wujud tunggal. Ya, tunggal rasa, tunggal wujud. Ketunggalan ini harus dijaga betul sebab tidak ada yg mengaku tingkahnya. Alif wujud adalah Yang Agung. Ia menjadi wujud mutlak yg merupakan kesejatian rasa. Jenis ada lima, yaitu alif mata, wajah, niat jati, iman, syariat.Allah itu penjabarannya adalah Zat yang Maha Mulia dan Maha Suci. Allah itu sebenarnya tidak ada lain, karena kamu itu Allah. Dan Allah semua yang ada ini, lahir batin kamu ini semua tulisan merupakan ganti Alif. Allah itulah adanya.Alif penjabarannya adalah permukaan pada penglihatan, melihat yang benar-benar melihat. Adapun melihat Zat itu, merupakan cermin ketunggalan sejati menurun kepada kesejatianmu.Cahaya yang keluar, kepada otak keberadaan kita di dunia ini merupakan cahaya yang terang-benderang, itu memiliki seratus dua puluh tujuh kejadian. Menjadi penglihatan dan pendengaran, napas yang tunggal, napas kehidupan yang dinamakan Panji. Panji bayangan zat yang mewujud pada kebanyakkan imam. Semua menyebut zikir sejati, laa ilaaha illallah." *)Sultan Demak dan para wali tercengang, membaca keelokan suluk Malang Sumirang, elok susah untuk kisahkan. Sultan Demak membisik pada Sunan Kudus menyarankan Malang Sumirang, untuk menyingkir dan menjauh dari Negeri Demak.Dengan langkah ragu, Sunan Kudus mendekat Malang Sumirang. Berusaha menyembunyikan Wajahnya yang nampak pucat, Sunan Kudus berkata sambil menunduk, "Paman telah terbukti benar sungguh benar tanpa batas di dunia tiada tara di seluruh ciptaan. Paman tercipta sempurna, jiwa-raga titis terus tertembus sempurna nyata sunyata. Namun Paman, jagalah derajat agama, hormatilah batasnya, singkirkan kesalahan, patuhlah pada syariat untuk menjaga makna.''Dalam tatanan yang menata negeri aturan agama bertakhta dengan syariat. Lebih baik Paman jauh dari negeri. Jangan sampai membawa kekacauan dengan pembangkangan. Menguraikan ikatan menjarangkan pagar, memecahkan baris, merobohkan bendera. Kemanapun Paman pergi, padepokan mana yang pantas ditempati, tempat keramat mana yang menjadi pilihan, adalah kewajiban negeri melengkapi apa yang harus dilengkapi."Malang Sumirang tak gimir dengan tawaran pertapa yang mewah. Malang Sumirang memilih pergi ke hutan angker, Kalampisan, tempat wingit, sunyi, jauh dari manusia. Para wali hanya bisa menggelengkan kepala tanpa suara.Matahari telah surup orang-orang hanya terbengong melihat Malang Sumirang meninggalkan Alun-alun Demak. Malang Sumirang pergi meninggalkan teka-teki, sufi gila antitatanan memiliki keberanian yang tak tertundukan oleh kekuasaan. Mengungkap rahasia kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Tetapi sejarah selalu berpihak pada penguasa. dan akhirnya sunan pangung meneruskan perjalananya kearah utara dan kemudian beliau menetap di kendal (kabupaten kendal jateng) memperkuat tugas dakwah yang sudah di lakukan oleh syekh abdullah/sunan katong/sunan gembyang. di daerah ini sunan panggung di kenal dengan nama syekh wali jaka, karena sejak kedatanganya di kendal , walau sebenarnya sudah beristri , tidak nampak memiliki istri dan anak setelah wafat menurut babad semarang beliau di semayamkan di depan masjid kendal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;carilah kebenaran dengan hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;carirah hakiki dari agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;insya allah pasti engkau akan tau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;makna sejati &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;bukan agama sebagai pemuas hawa nafsu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;carilah diri sejatimu sebelum &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;engkau berbicara soal ketuhanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;jangan jadi orang sok suci &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;karna kesucian adalah milik &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;orang yang mengenal kesucian itu sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda ??"waktu sholat merupakan pilihan waktu sesungguhnya berangkat dari ilmu yang hebat.mengertikah anda sholat dhuhur mengapa empat roka"at? Itu disebabkan kita manusia di ciptakan dengan dua kaki dan dua tangan. sedangkan sholat ashar empat raka"at juga, adalah kejadian bersatunya bersatunya dada dengan telaga alkautsar dengan punggung kanan dan kiri. sholat maghrib itu tiga raka"at,karena kita memiliki dua lubang hidung ,dan satu lubang mulut . adapun sholat isya" menjadi empat raka"at karena adanya dua telinga dan dua mata .adapun sholat shubuh, mengapa dua raka"at adalah perlambang kejadian badan dan nyawa roh kehidupan .sedangkan sholat tarawih adalah sunnah muakad yang tidak di tinggalkan dua raka"atnya oleh yang melakukan, menjadi perlambang tumbuhnya alis kanan dan kiri.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Adapun yang lima , bahwa masing-masing berbeda-beda yang memilikinya. sholat shubuh yang memiliki adalah nabi adam as, ketika di turunkan dari surga mulia .terpisah dengan istrinya hawa menjadi sedih karena tidak ada kawan. lalu ada wahyu melalui malaikat jibril yang mengemban perintah tuhan kepada nabi adam as, "terimalah cobaan tuhan, sholat shubuhlah dua raka"at.maka nabi adam as pun siap melaksanakanya.ketikan nabi adam as melaksanakan sholat shubuh pada pagi harinya ,ketika salam. telah mendapati istrinya berada di belakangnya,sambil menjawab salam ... sholat dhuhur di maksudkan ketika kanjeng nabi ibrahim as pada zaman kuno mendapat cobaan besar, di masukkan kedalam api hendak di hukum bakar .ketika itu nabi ibrahim mendapat wahyu ilahi, di suruh melaksanakan sholat dhuhur empat raka"at. nabi ibrahim as melaksanakan sholat api seketika padam saat itu juga ..... adapun sholat ashar, di maksudkan ketika nabi yunus as sedang naik dimakan ikan besar. nabi yunus as merasa kesusahan ketika berada di dalam perut ikan. Waktu terdapat wahyu illahi.Nabi yunus as di perintahkan sholat ashar empat raka"at. nabi yunus as segera melaksanakanya, dan ikan itu tidak mematikanya .malah ikan itu mati, kemudian nabi yunus as keluar dari perut ikan....sedangkat sholat maghrib pada zaman kuno yang memulai adalah nabi nuh as .ketika musibah banjir bandang sejagad ,nabi nuh as bertaubat merasa bersalah .dia diterima tobatnya di suruh sholat maghrib tiga raka"at. setelah nabi nuh as melakukan sholat maghrib banjir pun surut seketika. .... dan sholat isya sesungguhnya yang memulai nabi isa as ketika kalah perang melawan raja harkiya/raja herodes semua kaumnya bingung tidak tau utara,selatan,barat,timur dan tengah. nabi isa as merasa susah, dan tidak lama kemudian datang malaikat jibril membawa wahyu dengan uluk salam .nabi isa as diperintah melaksanakan sholat isya. nabi isa as menyanggupinya ,dan semua kaumnya mengikutinya ,dan malaikat jibril berkata ,"aku akan membalaskan kepada pendeta balhum"&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;wallahualam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;jalantrabas&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-6283890372244137474?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/6283890372244137474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=6283890372244137474' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/6283890372244137474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/6283890372244137474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/sunan-panggungsyekh-malang-sumirang.html' title='Sunan Panggung/Syekh Malang Sumirang'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-8907678703837569093</id><published>2008-07-27T00:58:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T01:01:12.412-07:00</updated><title type='text'>Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan penyebar tasawuf di Jawa Barat&lt;br /&gt;Thariqat Syathariyah di Asia Tenggara pada peringkat awal dilakukan oleh Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh dan Syeikh Abdul Mubin bin Jailan al-Fathani di Pattani.&lt;br /&gt;Syeikh Abdur Rauf mempunyai beberapa orang murid sebagai kadernya yang terkenal, di antara mereka ialah; Syeikh Burhanuddin Ulakan di Minangkabau, Syeikh Abdul Malik di Terengganu, dan ramai lagi, termasuklah Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan yang akan dibicarakan ini.&lt;br /&gt;Ulama ini cukup terkenal dalam percakapan lisan di Jawa Barat, terutama sekali mengenai keramat-keramatnya. Bahan mentah yang berupa cerita lisan masyarakat yang bercorak mitos atau legenda atau dongeng yang berbagai-bagai versi penyampaiannya lebih banyak diperoleh, jika dibandingkan dengan berupa bahan yang bertulis. Walau bagaimanapun, ada tiga buah manuskrip, iaitu nombor kelas LOr.7465, LOr 7527 dan LOr.7705, di Muzium Negeri Belanda dikatakan bahawa adalah karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan.&lt;br /&gt;Sewaktu penulis melanjutkan tugasan mengkatalogkan manuskrip yang tersimpan di Muzium Islam Pusat Islam (BAHAEIS), 1992, maka pada manuskrip nombor kelas MI 839 di beberapa tempat ada menyebut nama Syeikh Abdul Muhyi Karang Pamijahan, seolah-olah naskhah itu dinuqil daripada ajaran ulama sufi yang tersebut. Naskhah ditulis dalam bahasa Melayu dan disalin di Pulau Pinang. Selain itu, penulis juga mempunyai sebuah karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, juga dalam bahasa Melayu, yang membicarakan Martabat Tujuh.&lt;br /&gt;ASAL USUL DAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;Syeikh Haji Abdul Muhyi adalah salah seorang keturunan bangsawan. Ayahnya bernama Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 1071 H/1660 M dan wafat di Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat, 1151 H/1738 M. Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterimanya daripada ayahnya sendiri dan kemudian daripada para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Aceh untuk melanjutkan pendidikannya dan belajar dengan Syekh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Lebih kurang enam tahun lamanya Syeikh Abdul Muhyi belajar dengan ulama besar Aceh itu, iaitu dalam lingkungan tahun 1090 H/1679 M-1096 H/1684 M.&lt;br /&gt;Tahun pembelajaran Syeikh Abdul Muhyi di Aceh kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu, kita dapat membandingkan dengan tahun pembelajaran Syeikh Burhanuddin Ulakan yang dipercayai termasuk seperguruan dengannya.&lt;br /&gt;Syeikh Burhanuddin Ulakan yang berasal dari Minangkabau itu belajar kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri bermula pada 1032 H/1622 M, tetapi tahun ini tetap masih dipertikaikan kerana riwayat yang lain menyebut bahawa ulama yang berasal dari Minangkabau itu dilahirkan pada tahun 1066 H/1655 M.&lt;br /&gt;Maka kita perlu membandingkan dengan tahun kelahiran Syeikh Yusuf Tajul Khalwati dari tanah Bugis-Makasar, iaitu 1036 H/1626 M, selanjutnya keluar dari negerinya menuju ke Banten 1054 H/1644 M, seterusnya ke Aceh belajar kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri juga. Selain itu, dapat juga kita bandingkan dengan tahun kehidupan Syeikh Abdul Malik (Tok Pulau Manis) Terengganu, iaitu tahun 1060 H/1650 M hingga tahun 1092 H/1681 M; Semua ulama yang tersebut dikatakan adalah murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Banyak pula ulama bercerita bahawa semua mereka termasuk Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan adalah bersahabat.&lt;br /&gt;Dengan perbandingan-perbandingan tahun tersebut, dapat kita ketahui bahawa tahun-tahun itu masih bersimpangsiur, masih sukar untuk ditahqiqkan. Yang sahih dan tahqiq hanyalah mereka adalah sebagai murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh. Yang lebih menarik lagi, bahawa semua mereka, kecuali Syeikh Burhanuddin Ulakan, diriwayatkan sempat belajar ke luar negeri ke Mekah, Madinah, Baghdad dan lain-lain. Termasuk Syeikh Abdul Muhyi diriwayatkan adalah murid kepada Syeikh Ibrahim al-Kurani di Mekah dan Syeikh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah, yang kedua-dua ulama itu adalah ulama ahli syariat dan haqiqat yang paling terkenal pada zamannya.&lt;br /&gt;Setelah Syeikh Abdul Muhyi lama belajar di Mekah dan Madinah, beliau melanjutkan pelajarannya ke Baghdad. Tidak jelas berapa lama beliau tinggal di Baghdad, tetapi diriwayatkan ketika beliau berada di Baghdad hampir setiap hari beliau menziarahi makam Syeikh Abdul Qadir al-Jilani yang sangat dikaguminya.&lt;br /&gt;Dalam percakapan masyarakat, Syeikh Abdul Muhyi adalah termasuk keturunan/zuriat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Wali Allah, Quthbul Ghauts, yang sangat terkenal itu. Riwayat yang lain diceritakan bahawa Syeikh Abdul Muhyi ke Baghdad dan Mekah adalah mengikuti rombongan gurunya, Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Dari Baghdad beliau kembali lagi ke Mekah dan selanjutnya kembali ke Jawa dan berkahwin di Ampel.&lt;br /&gt;AKTIVITI&lt;br /&gt;Setelah selesai perkahwinan di Ampel, Syeikh Abdul Muhyi bersama isteri dan orang tuanya berpindah ke Darma, dalam daerah Kuningan, Jawa Barat. Selama lebih kurang tujuh tahun (1678 M-1685 M) menetap di daerah itu mendidik masyarakat dengan ajaran agama Islam. Kemudian berpindah pula ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Di daerah itu, beliau hanya menetap lebih kurang setahun saja (1685-1686), walau bagaimanapun beliau berhasil menyebarkan agama Islam kepada penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu.&lt;br /&gt;Pada 1686 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari selepas pemakaman ayahnya, Syeikh Abdul Muhyi berpindah ke daerah Batuwangi. Beliau berpindah pula ke tempat yang berhampiran dengan Batuwangi iaitu ke Lebaksiuh. Selama lebih kurang empat tahun di Lebaksiuh (1686 M-1690 M), Syeikh Abdul Muhyi berhasil mengislamkan penduduk yang masih beragama Hindu ketika itu.&lt;br /&gt;Menurut cerita, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama kerana Syeikh Abdul Muhyi adalah seorang Wali Allah yang mempunyai karamah, yang dapat mengalahkan bajingan-bajingan pengamal “ilmu hitam” atau “ilmu sihir”. Di sanalah Syeikh Abdul Muhyi mendirikan masjid, tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bahagian selatan Jawa Barat.&lt;br /&gt;Kemudian Syeikh Abdul Muhyi berpindah ke satu desa, iaitu Gua Safar Wadi di Karang Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Perpindahannya ke Karang Pamijahan itu, menurut riwayat bahawa beliau diperintahkan oleh para Wali Allah dan perjumpaan secara rohaniah kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, supaya beliau mencari suatu gua untuk tempat berkhalwat atau bersuluk di Jawa Barat. Cerita mengenai ini banyak dibungai dengan berbagai-bagai dongeng yang merupakan kepercayaan masyarakat terutama golongan sufi yang awam.&lt;br /&gt;Bagi mengimbangi cerita yang bercorak mitos itu, ada riwayat yang bercorak sejarah, bahawa Syeikh Abdul Muhyi diundang oleh Bupati Sukapura, Wiradadaha IV, R. Subamanggala untuk memerangi dan membasmi ajaran-ajaran sihir yang sesat Batara Karang di Karang Pamijahan dan di gua Safar Wadi itu. Di kedua-dua tempat tersebut adalah tempat orang-orang melakukan pertapaan kerana mengamalkan ilmu-ilmu sihirnya.&lt;br /&gt;Oleh sebab Syeikh Abdul Muhyi memang hebat, beliau pula dianggap sebagai seorang Wali Allah, maka ajaran-ajaran sihir yang sesat itu dalam waktu yang singkat sekali dapat dihapuskannya. Penjahat-penjahat yang senantiasa mengamalkan ilmu sihir untuk kepentingan rompakan, penggarongan dan kejahatan-kejahatan lainnya berubah menjadi manusia yang bertaubat pada Allah, setelah diberikan bimbingan ajaran Islam yang suci oleh Syeikh Abdul Muhyi, Wali Allah yang tersebut itu.&lt;br /&gt;Gua Safar Wadi pula bertukar menjadi tempat orang melakukan ibadat terutama mengamalkan zikir, tasbih, tahmid, selawat, tilawah al-Quran dan lain-lain sejenisnya. Maka terkenallah tempat itu sebagai tempat orang melakukan khalwat atau suluk yang diasaskan oleh ulama yang terkenal itu.&lt;br /&gt;Disingkatkan saja kisahnya, bahawa kita patut mengakui dan menghargai jasa Syeikh Abdul Muhyi yang telah berhasil menyebarkan Islam di seluruh Jawa Barat itu. Bukti bahawa beliau sangat besar pengaruhnya, sebagai contoh Bupati Wiradadaha IV, iaitu Raden Subamanggala pernah berwasiat bahawa jika beliau meninggal dunia supaya beliau dikuburkan di sisi gurunya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan itu. Tempat tersebut sekarang lebih dikenali dengan nama Dalem Pamijahan.&lt;br /&gt;Murid-murid yang tertentu, Syeikh Abdul Muhyi mentawajjuhkannya menurut metod atau kaedah Thariqat Syathariyah yang salasilahnya diterima daripada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Walaupun tarekat yang sama diterimanya juga kepada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi, iaitu guru juga kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri, namun Syeikh Abdul Muhyi memulakan salasilahnya tetap menyebut Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Hal demikian kerana tarekat yang tersebut memang terlebih dulu diterimanya daripada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al Fansuri.&lt;br /&gt;Setelah beliau ke Mekah, diterimanya tawajjuh lagi daripada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi itu. Maka berkembanglah Thariqat Syathariyah yang berasal daripada penyebaran Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu di tempat-tempat yang tersebut, melalui bai’ah, tawajjuh, dan tarbiyah ruhaniyah yang dilakukan oleh Syeikh Abdul Muhyi muridnya itu.&lt;br /&gt;KETURUNAN&lt;br /&gt;Menurut riwayat, Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan mempunyai empat isteri. Hasil erkahwinannya itu, beliau memperoleh seramai 18 anak. Menerusi Raden Ayu Bakta, memperoleh anak bernama Kiyai Haji Muhyiddin atau digelar Dalem Bojong. Namun menurut Aliefya M. Santrie, dalam buku Warisan Intelektual Islam Indonesia, setelah beliau pulang dari Pamijahan beliau menemukan satu artikel dalam majalah Poesaka Soenda yang menunjukkan bahawa tidak identiknya Kiyai Haji Muhyiddin dengan Dalem Bojong.&lt;br /&gt;Kedua-duanya memang anak Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, tetapi Kiyai Haji Muhyiddin personaliti tersendiri dan Dalem Bojong personaliti yang lain pula. Menurutnya makam Kiyai Haji Muhyiddin dalam majalah itu disebut namanya yang lain, iaitu Bagus Muhyiddin Ajidin, terletak di sebelah selatan makam Syeikh Abdul Muhyi, sedang makam Dalem Bojong terletak di sebelah timur.&lt;br /&gt;Barangkali keturunan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan itu sangat ramai yang menjadi ulama di daerah Jawa Barat, sewaktu penulis berulang-alik di Pondok Gentur, Cianjur (1986 M-1987 M) difahamkan bahawa Kiyai Haji Aang Nuh di pondok pesantren adalah termasuk keturunan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Penulis sendiri menerima beberapa amalan wirid dari kiyai itu dan ternyata memang terdapat hadiah al-Fatihah untuk Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan dan beberapa ulama lainnya untuk memulakan amalan.&lt;br /&gt;Dari Kiyai Haji Aang Nuh juga, penulis mendengar cerita-cerita yang menarik mengenai Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Sampai sekarang Pondok pesantren Gentur dikunjungi mereka yang mempunyai permasalahan yang sukar diselesaikan dari seluruh Indonesia, tempat itu sentiasa ramai kerana doa kiyai itu dianggap mustajab.&lt;br /&gt;Di Pondok-pesantren Gentur itu tidak mengajar disiplin ilmu sebagai pondok-pesantren lainnya, di situ hanya mengajar amalan-amalan wirid terutama selawat atas Nabi Muhammad. Penulis sempat mewawancara pengunjungnya, menurut mereka wirid atau amalan yang diterima dari kiyai itu terbukti mustajab.&lt;br /&gt;PENYELIDIKAN ILMIYAH&lt;br /&gt;Oleh sebab kepopularan ulama yang dianggap Wali Allah ini, beberapa sejarawan, budayawan dan lain-lain telah berusaha menyelidiki biografi ulama yang berasal dari Pulau Lombok itu. Di antara mereka umpamanya seorang Belanda, Snouck Hurgranje, pernah mengembara di Jawa Barat dan di Sukabumi menemukan beberapa naskhah karya yang dibangsakannya kepada karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan.&lt;br /&gt;R. Abdullah Apap ibn R. Haji Miftah menyusun sebuah buku berjudul, Sejarah Pamijahan: Kisah Perjuangan Syeik Haji Abdulmuhyi Mengembangkan Agama Islam di Sekitar Jabar. Aliefya M. Santrie menulis artikel Martabat (Alam) Tujuh Suatu Naskah Mistik Islam Dari Desa Karang, Pamijahan. Dan ramai lagi tokoh yang membuat kajian mengenai ulama yang dibicarakan ini.&lt;br /&gt;Khas mengenai artikel Aliefya M. Santrie yang lebih menjurus kepada pengenalan ajaran Martabat Tujuh versi Kiyai Haji Muhyiddin yang ditulis dengan huruf pegon. Setelah penulis teliti dan membanding dengan naskhah yang ada pada penulis yang ditulis dalam bahasa Melayu/Jawi, yang juga tercatat sebagai karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, memang banyak persamaan.&lt;br /&gt;Demikian juga dengan manuskrip koleksi Muzium Islam Pusat Islam Malaysia nombor kelas MI 839, membicarakan Martabat Tujuh yang merupakan nukilan karya Syeikh Abdul Muhyi itu.&lt;br /&gt;Sungguhpun demikian perlu kita ketahui bahawa ajaran Martabat Tujuh sebenarnya bukanlah ciptaan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan tetapi yang pertama membicarakan ajaran itu ialah dalam kitab bahasa Arab berjudul Tuhfatul Mursalah karya Syeikh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri. Kitab tersebut disyarah oleh Syeikh Abdul Ghani an-Nablusi.&lt;br /&gt;Martabat Tujuh dalam bahasa Melayu selain yang dibicarakan oleh Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan juga banyak, dimulai oleh ulama-ulama tasawuf di Aceh, diikuti oleh Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dengan Ad-Durrun Nafisnya, Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani juga membicarakannya dalam Siyarus Salikin, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam Manhalus Shafi dan ramai lagi.&lt;br /&gt;Oleh itu, perkembangan ilmu tersebut di dunia Melayu tumbuh subur, tak ubahnya seperti perkembangan ilmu tauhid metode sifat 20 dan fiqh menurut Mazhab Syafie pada zaman itu.&lt;br /&gt;Sebagai menutup artikel ini, perlu juga penulis sebutkan sungguhpun Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan terkenal di seluruh Jawa Barat tetapi riwayat hidupnya hampir-hampir tak dikenal di dunia Melayu lainnya. Oleh itu, artikel ini adalah satu usaha memperkenalkannya yang disejajarkan dengan ulama-ulama terkenal yang lain, yang hidup sezaman dengannya, iaitu Syeikh Abdul Malik Terengganu Syeikh Burhanuddin Ulakan, Syeikh Yusuf Khalwati, Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathani dan ramai lagi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-8907678703837569093?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/8907678703837569093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=8907678703837569093' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/8907678703837569093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/8907678703837569093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/syeikh-abdul-muhyi-pamijahan.html' title='Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-5108458403160733963</id><published>2008-07-27T00:16:00.002-07:00</published><updated>2008-07-27T00:29:00.960-07:00</updated><title type='text'>Thoriqoh Shiddiqiyyah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;"&gt;Oleh Kyai Muchammad Muctar Bin Hajji Abdul Mu’thi&lt;br /&gt;Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan pertama pada Peringatan Isro Mi’roj Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;dan Hari Shiddiqiyyah-1 Tahun 1412H/1992M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. ASAL-USUL GELAR " ASH-SHIDDIQ"(Kitab Tafsir Durul Mansur, Nurul Absor )&lt;br /&gt;Qola Rosululloh SAW. :"Lamma Usriya bihi inni uridu an akhruja ilaa Quraisyin Fa akhbiruhun Fakadzdzabuhu Fashoddaqohu Abu Bakrin Rodliyallohu ‘anhu Fasummiya yaumaidzin Ash-shidqu." ( ‘An Ummi Hani-Rowahu Thobroni Tafsir Durul Mansur-VI/hal.158).&lt;br /&gt;Artinya : Bersabda Rosululloh SAW, " Semasa aku di isro’kan, saya hendak keluar untuk menyampai- kan kepada kaum Quraisy, kemudian aku ceritakan kepadanya maka mereka mendustkannya. Dan yang membenarkan itu adalah Abu Bakar Rodliyallohu ‘anhu.&lt;br /&gt;Maka pada hari itu ia saya beri gelar: ‘ ASH-SHIDDIQ’ ".&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;Sahabat Abu Bakar pada zaman Jahiliyah namanya " Abdul Ka’bah".&lt;br /&gt;Kemudian Rosululloh SAW.memberikan nama " Abdulloh", ayahnya bernama " Abi Qukhafah". Beliau lahir di Makkah setelah peristiwa Fiel (Gajah) berselang dua tahun 14 hari.( Dari Kitab Nurul Abshor, hal 59).&lt;br /&gt;Oleh karena Beliaulah satu-satunya sahabat Nabi yang paling awal menerima&lt;br /&gt;kebenaran-nya peristiwa ISRO’ wal MI’ROJ, maka Rosululloh SAW. Memberikan gelar kepadanya "Ash Shiddiq", sebagaimana tersebut dalam hadits diatas." Fasammi yaumaidzish shiddiqu".&lt;br /&gt;Menurut kata Sayyidina Ali Karromallohuwajhah :&lt;br /&gt;"Innalloha ta’ala anzala isma Abi Bakrin minassamaa-‘I Ash-Shiddiequ litashdiqihi khobarul isro’I"&lt;br /&gt;Artinya " Sesungguhnya Alloh Ta’ala telah menurunkan nama Abu Bakar dari langit :&lt;br /&gt;"Ash-Shiddiq" karena dia menerima kebenaran kabar Isro’.(Kitab Nurul Absor,hal 59&lt;br /&gt;Taliiq Asy Syikho mu-min).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. ASAL-USUL ISTILAH " SHIDDIQIYYAH"( Kitab Barjanji –Natsar) .&lt;br /&gt;Kemudian dari kalimat (kata) : " ASH SHIDDIQ " itu dibentuk, diberi "YA MUNASABAH" akhirnya menjadi kata : " ASH-SHIDDIQIYYAH ". Sebagaimana tersebut dalam kitab Barjanji – Natsar " Ath-thir" yang ke 12 yang bunyinya :&lt;br /&gt;" Wa awwalu man aamana bihi minar rijaali Abu Bakrin shohibul Ghori wash-shiddiqiyyah ".&lt;br /&gt;Yang artinya : " Dan awalnya orang yang percaya dengan Isro’ dari orang laki-laki ialah Abu Bakar, yang diberi julukan Shihibul Ghor dan Ash Shiddiqiyyah ( artinya orang memiliki gua) , karena beliaulah satu-satunya sahabat yang menyertai Rosululloh waktu hijrah bersembunyi di dalam gua Tsur sebagaiman tersebut dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;" IDZ HUMAA FIL GHORI IDZ YAQULU LISHOHIBIHI LAA TAHZAN INNALLOHA MA’ANAA " ( QS.At Taubah/40).&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Ingatlah tatkala keduanya ( Muhammad dan Abu Bakar ) di dalam Gua (Tsur) , tatkala bersabda ( MUHAMMAD) pada temannya, " Janganlah kau susah, sesungguhnya Alloh itu beserta kita ".&lt;br /&gt;III. PERUBAHAN NAMA-NAMA SILSILAH THORIQOH MENURUT ASY-SYAIKH MUHAMMAD AMIN KURDI AL IRBILI (Kitab Tanwirul Qulub).&lt;br /&gt;Asy Syaikh Al Imam Syihabuddien Abi Abdillah Yaquti bin Abdillah Al Hamawi Ar Rummi Al Baghdadi, wafat pada tahun 626 H = 1228 M.&lt;br /&gt;Beliau menyusun kitab yang namanya " MU’JAMUL BULDAAN " artinya Kumpulan Nama-nama Negara, terdiri dari 5 jilid besar, tiap-tiap jilidnya berisi 540 halaman.&lt;br /&gt;Dalam buku jilid I, halaman 138, diterangkan bahwa " Ada sebuah negeri yang namanya " IRBIL " .&lt;br /&gt;Irbil itu ada dua macam :&lt;br /&gt;(1). Negeri IRBIL termasuk wilayah Irak yang jaraknya dengan kota Baghdad jika ditempuh dengan jalan kaki memakan waktu 7 hari.&lt;br /&gt;(2). Negeri IRBIL yang kedua terletak di pesisir termasuk wilayah Syam.&lt;br /&gt;Di negeri Irbil termasuk wilayah Irak yang dekat kota Mousol, yang kota Mousol itu ada makamnya Nabiyulloh Yunus A.S. disitu lahir seorang " ULAMA TASAWWUF" yang besar namanya, " ASY SYAIKH MUHAMMAD AMIN KURDI AL IRBILI " wafat pada bulan Robi’ul Awwal, hari malam Ahad, tanggal 12 tahun 1332 H.&lt;br /&gt;Beliau mengarang kitab yang namanya, "KITAB TANWIRUL QULUBI FI MU’AMALATI ‘ALLAAMIL GHUYUB " tebalnya 560 halaman.&lt;br /&gt;Pada bab " FASHLUN FI ADAABIL MURID MA’A IKHWAANIHI " halaman 539 disebutkan demikian :&lt;br /&gt;" I’LAM ANNA ALQOBAS SILSILATI TAKHTALIFU BIKHTILAAFIL QURUNI – FAMIN HADLROTISH SHIDDIEQI RODLIYALLOHU TA’ALA ‘ANHU ILASY SYAIKH THIFURI BIN ‘ISA ABI YAZID AL BUSTHOMI TUSAMMA ( SHIDDIQIYYAH)".&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;" Ketahuilah bahwa sesungguhnya julukannya silsilah itu berbeda-beda, di sebabkan perbedaanya kurun waktu.&lt;br /&gt;Silsilah dari sahabat Abu Bakar Shiddiq R.A.sampai kepada Syaikh Thoifur bin Isa Abi Yazid Al Busthomi dinamakan SHIDDIQIYYAH ".&lt;br /&gt;Jadi " SHIDDIQIYYAH " itu bukan nama ajarannya akan tetapi nama silsilahnya.&lt;br /&gt;Ajaran yang silsilahnya dari Sahabat ABU BAKAR ASH SHIDDIQ R.A. sampai kepada Syaikh THOIFUR BIN ISA ABI YAZIED AL BUSTHOMI dinamakan SHIDDIQIYYAH.&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa Ilmu Bathin dari Rosululloh yang khusus mengenai rahasianya "ISMUDZ DZAT (ALLOH )", itu dilimpahkan oleh Rosululloh SAW. Kepada ruhaniyah Abu Bakar Shiddiq R.A. dan rahasianya " LAA ILAHA ILLALLOH " dilimpahkan kepada ruhaniyah Sayyidina ALI Karromallohu wajhah.&lt;br /&gt;Kemudian Sayyidina ALI Karromallohu wajhah, mengambil rahasianya "ISMUDZ DZAT ( ALLOH) " dari sahabat ABU BAKAR ASH SHIDDIQ R.A. Dan sahabat SALMAN AL FARISI mengambil rahasianya ISMUDZ DZAT (ALLOH) juga dari sahabat ABU BAKAR ASH SHIDDIQ R.A.&lt;br /&gt;Adapun sahabat ABU BAKAR dan sahabat-sahabat lainnya ( rodliyallohu’anhum) mengambil rahasianya LAA ILAAHA ILLALLOH dari sahabat ALI Karromallohu wajhah.&lt;br /&gt;Dengan Demikian maka SILSILAH SHIDDIQIYYAH itu ke bawah ada yang melalui sahabat ALI ( karromallohu wajhah) dan ada yang melalui sahabat SALMAN ALFARISI Rodliyallohu anhu.&lt;br /&gt;Dibawah ini Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah menukilkan SILSILAH SHIDDIQIYYAH ke bawah yang melalui sahabat SALMAN ALFARISI, dinukil dari kitab TANWIRUL QULUB.&lt;br /&gt;SILSILAH SHIDDIQIYYAH MELALUI SAHABAT SALMAN AL FARISI&lt;br /&gt;ALLOH TA’ALA&lt;br /&gt;JIBRIL Alaihis Salam.&lt;br /&gt;MUHAMMAD ROSULULLOH Shollallohu alaihi wasallam.&lt;br /&gt;ABU BAKAR ASH SHIDDIQI r.a.&lt;br /&gt;SALMAN FARISI r.a.&lt;br /&gt;QOSIM bin MUHAMMAD bin ABI BAKAR SHIDDIQ r.a.&lt;br /&gt;IMAM JA’FAR SHODDIQ SIWA SAYYIDINA QOSIM bin MUHAMMAD bin ABI BAKAR SHIDDIQ r.a.&lt;br /&gt;SILSILAH INI DINAMAKAN THORIQOH SHIDDIQIYYAH&lt;br /&gt;SYAIKH ABI YAZID THOIFUR bin ISA bin ADAM bin SARUYAN ALBUSTOMI&lt;br /&gt;Syaikh ABIL HASAN ALI bin ABI JA’FAR AL KHORQONI.&lt;br /&gt;Syaikh ABI ALI ALFADLOL bin MUHAMMAD ATH THUSI ALFARMADI.&lt;br /&gt;Syaikh ABI YA’QUB YUSUF ALHAMDANI.&lt;br /&gt;SILSILAH INI DISEBUT ATH THORIQOH ATH-THOIFURIYYAH.&lt;br /&gt;Syaikh ABDUL KHOLIQ ALGHOJDUWANI Ibnul IMAM ABDUL JALIL.&lt;br /&gt;Syaikh ‘ARIF ARRIWIKARI&lt;br /&gt;Syaikh MAHMUD AL ANJIRI FAGHNAWI&lt;br /&gt;Syaikh ALI AR RUMAITANI AL MASYHUR BIL ‘AZIZAANI.&lt;br /&gt;Syaikh MUHAMMAD BAABAS SAMAASI&lt;br /&gt;Syaikh AMIR KULLAALI Ibnu Sayyid HAMZAH. SILSILAH INI DINAMAKAN ATH-THORIQOH ALKHUWAAJIKAANIYYAH.&lt;br /&gt;Syaikh MUHAMMAD BAHA’UDDIN ANNAQSYABANDI bin MUHAMMAD bin MUHAMMAD SYARIF AL HUSAIN AL-AUSI AL-BUKHORI.&lt;br /&gt;Syaikh MUHAMMAD bin ‘ALAAIDDUN AL-ATHORI&lt;br /&gt;Syaikh YA’QUB AL-JARKHI. SILSILAH INI DINAMAKAN ATH-THORIQOH ANNAQSYABANDIYYAH&lt;br /&gt;Syaikh NASHIRUDDIN UBAIDILLAH AL AHROR ASSAMARQONDI bin MAHMUD bin SYIHABUDDIN&lt;br /&gt;Syaikh MUHAMMAD AZZAHID&lt;br /&gt;Syaikh DARWIS MUHAMMAD ASSAMARQONDI&lt;br /&gt;Syaikh MUHAMMAD ALKHOWAAJAKI AL AMKANI ASSAMARQONDI&lt;br /&gt;Asy-syaikh MUHAMMAD ALBAAQI BILLAH. DINAMAKAN ATH-THORIQOHUL AHRORIYYAH&lt;br /&gt;Asy-syaikh AHMAD ALFARUQI ASSIRHINDI&lt;br /&gt;Asy-syaikh MUHAMMAD MA’SHUM&lt;br /&gt;Asy-syaikh MUHAMMAD SAIFUDDIEN.&lt;br /&gt;Asy-syaikh MUHAMMAD NURUL BADWANI&lt;br /&gt;Asy-syaikh HABIBULLOH JAANIJANAANI MUNTHOHIR&lt;br /&gt;Asy-syaikh ABDILLAH ADDAHLAWI. DINAMAKAN ATH-THORIQOTUL MUJADDADIYYAH&lt;br /&gt;Asy-syaikh KHOLID DLIYAA’UDDIEN&lt;br /&gt;Asy-syaikh UTSMAN SIROJUL MILLAH&lt;br /&gt;Asy-syaikh UMAR ALQOTHBUL IRSYAD&lt;br /&gt;Asy-syaikh MUHAMMAD AMIN ALKURDI AL IRBIL. DINAMAKAN ATH-THORIQOTUL KHOLIDIYYAH&lt;br /&gt;( kitab TANWIRUL QULUB halaman 500-502).&lt;br /&gt;IV. KETERANGAN DARI IBNU IBAD DALAM SARAH AL HIKAM AL ISKANDARIYAH TENTANG THORIQOH SHIDDIQIYYAH NYA ABUL HASAN ASY SYADZALI.&lt;br /&gt;Alloh berfirman dalam Al-Qur’an:&lt;br /&gt;" WAYAS-ALUUNAKA ‘AN DZIL QORNAINI QUL SA-ATLUU ‘ALAIKUM MINHU DZIKRO" (QS.Al Kahfi 83), artinya : " Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang " Dzil Qornain". Katakanlah, aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya."&lt;br /&gt;Diantara ummat Islam ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud " Dzil Qornain " dalam surat Al Kahfi itu ailah " AL-ISKANDAR YANG AGUNG " , atau Iskandar yang dilahirkan di Fillo tahun 356 sebelum masehi, di ibukota Macidonia. Ayahnya Raja PHILIP II dari Macidonia, yang menaklukkan berpuluh-puluh negara, yang jajahannya sangat luasnya.&lt;br /&gt;Iskandar ini muridnya seorang failoshof yang termasyhur yang namanya " ARISTHOTILLES" yang lahir pada tahun 384 sebelum masehi.&lt;br /&gt;Akan tetap kalau kita perhatikan, dzil Qornain yang ada di dalam Qur’an jauh berbeda dengan Dzil Qornain Macidonia.&lt;br /&gt;Perbedaannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;(1). Dzul Qurnain, tidak ada tambahan Iskandar, tapi Dzul Qurnain Macidonia, disebutkan Iskandar Dzul Qornain.&lt;br /&gt;(2). Dzul Qornain dalam Al-Qur’an menurut kitab Tafsir yang mu’tabar, temannya Nabiyulloh HIDLIR alaihis salam. Tetapi Dzul Qornain Macidonia, temannya Aristhoteles.&lt;br /&gt;(3). Dzul Qornain dalam Qur’an tidak disebutkan penjajah dan pembunuh, tetapi Dzul Qornain Macidonia adalah penjajah dan pembunuh.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu saya (Kyai Muchammad Muchtar) berpendapat bahwa Dzul Qornain dalam Al-Qur’an itu bukan Dzul Qornain Macidonia.&lt;br /&gt;Iskandar Dzul Qornain Macidonia telah membangun tigabelas kota, semuanya dinamakan kota Iskandariyah. Ada yang di India, ada yang di Babil, ada yang di Balakh, ada yang di Samarqondi, dan lain-lainnya. Akan tetapi yang terbesar ialah Kota Iskandariyah di mesir bagian selatan. Semua nama Iskandariyah setelah wafatnya Dzul Qornain sudah diganti nama baru, yang tinggal tetap nama Kota Iskandariyah yang ada di Mesir saja.&lt;br /&gt;( Kitab Ma’jamu Buldan jilid I hal.183).&lt;br /&gt;Di kota Iskandariyah Mesir, lahirlah seorang Ulama Tashowwuf yang termashur, namanya " ASY SYAIKH TAJUDDIEN IBNUL FADLOL AHMAD BIN MUHAMMAD BIN ABDUL KARIM IBNU ATHO’ILLAH ASKANDARI".&lt;br /&gt;Wafat pada tahun 707 Hijrah, makamnya di kampung " Qurofah" Mesir.&lt;br /&gt;( Kitab Aththobaqotul Kubro, Juz II, hal .20 , Ta’lif Abdul Wahhab asy Sya’roni).&lt;br /&gt;Ibnu A’tho’illah menyusun Kitab Tashowwuf tingkat tinggi dua juz nama nya Kitab " ALHIKAM". Kitab tersebut disyarah oleh seorang Ulama namanya " MUHAMMAD bin IBROHIM yang dikenal namanya IBNU IBAD.&lt;br /&gt;Dalam Syarah Akhikam tersebut, juz II halamn 58, Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzali R.A. setelah masuk Thoriqoh Shiddiqiyyah, Beliau banyak dimusuhi orang-orang yang tidak faham dengan Thoriqoh Shiddiqiyyah.&lt;br /&gt;" QOLA SAYYIDI ABU HASAN ASY-SYADZALI R.A., AADZAANI INSAANUN MARROTAN FADLOQQOTU DZIRO’AN BIDZAALIKA FANUMTU FAROAITU YUQOITU LIMIN ‘ALAMAATISH SHIDDIQIYYATI KATSROTU A’DAIHAA TSUMMA LAA YUBAALI BIHIM".&lt;br /&gt;Artinya ," Bersabda tuanku Abu hasan Asy Syadzali R.A., Menyakiti kepadaku manusia satu kali, maka aku menjadi sempit sedziro’ karena itu, maka saya tidur, aku bermimpi.&lt;br /&gt;Dalam mimpi itu ada sabda, ‘Sebagian alamatnya orang-orang Shiddiqiyyah itu banyak musuhnya’, kemudian ia tidak perduli kepada mereka."&lt;br /&gt;Beliau lahir pada tahun 575 hijrah, wafat pada tahun 656 hijrah, bulan Dzul Qoidah di Shokhro’ Ghirob waktu akan menunaikan Ibadah Hajji. (Kitab Ath Thobaqotul kubro Juz II halaman 4 ).&lt;br /&gt;Asy Syadzali, nama desa di Afrika di Negara Oman dekat Murtasiyah (Mauritania). Waktu kecilnya dia pindah ke Thosia kemudian ke Masyriq, kemudian nsik Hajji beberapa kali, kemudian masuk ke Irak, berteman di Irak dengan Abil Fatah Waasithi.&lt;br /&gt;Di Baghdad beliau masuk Thoriqoh Shiddiqiyyah, gurunya bernama :&lt;br /&gt;" ABI ABDILLAH MUHAMMAD BIN SYAIKH ABIL HASAN ALMA’RUF BIN IBNI HAROZIM AL MANSUBA ILASH SHIDDIQIL A’DHOM"&lt;br /&gt;(Jaami’ul Ushul Fil Auliyaa’I, halaman 101).&lt;br /&gt;Adapun silsilah Keturunannya Abil Hasan Asy Syadzili, sebagai berikut :&lt;br /&gt;Abul Hasan Asy Syadzili&lt;br /&gt;Bin Abdulloh&lt;br /&gt;Bin Abdul Jabbar&lt;br /&gt;Bin Tamim&lt;br /&gt;Bin Harman&lt;br /&gt;Bin Hatim&lt;br /&gt;Bin Qushoyyi&lt;br /&gt;Bin Yusuf&lt;br /&gt;Bin Yusya’&lt;br /&gt;Bin Warid&lt;br /&gt;Bin Abi Bithol&lt;br /&gt;Bin Ahmad&lt;br /&gt;Bin Muhammad&lt;br /&gt;Bin Isa’&lt;br /&gt;Bin Idris&lt;br /&gt;Bin Umar&lt;br /&gt;Bin Idris&lt;br /&gt;Bin Hasan Almutsanna&lt;br /&gt;Bin Hasan&lt;br /&gt;Bin Ali Rodiayallohu ‘anhu.&lt;br /&gt;Jadi Thoriqoh Asy Syaadzaliyyah itu juga asalnya dari Thoriqoh Ash Shiddiqiyyah.&lt;br /&gt;( Jaami’ul Usul halaman 101).&lt;br /&gt;V.KETERANGAN TENTANG SHIDDIQIYYAH DARI ALKAILAANI /ALJAILAANI&lt;br /&gt;Pada hari Isnain, tanggal 17 Romadlon tahun 560 Hijriyah ( 29 juli 1165 ) lahirlah di Marseille, suatu negeri dalam wilayah Andalusi ( Spanyol ), seorang laki-laki yang bernama " MUHYIDDIEN MUHAMMAD BIN ALI BIN MUHAMMAD BIN ABDULLOH AL HAITAMI".&lt;br /&gt;Yang masyhur disebut " IBNU AROBI "&lt;br /&gt;Beliaulah pengarang kitab hakekat nomor wahid di dunia, 8 jilid yang diberi nama,&lt;br /&gt;"FUTUHAATIL MAKKIYYAH"&lt;br /&gt;Beliau wafat di Damaskus pada malam Jum’at tanggal 28 Robi’ul Akhir tahun 638H. Dimakamkan di Damaskus, di sebuah tempat yang namanya :"SHOFA QOSYI’UN" Adapun murid Beliau yang terkenal bernama, " ASY SYAIKH ABDUL KARIM BIN IBROHIM AL JAILANI", lahir pada tahun 767 H dan Wafat pada tahun 805 H. Asy Syaikh Abdul Karim Al Jailani menyusun kitab Tasawwuf tingkat atas yang namanya kitab, " AL INSAANUL KAAMIL", dua juz. Dalam Juz yang ke dua, bab 63, halaman 131 menyebutkan demikian , " WA AMMASH SHIDDIQIYYAH FAMABNIYATUN ‘ALAA SITTATI ARKAANIN : AL ISLAM, WAL IMAAN, WASH SHILAAH, WAL IHSAAN, WASY SYAHAADAH, WAL MA’RIFAH ".&lt;br /&gt;Artinya: " Adapun Shiddiqiyyah itu ialah didirikan diatas enam tiang, yaitu : (1).Al-Islam, (2).Al-Imaan, (3). Ash Shilah, (4).Al Ihsan, (5).Asy Syahadah, (6). Al Ma’rifat.&lt;br /&gt;VI.KETERANGAN TENTANG SHIDDIQIYYAH DALAM KITAB KHOZINATUL ASROR.&lt;br /&gt;As Sayyid Muhammad Haqqin Nazili ( Rohimahulloh) menyusun kitab yang namanya kitab, " KHOZINATUL ASROR".&lt;br /&gt;Dalam kitab tersebut, bab :"KHOWAASHU KHOTMU KHOWAJIKAN", halaman 188 disebutkan demikian, :&lt;br /&gt;" MANAAFIDZI HIMMAHUMUL MAYAAYIHIR ROBBAANIYYATI WAMIZAABUL FUYUUDLI ASHSHIDDIQIYYATI WAL’ALAWIYYATI WAL HADLRIYYATI WAMAJRIYYAL HIKMATI MINAL ABHURIL MUHAMMADIYYAH".&lt;br /&gt;Artinya : " Beberapa jendela himmahnya para Syaikh-Syaikh Robbaniyyah dan tempat menampungnya limpahannya Thoriqoh Shiddiqiyyah, dan Thoriqoh ‘Alawiyyah, dan Thoriqoh Hadlriyyah, dan tempat mengalirnya hikmah dari beberapa lautan Muhammadiyyah".&lt;br /&gt;VII.KETERANGAN DALAM KITAB JAMI’U KAROMATIL AULIYA’ (SYAIKH YUSUF IBNU ISMAIL )&lt;br /&gt;Didalam kitab " Jami’u Karomatil Auliya’ jilid I, halaman 181, ditulis oleh Syaikh Yusuf Ibnu Ismail, lahir tahun 1206H, waktu tahun 1250H, beliau menerangkan bahwa Waliyullah Zubair Abbas Al Mursyiyyi menyatakan bahwa Imam Al Gozali r.a. ialah termasuk Alhi Thoriqoh Shiddiqiyyah yang Agung.&lt;br /&gt;" WA SYAHIDU LAHUL MURSYIYYU BISH SHIDDIQIYYATIL ‘UDHMA"&lt;br /&gt;Artinya : Dan memberi kesaksian Abbas Al Mursyiyyi bahwa Imam Al-Ghozali itu adalah orang Shiddiqiyyah yang agung ".&lt;br /&gt;VIII. KETERANGAN DALAM KITAB JAMI’UL USHUL ( SYAIKH AHMAD KAMSAQONAWIN- NAQSYABANDIYYAH).&lt;br /&gt;Di dalam kitab Jami’ul Ushul halaman 101, ditulis oleh Syaikh Ahmad Kamsaqonawin-Naqsyabandiyyah, ada keterangan bahwa Waliyulloh Qutub Syaikh Abu Hasan Asy Syadzili r.a. ketika masih muda nya itu masuk Thoriqoh Shiddiqiyyah di Baghdad, dengan gurunya bernama Abu Abdillah, dan menerangkan :&lt;br /&gt;"ABU ABDILLAH MUHAMMAD BIN SYAIKH ABU HASAN AL MA’RUFI BI IBNI HARASIM AL MANSUBI ILASH SHIDDIQIL A’DHOM".&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;" Abu Abdillah bin Syaikh Abu Hasan Al Ma’rufi bi Ibni Harasim menerangkan bahwa permasalahan / perkara yang dibangsakan kepada Shiddiqiyyah itu adalah lebih Agung".&lt;br /&gt;(Diambil dari buku pedoman kader Shiddiqiyyah dalam bahasa Jawa yang ditulis oleh Musyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Kyai Much.Muchtar Mu’thi, Losari 8 Shoffar 1403H / 13 November 1983M)&lt;br /&gt;IX.THORIQOH SHIDDIQIYYAH DI LUAR INDONESIA SUDAH TIDAK ADA PERKEMBANGAN LAGI.&lt;br /&gt;Perkembangan Thoriqoh Shiddiqiyyah sekarang ini diluar negeri Indonesia sudah punah, tidak ada lagi thoriqoh shiddiqiyyah, yang ada sekarang ini satu-satunya di dunia hanya berpusat di desa Losari , Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang Propinsi Jawa-Timur Indonesia. Awalnya Thoriqoh Shiddiqiyyah yang masuk Indonesia berkembang di Negeri Irbil, kemudian berkembang di Negeri Nobia dan terus berkembang juga di Negeri Ninawa. Sekarang ini di negeri-negeri tersebut Thoriqoh Shiddiqiyyah sudah punah, sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;Masuknya thoriqoh Shiddiqiyyah ke Indonesia / Nusantara dibawa oleh sembilan ulama shiddiqiyyah dari negeri Irbil (di Irak sekarang) yang berlabuh pertama kali di pelabuhan Cirebon, Jawa Barat, kemudian menyebar ke seluruh tanah Jawa. Satu diantara 9 orang ulama tersebut adalah seorang wanita yang bernama Syarifah Baghdadi, makamnya ada di Cirebon. Sebagian besar dari sembilan ulama itu wafat dan dimakamkan di kabupaten Pandeglang, Banten, antara lain : Maulana Aliyuddin, Maulana Malik Isroil, Maulana Isamuddin dan Maulana Ali Akbar. Dan salah satunya wafat di Jawa-Timur dimakamkan di Troloyo Mojokerjo bernama Maulana Jumadil Kubro.&lt;br /&gt;Kemudian perkembangan shiddiqiyyah mengalami kepunahan di seluruh dunia kecuali di Indonesia yang dikembangkan kembali dibawah Pimpinan Kyai Muchammad Muchtar bin Al-Hajji Abdul Mu’thi, tepatnya di desa Losari, Ploso Jombang mulai tahun 1954.&lt;br /&gt;Pada tahun 1973 M , Kyai Much.Muctar Mu’thi atas saran-saran para penasehatnya mendirikan Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah, sebagai badan hukum untuk pengembangan dakwah Thoriqoh Shiddiqiyyah di wilayah Indonesia. Yayasan tersebut berkedududukan di Desa Losari Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang Jawa Timur.&lt;br /&gt;Sekarang ini (tahun 2002M) Yayasan ini sudah mempunyai cabang di berbagai kota di Pulau Jawa dan Sumatera dan perwakilannya di Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat serta negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.&lt;br /&gt;Selain menyampaikan pelajaran khusus Thoriqoh Shiddiqiyyah, Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi juga menyelenggarakan pengajian-pengajian umum dan Wirid berjamaah secara rutin dari tahun 1973 sampai seakarang.&lt;br /&gt;Pengajian umum pertama diadakan pada waktu sore ba’da ashar pada bulan romadlon penuh satu bulan. Kemudian pada setiap hari Selasa malam Rabu dan setiap hari Kamis malam Jum’at yang dinamakan Pengajian Kautsaran, kemudian bertambah lagi Pengajian Khusus pada setiap hari Ahad malam Senin dengan nama Kulliyatul Minhajul Abidin.&lt;br /&gt;Sekarang ini setiap pengajian umum yang diselenggarkan oleh Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi selalu dihadiri para murid shiddiqiyyah maupun kaum muslimin umumnya dengan jumlah hadirin lebih dari 4000 orang bahkan pada acara peringatan-peringatan hari bersejarah Islam, yang menghadiri lebih dari 10 ribu orang.&lt;br /&gt;Pengajian Kautsaran malam Jum’at sekarang ini sudah tidak diadakan lagi, dan sebagai kelanjutannya adalah pengajian / kautsaran di daerah daerah yang dinamakan juga Kautsaran, yang berfungsi sebagai forum silaturahmi antar murid shiddiqiyyah dan untuk menjaga kestabilan ghirah hati dalam mengamalkan thoriqoh shiddiqiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan (red) , bahwa Thoriqoh Shiddiqiyyah bukan Thoriqoh baru yang didirikan oleh Kyai Muhammad Muctar Mu’thi, akan tetapi sebagaimana keterangan-keterangan dalam berbagai kitab masa lalu Thoriqoh Shiddiqiyyah adalah Thoriqoh yang sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad yang diwariskan pertama kepada Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-5108458403160733963?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/5108458403160733963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=5108458403160733963' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5108458403160733963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5108458403160733963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/syeh-ahmad-at-tijani_27.html' title='Thoriqoh Shiddiqiyyah'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-3093609098820516498</id><published>2008-07-27T00:16:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T00:16:56.263-07:00</updated><title type='text'>Syeh Ahmad At-Tijani</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan "Neosufisme". Ciri dari gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari'at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhan.At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di 'Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 1181, dia meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Tilimsan selama lima tahun.Pada tahun 1186 (1772 - 1773), dia menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah haji, dan meneruskan belajar di Makkah dan Madinah. Di dua kota Haramain ini, dia lebih banyak memfokuskan diri untuk berguru kepada banyak tokoh tarekat sufi dan mengamalkan ajarannya. Di antara tarekat yang dipelajarinya, misalnya Tarekat Qadiriyah, Thaibiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Di Madinah dia belajar langsung kepada seorang tokoh sufi, Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman, pendiri tarekat Sammaniyah, yang mengajarinya ilmu-ilmu rahasia batin. Kemudian dari Makkah dan Madinah, dia menuju Kairo dan menetap untuk beberapa lama di sana. Pada tahun 1196 (1781 - 1782), atas saran dari seorang syekh sufi yang baru dikenalinya, dia kembali ke Tilimsan untuk mendirikan tarekat sendiri yang independen. Di sana at-Tijani mengadakan khalwat khusus, yakni memutuskan kontak dengan masyarakat sampai mendapatkan ilham (fath/kasyf).Dalam fath yang diterimanya, dia mengaku bahwa hal itu terjadi dalam keadaan terjaga. Ketika itu, Nabi SAW mendatanginya dan memberitahukan bahwa dirinya tidaklah berhutang budi pada syekh tarekat mana pun. Karena menurut dia, Nabi sendiri-lah yang selama ini menjadi pembimbingnya dalam bertarekat. Selanjutnya, Nabi SAW menyuruh dia untuk meninggalkan segala sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya berkenaan dengan tarekat. Bahkan dia juga diberi izin untuk mendirikan tarekat sendiri disertai wirid yang mesti diajarkan kepada masyarakat, yaitu istighfar dan shalawat yang diucapkan masing-masing sebanyak 100 kali. Setelah kejadian itu, ia kembali ber'uzlah di padang pasir dan berdiam di oase Bu Samghun. At-Tijani tampaknya menghadapi tekanan dari kaum otorita Turki. Di tempat inilah ia menerima ilham yang terakhir (1200/1786). Dalam fath ini Nabi SAW memberikan tambahan wirid, yaitu tahlil yang harus diucapkan sebanyak 100 kali. Nabi SAW juga mengatakan bahwa at-Tijani adalah penunggu yang akan menyelamatkan hamba Allah yang durhaka. Pada tahun 1213/1798, dia meninggalkan 'uzlahnya dari padang pasir dan pindah ke Maroko untuk memulai menjalankan misi yang lebih luas lagi, dari kota Fes. Di kota ini dia diterima baik oleh penguasa Maulay Sulaiman dan tetap tinggal di sana sampai wafatnya pada 22 September 1815, dalam usia 80 tahun.Meskipun dia banyak bertarekat dan menjadi muqaddam khalwatiyah (at-Tijani mempunyai silsilah Khalwatiyah), tetapi pada perkembangan selanjutnya, yakni setelah menjalani hidup sufistik secara ketat dan keras, dia kemudian mendirikan tarekat yang independen, yang diyakini atas izin Nabi SAW.Tarekat yang didirikan at-Tijani ini agak unik dan sedikit banyak berbeda dengan tarekat-tarekat lain terutama soal silsilahnya. Misalnya dari Syekh Ahmad, sang pendiri, langsung kepada Nabi SAW, melintas jarak waktu 12 abad. Begitu juga anggota tarekat ini bukan hanya tidak dibenarkan untuk memberikan bait 'ahd kepada syekh mana pun, tetapi juga melakukan dzikir untuk wali lain dan dirinya serta wali-wali dari tarekatnya. Menurut at-Tijani, Tuhan tidak menciptakan dua hati dalam hati manusia, dan oleh karenanya tak seorang pun dapat melayani dua orang mursyid sekaligus. Lagi pula, bagaimana mungkin seorang salik akan bisa sempurna menempuh suatu jalan, sedangkan pada waktu bersamaan ia juga sedang menampuh (mengambil) jalan lain?Sejak tinggal di kota Fes ini, at-Tijani lebih berkonsentrasi pada pengembangan tarekatnya sendiri. Sebagai seorang syekh tarekat yang berpengaruh dia berkali-kali diajak oleh penguasa negeri itu untuk bergabung dalam urusan politik. Namun, dia tetap menolak. Sikapnya inilah yang membuat dia semakin disegani, dicintai, dan dihormati, baik oleh penguasa setempat maupun oleh masyarakat sekitarnya. Lebih dari itu, pihak penguasa Maulay Sulaiman, meski permintaannya ditolak, tetap memberikan berbagai hak istimewa kepadanya.Semula tarekat yang dipimpin at-Tijani ini mendapatkan pengikut di Maghribi karena kecamannya terhadap ziarah ke makam para wali dan mawsin yang populer pada waktu itu. Namun karena perekrutan untuk menjadi muqaddam yang ditetapkan oleh at-Tijani agak longgar, misalnya dengan menunjuk sebagai muqaddam-muqaddam siapa pun yang melakukan bai'at, tanpa mengharuskan latihan selain dalam hukum dan aturan-aturan ritual, dengan tekanan utama pada ditinggalkannya semua ikatan dengan syekh-syekh lama kecuali dirinya. Sehingga setelah at-Tijani wafat, agen-agen tadi telah tersebar luas dan dengan sebuah sistem yang mendukungnya membuat dia mempunyai kekuatan penuh. Tarekat ini dengan segera menyebar luas dari Maghribi hingga Afika Barat, Mesir dan Sudan. Aktivistas gerakan Tarekat Tijaniyah terbukti sangat positif dan militan. Seperti halnya para pengikut tarekat Qadariyah dan Syadziliyah, para murid tarekat ini berjasa menyebarluaskan Islam ke berbagai kawasan Afrika.Menurut Coppolani, mereka menyiarkan Islam di kalangan pemeluk animisme dengan persaudaraan-persaudaraan sufi lainnya dan berada di garis terdepan dalam melakukan perlawanan terhadap ekspansi kolonialisme. Dari at-Tijani lalu diwakili oleh tokoh lainnya seperti al-Hajj Umar di Sudan Barat. Di Republik Turki, sebuah kelompok kecil penganut Tarekat Tijaniyah, adalah orang-orang muslim pertama yang secara terbuka menetang rezim sekulerisme sekitar tahun 1950. Tarekat ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1920-an, setelah disebarkan di Jawa Barat oleh seorang ulama pengembara kelahiran Makkah, Ali bin Abdullah at-Tayyib al-Azhari, yang telah menerima ijazah untuk mengajarkan tarekat ini dari dua orang syekh yang berbeda. Dan, pada tahun-tahun berikutnya, beberapa orang Indonesia yang belajar di Makkah menerima bai'at untuk menjadi pengikut Tarekat Tijaniyah dan mendapat ijazah untuk mengajar dari para guru yang masih aktif di sana. Ini terjadi setelah serbuan Wahabi kedua terhadap Makkah pada tahun 1824, dan kebanyakan tarekat lain tidak dapat lagi menyebarkan ajaran pengkultusan terhadap para wali, tampaknya masih dapat ditolelir.Di Indonesia, Tijaniyah ditentang keras oleh tarekat-tarekat lain. Gugatan keras dari kalangan ulama tarekat itu dipicu oleh pernyataan bahwa para pengikut Tarekat Tijaniyah beserta keturunannya sampai tujuh generasi akan memperlakukan secara khusus pada hari kiamat, dan bahwa pahala yang diperoleh dari pembacaan Shalawat Fatih, sama dengan membaca seluruh al-Quran sebanyak 1000 kali. Lebih dari itu, para pengikut Tarekat Tijaniyah diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para guru tarekat lain, yang dalam pandangan syekh pesaingnya dianggap sebagai praktik bisnis yang culas. Meski demikian, tarekat ini terus berkembang, utamanya di Cirebon dan Garut (Jawa Barat), Madura dan ujung Timur pulau Jawa sebagai pusat peredarannya. Penentangan ini baru mereda ketika Jam'iyyah Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah menetapkan keputusan setelah memeriksa wirid dan wadzifah tarekat ini. Dan tanpa memberikan pernyataan-pernyataan ekstremnya tarekat ini bukanlah tarekat sesat, karena amalan-amalannya sesuai ajaran Islam. Sepanjang tahun 80-an tarekat ini ngalami perkembangan yang sangat pesat, terutama di Jawa Timur. Respons terhadap perkembangan yang dicapai tarekat ini menyebabkan pecahnya kembali konflik dengan para guru dari tarekat lain. Akar konflik ini lebih tertuju kepada persaingan keras untuk mendapatkan murid dan perasaan sakit hati di kalangan sebagian guru yang kehilangan banyak murid berpindah ke Tarekat Tijaniyah. Kepindahan murid-murid dari tarekat lain ke Tarekat Tijaniyah ini berarti hilang pula murid-murid dari tarekat lain. Karena Tarekat Tijaniyah sama sekali tidak membolehkan para pengikutinya untuk berafiliasi lagi kepada syekh tarekat yang dianut sebelumnya.*** SalahuddinAjaran dan Dzikir Tarekat TijaniyahSejauh ini at-Tijani tidak meninggalkan karya tulis tasawuf yang diajarkan dalam tarekatnya. Ajaran-ajaran tarekat ini hanya dapat dirujuk dalam bentuk buku-buku karya murid-muridnya, misalnya Jawahir al-Ma'ani wa Biligh al-Amani fi-Faidhi as-Syekh at-Tijani, Kasyf al-Hijab Amman Talaqqa Ma'a at-Tijani min al-Ahzab, dan As-Sirr al-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Dua kitab yang disebut pertama ditulis langsung oleh murid at-Tijani sendiri, dan dipakai sebagai panduan para muqaddam dalam persyaratan masuk ke dalam Tarekat Tijaniyah pada abad ke-19.Meskipun at-Tijani menentang keras pemujaan terhadap wali pada upacara peringatan haii tertentu dan bersimpati kepada gerakan reformis kaum Wahabi, tetapi dia sendiri tidak menafikan perlunya wali (perantara) tersebut. At-Tijani sangat menekankan perlunya perantara (wali) antara Tuhan dan manusia, yang berperan sebagai wali zaman. Oleh karena itu, buku panduan Tijani kalimatnya dimulai dengan, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan sarana kepada segala sesuatu dan menjadikan sang Syekh perantara sarana untuk manunggal dengan Allah". Dalam hal ini, perantara itu tak lain adalah dia sendiri dan penerusnya. Dan sebagaimana tarekat-tarekat lain, tarekat ini juga menganjurkan agar anggota-anggotanya mengamalkan ajaran dengan menggambarkan wajah syekh tersebut dalam ingatan mereka, dan mengikuti seluruh nasehat syekh dengan tenang.Tarekat Tijaniyah mempunyai wirid yang sangat sederhana dan wadhifah yang sangat mudah. Wiridnya terdiri dari Istighfar, Shalawat dan Tahlil yang masing-masing dibaca sebanyak 100 kali. Boleh dilakukan dua kali dalam sehari, setelah shalat Shubuh dan Ashar. Wadhifahnya terdiri dari Istghfar (astaghfirullah al-adzim alladzi laa ilaha illa hua al hayyu al-qayyum) sebanyak 30 kali, Shalawat Fatih (Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad al-fatih lima ughliqa wa al-khatim lima sabaqa, nasir al-haqq bi al-haqq wa al-hadi ila shirat al-mustaqim wa'ala alihi haqqaqadruhu wa miqdaruh al-adzim) sebanyak 50 kali, Tahlil (La ilaaha illallah) sebanyak 100 kali, dan ditutup dengan doa Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali. Pembacaan wadhifah ini juga paling sedikit dua kali sehari semalam, yaitu pada sore dan malam hari, tetapi lebih afdlal dilakukan pada malam hari. Selain itu, setiap hari Jum'at membaca Hayhalah, yang terdiri dari dzikir tahlil dan Allah, Allah, setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam. Dalam hal dzikir ini at-Tijani menekankan dzikir cepat secara berjamaah. Beberapa syarat yang ditekankan tarekat ini untuk prosesi pembacaan wirid dan wadhifah: berwudlu, bersih badan, pakaian dan tempat, menutup aurat, tidak boleh berbicara, berniat yang tegas, serta menghadap kiblat.Satu hal yang penting dicatat dari dzikir Tarekat Tijaniyah -- yang membedakannya dengan tarekat-tarekat lain -- adalah bahwa tujuan dzikir dalam tarekat ini, sebagaimana dalam Tarekat Idrisiyyah, lebih menitikberatkan pada kesatuan dengan ruh Nabi SAW, bukan kemanunggalan dengan Tuhan, hal mana merupakan perubahan yang mempengaruhi landasan kehidupan mistik. Oleh karena itu, anggota tarekat ini juga menyebut tarekat mereka dengan sebutan At-Thariqah Al-Muhammadiyyah atau At-Thariqah al-Ahmadiyyah, termanya merujuk langsung kepada nama Nabi SAW. Akibatnya, jelas tarekat ini telah memunculkan implikasi yang ditandai dengan perubahan-perubahan mendadak terhadap asketisme dan lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis. Hal ini tampak sekali dalam praktik mereka yang tidak terlalu menekankan pada bimbingan yang ketat, dan penolakan atas ajaran esoterik, terutama ekstatikdan metafisis sufi. Berikut petikan dari kitab As-sirr al-Abhar Ahmad at-Tijani yang menyangkut berbagai tata tertib, aturan dan dzikir dalam tarekat ini:"Anda haruslah seorang muslim dewasa untuk melaksanakan awrad, sebab hal (awrad) itu adalah karya Tuhannya manusia. Anda harus meminta izin kepada orang tua sebelum mengambil thariqah, sebab ini adalah salah satu sarana untuk wushul kepada Allah. Anda harus mencari seseorang yang telah memiliki izin murni untuk mentasbihkan Anda ke dalam awrad, supaya Anda dapat behubungan baik dengan Allah.Anda sebaiknya terhindar sepenuhnya dari awrad lain manapun selain awrad dari Syekh Anda, sebab Tuhan tidak menciptakan dua hati di dalam diri Anda. Jangan mengunjungi wali manapun, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sebab tidak seorang pun dapat melayani dua mursyid sekaligus. Anda harus disiplin dan menjalankan shalat lima waktu dalam jamaah dan disiplin dalam menjalankan ketentuan-ketentuan syari'at, sebab semua itu telah ditetapkan oleh makhluk terbaik (Nabi SAW). Anda harus mencintai Syekh dan khalifahnya selama hidup Anda, sebab bagi makhluk biasa cinta semacam itu adalah sarana untuk kemanunggalan: dan jangan berfikir bahwa Anda mampu menjaga diri Anda sendiri dari Kreativitas Tuhan Semesta, sebab ini adalah salah satu ciri dari kegagalan. Anda dilarang untuk memfitnah, atau menimbulkan permusuhan terhadap Syekh Anda, sebab hal itu akan membawa kerusakan pada diri Anda. Anda dilarang berhenti untuk melantunkan awrad selama hidup Anda, sebab awrad itu mengandung misteri-misteri Sang Pencipta. Anda harus yakin bahwa Syekh mengatakan kepada Anda tentang kebijakan-kebijakan, sebab itu semua termasuk ucapan-ucapan Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir. Anda dilarang mengkritik segala sesuatu yang tampak aneh dalam thariqah ini, atau Penguasa Yang Adil akan mencabut Anda dari kebijak-kebijakan.Jangan melantunkan wirid Syekh kecuali sesudah mendapat izin dan menjalani pentasbihan (talqin) yang selayaknya, sebab itu keluar dalam bentuk ujaran yang lugu. Berkumpullah bersama untuk wadhifah dan dzikir Jum'at dengan persaudaraan, sebab itu adalah penjagaan terhadap muslihat syetan. Anda dilarang membaca Jauharat al-Kamal kecuali dalam keadaan suci dari hadats, sebab Nabi SAW akan hadir dalam pembacaan ketujuh. Jangan menginterupsi (pelantunan yang dilakukan oleh) siapa pun, khususnya oleh sesama sufi, sebab interupsi semacam itu adalah cara-cara syetan. Jangan kendur dalam wirid Anda, dan jangan pula menundanya dengan dalih apa pun atau yang lain, sebab hukuman akan jatuh kepada orang yang mengambil wirid lantas meninggalkan sama sekali atau melupakannya, dan dia akan menjadi hancur. Jangan pergi dan mengalihkan awrad tanpa izin yang layak untuk malakukan itu, sebab orang yang melakukan hal itu dan tidak bertaubat niscaya akan sampai kepada kejahatan dan kesengsaraan akan menimpanya. Anda dilarang memberitahukan wirid kepada orang lain kecuali saudara Anda dalam thariqah, sebab itu adalah salah satu pokok etika sains spiritual".Setiap tarekat memiliki satu atau lebih doa kekuatan khusus, misalnya Hizb al-Bahr milik Tarekat Syadziliyah, Subhan ad-Daim Isawiyah, Wirid as-Sattar milik Khalwatiyah, Awrad Fathiyyah milik Hamadaniyyah, dan lain-lain. Ciri khusu dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal. Mengenai Shalawat Fatih, at-Tijani mengatakan bahwa dirinya telah memperintahkan untuk mengucapkan doa-doa ini oleh Nabi SAW sendiri. Meskipun pendek, doa itu dianggap mengandung kebaikan dalam delapan jenis: orang yang membaca sekali, dijamin akan menerima kebahagiaan dari dua dunia; juga membaca sekali akan dapat menghapus semua dosa dan setara dengan 6000 kali semua doa untuk memuji kemuliaan Tuhan, semua dzikir dan doa, yang pendek maupun yang panjang, yang pernah dibaca di alam raya. Orang yang membacanya 10 kali, akan memperoleh pahala yang lebih besar dibanding yang patut diterima oleh sang wali yang hidup selama 10 ribu tahun tetapi tidak pernah mengucapkannya. Mengucapkannya sekali setara dengan doa seluruh malaikat, manusia, jin sejak awal penciptaan mereka sampai masa ketika doa tersebut diucapkan, dan mengucapkannya untuk yang kedua kali adalah sama dengannya (yaitu setara dengan pahala dari yang pertama) ditambah dengan pahala dari yang pertama dan yang kedua, dan seterusnya.Tentang Jauharat al-Kamal, yang juga diajarkan oleh Nabi SAW sendiri kepada at-Tijani, para anggota tarekat ini meyakini bahwa selama pembacaan ketujuh Jauharat al-Kamal, asalkan ritual telah dilakukan sebagaimana mestinya, Nabi SAW beserta keempat sahabat atau khalifah Islam hadir memberikan kesaksian pembacaan itu. Wafatnya Nabi SAW tidaklah menjadi tirai yang menghalangi untuk selalu hadir dan dekat kepada mereka. Bagi at-Tijani dan anggota tarekatnya, tidak ada yang aneh dalam hal kedekatan ini. Sebab wafatnya Nabi SAW hanya mengandung arti bahwa dia tidak lagi dapat dilihat oleh semua manusia, meskipun dia tetap mempertahankan penampilannya sebelum dia wafat dan tetap ada di mana-mana: dan dia muncul dalam impian atau di siang hari di hadapan orang yang disukainya.Akan tetapi kaum muslim ortodoks membantah penyataan Ahmad Tijani dan para pengikutnya yang menyangkut pengajaran Nabi SAW ini kepadanya. Sebab jika Nabi SAW secara pribadi mengajari at-Tijani rumusan-rumusan doa tertentu maka itu berarti bahwa Muhammad telah "wafat" tanpa menyampaikan secara sempurna pesan kenabiannya, dan mempercayai hal ini sama dengan tindak kekafiran, kufr.Tentu saja, alasan kaum muslim ortodoks ini masih bisa diperdebatkan, misalnya tanpa bermaksud membela tarekat ini dengan mempertanyakan kembali, apakah betul pengajaran Nabi SAW melalui mimpi itu berarti mengurangi kesempurnaan kenabiannya? Bukankah substansi dari pengajaran itu lebih tertuju kepada perintah bershalawat yang masih dalam bingkai pesan kenabian (syari'at), dan bukan merupakan hal yang baru? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda bahwa mimpi seorang mukmin seperempat puluh enam dari kenabian? Menyangkut pahala pembacaannya, bukankah rahmat dan anugerah Allah yang tak terhingga akan tercurahkan kepada umat Islam yang senantiasa mewiridkan shalawat kepada sang hamba paripurna, kekasih dan pujaan-Nya, Muhammad Rasulullah SAW&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-3093609098820516498?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/3093609098820516498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=3093609098820516498' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3093609098820516498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3093609098820516498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/syeh-ahmad-at-tijani.html' title='Syeh Ahmad At-Tijani'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-8183194423801329650</id><published>2008-07-26T23:53:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T23:54:24.502-07:00</updated><title type='text'>KI. Ronggowarsito</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Pada hari Senin Legi tanggal 10 Zulkaidah tahun Jawa 1728 atau tanggal 15Maret 1802 Masehi kurang lebih jam 12.00 siang lahirlah seorang bayidirumah kakek yang bernama R. Ng. Yosodipuro I, seorang Pujangga Keratonyang terkenal dijamannya. Bayi yang baru lahir itu diberi nama BagusBurham. Sejak umur 2 tahun sampai 12 tahun Bagus Burham ikutkakeknya.Ayahnya bernama R. Tumenggung Sastronegoro yang mengharapkananaknya dikelak kemudian hari menjadi orang yang berguna bagi bangsa dannegaranya. Maka oleh sang ayah, Bagus Burham dikirim ketempat pendidikanyang memungkinkan dapat mendidik anaknya lebih baik dari dirinyasendiri.Waktu itu pondok Pesantren di kawasan Ponorogo yang dipimpin olehKyai Imam Besari terkanal sampai dipusat Kerajaan Surakarta. KesanalahBagus Burham dikirim untuk mendapatkan tambahan ilmu lahir batin sertakeagamaan. Pondok Tegalsari yang dipimpin Kyai Imam Besari ini mempunyaimurid yang banyak dan memiliki kepandaian yang pilih tanding.&lt;br /&gt;Bagus Burham berangkat ke Pesantren Tegalsari disertai embannya yangbernama Ki Tanujoyo.Ditempat yang baru itu Bagus Burham sangat malas. Ditambah lagi lebih sukamenjalankan maksiat dari pada mengaji. Berjudi adalah merupakanpekerjaannya setiap hari. Juga pekerjaan maksiat yang lainnya. Adu ayamtermasuk kesukaan yang tidak perbah diluangkan. Dari pada mengajihari-harinya dihabiskan dimeja-meja judi dari satu desa ke desa lainnya.Sehingga terkenallah Bagus Burham bukan sebagai santri yang soleh tetapisebagai penjudi ulung dikalangan orang-orang di daerah Ponorogo. Dasarseorang anak Tumenggung, uang banyak dan biasanya dimanja oleh orang tuaatau kakeknya. Karena kegemarannya bermain judi, adu ayam danperbuatan-perbuatan maksiat yang lain Bagus Burham banyak berkenalandengan warok-warok Ponorogo yang satu kegemaran.Perbuatan putra Tumenggung ini sangat merepotkan hari Kyai Imam Besari.Diharapkan seorang putra priyayi keraton ini akan memberi suri teladanbagi murid-murid (santri-santri) yang lein tetapi ternyatasebaliknya.Seringkali Bagus Burham mendapat teguran dan marah dari KyaiBesari. Namun hal itu tidak merubah sifatnya. Dia tetap penjudi, tetappenyabung ayam, tetap gemar pada tindakan-tindakan yang menjurus kemaksiat. Karena merasa bosan setiap hari mendapat dampratan dari gurunyamaka Bagus Burham perni meninggalkan pondok Tegalsari diikuti oleh KiTanujoyo.(Versi lain mengatakan bahwa kepergian Bagus Burham karena KyaiImam Besarimerasa jengkel akan ulah Bagus Burham. Kemudian pimpinan pondok Tegalsariitu memanggil abdi kinasih Ki Tanujoyo dan menseyogyakan Bagus Burhamtidak usah belajar mengaji di pondok Tegalsari).Meninggalkan pondok Tegalsari Bagus Burham tidak mau pulang ke Solo.Dengan diiring oleh oleh abdinya yang bernama Ki Tanujoyo. Bagus Burhambertualang sampai di Madiun. Ditempat itu uang sakunya habis. Ki Tanujoyokemudian berdagang barang loakan. Sedangkan Bagus Burham tetap padakegemarannya semula. Betapa bingungnya Raden Tumenggung Sastronegorotatkala mendapat laporan Kyai Imam Besari bahwa puteranya pergi dariTegalsari. Kemudian dipanggillah di Josono agar mencari Bagus Burhamsampai ketemu. Bila ketemu agar diajal kembali ke Tegalsari. Kyai ImamBesari kembali dari Keraton Solo mendapat laporan dari penduduk Tegalsaribahwa sekarang daerah Tegalsari tidak aman. Banyak pencuri serta tanamandiserang hama. Kyai Imam Besari memohon petunjuak dari Tuhan. Mendapatkanilham bahwa keadaan daerahnya akan kembali aman damai apabila Bagus Burhamkembali ke Tegalsari lagi. Oleh karena itu Kyai Imam Besari segeramengutus ki Kromoleyo agar supaya berangkat mencari kemana geranganperginya Bagus Burham. Bagi Ki Kromoleyo bukan pekerjaan yang sulitmencari Bagus Burham. Sebab dia tahu kehidupun macam apa yang digemariBagus Burham. Tempat judi, tempat adu ayam. Itulah sasaran Ki Kromoleyo.Pada penjudi dan pengadu ayam ditanyakan apakah kenal dengan pemuda yangbernama Bagus Burham. Orangnya tampan. Jejak Bagus Burham akhirnya terbaujuga. Ki Kromoleyo dapat menemukan Bagus Burham dan mengajak kembali keTegalsari. Namun Bagus Burham tidak mau. Karena bujukan Ki Josono utusanorang tuanya yang kebetulan juga sudah menemukan tempat Bagus Burham makakembalilah Bagus Burham ke Tegalsari.Kyai Imam Besari menghadapi Bagus Burham dengan cari lain. Sebab ternyatasekembalinya dari petualangannya Bagus Burham bukan semakin rajin mengajitetapi semakin boglok dan bodoh. Tampaknya. Menghadapi murid yang demikianKyai yang sudah berpengalaman itu lalu mengambil jalan lain. Bagus Burhamtidak langsung tidak langsung diajar mengaji seperti santri-santri yanglain. Dia bukan keturunang orang biasa tetapi masuk memiliki darahsatriya. Maka tidak mengherankan kalau dia juga memiliki/mewarisisifat-sifat leluhurnya. Gemar sekali kepada hal-hal yang memperlihatkankejantanan seperti adu ayam dan lain sebagainya.Menurut serat “CANDRA KANTHA” buatan Raden Ngabehi Tjondropradoto antaralain menyebutkan bahwa : Raden Patah berputera R. Tejo ( PangeranPamekas). Pangeran Pamekas berputra Panembahan Tejowulan di Jogorogo.Panembahan Tejowulan berputra Tumenggung Sujonoputro seorang pujanggakeraton Pajang. Kemudian Raden Tumenggung Sujonoputro berputra TumenggungTirtowiguno. Sedangkan Tumenggung Tirtowiguno ini mempunyai putra R. Ng.Yosodipuro I pujangga keraton Surakarta. Kemudian sang pujangga berputraR. Ng. Yosodipuro II (Raden Tumenggung Sastronegoro) ayah dari BagusBurham. (Dari sumber lain menyebutkan bahwa R. Tumenggung Sastronegorobukan ayah Bagus Burham tetapi kakeknya. Ayahnya bernama Mas NgebehiRonggowarsito Panewu Carik Kadipaten Anom). Dari silsilah tersebutdiketahui bahwa Bagus Burham masih ada keturunan darah raja. Darahbangsawan yang biasanya sangat suka adu jago tetapi gemar melakukan tapabrata. Kesinilah Imam Kyai Besari mengarahkan. Disamping diberi pelajaranmengaji seperti murid yang lain maka Bagus Burham juga disuruh melakukan“tapa kungkum”. Dari sini terbukalah hati Bagus Burham. Dikeheninganmalam, dengen gemriciknya suara air, diatasnya bintang-bintangberkelap-kelip seolah-oleh menyadarkan Bagus Burham yang usianya jugasudah semakin dewasa itu.Setelah menjalani tapa kungkum selama 40 hari lamanya maka Bagus Burhamtumbuh menjadi anak yang pandai. Kyai Imam Besari tersenyum lega melihatperkembangan anak asuhnya yang paling bengal itu. Terapinya kena sekali.Padahal terapi itu hanya berdasarkan dongenn yang pernah didengarnya.Bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang bengal, nakal, penjudi, pemalas,perampok yang bernama Ken Arok. Namun karena ketekunan seorang pendidikyang bernama Loh Gawe maka akhirnya Ken Arok enjadi raja di Singosari.Menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Dari Mojopahit sampai keSurakarta semua menurut silsilah masih keturunan langsung dari Ken Arok.Dan R. Patah pun keturunan Ken Arok. Jadi Bagus Burham juga keturunan KenArok. Siapa tahu kenakalannya juga turunan yang dikelak kemudian hari akanmenjadi orang yang luar biasa. Bagus Burham menjadi murid yang terpandai.Selama 4 tahun dipondok Tegalsari ilmu gurunya sudah terkuran habis. Tidakada sisanya lagi. Kyai Imam Besari memuji keluhuran Tuhannya. Diamelimpahkan habis ilmunya kepada muridnya. Setelah dirasa cukup maka BagusBurham kembali ke Surakarta. Oleh tuanya Bagus Burham disuruh langsung keDemak untuk belajar mengenal sastra Arab dan kebatinan jawa pada PangeranKadilangu.Apakah ayahnya punya maksud agar kelak anaknya dapat menandingi kepandaianrajanya ?Bagus Burham seorang kutu buku yang luar biasa. Dengan bekal kepandaianyang dimiliki dari beberapa guru-gurunya, Bagus Burham kemudian menekunisoal kesusastraan Jawa serta peninggalan-peninggalan nenek moyang.Buku-buku berbahasa kawi kuna ditelaah dan dipelajarai sebaik-baiknya.Jiwa petualang masih juga membara dalam kalbunya. Dia seringkalimengadakan perjalanan dari satu daerah kedaerah yang lain. Bagus Burhammeninjau tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang mengandungnilai-nilai historis, tempat-tempat yang keramat, ke candi-candi dantempat-tempat penting lainnya. Disembarang tempat dipelbagai daerah kalaudianggap ada orang yang memiliki kepandaian lebih maka tidak malu-maluBagus Burham berguru para orang tersebut. Tidak peduli dia hanyalahseorang juru kunci atau orang biasa. Pada usia 18 tahun sebagaimanakebiasaan anak priyayi waktu itu ingin mengabdikan dirinya kepada keraton.Caranya haruslah dengan magang (pegawai percobaan) pada Kadipaten Anom.Jiwa senimannya atau darah kepujanggaannya terasa mengalir derasditubuhnya. TIdak merasa puas dengan pekerjaan magang tersebut. Maka BagusBurham mohon pamit sebab dirasa tidak ada kemajuan. Dia ingin mengembaraingin bertualan menuruti gejolak darah senimannya. Hampir seluruh pelosokpulau Jawa telah dijelajahi oleh Bagus Burham. Bahkan juga luar jawasepeti Bali, Lombok, Ujung Pandang, Banjarmasin bahkan ada sumber yangmengatakan pengembaraan Bagus Burham sampai di India dan Srilanka. Melihatperjalanan hidupnya seperti tersebut diatas pantaslah kalau Bagus Burhammenjadi manusia yang kritis menghadapi suatu persoalan. (Ungkapanperasaannya tampak ada karyanya ” Serat Kala Tida “.Pulang dari pengembarannya Bagus Burham kawin. Karena sang mertua diangkatmenjadi Bupati di Kediri maka Bagus Burhampun mengikuti ke Kediri.Ditempat tersebut yang terkenal sebagai tempat bersejarah banyakpeninggalan-peninggalan dari jaman terdahulu. Di Kediri pernah berdirikerajaan besar dimana salah satu rajanya adalah Sang Prabu Joyoboyo. Waktusang prabu berkuasa agaknya keadaan negara sangat tenteram dan damaiterbukti lahirnya beberapa karya sastra besar. Sang Prabu memerintahkankepada Empu Sedah dan Empu Panuluh agar menceritakan kembali atau menyusunceritera BARATAYUDAHA dalam bahasa yang lebih muda diambil dari buku MahaBarata asli dari India. Demikian indahnya gubahan tersebut sehingga banyakyang mengira bahwa kejadian itu terjadi di tanah Jawa. Sebelum rajaJoyoboyo, di Kediri juga lahir hasil sastra yang tinggi mutunya. SmaraDahana kitab karya Empu Darmaja, juga buku Sumana Sentaka karya Trigunamerupakan hasil sastra yang sulit dicari bandingannya. Di daerah yangseperti itu tentu saja banyak peninggalan-peninggalan berupanrontal-rontal yang dimiliki penduduk warisan dari nenek moyang. Dengantekun Bagus Burham di Kediri waktunya dihabiskan untuk mempelajarirontal-rontal yang dapat dikumpulkan dari perbagai daerah. Darirontal-rontal, pengalaman/pengetahuan selama mengembara dan berguru itulahdia dapat menimba pelbagai ilmu.Baru setelah Bagus Burham berumur 38 tahun mulai produktif dengan karyasastranya. Dan pada tahun 1844 pihak keraton mengangkat menjadi KliwonCarik dan disyahkan menjadi Pujangga Keraton. Namanya Raden NgabehiRonggowarsito dan semakin tenar. Kariernya tidak licin sebab agaknya jugadipengaruhi bahwa orang tuanya (Raden Tumenggung Sastronegoro) dianggapbersalah kepada kompeni Belanda sebab pernah merencanakan akan menggempurbenteng Kompeni diwaku jaman pemberontakan Diponegoro (1825-1830&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-8183194423801329650?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/8183194423801329650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=8183194423801329650' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/8183194423801329650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/8183194423801329650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/ki-ronggowarsito.html' title='KI. Ronggowarsito'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-5472179923690471198</id><published>2008-07-26T23:30:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T23:32:07.896-07:00</updated><title type='text'>Syekh Akbar Abdul Fatah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;"&gt;Belia adalah salah seorang wali besar di Tanah Jawa. Sejak muda ia sudah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya yang sangat tajam setiap kali mengkaji ilmu-ilmu agama dengan pendekatan tasawuf.Di Desa Cidahu, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1884, lahirlah seorang jabang bayi yang kelak menjadi ulama besar. Orangtuanya memberinya nama Abdul Fatah. Sejak muda ia sudah tertarik pada kehidupan rohaniah dengan menimba ilmu tarekat pada K.H. Sudja’i, guru mursyid Tarekat Tijaniyah, selama tujuh tahun sejak 1903.Selama menjadi santri, Abdul Fatah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya terhadap berbagai ilmu agama yang sangat tajam. Terutama ketika ia menganalisis dengan menggunakan ilmu nahu dan saraf dengan pendekatan tasawuf. Ia suka belajar dengan membaca berbagai kitab, sehingga beberapa pelajaran yang belum sempat disampaikan oleh gurunya sudah ia kuasai.Suatu hari, ia membaca ayat 17 surah Al-Kahfi, “Barang siapa diberi hidayah oleh Allah, dia termasuk orang yang diberi petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, dia sekali-sekali tidak akan mendapatkan seorang wali yang mursyid.” Ia lalu bertanya kepada Kiai Sudja’i, “Siapakah wali mursyid yang dimaksud dalam ayat ini?” Kiai Sudja’i menjelaskan perihal wali mursyid sebagai guru tarekat, sementara mencari wali mursyid merupakan keharusan. Tapi, karena Kiai Sudja’i mengaku bukan wali mursyid, Abdul Fatah disarankan untuk mencari wali mursyidnya.Maka berangkatlah Abdul Fatah mencari wali mursyid dengan mengunjungi para ulama di Jawa dan Sumatra. Karena belum menemukan, ia lalu mencarinya ke Timur Tengah, khususnya Mekah. Maka pada 1922 ia pun berangkatlah, dengan membawa seluruh anggota keluarganya. Sampai di Singapura, kapal yang mereka tumpangi rusak. Terpaksalah ia bermukim di Negeri Singa itu. Ia tinggal di Kampung Watu Lima, kemudian di Kampung Gelang Serai, selama lima tahun. Di sanalah ia, suatu hari, bertemu Syekh Abdul Alim Ash-Shiddiqy dan Syekh Abdullah Dagistani, yang mengajarkan Tarekat Sanusiyah.Pada 1928, setelah memulangkan keluarganya ke Tasikmalaya, ia berangkat ke Mekah bersama beberapa jemaah haji Indonesia, seperti K.H. Toha dari Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, dan K.H. Sanusi dari Pesantren Syamsul Ulum, Gunungpuyuh, Sukabumi (lihat Alkisah edisi 17/III/2005, Khazanah). Selama di Mekah, Abdul Fatah bergabung dengan Zawiyah Sanusiyyah di Jabal Qubais, mengaji kepada Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi selama lima tahun.Karena sangat alim, belakangan Abdul Fatah mendapat kepercayaan membaiat atau menalkin murid tarekat yang baru masuk. Selama belajar tarekat kepada Syekh Ahmad Syarif, ia sempat mengalami berbagai ujian. Suatu hari, ketika tengah mengajar, Syekh Ahmad Syarif mengamuk dalam majelisnya. Apa saja yang ada di dekatnya dilempar ke arah murid-muridnya. Semua muridnya lari berhamburan karena takut. Namun, ada seorang murid yang bergeming, tetap diam di tempat. Dialah Abdul Fatah.Kursi IstimewaSebagai guru mursyid tarekat, Syekh Ahmad Syarif biasa duduk di kursi istimewa, dan tak seorang pun berani mendudukinya. Mengapa? Sebab, siapa yang berani mendudukinya, badannya akan hangus. Suatu hari Syekh Ahmad memerintahkan Abdul Fatah untuk menggantikannya mengajar. Maka dengan tenang Abdul Fatah duduk di kursi istimewa itu, tanpa ada kejadian apa pun yang mencelakakannya.Akhirnya, pada suatu hari, Syekh Ahmad Syarif memanggilnya. Ia menceritakan, semalam Rasulullah SAW memerintahkan untuk melimpahkan kekhalifahan Tarekat Sanusiyah kepada Abdul Fatah Al-Jawi untuk dikembangkan di negerinya. Sejak itu Abdul Fatah mendapat gelar Syekh Akbar Abdul Fatah. Setelah itu, lebih kurang dua tahun kemudian, Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi pun wafat.Pada 1930, Syekh Akbar Abdul Fatah pulang kampung dengan membawa ajaran Tarekat Sanusiyah, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Tarekat Idrisiyah karena tiga alasan. Pertama, untuk berlindung dari tekanan politik kaum kolonialis Belanda. Kedua, kandungan ajaran kedua aliran itu sama, karena Idrisiyah juga merupakan anak Tarekat Sanusiyah, yang sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad bin Idris. Ketiga, untuk mendapatkan berkah Syekh Ahmad bin Idris atas keistimewaan lafaz zikirnya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Nabi Khidlir, yaitu Fi kulli lamhatin wa nafasin ‘adada ma wasi’ahu ‘ilmullah (.................)Di Cidahu, Syekh Akbar Abdul Fatah menghadapi berbagai tantangan, baik dari penjajah Belanda maupun para jawara. Namun semua itu ia hadapi tanpa takut sedikit pun. Tiga tahun kemudian ia mulai mendirikan beberapa zawiah di beberapa tempat, terutama di Jawa Barat, masing-masing dilengkapi dengan sebuah masjid, Al-Fatah. Pada 1930, ia sempat berdakwah sampai ke Batavia, singgah di Masjid Kebon Jeruk, kini di kawasan Jakarta Kota. Ia juga sempat mengembangkan tarekat di Masjid Al-Makmur, Tanah Abang, Jakarta Pusat.Suatu hari ia mengembangkan tarekat di Masjid Al-Falah di Batutulis, kini di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Di sana ia juga harus menaklukkan para jawara. Dan sejak itu syiar dakwah Islam terus berkembang. Banyak muridnya yang kemudian mewakafkan tanah untuk digunakan sebagai zawiah. Ia juga membangun sebuah asrama untuk tempat tinggal para santri dari jauh. Di tengah kesibukannya mengajar di Batavia, dua minggu sekali ia menyempatkan diri mengajar di kampung halamannya.Pada 1940, karena pesantrennya di Cidahu sudah tidak bisa menampung jemaah, ia lalu memindahkannya ke Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya.Sebagai wali, Syekh Akbar Abdul Fatah memiliki banyak karamah. Suatu hari, dalam perang kemerdekaan, pasukan Hizbullah, yang terdiri dari para santri pimpinan Syekh Akbar Abdul Fatah, dibombardir oleh pesawat Belanda. Namun, bom-bom itu tidak meledak. Apa pasal? Karena Syekh Akbar Abdul Fatah telah membekali para santrinya dengan air yang telah didoainya. “Air doa” sang wali inilah yang, atas izin Allah SWT, menangkal bom-bom penjajah kafir tersebut.Perampok ArabSuatu hari seorang nelayan terdampar sampai ke pantai Australia. Ia kemudian berdoa, “Ya Allah, mengapa Engkau asingkan aku yang lemah ini di sini? Padahal, aku hanya bermaksud mencari nafkah buat anak-istriku. Ya Allah, datangkanlah penolong.” Ketika itulah ia melihat seorang ulama bertubuh tinggi besar berpakaian serba putih. Tiba-tiba ia memindahkan perahu nelayan itu ke tempat asalnya. Setelah selamat, nelayan itu menawarkan ikan besar yang baru saja ditangkapnya kepada ulama penolongnya itu.Dengan tersenyum, ulama tersebut berkata, “Aku tidak membutuhkan ikan itu. Jika engkau ingin menjumpaiku dan menjadi muridku, datanglah ke Pagendingan, Tasikmalaya.” Setelah itu ulama tinggi bear itu pun lenyap dari pandangan mata. Selang beberapa minggu kemudian, nelayan itu datang ke Pesantren Pagendingan. Di sana ia bertemu seorang ulama yang fisik dan gerak-geriknya persis seperti yang ia lihat di pantai Australia. Ia tiada lain adalah Syekh Akbar Abdul Fatah.Karamah yang lain terjadi ketika Syekh Akbar Abdul Fatah berada di Mekah. Suatu hari ia ingin berziarah ke makam Rasulullah SAW di Medinah. Membawa bekal secukupnya, bersama beberapa kiai dari Jawa, ia berjalan kaki menuju Medinah. Di tengah perjalanan, rombongan itu diadang perampok bersenjata lengkap. Rombongan peziarah itu terkepung oleh perampok yang mengendarai kuda dengan menghunus pedang. Syekh Akbar lalu memerintahkan rombongannya melepaskan apa saja yang ada di tangannya ke kanan dan kiri, sebagai kepasrahan seorang hamba yang lemah tak berdaya.Sambil melepaskan apa yang dimiliki, Syekh Akbar berteriak dengan suara lantang, ”Ash-shalatu was salamu ‘alaika ya Rasulallah! Qad Dhaqat hilati, adrikni ya Rasulallah!” (Selawat dan salam serajahtera atas Tuan, wahai Rasulullah! Mohon lenyapkan rintangan jalan kami menuju engkau, wahai Rasulullah!). Ajaib! Kontan para perampok itu berteriak-teriak kesakitan sambil memegang leher mereka, “Ampun ya Syekh Jawa, ampun ya Syekh Jawa! Panas, panas!”Pemimpin perampok itu lalu minta maaf, mohon dibebaskan dari siksaan. Maka Syekh Akbar pun mendekati dan menepuk pundak para perampok itu satu per satu. Barulah rasa sakit karena panas tak terkirakan di tenggorokan itu reda. Seketika itu pemimpin perampok menyatakan bertobat, dan bersedia mengantarkan rombongan ke mana saja. “Kalian adalah bangsa Arab yang berdekatan dengan kampung Rasulullah SAW, sedangkan kami datang dari negeri yang sangat jauh – tapi demi berziarah kepada Rasulullah SAW. Tidakkah kalian malu melakukan hal yang tidak terpuji ini? Sudah sepantasnya kalian lebih berbangga daripada kami, karena negeri kalian dikunjungi banyak orang dari seluruh pelosok negeri.”Syekh Akbar Abdul Fatah wafat pada 1947 dalam usia 63 tahun, dimakamkan dalam kompleks Pesantren Al-Fathiyah al-Idrisiyah, Jalan Raya Ciawi Km 8, Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak itu pemimpin Tarekat Idrisiyah diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Dahlan. Pada 11 September 2001 Syekh Dahlan wafat, dan tongkat kepemimpinan tarekat diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan.ASTCaption Foto:Syekh Abdul Fatah. Berjalan kaki ke MedinahMakam Syekh Abdul Fatah. Selalu ramai diziarahiMasjid Al-Fatah di Jalan Batu Tulis, Jakarta Pusat. Markas Tarekat IdrisiyahPesantren Al-Fathiyah al-Idrisiyah, Tasikmalaya. Meneruskan tradisi salaf“Sehubungan dengan masalah ilmu, ada empat macam manusia yang memperoleh pahala: orang yang bertanya, orang yang mengajarkan, orang yang mendengarkan, dan orang yang mencintai ketiga-tiganya.” (HR Abu Nu’aim dari Sayidina Ali)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;font-size:130%;"&gt;jalantrabas&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-5472179923690471198?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/5472179923690471198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=5472179923690471198' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5472179923690471198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5472179923690471198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/syekh-akbar-abdul-fatah.html' title='Syekh Akbar Abdul Fatah'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-5952795356017232101</id><published>2008-07-26T23:27:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T23:29:03.789-07:00</updated><title type='text'>syekh Ibnu Atho’illah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’ al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: "Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ SholihinOleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.&lt;br /&gt;Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: "Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku", dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: "Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: " Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka". Dengan bijak Nabi mengatakan : " Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka". Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”. Pada akhirnya Ibn Atho' memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa:&lt;br /&gt;Masa pertama&lt;br /&gt;Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: "Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau". Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.&lt;br /&gt;Masa kedua&lt;br /&gt;Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama' tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.&lt;br /&gt;Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho' mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : "apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.&lt;br /&gt;Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara'. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku".&lt;br /&gt;Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : "Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : "Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : "Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?". Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : "Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga".&lt;br /&gt;Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka". Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah".&lt;br /&gt;Masa ketiga&lt;br /&gt;Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho' dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya. Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: "Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan". Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : "Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah". Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_HtITFCpxdt0/R7zKJ85Ce6I/AAAAAAAAAj8/ayAxM6055m4/s1600-h/al-hikam+al-ata"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Karya&lt;br /&gt;Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho' meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.&lt;br /&gt;Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Kitab ini dikenali juga dengan nama al-Hikam al-ata'iyyah untuk membezakannya daripada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam.&lt;br /&gt;Karomah Ibn Athoillah&lt;br /&gt;Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: "Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia...". Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: "Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka". Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab "Tidak". Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : "Siapa saja yang kamu temui ?" lalu si murid menjawab : "Tuanku… saya melihat tuanku di sana ". Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : "Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.&lt;br /&gt;Wafat&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_HtITFCpxdt0/R7zIlc5Ce5I/AAAAAAAAAj0/KyBGajtNXYs/s1600-h/maqam+ibnu+atha"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-5952795356017232101?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/5952795356017232101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=5952795356017232101' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5952795356017232101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5952795356017232101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/syekh-ibnu-athoillah.html' title='syekh Ibnu Atho’illah'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-4325711139193170684</id><published>2008-07-26T22:07:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T23:05:22.139-07:00</updated><title type='text'>Syekh Abdul Hamid Kudus</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Dengan rasa rendah hati artikel ini memberi sedikit informasi dan jawapan beberapa persoalan yang masih belum&lt;br /&gt;diketahui umum tentang ulama besar yang berasal dari Kudus ini. Sebagai contoh dalam buku berjudul Intelektual Pesantren oleh Dr. Abdurrahman Masud, terbitan LKIS Yogyakarta, cetakan pertama 2004, hlm. 107, tertulis, ``Adalah benar bahwa jumlah penulis di lingkungan pesantren dapat dihitung dengan jari, seperti Nawawi sendiri dan pendahulu-pendahulunya, Arsyad al-Banjari, Abd al-Hamid bin Muhammad Ali Kudus (penulis Latif al-Isyarat).'' Pada nota kaki mengenai ini tertulis pula, ``Sejauh ini tidak terdapat sumber untuk mengungkap secara pasti tanggal daripada biografi Abd al-Hamid bin Muhammad Ali Kudus.'' Sebenarnya ulama besar yang asal-usulnya dari Kudus, Jawa Tengah, kelahiran Mekah yang diriwayatkan ini sekurang-kurangnya ada tiga sumber karangan orang Arab dalam bahasa Arab dan dapat dibandingkan 22 buah karangan beliau sendiri. Sebenarnya Syeikh Nawawi al-Bantani (lahir 1230 H/1814 M), adalah guru dan jauh lebih tua daripada Syeikh Abdul Hamid Kudus. Syeikh Abdul Hamid Kudus lahir di Mekah, dalam Mukhtashar Nasyrun Naur waz Zahar dinyatakan lahir 1277 H/1860 M, dan dalam Siyar wa Tarajim dinyatakan lahir 1280 H/1863 M. Beliau juga wafat di Mekah tahun 1334 H/1915 M. Nama lengkap ialah Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Qudus / Kudus bin Abdul Qadir al-Khathib bin Abdullah bin Mujir Qudus / Kudus. Syeikh Abdul Hamid Kudus mendapat pendidikan asas pertama sekali dari lingkungan keluarganya yang ramai menjadi ulama. Sejak kecil menghafaz al-Quran dan terlatih dengan banyak matan pelbagai bidang ilmu. Matan-matan yang dihafalnya sejak kecil ialah Matn al-Ajrumiyah, Matn al-Alfiyah, Matn ar-Rahbiyah, semuanya dalam bidang ilmu nahu. Matn as-Sanusiyah tentang ilmu akidah. Matn as-Sullam dan Matn az-Zubad, kedua-duanya meliputi akidah, fikah dan tasawuf. Para ulama besar yang terkenal dan menjadi guru beliau ialah Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Sayid ``Utsman Syatha dan saudaranya Sayid Abu Bakri Syatha. Dalam bidang khusus mengenai ushul fiqh, hadis, tafsir dan tasawuf Syeikh Abdul Hamid Kudus memperdalamkannya kepada Sayid Husein al-Habsyi. Syeikh Abdul Hamid Kudus pula adalah orang kepercayaan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dalam bidang keilmuan setelah Syeikh Ahmad al-Fathani. Hubungan antara Syeikh Abdul Hamid Kudus dengan Syeikh Ahmad al-Fathani sangat rapat. Syeikh Abdul Hamid Kudus selain dilantik sebagai salah seorang pentashih kitab beliau seringkali diutus oleh Syeikh Ahmad al-Fathani ke Mesir dalam urusan cetak mencetak kitab, terutama hubungan dengan Syeikh Mushthafa al-Halaby, pemilik syarikat cetak kitab yang terbesar di Mesir pada zaman itu. Daripada ulama-ulama tersebut, Syeikh Abdul Hamid Kudus memperoleh ijazah khusus dan umum, dan mereka pula memberikan keizinan kepada beliau mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya. Manakala Syeikh Ahmad al-Fathani merintis jalan mulai belajar di Masjid Jamik Al-Azhar (tahun 1290 H/1872 M) Syeikh Abdul Hamid Kudus mengikuti langkah Rais thala'ah (Ketua tela'ah atau tutor)nya itu belajar di tempat yang sama (1300 H/1882 M). Syeikh Abdul Hamid Kudus merupakan generasi kedua mahasiswa dunia Melayu yang belajar di al-Azhar sesudah Syeikh Ahmad al-Fathani, sejak itu beliau sentiasa pulang pergi antara Mekah dan Mesir dalam urusan tertentu yang ada kaitannya dengan kerja-kerja Syeikh Ahmad al-Fathani. Sebenarnya Syeikh Abdul Hamid Kudus telah mengarang pelbagai judul dalam banyak disiplin ilmu, semuanya dalam bahasa Arab. Walau bagaimana pun pada judul artikel ini saya sebut bahawa beliau adalah ``pakar ilmu arudh dan qawafi''. Kedua-duanya termasuk dalam bidang ilmu kesusasteraan Arab. Dengan ilmu ini dapat diketahui bagaimana timbangan-timbangan syair dan nazam dalam bahasa Arab. Setakat ini informasi yang ada hanya dua orang ulama yang berasal dari dunia Melayu yang menulis dalam kedua-dua ilmu tersebut. Seorang lagi ialah Syeikh Ahmad al-Fathani `Rais Thala'ah' bagi Syeikh Abdul Hamid Kudus. Karangan Syeikh Abdul Hamid Kudus yang ada pada saya adalah sebagai berikut: 1. Irsyadul Muhtadi ila Syarh Kifayatil Mubtadi, diselesaikan sesudah Zuhur, hari Khamis, 3 Muharam 1306 H. Kandungannya membicarakan akidah dan ia merupakan syarah daripada karya ayahnya, Syeikh Muhammad Ali Kudus. Dicetak oleh Mathba'ah al-Maimuniyah, Mesir, Ramadan 1309 H. Di bahagian tepinya dicetak matan karya ayahnya, Syeikh Muhammad Ali Kudus tersebut. Ditashih oleh Muhammad az-Zahari al-Ghamrawi. 2. Al-Anwarus Saniyah `alad Duraril Bahiyah, diselesaikan pertengahan Rabiulakhir 1311 H. Kandungannya membicarakan akidah, fikah dan tasawuf. Merupakan syarah daripada karya gurunya Sayid Abi Bakar Syatha. Cetakan pertama, Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah Mekah, 1313 H. 3. Fat-hul Jalilil Kafi bi Mutammimati Matnil Kafi fi `Ilmayil `Arudh wal Qawafi, diselesaikan pada hari Isnin, 19 Rabiulawal 1313 H. Kandungannya membicarakan ilmu arudh dan qawafi atau kesusasteraan Arab. Dicetak oleh Mathba'ah al-Husainiyah al-Mashriyah, milik Muhammad Abdul Lathif Khathib, 1325 H. Kata pujian oleh Sayid Ahmad Bik al-Huseini, Muhammad Musa al-Bujiraimi as-Syafi'ie di al-Azhar, Muhammad al-Halaby as-Syafi'ie di al-Azhar dan Ahmad ad-Dalbasyani al-Hanafi di al-Azhar. Ditashih oleh Muhammad az-Zahari al-Ghamrawi. 4. Al-Futuhatul Qudsiyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah, diselesaikan pada Zuhur, akhir Muharam 1322 H. Kandungan pada muqaddimahnya pengarang menyebut bahawa beliau adalah penganut Mazhab Syafie dalam fikah, Mazhab Abu Hasan al-Asy'ari dalam akidah, dan penganut Thariqat Khalwatiyah. Sebab-sebab beliau menulis kitab ini adalah atas permintaan Qadhi Muslimin Negeri Surakarta ibu kota Jawa, beliau ialah Al-'Allamah al-Hamam asy Syeikh Raden Tabshirul Anam, supaya menulis syarah matan Al-Qashidatur Rajziyah yang bernama Jaliyatul Kurbi wa Manilatu `Arabi. Pada awal perbicaraan pengarang menyebut tentang sanad-sanad thariqat, di antaranya beliau juga mempunyai hubungan dengan Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani. Dicetak oleh Mathba'ah al-Hamidiyah al-Mashriyah, 1323 H. Taqriz dinyatakan ramai ulama tetapi yang dapat disebut pada akhir karangan hanya dua orang ulama saja ialah Syeikh Jami' Al-Azhar, bernama Syeikh Abdur Rahman asy-Syarbaini asy-Syafi'ie dan Syeikh Muhammad Thumum al-Maliki Al-Azhari. Kitab ini dimiliki pertama oleh Muhammad Thaiyib bin Sulaiman ahli Pekalongan pada 7 Rejab 1323 H. Sesudah itu dimiliki oleh Tuan Guru Haji Abu Bakar bin Haji Hasan, Qadhi Muar, Johor dan pada hari Isnin, 13 Rabiulakhir 1420 H/26 Julai 1999 M diserahkan kepada saya oleh Haji Muhammad bin Haji Abu Bakar bin Haji Hasan, Qadhi Muar, Johor. 5. Lathaiful Isyarat ila Syarhi Tashilit Thuruqat li Nazhamil Waraqat fil Ushulil Fiqhiyah, diselesaikan pada hari Isnin, 12 Rabiulawal 1326 H. Kandungannya membicarakan ilmu ushul fiqh. Terdapat berbagai-bagai edisi cetakan, di antaranya Mathba'ah Dar at-Thiba'ah al-Mashriyah, 54-60 Baserah Street Singapura (tanpa tahun). 6. Kanzun Najahi was Surur fil Ad'iyatil lati ila Tasyarruhis Shudur, diselesaikan pada hari Jumaat, bulan Safar 1328 H. Kandungannya membicarakan berbagai-bagai amalan wirid, doa, zikir dan lain-lain. Cetakan pertama oleh Mathba'ah At-Taraqqil Majidiyah al-'Utsmaniyah, Mekah, 1330 H. Kata pujian oleh Syeikh Muhammad Sa'id bin Muhammad Ba Bashail, Mekah, Sayid Husein bin Muhammad bin Husein al-Habsyi, Sayid Umar bin Muhammad Syatha, Sayid Muhammad ibnu Sayid Muhammad ibnu al-Faqih Sayid Idris al-Qadiri al-Maghribi al-Hasani, Syeikh Muhammad bin Syamsuddin, Syeikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, dan Syeikh Umar Hamdan. Karangan Syeikh Abdul Hamid Kudus yang belum saya miliki ialah: 7. Risalah fi al-Basmalah min Nahiyah al-Balaghah. 8. Manzhumah fi al-Adab wa al-Akhlaq li al-Islamiyah. 9. Thali'us Sa'di ar-Rafi' fi Syarh Ilm al-Badi', kitab ini membicarakan ilmu badi'. 10. Fiqh Rubu' `Ibadat. 11. Nubzah fi at-Tashauwuf. 12. Ad-Durrah ats-Tsaminah fi al-Mawadhi' allati tusannu fiha ash-Shalah `ala Shahib as-Sakinah. 13. Tasythir al-Mudharriyah fi ash-Shalah `ala Khairil Bariyah. 14. Majmu' Bulugh al-Maram fi Maulid an-Nabiyi Shallalahu `alaihi wa Sallam. 15. Raja' Nail al-As'ad wa al-Qabul fi Madah Saiyidatina az-Zahra' al-Batul. 16. Bulughus Sa'di wa al-Amniyah fi Madah Umm al-Mu'minin al-Mabra-ah ash-Shiddiqiyah. 17. al-Jawahir al-Wadhiyah fi al-Adab wa al-Akhlaq al-Mardhiyah. 18. az-Zakhair al-Qudsiyah fi Ziyarah Khairil Bariyah. 19. At-Tuhfah al-Mardhiyah fi Tafsir al-Quran al-'Azhim bi al-'Ajamiyah. 20. Dhiyausy Syamsi ah-Dhahiyah. 21. Maulidun Nabiyi Shallalahu `alaihi wa Sallam. 22. Kanzul `Atha fi Tarjamah al-'Allamah as-Saiyid Bakri Syatha. Syeikh Abdul Hamid Kudus adalah seorang ulama yang sangat bertuah kerana melahirkan seorang anak yang menjadi ulama besar yang warak, yang meneruskan perjuangannya, iaitu Syeikh Ali bin Syeikh Abdul Hamid Kudus as-Samarani. Beliau dilahirkan tahun 1310 H/1892 M dan wafat pada hari Isnin, 14 Syawal 1363 H/1 Oktober 1944 M. Syeikh Ali anak Syeikh Abdul Hamid Kudus mendapat pendidikan langsung daripada ayahnya. Selanjutnya juga belajar kepada Syeikh Muhammad Mahfuz Termas, Syeikh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughri (Bogor), kedua-duanya adalah ulama yang berasal dari dunia Melayu yang pengetahuannya setaraf dengan ulama-ulama bangsa Arab yang berada di Mekah pada zaman itu. Syeikh Ali Kudus selain mempusakai martabat ulama seperti ayahnya, Syeikh Abdul Hamid Kudus sekali gus beliau juga menghasilkan karangan, di antaranya ialah ar-Raddu `ala ar-Rawafidh. Kandungannya merupakan penolakan pegangan golongan Rafidhiyah, iaitu salah satu firqah golongan Syiah yang dianggap menyeleweng daripada ajaran Islam. Selain itu beliau juga menulis banyak artikel yang dimuat dalam majalah. Dalam tahun 1343 H/1925 M Syeikh Ali Kudus bersama keluarganya pindah dari Mekah ke Jawa Timur mendirikan sebuah madrasah di sana. Selanjutnya pindah pula ke Sulawesi, di sana juga menyebarkan ilmu-ilmu demi memartabat agama Islam yang dianutnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="comments"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Oleh: WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH&lt;br /&gt;jalantrabas&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-4325711139193170684?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/4325711139193170684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=4325711139193170684' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/4325711139193170684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/4325711139193170684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/syekh-abdul-hamid-kudus.html' title='Syekh Abdul Hamid Kudus'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-1158388123572106351</id><published>2008-07-26T22:02:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T22:05:00.420-07:00</updated><title type='text'>Imam Muhammad Dahlan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;SEWAKTU Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani sebagai Syeikhul Islam Selangor, pada zaman pemerintahan Sultan Sulaiman, terdapat ramai ulama yang datang dari pelbagai pelosok dunia Melayu di kerajaan Selangor. Di antara mereka ada yang sengaja diajak oleh Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani, dan ada juga yang datang dengan kemahuan sendiri. Sebagaimana beberapa siri yang lalu telah diperkenalkan ulama yang berasal dari Jawa yang terkenal di peringkat antarabangsa, kali ini diperkenalkan pula ulama yang berasal dari Jawa yang berperanan di Kerajaan Selangor dan sekitarnya. Beliau aktif dalam penyalinan kitab-kitab bahasa Arab, menterjemah beberapa kitab yang dipandang penting ke bahasa Jawa, menulis karangan sendiri dalam bahasa Jawa dan hanya sedikit jumlahnya yang ditulis dalam bahasa Melayu.Sebelum membicarakan ulama yang dimaksudkan lebih terperinci di bawah ini, saya petik tulisan beliau sendiri yang ditulis dalam bahasa Arab dan di bawahnya diberi gantungan bahasa Jawa, terjemahan maksudnya sebagai berikut, ``... Haji Muhammad Dahlan bin Kiyahi Hasan al- Minhaj Perumpung, Kebumen, Jawa. Orang tua lelaki berasal dari Banjarnegara. Kemudian berpindah ke Kampung Perumpung, Kebumen. Kemudian berpindah ke Negeri Si-ngapura. Kemudian berpindah ke Klang. Kemudian beliau meninggal dunia, dikuburkan di Simpang Lima, Klang, Selangor.'' Haji Muhammad Dahlan lahir pada 26 Rejab 1313 H/12 Januari 1894 M dan wafat di Madinah, Zulhijjah 1398 H/November 1978 MImam Muhammad Dahlan mempunyai ramai keturunan yang belum sempat saya ungkapkan, tetapi yang dapat disentuh adalah seorang cucunya Ahmad Shukri bin Haji Ghazali, iaitu Imam Masjid Bandar Baru Sungai Buloh. Bahawa ibu Ahmad Shukri bernama Hajah Badariah, iaitu anak kepada Imam Haji Muhammad Dahlan yang dibicarakan ini. Haji Ghazali bin Haji Siraj, ayah Ustaz Haji Ahmad Shukri, adalah salah seorang murid Imam Haji Muhammad Dahlan. Haji Ghazali bin Haji Siraj dalam tahun 2005 ini memperoleh Tokoh Keluarga Mithali Negeri Selangor 2005.KARYA-KARYANYA BERBAHASA ARAB1. Kitabul Faraidh, diselesaikan malam Sabtu, Rabiulawal 1341 H/November 1921 M. dalam bentuk manuskrip asli. Kandungannya membicarakan kaedah membahagi pusaka2. Mukhtasharut Tarkibil Jurumiyah, mulai menulis pada 14 Zulhijjah 1347 H di Kapar Road Klang, Selangor. Dalam bentuk manuskrip asli. Kandungannya membicarakan ilmu nahu untuk peringkat kanak-kanak.3. Khutbah Jumaat, diselesaikan pada hari Isnin, akhir Syawal 1350 H. Kandungan khutbah Jumaat yang pertama dan kedua yang ditulis dalam bahasa Arab untuk Kerajaan Selangor dalam masa pemerintahan Sultan Sulaiman bin Sultan Musa bin Sultan Abdus Samad. Dalam bentuk manuskrip asli.Karya salinan dalam bahasa Arab pula adalah sebagai berikut:1. Qazhun Niyam fima yata'allaqu bish Shiyam, tanpa dinyatakan tarikh selesai penulisan. Manuskrip salinan daripada cetakan awal bulan Syaaban 1321 H, tanpa menyebut nama percetakan. Karangan Saiyid Utsman Betawi. Nama penyalin yang pertama Ahmad Dahlan bin Abdullah, disalin pada 2 Rejab 1324 H. di Darat Semarang. Disalin yang kedua daripada salinan yang pertama oleh Muhammad Dahlan bin Muhammad Minhaj berasal dari Kampung Perumpung, Kebumen, pada 25 Rabiulawal 1340 H. Kandungannya membicarakan tentang ilmu falak.2. Shiaghu Shalawati `alan Nabiyi Shallallahu alaihi wa Sallam, tanpa tarikh. Nama pengarang asal Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan. Salinan di-selesaikan pada malam Selasa, awal Safar 1350 H. Salinan ini ialah daripada naskhah yang pernah dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1316 H. Kandungannya membicarakan pelbagai selawat atas Nabi s.a.w. terutama Shalawat Saiyidi Syeikh Ahmad al-Badawi dan Shalawat Saiyidi Syeikh Abdul Qadir al-Jilani. Kandungan tambahan ialah mengenai tasawuf.3. Syarhu `Uqudil Lujjain fi Bayani Huquqiz Zaujain oleh Syeikh Nawawi al-Bantani. Diselesaikan waktu Dhuha, hari Ahad 27 Muharam 1294 H. Salinan diselesaikan di Sungai Pinang, Klang, Selangor pada hari Khamis, waktu Dhuha, 25 Zulkaedah 1351 H. Kandungannya membicarakan hak-hak dan adab orang yang bersuami dan beristeri4. Sulukul Jadah wa zalatuz Zulumah wal Mu'anadah liman Raghaba fi Iqamatil Jum'ati ma'al I'adah, tanpa tarikh. Salinan diselesaikan pada malam Ahad, 24 Syaaban 1362 H. Kandungannya membicarakan sembahyang Jumaat, perbahasan yang terpenting mengulangi sembahyang Zuhur sesudah Jumaat (i`adah). Merupakan syarah karya Syeikh Salim bin Samir al-Hadhrami (wafat di Betawi) yang berjudul Lum'atul Mafadah fi Bayanil Jum'ati wal Mu'adah.5. Al-Khal'atul Fikriyah fi Syarhil Minhatil Khairiyah, tanpa tarikh. Kitab ini adalah karya Syeikh Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi. Manuskrip salinan daripada yang pernah dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1315 H. Keadaan manuskrip sangat uzur. Kandungannya merupakan Syarh Hadits Arba'in (Hadis Empat Puluh) berdasarkan yang disyairkan oleh Syeikh Syihabuddin Ahmad al-Qasthallani dalam Hadis Bukhari yang berasal daripada perkataan al-Hafizh Abi Bakr al-Burqaini .6. Tuhfatul Murid `ala Jauharatit Tauhid, tanpa tarikh. Salinan oleh Haji Muhammad Dahlan bin Kiyahi Hasan Minhaj, juga tanpa tarikh. Kandungannya membicarakan akidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah7. Bab Hawasyi minar Rumuz `ala Jauharatit Tauhid, tanpa tarikh. Salinan oleh Haji Muhammad Dahlan bin Kiyahi Hasan Minhaj, juga tanpa tarikh. Kandungannya membicarakan rumuz nama beberapa orang ulama yang terkenal, cukup menyebut beberapa huruf saja, tanpa menggunakan nama yang panjang. Kegunaannya adalah untuk memudahkan membaca kitab-kitab syarah dan hasyiyah yang hanya menggunakan huruf-huruf Abjad.Setelah kita mengetahui karya Imam Muhammad Dahlan bin Hasan Minhaj dalam bahasa Arab dan karya salinan, terdapat lagi karya yang beliau tulis dalam bahasa Jawa. Hasil karya beliau yang ditulis dalam bahasa Jawa lebih banyak. Nampaknya tentang bahasa Melayu kurang beliau kuasai jika dibandingkan dengan bahasa Arab, apatah lagi jika dibandingkan dengan bahasa Jawa. Sewaktu saya menulis artikel ini, saya belum menemui kitab karya beliau dalam bahasa Melayu.Yang ada beliau tulis dalam bahasa Melayu hanyalah berupa catatan yang pendek-pendek. Sungguh pun karya-karya Imam Muhammad Dahlan bin Hasan Minhaj dalam bahasa Jawa banyak yang penting-penting, namun saya tinggalkan saja kerana kekurangan ruangan untuk membicarakannya. Insya-Allah mengenainya akan dibicarakan dalam sejarah hidup beliau yang lebih lengkap pada waktu-waktu yang akan datang.ULAMA DUNIA MELAYUDaripada semua karya Imam Muhammad Dahlan bin Hasan Minhaj, terdapat nama-nama penting para ulama yang berasal dari dunia Melayu atau ulama dunia luar yang ada hubungannya dengan dunia Melayu.Daripada informasi ini dapat dihubungkaitkan untuk menjejaki sanad atau salasilah dengan keilmuan Imam Muhammad Dahlan bin Hasan Minhaj. Nama-nama yang dimaksudkan ialah seumpama Sayid Utsman Betawi, Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Ahmad al-Fathani dan Syeikh Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi. Ulama Arab pula di antaranya ialah Saiyid Abi Bakri Syatha, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Utsman ad-Dimyathi dan lain-lain.Dapat dipastikan semua ulama yang tersebut mempunyai hubungan sanad atau salasilah pelbagai bidang keilmuan Islam. Imam Muhammad Dahlan bin Hasan Minhaj mempu-nyai pertalian sanad/salasilah de-ngan Syeikh Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi. Kemungkinan Imam Muhammad Dahlan bin Hasan Minhaj adalah murid kepada adik ulama ini, ialah Kiyai Haji Muhammad Dimyathi bin Abdullah at-Tarmasi (wafat 1934 M) kerana nama ini ada beliau sebut dalam tulisannya.SahabatOleh itu sekurang-kurangnya sebuah karya Syeikh Muhammad Mahfuz at-Tarmasi, mengenai hadis yang berjudul Al-Khal'atul Fikriyah telah beliau salin. Syeikh Muhammad Mahfuz at-Tarmasi adalah sahabat Tok Kenali Kelantan, Mufti Haji Abdullah Fahim dan lain-lain. Semua mereka adalah murid Syeikh Ahmad al-Fathani. Syeikh Ahmad al-Fathani adalah murid Sayid Abi Bakri Syatha.Sekali gus beberapa orang murid Syeikh Ahmad al-Fathani termasuk ulama-ulama yang tersebut juga sempat belajar kepada Sayid Abi Bakri Syatha. Dari sini bermula sanad pelbagai keilmuan Islam yang naik kepada Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Mekah pada zaman itu. Syeikh Ahmad al-Fathani dan gurunya Sayid Abi Bakri Syatha sebagai murid kepada Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan. Syeikh Nawawi al-Bantani juga murid Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan walau pun kedua-duanya sebaya umur. Daripada Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan naik kepada Syeikh Utsman ad-Dimyathi dan seterusnya hingga akhir sanad.Ada persamaan jenis tarekat yang diamalkan Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani, Syeikhul Islam, Selangor dan Imam Muhammad Dahlan bin Hasan Minhaj. Kedua-duanya mengamalkan Thariqat Syathariyah. Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani mendapat tawajjuh dan bai`ah Thariqat Sythariyah daripada Syeikh Wan Ali Abdur Rahman Kutan al-Kalantani, tetapi Imam Muhammad Dahlan Hasan Minhaj mendapat tawajjuh dan bai`ah Thariqat Syathariyah daripada Syeikh Haji Muhammad Ali Sejangkang.PenyelidikanBagaimanakah biografi Syeikh Haji Muhammad Ali Sejangkang masih memerlukan penyelidikan. Sejangkang berada di dalam Selangor, sedangkan ulama yang tersebut masih di dalam `selubung' yang masih belum `terselakkan'. Kedua-dua salasilah di atas bertemu pada Syeikh Muhammad As'ad. Daripada Syeikh Muhammad As'ad melalui muridnya, ulama yang sa-ngat terkenal, iaitu Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani turun ke bawah termasuklah Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani. Daripada Syeikh Muhammad As'ad melalui muridnya Syeikh Haji Asy'ari, yang juga masih belum terungkapkan, turun ke bawah termasuklah Imam Muhammad Dahlan bin Hasan Minhaj.Untuk lebih jelas tentang Silsilah Thariqat Syathariyah Imam Muhammad Dahlan dapat dibaca dalam kertas kerja yang berjudul Sanad Keilmuan Syeikh Ahmad Al-Fathani dan Ulama Selangor, yang dibahas (dibentangkan) pada hari Ahad, 20 Rabiulakhir 1426 H/29 Mei 2005 M. di Masjid Bandar Baru Sungai Buloh, Selangor Darul Ehsan.Selain mengamalkan Thariqat Syathariyah, Imam Muhammad Dahlan bin Muhammad Minhaj juga mengamalkan dua tarekat yang lain, iaitu Thariqat Khalwatiyah dan Thariqat `Ulwiyah /Thariqat `Alawiyah. Keterangan lanjut kedua-dua tarekat ini terpaksa ditangguhkan kerana kekurangan ruangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;dari wan mohd.abdullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;jalantrabas&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-1158388123572106351?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/1158388123572106351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=1158388123572106351' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/1158388123572106351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/1158388123572106351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/imam-muhammad-dahlan.html' title='Imam Muhammad Dahlan'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-2678881436267385991</id><published>2008-07-26T21:49:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T21:51:35.809-07:00</updated><title type='text'>Syekh khatib Al Sambasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_TpmKkXVxyc8/SIv-kIQgfUI/AAAAAAAAALc/aXGli1TxyeM/s1600-h/Syaikh+Ahmad+Khatib+Sambas001.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227551689139060034" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_TpmKkXVxyc8/SIv-kIQgfUI/AAAAAAAAALc/aXGli1TxyeM/s320/Syaikh+Ahmad+Khatib+Sambas001.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_cY0RXzomQog/RlRJWoLN_6I/AAAAAAAAAZI/bWFTHVGdNwQ/s1600-h/Syaikh+Ahmad+Khatib+Sambas001.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Salah seorang ulama kelahiran Pulau Borneo yang memiliki keistimewaan tersendiri dengan mempelopori satu tarekat yang menggabung dua tarekat menjadi satu. Tarekat yang berpengaruh tersebut dikenali sebagai Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah. Ulama tersebut adalah Syaikh Ahmad bin 'Abdul Ghaffar bin 'Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin yang dilahirkan di Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat pada bulan Shafar al-khair 1217H (1803M).&lt;br /&gt;Apabila usia beliau 19 tahun, beliau pergi ke Makkah untuk memperdalamkan lagi ilmunya. Di sana beliau berguru dengan Tok Syaikh Daud bin 'Abdullah al-Fathani. Selain berguru dengan Tok Syaikh Daud, beliau juga pergi belajar dengan Syaikh Muhammad Sholih bin Ibrahim ar-Rais, Syaikh, Syeikh 'Umar 'Abdur Rasul, Syaikh 'Abdul Halim al-‘Ajami, Syaikh Bashri al-Jabarti, Sayyid Ahmad Al-Marzuqi (Mufti Maliki Makkah), Sayyid 'Abdullah bin Muhammad Al-Mirghani, Syaikh 'Uthman ad-Dimyathi dan ramai lagi. Kemasyhurannya, sama ada peringkat Nusantara mahu pun antarabangsa pada zamannya tidak dinafikan. Sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah dan nama Syeikh Ahmad Khathib Sambas juga terdapat di dalamnya iaitu "Siyar wa Tarajim" karya Syaikh 'Umar 'Abdul Jabbar dan "al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar" karya Syaikh 'Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Syaikh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Syaikh Ahmad Ali.&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_cY0RXzomQog/R0joGR118yI/AAAAAAAAAkI/raYzmZJ2s6w/s1600-h/fath001.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Syaikh Ahmad Khatib bermukim di Makkah sehingga menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tahun 1289H / 1872M. Beliau meninggalkan ramai murid dan khalifah, antaranya ialah Syaikh Abdul Karim Banten, Syaikh Tolhah Cirebon, Sayyidul Ulama Hijaz Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Muhammad Yaasin Kedah, Syaikh 'Abdul Lathif bin 'Abdul Qaadir Sarawak dan ramai lagi. Tarekat yang dipeloporinya mendapat tempat di kalangan ulama dan awam. Bahkan ramai ulama yang telah mengambil bai`ah ijazah dan talqin daripada beliau dan khalifah-khalifahnya. Antara yang mengambil talqin tersebut ialah Syaikh 'Utsman as-Sarawaki yang menerima talqin zikir Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah daripada khalifah beliau Syaikh Abdul Karim Banten. Bahkan sehingga kini ajaran dan amalan tarekatnya tetap mempunyai pengikut dan berpengaruh di rantau ini. Amalan, silsilah dan wirid tarekat beliau boleh dilihat dalam kitab "Fathul 'Aarifiin" yang beliau imla`kan kepada muridnya bernama Syaikh Muhammad bin Ismail bin 'Abdur Rahim al-Bali dalam bulan Rajab 1295H/1877M, kemudian ianya ditashhihkan oleh Syaikh Ahmad al-Fathani dan dicetak pertama kalinya tahun 1305H/1887M. Kitab ini sehingga kini masih tersebar.Mudah-mudahan Allah sentiasa merahmati Syaikh Ahmad Khatib Sambas serta para guru beliau dan sekalian ulama dan awam umat ini. Al-Fatihah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-2678881436267385991?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/2678881436267385991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=2678881436267385991' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/2678881436267385991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/2678881436267385991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/syekh-khatib-al-sambasi.html' title='Syekh khatib Al Sambasi'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_TpmKkXVxyc8/SIv-kIQgfUI/AAAAAAAAALc/aXGli1TxyeM/s72-c/Syaikh+Ahmad+Khatib+Sambas001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-5311457835544688464</id><published>2008-07-26T10:10:00.000-07:00</published><updated>2008-08-08T07:11:10.777-07:00</updated><title type='text'>KH . Jauhari Umar Al Pasuruan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Diantara rekan pembaca ada yang menginginan sekilas riwayat hidup Syaikh Ahmad Jauhari umar. Oleh karena itu dengan segala kekurangan kami ketengahkan di sini sekilas riwayat Syaikh Ahmad Jauhari Umar Penyiar amalan manakib Jawahirul Ma’any.&lt;br /&gt;Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilahirkan pada hari Jum’at legi tanggal 17 Agustus 1945 jam 02.00 malam, yang keesokan harinya bertepatan dengan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Presiden Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta. Tempat kelahiran beliau adalah di Dukuh Nepen Desa Krecek kecamatan Pare Kediri Jawa Timur. Sebelum berangkat ibadah haji, nama beliau adalah Muhammad Bahri, putra bungsu dari bapak Muhammad Ishaq. Meskipun dilahirkan dalam keadaan miskin harta benda, namun mulia dalam hal keturunan. Dari sang ayah, beliau mengaku masih keturunan Sultan Hasanudin bin Sunan Gunung Jati, dan dari sang ibu beliau mengaku masih keturunan KH Hasan Besari Tegal Sari Ponorogo Jawa Timur yang juga masih keturunan Sunan Kalijogo.&lt;br /&gt;Pada masa kecil Syaikh Ahmad Jauhari Umar dididik oleh ayahanda sendiri dengan disiplin pendidikan yang ketat dan sangat keras. Diantaranya adalah menghafal kitab taqrib dan maknanya dan mempelajari tafsir Al-Qur’an baik ma’na maupun nasakh mansukhnya.&lt;br /&gt;Masih diantara kedisiplinan ayah beliau dalam mendidik adalah : Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak diperkenankan berteman dengan anak-anak tetangga dengan tujuan supaya Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak mengikuit kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan oleh anak-anak tetangga. Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilarang merokok dan menonton hiburan seperti orkes, Wayang, ludruk dll, dan tidak pula boleh meminum kopi dan makan diwarung. Pada usia 11 tahun Syaikh Ahmad Jauhari Umar sudah mengkhatamkan Al-Qur’an semua itu berkat kegigihan dan disiplin ayah beliau dalam mendidik dan membimbing.&lt;br /&gt;Orang tua Syaikh Ahmad Jauhari Umar memang terkenal cinta kepada para alim ulama terutama mereka yang memiliki barakah dan karamah. Ayah beliau berpesan kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar agar selalu menghormati para ulama. Jika sowan (berkunjung) kepada para ulama supaya selalu memberi uang atau jajan (oleh-oleh). Pesan ayahanda tersebut dilaksanakan oleh beliau, dan semua ulama yang pernah diambil manfaat ilmunya mulai dari Kyai Syufa’at Blok Agung Banyuwangi hingga KH. Dimyathi Pandegelang Banten, semuanya pernah diberi uang atau jajan oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar.&lt;br /&gt;Sebenarnya, Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah menganut faham wahabi bahkan sampai menduduki posisi wakil ketua Majlis Tarjih Wahabi Kaliwungu. Adapun beberapa hal yang menyebabkan Syaikh Ahmad Jauhari Umar pindah dari faham wahabi dan menganut faham ahlussunah diantaranya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.Beliau pernah bermimpi bertemu dengan kakek beliau yaitu KH. AbduLlah Sakin yang wafat pada tahun 1918 M, 2.Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah bertemu dengan KH Yasin bin ma’ruf kedunglo kediri, pertemuan itu terjadi di warung / rumah makan Pondol Pesantren Lirboyo Kediri yang berkata kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar bahwa Syaikh Ahmad Jauhari Umar kelak akan menjadi seorang ulama yang banyak tamunya. Dan ucapan KH Yasin tersebut terbukti, beliau setiap hari menerima banyak tamu.&lt;br /&gt;3.Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah berjumpa dengan Sayyid Ma’sum badung Madura yang memberi wasiyat bahwa kelak Syaikh Ahmad Jauhari Umar banyak santrinya yang berasal dari jauh. Dan hal itu juga terbukti.&lt;br /&gt;4.Syaikh Ahmad Jauhari Umar bertemu dengan KH Hamid AbdiLlah Pasuruan, beliau berkata bahwa kelak Syaikh Ahmad Jauhari Umar akan dapat melaksanakan ibadah haji dan menjadi ulama yang kaya. Dan terbukti beliau sampai ibadah haji sebanyak lima kali dan begitu juga para putera beliau.&lt;br /&gt;Hal tersebutlah yang menyebabkan Syaikh Ahmad Jauhari Umar menganut faham ahlussunah karena beliau merasa heran dan ta’jub kepada para ulama ahlussunah seperti tersebut di atas yang dapat mengetahui hal-hal rahasia ghaib dan ulama yang demikian ini tidak dijumpainya pada ulama-ulama golongan wahabi.&lt;br /&gt;Dalam menghadapi setiap cobaan yang menimpa, Syaikh Ahmad Jauhari Umar memilih satu jalan yaitu mendatangi ulama. Adapun beberapa ulama yang dimintai do’a dan barokah oleh beliau diantaranya adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH. Syafa’at Blok Agung Banyuwangi.&lt;br /&gt;KH. Hayatul Maki Bendo Pare Kediri.&lt;br /&gt;KH. Marzuki Lirboyo Kediri.&lt;br /&gt;KH. Dalhar Watu Congol Magelang.&lt;br /&gt;KH. Khudlori Tegal Rejo Magelang.&lt;br /&gt;KH. Dimyathi Pandeglang Banten.&lt;br /&gt;KH. Ru’yat Kaliwungu.&lt;br /&gt;KH. Ma’sum Lasem.&lt;br /&gt;KH. Baidhawi Lasem.&lt;br /&gt;KH. Masduqi Lasem.&lt;br /&gt;KH. Imam Sarang.&lt;br /&gt;KH. Kholil Sidogiri.&lt;br /&gt;KH Abdul Hamid AbdiLlah Pasuruan.&lt;br /&gt;Selesai beliau mendatangi para ulama, maka ilmu yang didapat dari mereka beliau kumpulkan dalam sebuah kitab “Jawahirul Hikmah”.&lt;br /&gt;Kemudian beliau mengembara ke makam – makam para wali mulai dari Banyuwangi sampai Banten hingga Madura. Sewaktu beliau berziarah ke makam Syaikh Kholil Bangkalan Madura, Syaikh Ahmad Jauhari Umar bertemu dengan &lt;/span&gt;&lt;a title="sekilas tentang Sayyid Syarifuddin" href="http://www.sayid-syarifuddin.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Sayyid Syarifuddin&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt; yang mengaku masih keturunan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani RA. Kemudian Sayyid Syarifuddin memberikan ijazah kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar berupa amalan ‘MANAKIB JAWAHIRUL MA’ANY’ dimana amalan manakib Jawahirul Ma’any tersebut saat ini tersebar luas di seluruh Indonesia karena banyak Fadhilahnya&lt;br /&gt;, bahkan sampai ke negara asing seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Pakistan, tanzania, Afrika, Nederland, dll.&lt;br /&gt;Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah mengalami masa-masa yang sulit dalam segala hal. Bahkan ketika putera beliau masih berada di dalam kandungan, beliau diusir oleh keluarga isteri beliau sehingga harus pindah ke desa lain yang tidak jauh dari desa mertua beliau kira-kira satu kilometer. Ketika putera beliau berumur satu bulan, beliau kehabisan bekal untuk kebutuhan sehari-hari kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar memerintahkan kepada isteri beliau untuk pulang meminta makanan kepada orang tuanya. Dan Syaikh Ahmad Jauhari Umar berkata, “Saya akan memohon kepada Allah SWT”. Akhirnta isteri beliau dan puteranya pulang ke rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat duha dan dilanjutkan membaca manakib Jawahirul Ma’any. Ketika tengah membaca Manakib, beliau mendengar ada orang di luar rumah memberikan ucapan salam kepada beliau, dan beliau jawab di dalam hati kemudian beliau tetap melanjutkan membaca Manakib Jawahirul Ma’any hingga khatam. Setelah selesai membaca Manakib, maka keluarlah beliau seraya membukakan pintu bagi tamu yang memberikan salam tadi.&lt;br /&gt;Setelah pintu terbuka, tenyata ada enam orang yang bertamu ke rumah beliau. Dua orang tamu memberi beliau uang Rp 10.000, dan berpesan supaya selalu mengamalkan Manakib tersebut. Dan sekarang kitab manakib tersebut sudah beliau ijazahkan kepada kaum Muslimin dan Muslimat agar kita semua dapat memperoleh berkahnya. Kemudian dua tamu lagi memberi dua buah nangka kepada beliau, dan dua tamu lainnya memberi roti dan gula.&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar selalu melaksanakan pesan tamu-tamu tersebut yang menjadi amalan beliau sehari-hari. Tidak lama setelah itu, setiap harinya Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi rizki oleh Allah senanyak Rp. 1.500 hingga beliau berangkat haji untuk pertamakali pada tahun 1982.&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 1983 Syaikh Ahmad Jauhari Umar menikah dengan Sa’idah putri KH As’ad Pasuruan. Setelah pernikahan ini beliau setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp 3.000 mulai tahun 1983 hingga beliau menikah dengan puteri KH. Yasin Blitar.&lt;br /&gt;Setelah pernikahan ini Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp.11.000 sampai beliau dapat membanun masjid. Selesai membangun masjid, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp. 25.000 hingga beliau membangun rumah dan Pondok Pesantren.&lt;br /&gt;Setelah membangun rumah dan Pondok Pesantren, Syaikh Ahmad Jauhari Umar tiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp.35.000 hingga beliau ibadah haji yang kedua kalinya bersama putera beliau Abdul Halim dan isteri beliau Musalihatun pada tahun 1993.&lt;br /&gt;Setelah beliau melaksanakan ibadah haji yang kedua kalinya pada tahun 1993, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp 50.000 hingga tahun 1995 M. Setelah Syaikh Ahmad Jauhari Umar melaksanakan ibadah haji yang ketiga kalinya bersama putera beliau Abdul Hamid dan Ali Khazim, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp. 75.000 hingga tahun 1997.&lt;br /&gt;Setelah Syaikh Ahmad Jauhari Umar menunaikan ibadah haji yang keempat kalinya pada tahun 1997 bersama putera beliau HM Sholahuddin, Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi rizki oleh Allah setiap hari Rp. 200.000 hingga tahun 2002.&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar berangkat haji yang ke limakalinya bersama dua isteri dan satu menantu beliau, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp. 300.000 sampai tahun 2003 M.&lt;br /&gt;Di Pasuruan, Syaikh Ahmad Jauhari Umar mendirikan Pondok Pesantren tepatnya di Desa Tanggulangin Kec. Kejayan Kab. Pasuruan yang diberi nama Pondok Pesantren Darussalam Tegalrejo.&lt;br /&gt;Di desa tersebut Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi tanah oleh H Muhammad seluas 2.400 m2 kemudian H Muhammad dan putera beliau diberi tanah oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar seluas 4000m2 sebagai ganti tanah yang diberikan dahulu.&lt;br /&gt;Sejak saat itu Syaikh Ahmad Jauhari Umar mulai membangun masjid dan madrasah bersama masyarakat pada tahun 1998. namun sayangnya sampai empat tahun pembangunan masjid tidak juga selesai. Akhirnya Syaikh Ahmad Jauhari Umar memutuskan masjid yang dibangun bersama masyarakat harus dirobohkan, demikian ini atas saran dan fatwa dari KH. Hasan Asy’ari Mangli Magelang Jawa Tengah (Mbah Mangli – almarhum), dan akhirnya Syaikh Ahmad Jauhari Umar membangun masjid lagi bersama santri pondok. AlhamduliLlah dalam waktu 111 hari selesailah pembanginan masjid tingkat tanpa bantuan masyarakat. Kemudian madrasah-madrasah yang dibangun bersama masyarakat juga dirobohkan dan diganti dengan pembangunan pondok oleh santri-santri pondok&lt;br /&gt;Maka mulailah Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengajar mengaji dan mendidik anak-anak santri yang datang dari luar daerah pasuruhan, hingga lama kelamaan santri beliau menjadi banyak. Pernah suatu hari Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengalami peristiwa yang ajaib yaitu didatangi oleh Syaikh Abi Suja’ pengarang kitab Taqrib yang mendatangi beliau dan memberikan kitab taqrib dengan sampul berwarna kuning, dan kitab tersebut masih tersimpan hingga sekarang. Mulai saat itu banyak murid yang datang terlebih dari Jawa Tengah yang kemudian banyak menjadi kiyahi dan ulama.&lt;br /&gt;Meskipun beliau telah berpulang ke RahmatuLlah semoga Beliau mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya, dan berkah beliah selalu mengalir kepada kita semua….Amin&lt;br /&gt;‘Referensi …Buku Sejarah Perjuangan Syaikh Ahmad Jauhari umar..Penyiar Kitab Manakib Jawahirul Ma’any&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalantrabas&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-5311457835544688464?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/5311457835544688464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=5311457835544688464' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5311457835544688464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/5311457835544688464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/kh-jauhari-umar-al-pasuruan.html' title='KH . Jauhari Umar Al Pasuruan'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-3874601426824008778</id><published>2008-07-26T10:03:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T10:06:46.030-07:00</updated><title type='text'>syekh ibnu athoillah al sakandari</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Kelahiran dan keluarganya Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’ al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.&lt;br /&gt;Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.&lt;br /&gt;Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ SholihinOleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.&lt;br /&gt;Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.&lt;br /&gt;Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa :&lt;br /&gt;Masa pertama Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.&lt;br /&gt;Masa kedua Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.&lt;br /&gt;Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.&lt;br /&gt;Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”.Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.&lt;br /&gt;Masa ketiga Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”.Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.&lt;br /&gt;Karomah Ibn AthoillahAl-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.&lt;br /&gt;Ibn Atho’illah wafatTahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-3874601426824008778?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/3874601426824008778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=3874601426824008778' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3874601426824008778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3874601426824008778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/syekh-ibnu-athoillah-al-sakandari.html' title='syekh ibnu athoillah al sakandari'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-453745723247438238</id><published>2008-07-26T09:40:00.000-07:00</published><updated>2008-08-01T08:38:18.071-07:00</updated><title type='text'>Sekilas Auliya Magelang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;1.KH. Dalhar Bin Abdurahman/Mbah DAlhar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;KH.dalhar adalah salah saatu ulama yang sangat alim pada zamanya .beliau bernah berguru pada kyai saleh darat semarang. setelah cukup mendapat didikan dari sang guru yang sangat di hormati akhirnya kyai dalhar pulang ke ke daerah asalnya watucongol magelang.beliau adala salah seorang alim pada zamanya sehingga di juluki trio wali jawa tengah diantaranya kh.muslih mranggen,kh hamid kajoran dan kh dalhar sendiri.kh dalhar sendiri adalah salah seorang mursyid tarekat syadziliyah yang sangat terkenal zuhud.dan wara. banyak diantara murid beliau yang menjadi ulama terkenal diantaranya gus mik,mbah minan dan kyai jauhari umar. yang menjadi ulama panutan rakyak kecil.pernah suatu ketika mbah dalhar berkhalwat di gua hira selama 6 tahun tempat nabi agung kita menerima wahyu. kyai dalhar mendirikan pondok pesantren darussalam watucongol muntilan magelang jawa tengah pon pes darussalam banyak di minati santri dari penjuru tanah air. karna jasa beliau yang sangat besar dalam syiar agama islam di jawa tengah khususnya .marilah kita sebagai umat muslim selalu mengenang jasa beliau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mbah Jogoreso&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;Mbah jogoreso hidup sezaman dengan KH Dalhar watucongol.beliau salah satu ulama yg sangat alim pada zamanya.mbah jogoreso terkenal sebagai seorang wali nyentrik. beliau sangat banyak di datangi para kyai pada zamanya tempat mengadu dan meminta fatwa tak jarang kyai besar pun berdatangan ketempat beliau.diantaranya gus mik pun pernah meminta barokah ilmunya ketempat beliau.mbah jogoreso sangat antik sekali bila menemui tamunya kadang berpakain seadanya kadang tidak memakai baju,bahkan kain sarungnya pun tidak jarang tersingkap menampakkan auratnya. dan biasanya klo ada seorang pejalan rohani (salik) .atau orang itu akan menjadi besar tamu itu akan di uji dengan sesuatu yang tidak menyenangkan oleh mbah jogoreso.tetapi , bila akan mengalami keburukan atau menjadi durhaka akan di uji dengan segala sesuatu yang menyenangkan.suatu hari gus mik datang ke tempat beliau/menemui mbah jogoreso.gus mik di tempeleng dengan sangat keras sehingga pipinya tampak memerah .gus mik kemudian mundur agak menjauh. tetapi istri mbah jogoreso menyurh gus mik maju lagi. gus mik pun maju lagi lebih dekat.tetapi kembali di tempeleng lebih keras lagi sehingga matanya tampak berkaca-kaca menahan sakit. kejadian itu berturut-turut sampai tiga kali sehingga wajahnya tampak semakin merah dan akhirnya nyai jogoreso menyuruh gus mik untuk mundur. itu hanya sekilas dari banyak cerita yang pernah terjadi diantara tamu mbah jogoreso yang datang ketempat beliau..ketika akan berpamitan pulang mbah jogoreso memeluk gus mik cukup lama .sebenarnya masih banyak kisah yg tidak dapat kami ceritakan satu persatu. semoga banyak mengenal para orang yang dekat dengan allah kita mendapatkan barokahnya dan ilmunya .. amin &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;3. Mbah Mangli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;Bangunan itu sederhana saja. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi tampak demikian kokoh dan bersih terawat baik. Di sekelilingnya terdapat banyak pepohonan rindang, sehingga membuat suasana terasa sejuk dan nyaman. Warga menyebutnya Langgar Linggan. Lokasinya dekat pemukiman penduduk Desa Mejing, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang. Tepatnya di atas tanah wakaf dari KH Khadis, tokoh ulama terkemuka di Mejing, pada dekade 1960-1970. Pada tahun 1970-an, musala ini menjadi saksi sejarah syiar agama Islam yang pernah dilakukan oleh KH Hasan Ashari, atau lebih beken dengan sebutan Mbah Mangli dari lereng Gunung Andong wilayah Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Magelang.â€Pengajian rutin yang diisi ceramah keagamaan oleh Mbah Mangli, kala itu senantiasa dilaksanakan pada hari Kamis Wage,â€ kata Ahsin (80), penduduk Mejing yang kerapkali menjadi panitia penyelenggara pengajian. Acara selapanan itu bermula dari obsesi KH Khadis, yang ingin mengajak Mbah Mangli untuk melakukan syiar Islam di Mejing. Untuk itu, dia mengutus Ahsis dan kawan-kawan sowan ke Mbah Mangli.Pengganti Usaha Ahsin tak membuahkan hasil. Kendati sempat menginap di sana, namun Ahsin tidak bisa bertemu dengan ulama karismatik tersebut. Karenanya, KH Khadis terpaksa berangkat sendiri â€™menjemputâ€™ Mbah Mangli. Langgar Linggan itu sendiri menjadi pengganti Masjid Jami Mejing, yang hanya sempat tiga kali digunakan sebagai pusat pengajian Mbah Mangli. Bukan apa-apa, pemindahan itu hanya dilandasi pertimbangan kenyamanan pengunjung. Masjid Jami posisinya persis di tepi jalan jurusan Magelang-Candimulyo. Praktis selalu dilewati banyak kendaraan. Lalu lalang kendaraan itu tentu saja terasa mengganggu konsentrasi peserta pengajian. Menurut KH Kholil, Takmir Langgar Linggan, ketika Mbah Mangli wafat pada 1990, pengajian Kamis Wage di Mejing turut terhenti. Beberapa tahun belakangan, tradisi yang pernah mengakar di kalangan masyarakat itu mulai dirintis kembali oleh Gus Munir, menantu Mbah Mangli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;jalantrabas&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-453745723247438238?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/453745723247438238/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=453745723247438238' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/453745723247438238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/453745723247438238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/auliya-magelang.html' title='Sekilas Auliya Magelang'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-1504301182328684720</id><published>2008-07-23T18:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-23T18:45:21.308-07:00</updated><title type='text'>Kisah Ibrahim Al-Khawas</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ibrahim al-Khawas ialah seorang wali Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Tuhan. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Katanya, "Menurut kebiasaanku, aku keluar menziarahi Mekah tanpa kenderaan dan kafilah. Pada suatu kali, tiba-tiba aku tersesat jalan dan kemudian aku berhadapan dengan seorang rahib Nasrani ." Bila dia melihat aku dia pun berkata, "Wahai rahib Muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?" Ibrahim segera menjawab, "Ya, tidaklah aku akan menghalangi kehendakmu itu." Maka berjalanlah Ibrahim bersama dengannya selama tiga hari tanpa meminta makanan sehinggalah rahib itu menyatakan rasa laparnya kepadaku, katanya, "Tiadalah ingin aku memberitakan kepadamu bahwa aku telah menderita kelaparan. Kerana itu berilah aku sesuatu makanan yang ada padamu." Mendengar permintaan rahib itu, lantas Ibrahim pun bermohon kepada Allah dengan berkata, "Wahai Tuhanku, Pemimpinku, Pemerintahku, janganlah engkau memalukan aku di hadapan seteru engkau ini." Belum pun habis Ibrahim berdoa, tiba-tiba turunlah setalam hidangan dari langit berisi dua keping roti, air minuman, daging masak dan tamar. Maka mereka pun makan dan minum bersama dengan seronok sekali. "Sesudah itu aku pun meneruskan perjalananku. Sesudah tiga hari tiada makanan dan minuman, maka di kala pagi, aku pun berkata kepada rahib itu, "Hai rahib Nasrani, berikanlah ke mari sesuatu makanan yang ada kamu. Rahib itu menghadap kepada Allah, tiba-tiba turun setalam hidangan dari langit seperti yang diturunkan kepadaku dulu." Sambung Ibrahim lagi, "Tatkala aku melihat yang demikian, maka aku pun berkata kepada rahib itu - Demi kemuliaan dan ketinggian Allah, tiadalah aku makan sehingga engkau memberitahukan (hal ini) kepadaku." Jawab rahib itu, "Hai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, maka jatuhlah telekan makrifah (pengenalan) engkau kepadaku, lalu aku memeluk agama engkau. Sesungguhnya aku telah membuang-buang masa di dalam kesesatan dan sekarang aku telah mendekati Allah dan berpegang kepada-Nya. Dengan kemuliaan engkau, tiadalah dia memalukan aku. Maka terjadilah kejadian yang engkau lihat sekarang ini. Aku telah mengucapkan seperti ucapanmu (kalimah syahadah)." "Maka sucitalah aku setelah mendengar jawapan rahib itu. Kemudian aku pun meneruskan perjalanan sehingga sampai ke Mekah yang mulia. Setelah kami mengerjakan haji, maka kami tinggal dua tiga hari lagi di tanah suci itu. Suatu ketika, rahib itu tiada kelihatan olehku, lalu aku mencarinya di masjidil haram, tiba-tiba aku mendapati dia sedang bersembahyang di sisi Kaabah." Setelah selesai rahib itu bersembahyang maka dia pun berkata, "Hai Ibrahim, sesungguhnya telah hampir perjumpaanku dengan Allah, maka peliharalah kamu akan persahabatan dan persausaraanku denganmu." Sebaik saja dia berkata begitu, tiba-tiba dia menghembuskan nafasnya yang terakhir iaitu pulang ke rahmatullah. Seterusnya Ibrahim menceritakan, "Maka aku berasa amat dukacita di atas pemergiannya itu. Aku segera menguruskan hal-hal pemandian, kapan dan pengebumiannya. Apabila malam aku bermimpi melihat rahib itu dalam keadaan yang begitu cantik sekali tubuhnya dihiasi dengan pakaian sutera yang indah." Melihatkan itu, Ibrahim pun terus bertanya, "Bukankah engkau ini sahabat aku kelmarin, apakah yang telah dilakukan oleh Allah terhadap engkau?" Dia menjawab, "Aku berjumpa dengan Allah dengan dosa yang banyak, tetapi dimaafkan dan diampunkan-Nya semua itu kerana aku bersangka baik (zanku) kepada-Nya dan Dia menjadikan aku seolah-olah bersahabat dengan engkau di dunia dan berhampiran dengan engkau di akhirat." Begitulah persahabatan di antara dua orang yang berpengetahuan dan beragama itu akan memperolehi hasil yang baik dan memuaskan. Walaupun salah seorang dahulunya beragama lain, tetapi berkat keikhlasan dan kebaktian kepada Allah, maka dia ditarik kepada Islam dan mengalami ajaran-ajarannya."KISAH SI PEMALAS DENGAN ABU HANIFAH Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Keluhannya mengandungi kata-kata, "Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi lagi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkongku sehingga seluruh badanku menjadi lemah longlai. Oh, manakah hati yang belas ikhsan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik." Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Sebaik saja dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi wang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya. Dalam pada itu, si malang berasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas beliau tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi wang dan secebis kertas yang bertulis, " Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cubalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus." Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu kedengaran lagi, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kelmarin,sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku, wahai untung nasibku." Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi wang dan secebis kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Orang itu terlalu riang sebaik saja mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya. Seperti dahulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada cebisan kertas lalu dibacanya, "Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian 'malas' namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak redha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan�.jangan berbuat demikian. Hendak senang mesti suka pada bekerja dan berusaha kerana kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak perlu atau disuruh duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengkabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. Nah�carilah segera pekerjaan, saya doakan lekas berjaya." Sebaik saja dia selesai membaca surat itu, dia termenung, dia insaf dan sedar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka berikhtiar dan berusaha. Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah mengikut peraturan-peraturan hidup (Sunnah Tuhan) dan tidak lagi melupai nasihat orang yang memberikan nasihat itu. Dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam mengajar kita untuk maju ke hadapan dan bukan mengajar kita tersadai di tepi jalan. PAHALA MEMBANTU TETANGGA DAN ANAK YATIM Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, tertidur di Masjidil Haram. Dia telah bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit lalu yang satu berkata kepada yang lain, "Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?" Jawab yang lain, "Enam ratus ribu." Lalu ia bertanya lagi, "Berapa banyak yang diterima ?" Jawabnya, "Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq." Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq itu sehingga ia sampailah ke rumahnya. Dan ketika diketuknya pintunya, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya namanya. Jawab orang itu, "Muwaffaq." Lalu abdullah bin Mubarak bertanya padanya, "Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai darjat yang sedemikian itu?" Jawab Muwaffaq, "Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak dapat kerana keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat wang tiga ratus diirham dari pekerjaanku membuat dan menampal sepatu, lalau aku berniat haji pada tahun ini sedang isteriku pula hamil, maka suatu hari dia tercium bau makanan dari rumah jiranku dan ingin makanan itu, maka aku pergi ke rumah jiranku dan menyampaikan tujuan sebenarku kepada wanita jiranku itu. Jawab jiranku, "Aku terpaksa membuka rahsiaku, sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tanpa makanan, kerana itu aku keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba bertemulah aku dengan bangkai himar di suatu tempat, lalu aku potong sebahagiannya dan bawa pulang untuk masak, maka makanan ini halal bagi kami dan haram untuk makanan kamu." Ketika aku mendegar jawapan itu, aku segera kembali ke rumah dan mengambil wang tiga ratus dirham dan keserahkan kepada jiranku tadi seraya menyuruhnya membelanjakan wang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam jagaannya itu. "Sebenarnya hajiku adalah di depanpintu rumahku." Kata Muwaffaq lagi. Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahwa membantu jiran tetangga yang dalam kelaparan amat besar pahalanya apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim. Rasulullah ada ditanya, "Ya Rasullah tunjukkan padaku amal perbuatan yang bila kuamalkan akan masuk syurga." Jawab Rasulullah, "Jadilah kamu orang yang baik." Orang itu bertanya lagi, "Ya Rasulullah, bagaimanakah akan aku ketahui bahwa aku telah berbuat baik?" Jawab Rasulullah, "Tanyakan pada tetanggamu, maka bila mereka berkata engkau baik maka engkau benar-benar baik dan bila mereka berkata engkau jahat, maka engkau sebenarnya jahat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalantrabas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-1504301182328684720?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/1504301182328684720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=1504301182328684720' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/1504301182328684720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/1504301182328684720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/kisah-ibrahim-al-khawas.html' title='Kisah Ibrahim Al-Khawas'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-2220925692750549825</id><published>2008-07-23T17:29:00.000-07:00</published><updated>2008-07-23T18:23:22.543-07:00</updated><title type='text'>Wali Allah DI Bulan Rajab</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Kisah Wali Allah Di Bulan Rejab&lt;br /&gt;ketika di zaman Nabi S.A.W, terdapat seorang perompak jalanan yang terkenal. Setiap  tengah malam, dia akan menangkap dan merompak siapa saja yang ditemuinya berjalan sendiri. Kadang-kala, dia akan memukul dan membunuh orang yang dirompaknya. Setelah merompak, dia terus pulang ke rumah. Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap lelaki tersebut. Disebabkan kekejamannya, Nabi S.A.W telah berkata dengan perasaan marah tentang lelaki tersebut: “orang itu jahat, jika dia meninggal, aku tidak akan menyembahyangkan dan mengkebumikannya di tanah perkuburan orang Muslim”. Setelah beberapa tahun kemudian, lelaki tersebut meningggal dunia. Dia mempunyai seorang anak perempuan. Malangnya, anak perempuan itu tidak mau menemui seorang pun yang mau membantunya untuk mengurus jenazah ayahnya. Disebabkan Nabi S.A.W pernah mencela perbuatan ayahnya- tidak akan menyembahyangkan dan mengkebumikannya di tanah perkuburan orang Muslim, orang-orang nakal telah membawa jenazah tersebut melalui jalan Madina dan membuangnya ke dalam sebuah tempat kotor . Setelah jenazah itu dibuang, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad S.A.W dan berkata, “Ya Habibi ya Muhammad! Wahai kekasih Ku Nabi S.A.W, hari ini seorang dari wali Ku telah meninggal dunia. Kamu harus pergi dan memandikannya, mengkafankannya, menyembahyangkanya serta mengkebumikannya.” Nabi S.A.W terkejut, sepanjang hidupnya baginda telah mencela lelaki tersebut. Sekarang apabila lelaki tersebut meninggal dunia, Allah memberitahukan baginda bahwa lelaki tersebut sebenarnya adalah wali-Nya. Bagaimana dia bisa menjadi wali? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat mencampuri urusan pengetahuan Allah, walaupun Nabi S.A.W. Jika Allah mau menjadikan seorang perompak sebagai wali-Nya, tidak boleh sama sekali kita bertanya “KENAPA?” Kita mesti menerimanya. Oleh sebab itu, mengikuti ajaran Sufi dan ajaran di dalam tarekat , kita mesti memandang orang disekeliling lebih baik daripada kita. Kita tidak tau jika Allah akan menaikkan makam seseorang kepada makam yang lebih tinggi daripada makam kita; Siapa tahu? Tidak akan ada seorang pun yang akan tau, oleh yang demikian janganlah kita mencampuri urusan-Nya. Jangan memandang rendah kepada orang laen. jika kita merasa kita lebih baik daripada mereka. Kita tidak tahu ada orang tersebut, pada pandangan Allah adalah wali ataupun tidak. Siapa yang tahu? yang demikian, kita perlu memandang tinggi kepada orang lain, menghormati mereka dan sentiasa merendahkan diri sendiri. Jangan sama sekali menunjukkan ego dan senantiasa berpuas hati. Allah berkata kepada Nabi S.A.W, “Ya Rasulullah, pergi cari dia dan bersihkan dia.” Dengan serta merta, Nabi S.A.W memanggil Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq dan berkata, “Wahai Abu Bakar, kita perlu pergi dan mencari ‘lelaki’ tersebut. Abu Bakar berkata, “Ya Rasulullah, baginda pernah berkata bahwa baginda tidak akan mengkuburkan lelaki tersebut di tanah pemakaman orang Islam, dia bukan seorang muslim!” Nabi S.A.W berkata, “Tidak, tinggalkan persoalan Muslim. Allah memberitahuku tentang lelaki tersebut adalah seorang wali!” Apa yang telah dilakukan oleh perompak tersebut sepanjang hidupnya sehingga dia menjadi seorang wali? Sepanjang hidupnya, dia telah membunuh, merompak dan mencuri. Nabi S.A.W pergi ke tempat tersebut, mengambil mayat lelaki tersebut dengan tangan baginda sendiri, dan membawanya pulang ke rumahnya dengan sahabat-sahabatnya. Kemudian, baginda membersihkannya, memandikannya, mengkafankannya, menyembahyangkannya dan seterusnya membawa jenazah lelaki tersebut ke masjid Nabi S.A.W. ke Jannat ul-Baqi. Jarak perjalanan dari masjid ke Jannat ul-Baqi berjarak 15 menit jika berjalan kaki. Namun begitu, Nabi S.A.W menempuh jalan tersebut lebih dari dua jam untuk sampai dari tempat yang pertama ke tempat yang kedua. Semua sahabat-sahabat baginda merasa heran melihat cara rasulullah S.A.W. berjalan. Dengan tangan baginda sendiri baginda telah membersihkan lelaki tersebut, memandikannya dan menyembahyangkannya. Semasa baginda membawa jenazah tersebut ke tanah kuburan, baginda berjalan menggunakan jari kakinya (secara mengjinjat). Lantas sahabat-sahabat baginda bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau berjalan demikian?” Baginda menjawab, “Allah telah memerintahkan semua wali yang ada di timur dan barat, dan semua malaikat yang berada di tujuh surga dan semua para wali hadir dan mengiringi jenazah ini. Mereka semua terlalu banyak dan memenuhi jalan, dan aku tidak mempunyai tempat untuk berjalan. Sepanjang hidupku, aku tidak pernah terkejut seperti hari ini.” Sesudah mengkebumikan lelaki tersebut, Nabi S.A.W tidak berkata dengan siapapun. sebaliknya baginda terus pulang ke rumah dengan badan yang bergetar-getar. Baginda duduk dengan Sayydina Abu Bakar dan bertanya kepada baginda tentang apa yang telah dilakukan oleh wali tersebut; menjadi perompak sepanjang hidupnya tetapi mendapat tempat yang cukup tinggi di sisi Allah. Sayyidina Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, aku berasa malu untuk bertanyakan tentang apa yang telah aku saksikan hari ini, ia sesuatu yang mengherankan.” Kemudian, Nabi S.A.W. menjawab,” Wahai Abu Bakar, aku lebih terkejut daripada kamu, dan aku sedang menunggu kehadiran Jibril dan bertanya apa sebenarnya yang terjadi” Jibril datang, Nabi S.A.W berkata,” Wahai Jibril, apakah yang terjadi sebenarnya?” Jibril menjawab,” Wahai Nabi S.A.W., janganlah engkau bertanya kepadaku. Aku juga heran seperti baginda. Oleh sebab itu, jangan merasa heran karena itu adalah kehendak Allah .manusia tidak dapat melakukan itu semua dan Dia memberitahu baginda untuk bertanya pada anak laki-laki tersebut tentang apa yang telah terjadi semasa hidupnyanya.” Dengan segera baginda pergi tidak ditemani oleh Sayydina Abu Bakar, Nabi S.A.W. dengan sendirinya pergi ke rumah perompak tersebut. Nabi S.A.W. dengan rendah diri baginda merendahkan diri sebagai manusia paling sempurna yang dicintai Allah pergi ke rumah perompak tersebut untuk bertanyakan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya semasa hidupnya: “Wahai anakku, ceritakan kepadaku bagaimana kehidupan ayahmu.” Anak perempuan lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku begitu malu dengan apa yang akan aku ceritakan kepada kamu. Ayahku seorang pembunuh, seorang pembunuh. Aku tidak pernah melihat dia melakukan melakukan kebaikan. Dia merompak dan mencuri siang dan malam kecuali satu bulan. Apabila bulan tersebut tiba, dia akan berkata: “Bulan ini adalah bulan tuhanku, kerana ayahku pernah mendengar engkau berkata, Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulan Nabi S.A.W. dan Ramadan adalah bulan umat Muhammad.” Kemudian ayahku berkata lagi, “aku tidak tau dengan bulan Nabi S.A.W. atau bulan umat Muhammad, kecuali bulan tuhanku. Oleh sebab itu aku akan duduk di dalam bilikku bersendiriaan, dan bersuluk sepanjang bulan ini. Nabi S.A.W bertanya kepada anak perempuan itu lagi, “Apakah jenis suluk yang dia lakukan?” Dia menjawab,” Wahai Rasulullah, satu hari ketika ayahku sedang berjalan untuk mencari seseorang yang akan dirompaknya, dia bertemu dengan seorang lelaki tua yang berumur 70-80 tahun. Lantas ayahku memukulnya hingga pingsan, dan kemudiannya merompaknya. Dia menemukan sehelai kertas kecil yang tergulung pada orang tua tersebut. Kemudian, dia membukanya dan mendapati di dalamnya ada satu doa. Ayahku amat gembira dengan doa tersebut. Setiap tahun, apabila datang bulan Rajab-bulan Allah , ayahku akan duduk bersendirian dan membaca doa tersebut siang dan malam, menangis dan membaca, kecuali keluar untuk makan dan membersihkan diri. Apabila bulan Rajab berakhir, dia akan bangun dan berkata, bulan Allah telah tamat, sekarang untuk menyenangkanku aku akan kembali merompak dan mencuri untuk 11 bulan yang akan datang. Doa (Doa awliya’ Abbas) yang digunakan oleh lelaki tersebut adalah sangat penting dan kita dinasehatkan untuk membacanya 3 kali sehari ketika bulan Rajab. guru saya berkata doa ini mencuci semua dosa dan menjadikan kamu putih seperti bayi yang baru dilahirkan. Doa ini amat terkenal di dalam ajaran sufi. Apabila Nabi S.A.W meminta anak perempuan lelaki tersebut memberikan doa tersebut kepadanya, baginda terus mencium kertas doa tersebut dan menyapunya pada badan baginda. Jangan tinggalkan doa dan amalkannya ketika bulan ini datang, teruskan membacanya, dan Allah akan memberi kepada kita, Insyallah. tergantung kepada niat masing-masing. Allah telah berkata kepada Nabi S.A.W., “Wahai Nabi yang Kucintai, orang itu telah datang dan memohon ampunan kepadaKu di dalam bulan yang sangat berharga. Oleh karena itu, dia berkorban satu bulan penuh dalam setahun untukKu, Aku ampuni semua kesalahannya, dan aku ganti semua dosanya dengan pahala . Kerana dia mempunyai terlalu banyak dosa, sekarang dia mempunyai banyak ganjaran, dan dia kini menjadi wali besar.” Kerana satu doa, Allah jadikan seseorang yang tidak pernah beribadat sepanjang hidupnya menjadi wali. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;jalantrabas.. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-2220925692750549825?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/2220925692750549825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=2220925692750549825' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/2220925692750549825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/2220925692750549825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/07/wali-allah-di-bulan-rajab.html' title='Wali Allah DI Bulan Rajab'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-3934065566878230412</id><published>2008-05-24T08:28:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T19:34:11.419-07:00</updated><title type='text'>sodara empat</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;SEDULUR PAPAT&lt;br /&gt;Didalam adat Jawa sangat kita kenali istilah Sadulur papat kalima pancer. Namun generasi sekarang banyak yang melupakannya memang.Tatkala seorang ibu melahirkan bayi, sang bayi ini dikawal oleh ketuban yang menjaga badan, placenta yang memayungi janin di dalam perut ibu dan mengantarkannya sampai ke tujuan: gubrag! di alam mayapada ini. baru kemudian darah menyertai sebagai saudara ketiga. Kedudukan darah adalah Membantu Yang Punya Hidup demi mewujudkan kehendakNYA. Dan saudara keempat adalah pusar. Peran pusar adalah untuk memenuhi permintaan jabang bayi. Begitu bayi lahir bereslah tugas keempat saudara secara materialistik. Namun secara spiritual keempat mereka masih tetap menemani.Dalam kebudayaan arab tidak dikenal nama saudara empat ini.Ketika Islam masuk ke Jawa, saudara empat itu dihubungkan dengan malaikat :1. Jibril (Jabr El = kekuatan Tuhan =&gt; ketuban =&gt; ruh. Mempunyai seribu enam ratus sayap, Dan dari kepala sampai kakinya ditutupi tujuh puluh ribu bulu berwarna kuning. Setiap bulunya memuat satu bulan dan banyak bintang),2. Israfil (=malaikat penggenggam yang meniuplan teropet kehidupan dalam rahim = ari-ari atau tembuni atau placenta. semesta,3. Mikail (= memelihara kehidupan =&gt; tali pusar, dalam kepercayaan orang Jawa malaikat Mikail adalah saudara yang menjamin sandang, pangan dan papan) dan4. Izrail (= Malaikat maut. Sosok yang dipercaya sebagai penanggung jawab kematian. Dalam Hindu konon dikenal sebagai Bathara Kala, dewa yang menguasai waktu, ajal.Buat orang Jawa kematian dewa kematian tidak ada. Karena kematian bukan berasal dari luar diri seseorang. Malainkan merupakan jalan kembali kepada Sang Maha Pencipta)). Sistem saudara empat ini juga dihubungkan dengan keempat napsu yang ada pada manusia. Amarah, lauwamah, sufiyah, dan mutmainah (=jiwa yang tenang.)Dalam pengenalan diri sejati, teruraikan secara sederhana mengenai diri sejati kita.Dalam kita hidup didunia ini, sebenarnya kita punya kembaran astral, ada 4 kembaran astral kita sbb :Asal Warna Posisi Pengaruh NamaKawah Bayi Putih Timur Mutmainah / Keutamaan Kakang KawahAri Ari Kuning Barat Supiyah / Keindahan Adi Ari AriDarah Merah Selatan Amarah DarahPuser Hitam Utara Aluamah / Keserakahan PusarSedangkan kita sendiri adalah merupakan pusat / pancer dari keempat saudara saudara Astral itu. Oleh karena itu dikenal adanya “sedulur papat lima pancer “.Sedang diatas ke empat saudara kita itu, ada sang guru sejati, kemudian diatas guru sejati ada Sang Sukma Sejati.Kalau dalam filosofi 5 jari, maka guru sejati diwakili oleh Jempol , sedang ke 4 bawahannya diwakili oleh keempat jari yang lain.Ajaran para leluhur telah menyebutkan keberadaan sudara gaib kita ini yaitu bahwa jika manusia bisa menguasai keempat saudaranya itu (yg notabene menguasai 4 nafsu,) maka orang tsb menjadi oke, bagus, sip, jempolan.Secara keilmuan Jawa, yang putih sering disebut nafsu Muthmainah (keutamaan), yang merah disebut Nafsu Amarah, yang kuning disebut Nafsu Supiyah (keindahan), dan yang hitam disebut Nafsu Luwamah atau Aluamah (keserakahan).Keempat-empatnya harus diseimbangkan, jangan terlalu menonjol salah satu, karena akan berakibat kurang baik. Meskipun Nafsu Muthmainah menuntun menuju keutamaan, namun kalau terlalu “kebablasen” ya tidak baik, contoh berderma yang sampai habis-habisan sehingga diri sendiri sampai tidak terpikirkan (menderita). Nafsu Amarah akan menuntun kearah keangkaramurkaan, sihingga juga tidak baik kalau lepas kendali., Nafsi Supiyah menuntun ke kecintaan pada keindahan, kalau lepas kendali, kita bisa menjadi pengumbar nafsu (syahwat). Begitu pula dengan nafsu Aluamah, bila lepas kendali akan menuntuk kita ke keserakahan, ingin memiliki yang bukan haknya, dan lain sebagainya.Persoalannya kemudian adalah, bagaimana cara untuk “mengaktifkan” mereka secara seimbang agar mereka bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan, ataupun cara-cara kita untuk mendayagunakannya. Karena menurut pengalaman, sebelum diaktifkan, meraka tidak berada di empat penjuru (mengelilingi kita) namun berjajar di belakang kita. Mereka baru benar-benar bekerja ketika kita memang sedang sangat membutuhkan (di alam lahiriah sering terlihat sebagai kemampuan yang tak terduga sebelumnya), setelah itu, yaaa istirahatlah mereka.Secara mudah, untuk mengaktifkannya sedulur papat ini, kita harus sering-sering mengajaknya berkomunikasi (komunikasi satu arah). Ajaklah mereka kalau kita akan melakukan sesuatu. Misalnya akan bepergian, dsb.Coba juga dihubungi ketika kita sedang melakukan meditasi, lakukan komunikasi satu arah (apa yang menjadi keinginan kita kita sampaikan padanya, tanpa harus mendengar jawaban yang diberikan).Sebenarnya, bila kita menggunakan medium, akan lebih mudah lagi, karena kita dapat langsung berwawancara, sehingga kita juga mengerti akan kemauannya, dan cara-cara untuk memanggil yang paling pas.Mereka dapat di dayagunakan untuk perlindungan, dsb. Gampangnya ya membantu apapun yang ingin kita kerjakan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-3934065566878230412?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/3934065566878230412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=3934065566878230412' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3934065566878230412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3934065566878230412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/05/sodara-empat.html' title='sodara empat'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-3814319937476863627</id><published>2008-05-04T23:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T19:31:51.691-07:00</updated><title type='text'>islam dan mistik sufisme jawa 2</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Dalam syair Hamzah Fansuri, makrifat ditamsilkan sebagai air hayat, sebab pengetahuan inilah yang dapat menghidupkan jiwa yang mati dan yang dengan itu menyebabkan seseorang mengenal kebenaran hakiki dan mencapai persatuan mistikal dengan Tuhannya. Dengan demikian ia merasakan hidup kekal (baqa) bersama Tuhan. Dalam syairnya Hamzah Fansuri antara lain menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aho segala yang berhati&lt;br /&gt;Jangan lupa akan ma`al hayati&lt;br /&gt;Barang siapa tahu akan laut yang jati&lt;br /&gt;Dunia akhirat tiada akan mati&lt;br /&gt;(IX:1 AH. 364)&lt;br /&gt;Disiyaratkan dalam bait ini bahwa untuk mendapat ma` al-hayat atau air hayat (makrifat) seseorang harus menggunakan sarana yang terdapat dalam kalbu atau hati. Selanjutnya dikatakan bahwa lautan itu bernama ahad (lautan wujud yang esa) yang sifat-sifat-Nya meliputi segala sesuatu. Salah satu sifat-Nya yang lain ialah jamal (maha indah). Keindahannya itu cahayanya terang. Kata Hamzah, “Jamal itulah cahayanya terang/ Pada kedua `alam adanya senang/ Barangsiapa sampai pada laut yang tenang/ Dunia akhirat terlalu menang” (IX:13 AH p.367). Pokok yang sama dibahas dalam Dewa Ruci (pupuh VIII).&lt;br /&gt;Dikatakan juga bahwa kedua alam itu diliputi oleh Dzat-Nya sepanjang zaman, yaitu oleh sifat-sifat-Nya sebagai pemberi hayat, ilmu, maha berkehendak, dan lain sebagainya. Hamzah Fansuri menghubungkan simbol ‘air hayat’ dengan pengetahuan tentang ‘diri’, kehampiran manusia dengan Sang Pencipta, persatuan mistik dan cahaya-Nya yang maha indah. Untuk mendapat air hayat itu seorang penuntut ilmu suluk harus menyelam ke dalam lautan wujud alam semesta. Lukisan tentang lautan wujud dalam syair Hamzah Fansuri, tidak jauh berbeda dengan lukisan dalam Dewa Ruci. Kata Hamzah:&lt;br /&gt;Laut itulah yang bernama sedia&lt;br /&gt;Tempatnya gaib terlalu sunya&lt;br /&gt;Sungguh pun Tuhan yang maha mulia&lt;br /&gt;Hampir-Nya sangat kepada yang mengenal Dia&lt;br /&gt;Adalah juga menarik bahwa persoalan ‘kesatuan transenden wujud’ yang dalam Dewa Ruci dan ditafsirkan sebagai ajaran ‘kebhinnekaan dalam keekaan’ dan serta dilambangkan sebagai ‘cahaya tunggal’ yang memiliki delapan warna dikaitkan hanya dengan pandangan Imam al-Ghazali (Soebardi 1975:50). Padahal yang membahas masalah ini sebenarnya adalah Ibn `Arabi dan para pengikutnya seperti Maghribi. Misalnya seperti terlihat dalam terjemahan Ketahuilah yang diberi Nama hanya satu, namun nama seratus ribu&lt;br /&gt;Wujud itu satu, tetapi pancarannya seratus ribu&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Tanpa Wujud-Nya seluruh alam tidak maujud&lt;br /&gt;Dari Wujud dan Rahmah-Nya dunia menjadi sebuah ayat&lt;br /&gt;Dunia memancar dari perpaduan Wujud-Nya yang Sejagat&lt;br /&gt;Apa pun yang kau saksikan di alam semesta itu berasal dari Rahmat-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Dewa Ruci, Cahaya Tunggal sang Wujud itu digambarkan memiliki delapan warna. Ungkapan ini dapat dirujuk ayat al-Qur’an (52:4) yang menyatakan bahwa `Arasy merupakan singgsana Tuhan yang dijaga oleh delapan malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Analisis Simbol Cahaya dan Kalbu&lt;br /&gt;Pencitraan sinar warna-warni yang berkilau-kilauan, serta memberikan kekuatan hidup kepada kalbu, dapat dirujuk kepada psikologi Imam al-Ghazali. Khususnya dalam Ihya `Ulumuddin III, bab tentang keajaiban hati. Dalam kitabnya itu Imam al-Ghazali menyatakan bahwa dalam bentuk dan susunannya tubuh manusia itu mengandung empat campuran dan karenanya di dalamnya ada empat macam sifat, yaitu nafsu serigala (nafsu amarah), nafsu binatang (nafsu syahwat), nafsu setani (nafsu lawamah) dan nafsu malaikat (nafsu sufiyah) dan nafsu mutmainah (ketenangan) yang memancar dari sifat ketuhanan yang ada dalam diri manusia (Abdul Mudjieb 1986:39).&lt;br /&gt;Ketika manusia dikuasai oleh nafsu amarah yang dilambangkan dengan warna hitam, ia akan melakukan perbuatan serigala seperti senang akan permusuhan, penuh kebencian dan sangat agresif kepada manusia lain. Ketika seseorang dikuasai oleh syahwatnya, yang dilambangkan dengan warna merah, ia akan melakukan perbuatan binatang seperti lahap, rakus, brutal dan senang melampiskan nafsu berahinya. Selanjutnya begitu urusan ketuhanan meresap ke dalam hawa nafsunya, maka ia akan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Ia mulai menyukai kekuasaan, keluhuran dan kebebasan, serta berkeinginan untuk menguasai dunia demi dirinya sendiri. Inilah nafsu setani yang dilambangkan dengan warna kuning. Nafsu sufiyah dan mutmainah dilambangkan dengan warna putih. Jika manusia dikuasai oleh sifat-sifat ketuhanan (rabbaniyah), kata Imam al-Ghazali, maka hidupnya akan dibimbing oleh ilmu, hikmah dan keyakinan dan mampu memahami hakikat segala sesuatu. Ia akan mengenal segala sesuatu dengan kekuatan ilmu dan mata hati. Akan memancar pula darinya sifat-sifat yang mulia seperti kesucian diri, suka menerima apa yang dianugerahkan kepadanya, tenang, zuhud, wara’, taqwa, selalu riang hatinya., gemar menolong, punya rasa malu dan rasa bersalah.&lt;br /&gt;Hati orang yang telah diresapi sifat-sifat ketuhanan itulah, kata Imam al-Ghazali, dapat disebut sebagai cermin cerlang yang memancarkan cahaya berkilauan. Di sini Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis dari Abu Mansur al-Dailani, “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mencapai kebaikan, akan didijadikan kalbu baginya sebagai penasehat bagi dirinya.” Dewa Ruci sebagai guru dan penasehat Bima dalam Serat Cebolek, adalah representasi dari kalbu yang dijadikan penasehat bagi seseorang yang telah mampu menundukkan hawa nafsunya.&lt;br /&gt;Penggunaan tamsil-tamsil berkenaan dengan cahaya, kekosongan dan lain dalam kisah Dewa Ruci ini juga dapat dirujuk pada hadis Nabi yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya `Ulumuddin. Di antara hadis Nabi yang dikemukakan itu ialah seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Thabrani, “Hati seorang mukmin itu kosong, di dalamnya ada lampu yang bersinar-sinar, sedangkan hati orang yang sesat itu hitam dan terbalik”.&lt;br /&gt;Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh Khudiri ialah seperti berikut, “ Hati itu ada empat macam, yaitu: (1) Hati yang kosong atau bersih yang di dalamnya ada lampu yang bersinar, hati yang demikian itulah hati orang mukmin; (2) Hati yang hitam dan terbalik, hati yang demikian itulah hati orang yang ingkar; (3) Hati yang terbungkus dan terbelenggu oleh bungkusnya, hati yang demikian itulah hati orang munafik; dan (4) Hati yang bercampur aduk, di dalamnya ada iman dan nifaq”. Selanjutnya dijelaskan bahwa hati menjadi jernih dan penglihatan batin menjadi terang disebabkan iangat kepada Allah dan taqwa. Ingat akan Allah merupakan pintu kasyf (tersingkapnya hakikat segala sesuatu) dan kasyf itu merupakan pinmtu keberuntungsn, yaitu keberuntungan berjumpa dengan-Nya (Abdul Mudjieb 1986 46-8).&lt;br /&gt;Dalam uraian selanjutnya, dengan merujuk kepada pendapat Imam al-Ghazali itu, Yasadipura I menulis bahwa hati yang bersih dan kosong itu saja yang dapat membawa seseorang mencapai hidayah (petunjuk) ilahi (pupuh VIII:15-18): “Jika kau berhasil mengatasi/Tiga bentuk nafsu ini/Persatuanmu akan sempurna/Kau tak perlu lagi pembimbing/Mencapai persatuan hamba dan Gusti (pamoring kawula Gusti)/Setelah Werkudara mendengar ini/Kerinduan hatinya membara/Berahinya (`isyq) kian berkobar/Hatinya dirasuki/Keinginan manunggal//Warna yang empat sirna pula dari pandangan /Tinggal cahaya tunggal delapan warna/Kata Werkudara:/“Apa nama cahaya delapan warna ini/Merupakan hakekat sejati?/Tampak seolah permata gemerlapan/Kadang seperti bayangan, mempesona/Kadang pancaran sinarnya bagaikan zamrud”.&lt;br /&gt;Selanjutnya, “Dewa Ruci, Sang Nur seantero jagad/Lantas menjawab:/“Inilah intipati kesatuan/Artinya segala hal yang ada di alam dunia/Ada pula dalam dirimu/Pun semua yang ada di alam dunia/Memiliki padanan dalam dirimu/Antara jagat besar/Dan jagat kecil tidak berbeda/Ia adalah asal-usul utara, selatan, timur/Barat, zenith dan nadir//Seperti warna yang empat/Kepada dunia memberi hayat/Jagad besar dan jagad kecil/Setiap yang ada sama dalam keduanya/Jika rupa di alam dunia/Ini lenyap seisinya/Maka semua wujud akan tiada/Dan menyatu dalam wujud tunggal/&lt;br /&gt;Tiada lelaki atau wanita”.&lt;br /&gt;Kemudian dijelaskan bahwa tahap awal yang harus ditempuh ahli suluk untuk mencapai “Pamoring Kawula Gusti” dan memahami makna “Sangkan Paraning Dumadi” secara mendalam ialah melalui pengendalian diri atau kecenderungan-kecenderungan buruk dari hawa nafsu.&lt;br /&gt;Dalam ilmu tasawuf, tahapan awal ini disebut mujahadah, perjuangan batin melawan kecenderungan buruk dalam diri. Mujahadah mencakup tiga hal: (1) Penyucian diri (thadkiya al-nafs); (2) Pemurnian hati (tashfiyat al-qalb); (3) Pengosongan jiwa terdalam (takhliyat al-sirr). Pengosongan jiwa terdalam atau sirr dilakukan dengan memusatkan diri kepada Yang Satu dan mengosongkan diri dari yang selain-Nya (Mir Valiuddin 1980:1-3).&lt;br /&gt;Demikianlah setelah Bima menempuh tahap awal dari perjalanan keruhaniannya itu, ia berjumpa dengan Dewa Ruci yang digambarkan seperti mutiara dengan sinar warna-warni gemerlapan. Ia tidak lain adalah gambaran tentang hati terdalam manusia dan merupakan manifestasi (tajalli). kebesaran dan keindahan Tuhan. Dewa Ruci adalah lambang dari hakikat diri dan perjumpaan dengannya disebut musyahadah, penyaksian atas tanda-tanda dari kehadiran Yang Satu.&lt;br /&gt;Uraian tentang hati dan lambang-lambangnya dalam suluk itu merujuk pada uraian Imam al-Ghzali tentang hati dalam Ihya `Ulumuddin III. Menurut Imam al-Ghazali, hati adalah substansi lembut yang bersifat ketuhanan dan ruhaniah, dan mempunyai hubungan dengan hati jasmani – segumpal daging bulat panjang di dada kiri manusia. Substansi lembut ini merupakan hakikat manusia yang dapat memahami dan mengenal Tuhan, sebab ia memiliki ilmu untuk itu (Abdul Mujieb 1986:11-2).&lt;br /&gt;Dikatakan pula bahwa hati mempunyai ilmu dan merupakan sasaran perintah dan larangan Tuhan. Ia mempunyai hubungan erat dengan mukasyafah (tersingkapnya penglihatan batin). Ruh manusia yang tidak tampak dan tidak dikenal dengan mata jasmani, hanya dapat diterangkan sebagai badan halus dan substansi halus. Ia memiliki ilmu untuk menangkap segala pengertian dan obyek-obyek. Badan halus bersumber dari rongga hati manusia, yang melalui perantaraan otot-otot dan urat-urat yang beraneka ragam tersebar ke seluruh tubuh. Ia memancarkan sinar kehidupan, menyebabkan munculnya perasaan, pengliihatan, pendengaran dan penciuman. Ia dapat diumpamakan sebagai berkas-berkas sinar memancar dari sebuah lampu yang tersebar ke seluruh sudut ruang dalam rumah.&lt;br /&gt;Hidup ini, kata al-Ghazali, adalah laksana sinar yang tersebar di dinding-dinding rumah jasmani kita, sedangkan ruh merupakan lampunya. Perjalanan ruh dan geraknya dalam batin seseorang, seperti gerak lampu yang memancarkan sinar ke seluruh ruangan dalam rumah dan ada penggeraknya. Adapun yang kedua, yaitu substansi halus dalam diri manusia yang memiliki ilmu, merujuk kepada hati (Ibid 13-4).&lt;br /&gt;Marilah kita bandingkan dengan uraian yang dikemukakan pengarang Serat Cabolek. Sinar gemerlapan yang disebut pramana dan memberikan kehidupan pada tubuh adalah manifestasi (tajalli) Hyang Suksma dalam diri manusia. Hyang Suksma adalah sumber kehidupan dalam arti sebenarnya. Pramana berada dalam tuibuh manusia, tetapi tidak nampak dan tidak terpengaruh oleh suka dan dukla, sedih dan bahagia, haus dan lapar. Ia merupakan individuasi dari hakikat ketuhanan (Soebardi 1975:50). .&lt;br /&gt;Sangat menarik bahwa substansi halus yang memancarkan sinar gemerlapan itu disebut pramana. Dalam falsafah India, kata-kata pramana digunakan secara intensif oleh para filosof Nyaya dan Vaiseshika dan lazim diartikan sebagai metode, kaedah, pedoman atau cara-cara mencapai ilmu pengetahuan, bukan seseorang atau sesuatu yang memiliki metode atau ilmu. Istilah Sanskrit lain yang mirip dengan kata-kata pramana, ialah prana, yang lazim digunakan oleh para filosof Yoga seperti Patanjali untuk menyebut energi atau daya hidup dalam tubuh manusia yang memiliki sifat ilahiyah.&lt;br /&gt;Sangat mungkin istilah pramana yang digunakan filosof Nyaya dan Vaishesika berubah arti di tangan para mistikus Jawa, atau sangat mungkin pula bahwa kata-kata itu memiliki kaitan dengan istilah prana. Atau mungkin pula para pengarang Jawa termasuk Yasadipura I sengaja menggabungkan pengertian dari dua istilah ini dalam upayanya menarjemahkan gagasan Imam al-Ghazali tentang kalbu sebagai substansi halus dalam tubuh yang bersifat ilahiyah dan memancarkan sinar gemerlapan.&lt;br /&gt;Simbol pramana juga dapat dikaitkan dengan konsep Nur Muhammad dalam tasawuf, yang digambarkan sebagai cahaya berkilauan (Tanoyo 1979). Dalam Dewa Ruci substansi halus ini juga dilukiskan sebagai cahaya gemerlapan. Yasadipura I kemudian menghubungkan pula simbol cahaya ini dengan konsep mukasyifat, yaitu sang pemberi kehidupan. Arti mukasyifat ialah dia yang memberikan kasyf (penglihatan batin yang terang, illuminasi) yang tidak lain adalah Tuhan. Wakilnya dalam tubuh manusia ialah pramana, yang juga diartikan sebagai substansi yang memberi kehidupan pada tubuh.&lt;br /&gt;Konsep Nur Muhmmad itu dikemukakan mula-mula pada abad ke-8 M oleh Ibn `Ishaq, penulis riwayat hidup Nabi paling awal. Berdasarkan hadis qudsi dikatakan bahwa sebelum alam semesta dicipta, yang dicipta lebih dahulu adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad ini dicipta dari nur-Nya (Ismail Hamid 1983:29-31; Ali Ahmad dan Si Hajar Che Man 1996:4-10). Tetapi yang pertama kali memperkenalkan symbol ini sebagai symbol konseptual sufi ialah Sahl al-Tustari (w. 896 M). Menurut Tustari, asal-usul Nur Muhammad sebagai esensi penciptaan ialah sekumpulan dzat yang berkilauan di dalam bentuk amud, dan amud ini kemudian berdiri di hadapan Tuhan setelah diciptakan. Pada permulaan kejadiannya itu Nur Muhammad berdiri tegak di hadapan Tuhan selama berjuta-juta tahun sebelum makhluq-makhluq lain dijadikan. Pada waktu alam semesta telah dicipta, kemudian Adam dijadikan dari segumpal tanah sebagai badan jasmaninya dan ke dalamnya dimasukkanlah ruh atau nur, yang disebut Nur Muhammad (Bowering 1979:125).&lt;br /&gt;Konsep Nur Muhammad disempurnakan pada abad ke-12 oleh Ibn `Arabi.` Menurutnya Nur Muhammad adalah Cahaya pertama yang keluar dari Hijab Yang Gaib dan muncul dari pengetahuan (`ilm) menuju alam kewujudan yang nyata. Penjelasan yang lebih filosofis dijumpai dalam kitab Misykat al-Anwar (Misykat Cahaya-cahaya). Dengan menggunakan metode hermeneutika atau ta’wil, yaitu bentuk tafsir simbolik sufi, Ibn `Arabi berpendapat bahwa yang dimaksud ‘cahaya’ (nur) dalam al-Qur’an (ayat atau surat al-Nur) adalah esensi tunggal yang mendasari semua bentuk keberadaan atau wujud di alam semesta ini. Sedangkan kegelapan adalah ketiadaan atau ketakwujudan paling nyata. Jagat raya atau alam semesta dicipta dari kegelapan yang di atasnya Tuhan menaburkan Cahaya-Nya sendiri, dan membuat bagian-bagian dari cahaya itu berbeda sesuai peringkatnya.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan ini, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa mata jasmani kita hanya dapat melihat perwujudan lahir dari Cahaya Mutlak itu, sedangkan wujud ruhaninya tidak dapat dilihat. Untuk melihatnya diperlukan bantuan pengetahuan khusus, yaitu makrifat. Dengan makrifat maka penglihatan batin (basha`ir) seseorang akan tersingkap dan hijab yang selama ini merintanginya akan enyah. Pengetahuan khusus ini bersemayam dalam ‘kalbu’, sehingga dikatakan bahwa ‘dalam kalbu ada jendela untuk melihat Tuhan’ (Abdul Hadi W. M. 2001:56-8). Mengenai ini dalam syairnya Hamzah Fansuri menyatakan seperti berikut:&lt;br /&gt;Unggas nuri asalnya cahaya&lt;br /&gt;Diamnya da’im di Kursi Raja&lt;br /&gt;Dari nur-nya lahir fakir dan kaya&lt;br /&gt;Menjadi insan, tuan dan saya&lt;br /&gt;Yang dimaksud ‘unggas nuri’ dalam syair tersebut ialah ruh manusia, dan asal-usul ruh ialah cahaya. Cahaya ciptaan yang tertinggi ialah Nur Muhammad. Dalam Hikayat Kejadian Nur Muhammad, cahaya terpuji yang disebut Nur Muhammad itu juga digambarkan sebagai ‘burung yang cahayanya berkilauan’. Kadang disebut burung pingai, burung nuri, dan unggas nuri. Selanjutnya dinyatakan oleh Hamzah Fansuri dalam syairnya itu bahwa keindahan burung itu memancar dari keindahan Tuhan. Bulunya adalah ‘akal semesta’ (`aql al-kulliy), kukunya ‘kalam kemuliaan’ , gurunya Allah Ta`ala, kakinya jalal (kuasa) dan jamal (indah), jari-jarinya nur al-awwal (cahaya pertama), hatinya bernama Law al-mahfudz (lembaran terpelihara), dan setelah tersucikan kalbunya maka ia menjadi jawhar (substansi) dengan safi (suci)-nya.&lt;br /&gt;Penggambaran tentang pramana dalam Dewa Ruci, tidak jauh berbeda dengan penggambaran Imam al-Ghazali dan Hamzah Fansuri. Ini menunjukkan eratnya hubungan teks-teks filsafat mistik Jawa dengan teks-teks filsafat mistik Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Akhir Kalam&lt;br /&gt;Dari penelitian ini bisa diambil beberapa kesimpulan seperti berikut: Pertama, bahwa empat cakrawala estetik yang melapisi kisah Dewa Ruci dalam Serat Cebolek mencerminkan pandangan hidup, system nilai dan Weltanschauung (gambaran dunia) orang Jawa terepresentasikan dengan baik dalam karya Yasadipura I ini. Pandangan hidup dan gambaran dunia itu didasarkan atas ajaran tasawuf Imam al-Ghazali berkenaan dengan etika dan psikologi sufi, Ibn `Arabi tentang falsafah wujud atau ontologi, yang disinthesakan dengan dasar-dasar mistisisme Jawa sebelum Islam. Inilah aspek bildung dari suluk ini.&lt;br /&gt;Kedua, pemilihan tokoh Bima dan Dewa Ruci sebagai pelaku utama memperlihatkan sensibilitas pengarang dalam membuat pertimbangan praktis, yaitu dengan bertolak dari alasan-alasan kultural. Meskipun agama Islam diterima oleh orang Jawa, namun pada saat yang sama pengarang mengingatkan agar jatidiri dan budaya Jawa lama jangan dibuang. Caranya dengan menghidupkannya seraya memberikan wadah terhadap ajaran agama yang baru dipeluk. Kecuali itu pengarang juga mengenal dengan baik kegemaran orang Jawa pada lakon wayang, sebagai pembentuk ketaksadaran dan kesadaran kolektif mereka.&lt;br /&gt;Ketiga, aspek yang bertalian dengan pertimbangan praktis lain ialah penyampaian kisah Dewa Ruci dalam bingkai cerita sejarah, sedangkan kisah inti tentang perjalanan Bima diambil dari wiracarita atau cerita kepahlawanan (epos). Orang Jawa menyukai peristiwa-peristiwa sejarah yang terkait dengan timbul tenggelamnya kerajaan-kerajaan feudal mereka, konflik-konflik internal yang terjadi. Di samping itu mereka menyukai mistik, dan cerita kepahlawanan. Penggabungan semua ini dalam Serat Cebolek memperlihatkan kepiawaian Yasadipura I.&lt;br /&gt;Keempat, secara bersama-sama pula semua itu memperlihatkan pengarang Serat Cabolek tahu selera (taste) masyarakatnya. Ketahuannya yang lain diperlihatkan melalui usahanya untuk menyerasikan filsafat mistik Jawa dengan tasawuf Islam, dalam upaya meredakan ketegangan teologis yang mengancam keutuhan budaya Jawa.&lt;br /&gt;Kelima, suatu hal yang tidak pernah dibahas secara mendalam ialah peranan teks-teks Melayu Islam dari Sumatra dalam ikut membentuk pandangan hidup dan etika Jawa yang berdasarkan Islam. Melalui teks-teks Melayu inilah kaum terpelajar Jawa mengenal filsafat mistik dan kebudayaan Islam. Kemiripan tematik karya Yasadipura I dan syair-syair tasawuf Hamzah Fansuri memperlihatkan hubungan erat kebudayaan Jawa dengan Melayu pada dataran spiritualitas.&lt;br /&gt;Keenam, teks Dewa Ruci sebagai teks sinthesis kebudayaan Jawa dan Islam ditulis bukan tanpa motif politik, apalagi dimasukkan menjadi bagian dari Serat Cabolek, sebuah suluk yang diawali dengan pemaparan perisiwa-peristiwa politik penting di lingkungan kraton Kartasura pada masa pemerintahan Amangkurat IV dan penggantinya Pakubuwana II. Khususnya peristiwa-peristiwa politik yang mau tidak mau melibatkan peranan para ulama pesisir dan pembangkangan para mistikus ortodoks. Bahwa kemudian ternyata kalangan istana digambarkan mampu mengakhiri pertentangan teologis antara dua pihak yang saling bertentangan itu, menunjukkan bahwa teks Dewa Ruci Yasadipura I ditulis bukannya tanpa motif politik tertentu.&lt;br /&gt;Mengenai motif politik penulisan Serat Cabolek, yang di dalamnya kisah Dewa Ruci dijadikan sentral pembahasan, Simuh (1988:33) mengatakan bahwa perkembangan sastra Jawa sejak lama didukung terutama oleh golongan istana. Mereka menganggap politik mempunyai nilai yang lebih tinggi dari agama. Karena itu semua kegiatan sastra dan keagamaan selalu diarahkan untuk mendukung kepentingan politik penguasa. Penerapan masalah agama diselaraskan dengan kepentingan keagamaan. Tasawuf diutamakan karena ia lebih mudah dicerna dan disesuaikan dengan tradisi mistik Jawa. Sedangkan penyelarasan antara tasawuf dan mistisisme Jawa dilakukan untuk meredakan dan mendamaikan konflik antara pendukung syariah dan pemuka ajaran heterodoks, karena sumber-sumber pembangkangan dan krisis politik di Jawa tidak jarang bersumber dari dua kelompok ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-3814319937476863627?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/3814319937476863627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=3814319937476863627' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3814319937476863627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3814319937476863627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/05/islam-dan-mistik-sufisme-jawa-2.html' title='islam dan mistik sufisme jawa 2'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-3431746789386025424</id><published>2008-05-04T23:04:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T19:30:40.331-07:00</updated><title type='text'>islam dan mistik sufisme jawa 1</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Khazanah kepustakaan Jawa kaya dengan karangan-karangan tentang filsafat mistik yang lazim disebut suluk. Pada umumnya suluk disampaikan melalui kisah perumpamaan atau alegori, dan ditulis dalam bentuk puisi atau tembang macapat gaya Mataram (Koentjaraningrat 1984:316), tetapi tidak jarang ditulis dalam bentuk gancaran atau prosa (Edi Sedyawati 2001:300). Sebagai alegori, suluk-suluk itu kaya dengan ungkapan-ungkapan simbolik dan simbol atau image-image simbolik. Karena itu untuk memahaminya diperlukan metode penafsiran atau pemahaman yang sesuai.&lt;br /&gt;Kisah Dewa Ruci adalah salah suluk yang popular di Jawa dan sering dipergelarkan sebagai lakon wayang kulit. Keragaman versinya menunjukkan luasnya penyebaran kisah ini, begitu pula dengan banyaknya naskah yang memuat teks kisah ini di berbagai museum dalam dan luar negeri (PigeAUD 1967:83-7; Behrend 1990:499-544). Sejak lama cukup banyak sarjana sastra Jawa telah menelitinya, berdasar pertimbangan bahwa suluk ini merupakan representasi terbaik dari wacana mistisisme Jawa. Di dalamnya filsafat hidup Jawa yang didasarkan pada bentuk-bentuk spiritualitas atau mistisisme yang sinkretik tergambar dengan jelasnya.&lt;br /&gt;Versi yang terkenal gubahan Raden Ngabehi Yasadipura I, pujangga Surakarta yang hidup pada masa pemerintahan Pakububuwana II (1726-1749 M) dan Pakubuwana III (1749-1788 M). Ketika karangannya itu ditulis kraton Surakarta baru saja pulih dari krisis akibat pemberontakan internal, namun campur tangan VOC yang semakin jauh dalam politik di pusat kekuasaan Jawa membayangi gelapnya kehidupan social, ekonomi dan budaya. Ancaman disintegrasi sudah lama tampak. Ini diperparah lagi dengan ketegangan di pesisir sebagai akibat dari pertikaian teologis antara pembela ortodoksi Islam dan kaum heterodoks. Ketegangan ini berpengaruh dalam kehidupan politik dan keagamaan di pedaman, tempat pusat kekuasaan berad (Ricklefs 1993:203-12).&lt;br /&gt;Krisis politik ini tentu saja sangat berpengaruh bagi perkembangan kebudayaan. Masyarakat Jawa mulai merasakan kehilangan orientasi dan krisis identitas mulai tampak dalam pola hidup dan perkembangan kesenian. Untuk memulihkan kondisi budaya yang parah itu, sebuah gerakan semacam renaissance (kebangkitan kembali) budaya diperlukan. Ini mulai dirasakan pada zaman pemerintahan Pakubuwono II. Renaissance itu dimulai dengan menyadur dan menggubah kembali karya-karya Jawa Kuna, dan juga teks-teks Melayu Islam. Teks-teks Jawa Kuna dan Melayu Islam yang telah digubah kembali itu berperan penting sebagai landasan untuk merumuskan kembali filsafat hidup dan kebudayaan Jawa. Yasadipura I menulis suluknya dalam rangka renaissance kebudayaan dan kesusastraan Jawa (Pigeaud I 1967:160-171; Edi Sedyawati 2001:321). Dalam periode inilah sinthesa kebudayaan Jawa dan Islam, yang diwakili tasawuf atau sufisme, mendapat bentuknya yang definitif. Sinthesa itu tercermin sepenuhnya dalam kisah Dewa Ruci.&lt;br /&gt;Karena itu tidak mengherankan jika suluk ini termasuk teks mistik Jawa yang paling banyak mendapat perhatian dari para sarjana untuk diteliti dan dikaji. Di antara kajian yang pernah dilakukan dan dianggap penting ialah kajian Zoetmulder (1935), Poerbatjaraka (1940), Wediondiningrat (1940), Siswoharsojo (1953), Seno Sastromidjojo (1962), Anne Wind (1956), Johns (1957), dan Soebardi (1975). Selama tiga dasawrsa setelah kajian Soebardi, dapat dikatakan tidak ada kajian yang mendalam, bahkan hanya mengulang kajian terdahulu. Padahal masih banyak yang belum diteliti dari suluk ini, terutama yang berkenaan dengan tasawuf atau mistisisme Islam, yang merupakan aspek dan unsur penting dari suluk sinthesis ini. Dalam kajian yang telah disebutkan unsure ini hanya dibicarakan sambil lalu dan dianggap seakan hanya merupakan unsure atau aspek sampingan belaka.&lt;br /&gt;Berdasarkan kenyataan inilah, penelitian ini ditumpukan pada unsur-unsur tasawuf yang terdapat dalam suluk ini. Khususnya pengaruh paham monisme dari ontologi atau filsafat wujud Ibn `Arabi yang disebut sebagai paham kesatuan transenden wujud (wahdat al-wujud). Unsur lain dalam DR yang berkaitan dengan tasawuf ialah uraian tentang hawa nafsu (nafs) dan hati (qalb) serta keadaan-keadaan yang dialaminya pada saat seseorang menempuh jalan mistik (suluk). Unsur ini termasuk ke dalam bidang psikologi sufi, yang terutama sekali dibahas oleh Imam al-Ghazali yang pemikiran tasawufnya sangat berpengaruh di Indonesia. Sebagaimana dalam alegori-alegori mistik yang lain, konsep-konsep tasawuf yang dibahas dalam teks itu dikemas dalam symbol-simbol lokal. Ini juga akan mendapat perhatian dalam penelitian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Tujuan penelitian ini ialah: Pertama, menerangkan bagian-bagian dari teks Dewa Ruci yang bersesuaian dengan ajaran Ibn `Arabi tentang wujud, khususnya seperti terlihat pada penggunaan konsep-konsep kunci dan simbol-simbol estetik sastranya; Kedua, menerangkan hubungan DR dengan psikologi sufi yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali; Ketiga, menjelaskan keberhasilan penulisnya dalam memadukan filsafat mistik Jawa dan Islam dalam sebuah karangan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Data Teks Yang Diteliti&lt;br /&gt;Teks-teks yang dijadikan bahan penelitian ialah teks-teks Serat Cabolek yang tidak jauh berbeda salinannya.&lt;br /&gt;Teks dalam naskah Perpustakaan Museum Leiden , nomor Cod. Or.&lt;br /&gt;1795. Didaftar dalam katalog Vreede CCXXVII (Vol. II, hal. 314 – 5). Tembang macapat yang digunakan dalam awal suluk ialah Dandanggula.&lt;br /&gt;Teks Serat Cebolek cetakan Van Dorp, 1887. Dalam katalog Vreede (II,&lt;br /&gt;hal. 30) dikemukakan bahwa teks salinan dalam tulisan Latin ini disalin dari teks tulisan Jawa dan diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan edisi 1887, yaitu Van Dorp &amp;amp; Co, Semarang. Edisi ini dimulai dengan tembang Dandanggula seperti berikut, “Serat Cabolek, anyariosaken ing nalika keraton Kartasura, panjengenganipun Kanjeng Susuhunan Sumare Nglaweyan. Ing waktu mas Ketib Anem Kudus paben kaliyan Haji Ahmad Mutamakin dusun Cabolek bawah nagari Tuban, bab prakawis ngelmu Taukid…”.&lt;br /&gt;Teks Serat Cabolek suntingan Soebardi (1975) dari beberapa naskah&lt;br /&gt;Koleksi Museum Nasional Jakarta (sekarang Perpustakaan Nasional Jakarta) yang juga diawali dengan tembang Dandanggula, berbunyi: “Wuryaning sarkara manulad sri, pinanduk ing reh angkara cipta, karti sampeka panjro jujur tyaas katelanjur. Pangajarin pakarti kontit, tan tatal tinatula, jataling kalbu, kombul Kabul ing istijrat…” (Soebardi 1975:66).&lt;br /&gt;d. Syair-syair Hamzah Fansuri yang dijadikan bahan perbandingan dalam penelitian ini didasarkan atas teks dalam naskah Melayu abad ke-18 yang terdapat dalam koleksi Perpustakaan Museum Jakarta (MS Jak. Mal. No. 83). Transliterasinya lihat Abdul Hadi W. M. (2002:351-412).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Teori&lt;br /&gt;Teori yang digunakan adalah perpaduan Teori Arketipal Jung dan Teori `Alam al-Mithal Ibn `Arabi. Menurut Jung, sejak dulu hingga kini manusia terdiri dari tipe-tipe tertentu dan tipe-tipe itu terbentuk disebabkan pengalaman bersama di masa lampau. Tipe-tipe itu muncul dari sumbernya yang disebut collective consciousness atau ketaksadaran bersama (Jung 1957:100-123); Steven 1982; Budi Darma 2004:46-9). Ia hadir dalam sastra dalam bentuk archetypal images, termasuk di dalamnya image-image simbolik, mitos dan motif-motif tertentudalam cerita (Jung 1957:112; Jacobi 1968). Di antaranya berupa bayangan, anima, animus, orang bijak, ibu agung, pahlawan, ayah, anak, dan diri (self).&lt;br /&gt;Tetapi Jung tidak menjelaskan bagaimana proses hadirnya image-image purbani itu dalam sastra. Ibn `Arabi menjelaskan bahwa proses itu terjadi karena pengarang menggunakan imaginasi kreatif dalam melahirkan karangannya. Imaginasi kreatif mengolah pengalaman dan gagasan-gagasan keruhanian pengarang, dan memberinya wadah berupa image-image purbani yang besifat simbolik. Image-image itu tampaknya diambil dunia empiris, tetapi sebenarnya berasal dari alam imaginal (`alam al-mithal) yang berada jauh di lubuk jiwa pengarang. Karya sastra dilihat sebagai representasi alam imaginal yang pembacaannya bisa utuh bilamana kita memahami makna batin yang dikandung simbol-simbolnya. Simbol-imbol itu lebih jauh berfungsi sebagai penghubung pengetahuan empiris dengan pengalaman intuitif mistikal (Corbin 1977:188).&lt;br /&gt;5. Metode&lt;br /&gt;Metode yang digunakan adalah gabungan Gadamer dan hermeneutika sufi (ta’wil). Keduanya saling melengkapi dan relevan dalam meneliti karya-karya bercorak mistikal dan simbolik. Dalam metode hermeneutika karya sastra dipandang sebagai wacana simbolik karena unsur fiksionalitas dan perumpamaa (metaphor) yang ada di dalamnya sangat menonjol. Dalam metode ini teks dikaji sebagai bentuk ‘pelambangan’ atas sesuatu yang lain (Corbin 1981:13 – 19). Sesuatu yang lain itu memiliki ‘cakrawala’ yang luas dibandingkan dengan cakrawala harafiah teks.&lt;br /&gt;Menurut Gadamer ada empat cakrawala tersembunyi dalam suatu teks filsafat atau sastra. Empat cakrawala itu ialah (1) Bildung atau pandangan keruhanian yang membentuk jalan pikiran seseorang, termasuk di dalamnya pandangan hidup (way of life), system nilai Weltanschauung; (2) Sensus communis, yaitu pertimbangan praktis, yang dalam sastra bisa terwujud dalam pemilihan tema atau permasalahan dengan mempertimbangkan perasaan komunitas di mana pengarang hidup; (3) Judgment atau pertimbangan, berhubungan dengan apa yang harus disampaikan dan diajarkan kepada masyarakat dengan mempertimbangkan baik buruknya; (4)Taste atau selera, cara-cara menyajikan sesuatu yang sesuai dengan selera masyarakat sezaman (Salleh Yaapar 2002:70-80; Sumaryono 1993:78-9).&lt;br /&gt;Dalam hermeneutika sufi, bildung dihubungkan dengan ontologi (falsafah wujud) dan psikologi sufi. Dalam ontology sufi, alam semesta terdiri dari empat tatanan wujud, secara berturut-turut dari atas ke bawah ialah alam ketuhanan (alam lahut), alam keruhanian (alam jabarut), alam kejiwaan (alam malakut), dan alam jasmani (alam nasut). Simbol perjalanan dalam sebuah karya mistikal seperti Dewa Ruci adalah perjalanan mendaki dari tatanan wujud terdendah menuju tatanan wujud tertinggi. Dalam wilayah pengalaman tentang wujud tertinggi itulah makna sebenarnya sebuah karya harus dicari (Salleh Yaapar 2002:81-94)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Deskripsi Kisah Dewa Ruci&lt;br /&gt;Kisah Dewa Ruci mulai digubah pada abad ke-18 M berdasarkan teks abad ke-16 M Serat Syekh Malaya karangan Sunan Kalijaga. Ada dua versi dari teks abad ke-16 ini. Versi I menceritakan pertemuan Iskandar Zulkarnanin dengan Nabi Khaidir di sebuah pantai. Iskandar diseruh menyelam ke dalam lautan untuk mencari air hayat (ma` al-hayat) agar bisa hidup kekal. Versi II, peran Iskandar diganti oleh Syekh Malaya alias Sunan Kalijaga (Abdul Hadi W. M. 2002:322). Dalam Serat Dewa Ruci peran Syekh Malaya diganti oleh Bima, sedangkan Nabi Khaidir oleh Dewa Ruci.&lt;br /&gt;Cerita dimulai dengan peristiwa pertemuan Bima dan Drona menjelang perang Kurawa Pandawa meletus. Drona memerintahkan Bima mencari air hayat di puncak gunung Candradimuka agar bisa hidup kekal dan berjaya di medan perang. Setelah gagal menjumpai di puncak gunung, Bima disuruh mencarinya di dalam lautan. Dalam Serat Cabolek, bagian awal kisah tidak diceritakan. Kisah langsung dimulai dengan penyelaman Bima ke dalam lautan untuk mencari air hayat, suatu episode yang memang paling penting dalam kerangka suluk Dewa Ruci. Sinopsis ceritanya yang lengkap ialah sebagai berikut: Menjelang meletusnya perang Kurawa dan Pandawa (Bharatayudha) Drona memanggil muridnya Bima, putra kedua Pandu (Pandawa). Drona yang memihak Kurawa, mempunyai rencana jitu. Agar Bima yang sakti tidak ikut dalam perang Pandawa melawan Kurawa, ia harus disingkirkan. Drona menyuruhnya mencari air hayat ke puncak gunung Candradimuka.&lt;br /&gt;Sebagai murid yang patuh Bima menjalankan perintah gurunya. Drona gembira, karena yakin Bima akan mampus diterkam binatang buas dan raksasa. Tetapi di luar dugaan Bima dapat mengalahkan dua raksasa sakti dan ganas yang dijumpai di hutan dan merintangi perjalanannya. Namun alangkah kecewanya, setibanya di kawah Candradimuka putra Pandu dia tidak menemukan air hayat seperti dituturkan gurunya. Bima kembali menemui Drona. Drona mengeluarkan lagi tipu dayanya. Dia menyuruh Bima mengarungi samudra, karena air hayat itu terdapat di sana. Dengan tegap Bima pun berjalan menuju menuju laut, lantas berenang dan menyelam.&lt;br /&gt;Di dalam lautan dia berjumpa ular naga besar dan ganas menghalangi perjalanannya. Melalui pertarungan yang dahsyat, Bima dapat mengalahkan ular naga itu. Kemudian dia berjumpa dengan Dewa Ruci, manusia bertubuh kecil, yang rupanya mirip dengan dirinya, bermain-main seperti boneka bergerak-gerak. Dima mendapat pelajaran bahwa air hayat itu tidak lain ialah persatuan mistis dengan Yang Maha Tunggal (manunggaling kawula Gusti). Cara mencapainya dengan menjalani disiplin keruhanian yang keras, termasuk menundukkan hawa nafsu dan menycui dirinya. Bila itu dicapai ia akan mendapatkan hidup yang kekal di dalam Yang Maha Esa (baqa’). Dalam teks SC pencapaian ruhani (maqam) ini disebut “Weruh sangkan paraning dumadi” (mengetahui asal-usul dan tujuan segala kejadian).&lt;br /&gt;Dalam Serat Cabolek episode ini dituturkan oleh Ketib Anom di hadapan peserta musyawarah di kraton Kartasura, yang diadakan untuk mengadili Haji Mutamakin, seorang pembangkang dan penganut paham heterodoks seperti Syeh Siti Jenar. Dalam bagian inilah uraian tentang filsafat mistik Jawa diuraikan Episode ini dimulai pada pupuh VIII:12:&lt;br /&gt;Lantas dia – Ketib Anom – meminta/Agar diperkenankan melanjutkan pembicaraan/Dan uraian tentang Serat Bima Suci/Dan mulai dengan kisah/Ketika Bima dititah/Masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci)&lt;br /&gt;Kata Dewa Ruci “Ayo Werkudara, cepat/Masuk ke dalam perutku!/Werkudara tertawa/Lantas bertanya perlahan,/“Tubuh paduka kecil,/Sedang saya tinggi besar/ Seperti gunung/Dari mana saya harus masuk, /Sedangkan jari saya saja sukar masuk!”)&lt;br /&gt;Kata Dewa Ruci “Ayo Werkudara, cepat/Masuk ke dalam perutku!/Werkudara tertawa/Lantas bertanya perlahan,/“Tubuh paduka kecil,/Sedang saya tinggi besar/ Seperti gunung/Dari mana saya harus masuk, /Sedangkan jari saya saja sukar masuk!”)&lt;br /&gt;7. Analisis Simbol Laut dan Air Hayat&lt;br /&gt;Pencitraan Dewa Ruci sebagai kembaran Bima memperlihatkan bahwa dalam psikologi sufi dan mistik Jawa dikenal dua jenis ‘diri’ (self), yaitu ‘diri jasmani’ yang direpresentasikan oleh Bima dan ‘diri ruhani’ (higher self) yang direpresentasikan oleh Dewa Ruci. Dalam tasawuf, ‘diri jasmani’ disebut nafs atau hawa nafsu. Karena menempati alam bawah (alam nasut) ia disebut lower self dalam bahasa Inggeris. Perjalanan ruhani seorang penuntut ilmu suluk, dilukiskan oleh Rumi sebagai ‘perjalanan dari ‘diri’ ke Diri’, yaitu dari ‘diri palsu’ ke ‘Diri Hakiki’. (Happold 1981:58-61). ‘Diri ruhani’ disebut juga sebagai badan halus, tempatnya dalam tatanan wujud ialah di alam keruhanian (alam jabarut). Sedangkan ‘diri jasmani’ disebut badan kasar.&lt;br /&gt;Perjalanan mencapai ‘diri ruhani’ hanya bisa dilakukan oleh Bima dengan menyelam ke dalam lautan untuk mendapatkan air hayat. Dalam wacana sastra sufi, khususnya dalam filsafat mistik Ibn `Arabi, simbol lautan digunakan untuk menggambarkan ketakterhinggaan dan keluasan wujud Tuhan. Sastrawan sufi Melayu yang banyak menggunakan simbol ini ialah Hamzah Fansuri. Misalnya seperti dalam syairnya Bahr al-`Ulya atau Lautan Wujud Yang Maha Tinggi. Dalam syair itu Wujud Mutlak dikiaskan sebagai Bahr al-`ulya (Lautan Maha Tinggi). Ia merupakan asal-usul segala kejadian, sebab salah satu dari tujuh sifat-Nya yang utama ialah Maha Hidup (al-hayy) yang memberikan hidup kepada segala sesuatu. Sifatnya yang lain ialah maha memiliki ilmu (`ilm) dan karenanya Maha Tahu (`alim) (Abdul Hadi W. M. 2001:395). Tema serupa diuraikan dalam Dewa Ruci ketika Bima berjumpa Dewa Ruci, guru spiritualnya itu.&lt;br /&gt;‘Air Hayat’ adalah simbol bawahan dari Lautan. Simbol ini dikenal di Nusantara sejak masuknya agama Islam bersama tasawufnya. Dalam teks-teks Jawa Kuna, yang mewakili teks-teks paling tua di Nusantara, pemakaian simbol seperti itu tidak dijumpai. Tamsil air hayat dalam sastra Nusantara dijumpai untuk pertama kali dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain yang teks Melayunya telah ditulis pada abad ke-15 M (Braginsky 1998); kemudian dalam teks Jawa dan Melayu abad ke-16 M seperti Serat Syekh Malaya Sunan Kalijaga dan Syair Tauhid dan Makrifat Hamzah Fansuri.&lt;br /&gt;Kata ‘air hayat’ adalah terjemahan dari kata Arab ma` al-hayat. Simbol atau tamsil ini digunakan untuk menyebut pengetahuan mistikal (ma`rifa) yang mengantarkan seseorang mencapai persatuan mistis dengan Tuhan (pamoring kawula gusti). Dengan bekal pengetahuan itu seseorang akan fana`(luluh dalam sifat ketuhanan) dan baqa’ (kekal dalam Yang Maha Abadi). Judul risalah tasawuf Nuruddin al-Raniri, ulama Aceh abad ke-17 M, memakai kata-kata itu untuk menerangkan pentingnya ilmu haqiqat atau makrifat.&lt;br /&gt;Dalam syair Hamzah Fansuri, makrifat ditamsilkan sebagai air hayat, sebab pengetahuan inilah yang dapat menghidupkan jiwa yang mati dan yang dengan itu menyebabkan seseorang mengenal kebenaran hakiki dan mencapai persatuan mistikal dengan Tuhannya. Dengan demikian ia merasakan hidup kekal (baqa) bersama Tuhan. Dalam syairnya Hamzah Fansuri antara lain menyatakan:&lt;br /&gt;bersambung ke2&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581782102481241296-3431746789386025424?l=jalantrabas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalantrabas.blogspot.com/feeds/3431746789386025424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581782102481241296&amp;postID=3431746789386025424' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3431746789386025424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581782102481241296/posts/default/3431746789386025424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalantrabas.blogspot.com/2008/05/islam-dan-mistik-sufisme-jawa-1.html' title='islam dan mistik sufisme jawa 1'/><author><name>Jalan trabas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09475482611092713240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TpmKkXVxyc8/SscQfJu6IvI/AAAAAAAAAQw/L2vsZuZ1n9A/S220/jack+kalijaga+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581782102481241296.post-6711603327898361604</id><published>2008-03-30T19:53:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T19:35:56.777-07:00</updated><title type='text'>Pertemuan Guru besar Sejati</title><content type='html'>&lt;h3&gt;&lt;center&gt;PERTEMUAN DENGAN KHIDR&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Khidr adalah 'pemandu gaib' kaum Sufi, dan ia dipercaya sebagai Penuntun tanpa nama bagi Musa a.s. di dalam al-Qur'an. 'Orang Berbaju Hijau' ini sering dihubungkan sebagai 'Orang Yahudi' dan dalam legenda disamakan dengan tokoh-tokoh seperti St. George dan Elijah. Dongeng ini --atau laporan-- adalah karakteristik dari fungsi supranatural yang dihubungkan pada Khidr, baik dalam cerita rakyat maupun diantara guru-guru darwis.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Suatu ketika, saat berdiri di tepi sungai Oxus, aku melihat seorang pria tercebur. Pria lainnya, berbusana darwis, berlari menolongnya, tetapi dia sendiri terseret ke dalam air. Tiba-tiba aku melihat pria ketiga, berpakaian jubah berkilauan, hijau bercahaya, melemparkan diri ke air. Tetapi saat ia menyentuh permukaan air, bentuknya tampak berubah; ia bukan lagi seorang manusia, melainkan sebatang kayu. Dua orang lain berusaha meraihnya, dan bersama-sama mereka mencapai tepi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Sulit untuk mempercayai apa yang telah kulihat, aku mengikuti dari kejauhan, menggunakan semak-semak yang tumbuh di sana sebagai pelindung. Dua pria menarik diri terengah-engah di tepian sungai; batang kayu tersebut terus hanyut. Aku mengawasinya, sampai jauh lepas dari pandangan, dan tersangkut di pinggir, dan pria berjubah hijau, basah kuyup, menarik diri ke pinggir. Air yang membasahinya mulai menetes; sebelum aku mencapainya, ia sudah hampir kering.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Aku menjatuhkan diri di depannya, menangis: "Anda pasti Khidr yang Hadir, Orang Berjubah Hijau, Guru Para Suci. Berkati aku, agar dapat mencapai." Aku takut menyentuh jubahnya, karena tampak menjadi seperti api hijau. Dia berkata; "Engkau sudah terlalu banyak melihat. Mengertilah bahwa aku datang dari dunia lain, dan aku tanpa mereka ketahui melindungi orang-orang yang telah melakukan pelayanan. Engkau mungkin murid Sayed Imdadullah, tetapi engkau belum cukup dewasa untuk mengetahui apa yang kami lakukan demi Allah."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ketika aku mendongak, ia sudah lenyap, dan yang dapat aku dengar adalah suara gemuruh di udara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Setelah kembali dari Khotan, aku melihat orang yang sama. Ia tengah berbaring di atas kasur jerami di sebuah tempat peristirahatan dekat Peshawar. aku berkata pada diriku sendiri, "Bila waktu lalu aku masih mentah, maka sekarang sudah dewasa."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Aku memegang jubahnya, yang ternyata sangat biasa --kendati di baliknya aku melihat sesuatu kilau hijau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;"Anda pasti Khidr," kataku padanya, "Tetapi aku harus tahu bagaimana orang yang tampak biasa seperti Anda menunjukkan keajaiban-keajaiban ... dan mengapa. Jelaskan keahlian Anda padaku, agar aku dapat melakukannya pula."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ia tertawa, "Engkau tidak sabar, temanku! Waktu lalu engkau terlalu keras kepala --dan sekarang masih keras kepala. Pergilah, ceritakan pada siapa pun yang engkau jumpai bahwa engkau telah bertemu Khidr Ilyas; mereka akan memasukkanmu ke rumah sakit jiwa, dan semakin bersikeras bahwa engkau benar, mereka akan semakin mengikatmu."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Kemudian ia mengambil sebuah batu kecil. Aku menatapnya -- dan mendapatkan diriku lumpuh berubah seperti batu, sampai ia mengambil tas-pelananya dan berlalu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ketika aku ceritakan kisah ini, orang-orang tertawa atau menganggapku tukang cerita, dan memberiku hadiah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;HASAN AL-BASHRI&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ketika ia ditanya: "Apakah Islam, dan siapakah ummat Muslim?" ia menjawab: "Islam ada di dalam buku, dan muslim ada di pusara."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;APA YANG SESUNGGUHNYA DIKETAHUI MANUSIA&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Manusia menganggap, secara khayal, bahwa mereka mengetahui Kebenaran dan pemahaman Ilahiyah. Kenyataannya, mereka tidak tahu apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;(Al-Jurjani)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;SUFYAN ATS-TSAURI&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Seorang pria dalam mimpinya berjumpa dengan Sufi yang dihormati karena perbuatan baiknya. "Aku diberi penghargaan karena menyingkirkan kulit buah di jalan, yang seseorang dapat terpeleset olehnya," ujar si Sufi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ketika hal ini dilaporkan kepada Sufyan ats-Tsauri, berkata; "Betapa beruntungnya ia tidak dihukum untuk setiap peristiwa dimana ia beramal dan merasa senang atas perbuatan itu."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;(Al-Ghazali)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;DOSA&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Dosa menentang Allah adalah satu hal; tetapi dosa pada sesama manusia adalah lebih buruk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;(Sufyan ats-Tsauri)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;MANUSIA HARUS DALAM KEADAAN BENAR&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Uwais al-Qarni berkata pada beberapa pengunjung:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;"Apakah engkau mencari Allah? Jika demikian, mengapa engkau datang kepadaku?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Para pengunjung hanya berpikir bahwa mereka memang mencari Allah. Kehadiran mereka dan emanasi (pancaran) mereka terbuka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;"Jika engkau tidak demikian," lanjut Uwais, "kendaraan apa yang mengangkut dirimu denganku?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Karena mereka para cendekiawan dan emosionalis, mereka tidak dapat memahaminya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;BAYAZID AL-BISTHAMI&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Seorang Majusi pemuja api ditanya, mengapa ia tidak menjadi Muslim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ia menjawab:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;"Jika maksudmu bahwa aku harus menjadi orang sebaik Bayazid, aku tidak berani. Bagaimanapun, jika maksudmu aku harus menjadi orang sejelek engkau, aku tidak sudi."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;KELAS&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Kelas-kelas yang lebih rendah pada masyarakat adalah mereka yang mempergemuk diri sendiri dalam kehidupan atas nama agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;(Ibnu al-Mubarak)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;NAMA-NAMA&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Engkau menyebutku orang Kristen, untuk membuatku marah dan membuat dirimu sendiri merasa senang. Lainnya menyebut diri mereka orang Kristen, untuk membuat diri mereka sendiri merasakan emosi yang lain. Baiklah jika kita berurusan dengan kata-kata yang menyenangkan, aku akan menyebutmu penyembah setan. Itu akan memberimu suatu agitasi yang akan menyenangkan dirimu untuk beberapa waktu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;(Zabardast Khan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;BAYAZID AL-BISTHAMI&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Seorang pria religius yang tulus, murid Bayazid, suatu hari berkata padanya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;"Aku terkejut bahwa seseorang yang menerima Allah tidak harus hadir di masjid untuk shalat."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Bayazid menjawab:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;"Aku, di lain pihak, terkejut bahwa siapa pun yang mengetahui Allah dapat memuja dan tidak kehilangan akal sehatnya, menjalankan shalatnya yang tidak sempurna."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;MELAYANI&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Aku tidak akan melayani Allah seperti seorang buruh, dalam pengharapan akan upahku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;(Rabi'ah al-Adawiyah)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;MENJADI SEORANG BERIMAN&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Engkau mungkin melihat dirimu sendiri menjadi seorang beriman, bahkan bila engkau adalah penganut kemusyrikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Tetapi engkau tidak dapat benar-benar percaya pada sesuatu sampai engkau menyadari proses di mana engkau berada pada posisimu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Sebelum engkau melakukan ini, engkau harus siap pada dalil (postulat), bahwa semua keyakinanmu mungkin salah, bahwa apa yang engkau anggap keyakinan mungkin hanya sejenis prasangka yang disebabkan oleh sekitarmu --termasuk warisan leluhurmu, yang engkau mungkin memiliki keterikatan perasaan padanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Keyakinan sejati milik kerajaan pengetahuan sejati. Hingga engkau memiliki pengetahuan, keyakinan adalah gabungan opini semata, bagaimanapun hal itu mungkin tampak bagimu. Gabungan opini melayani kehidupan biasa. Keyakinan hakiki dimungkinkan oleh pembelajaran yang lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;(Diatributkan pada Ali)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PANDAI BESI DARI NISYAPUR&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Abu Hafsh sang pandai besi dari Nisyapur menunjukkan tanda-tanda anugerah yang aneh melalui kekuatan perhatiannya, dari awal ia menjadi murid. Ia diterima sebagai penganut Syeikh Bawardi, dan kembali ke bengkel melanjutkan kerjanya. Ketika pikirannya terpusat, ia menarik sepotong besi membara dari tempaan dengan tangan telanjang. Kendati ia tidak merasa panas, pembantunya pingsan melihat pemandangan yang belum pernah terjadi ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ketika ia menjadi Syeikh Agung kaum Sufi di Khurasan, tercatat bahwa ia tidak berbicara bahasa Arab dan menggunakan penerjemah ketika berbicara dengan pengunjung Arab. Namun, ketika ia mengunjungi Sufi agung di Baghdad, ia berbicara dengan bahasa demikian bagus sehingga kemurnian bicaranya tidak tertandingi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Ketika Syeikh Baghdad memintanya untuk mengatakan pada mereka arti kemurahan hati, ia menjawab, "Aku akan mendengar penjelasan yang lain lebih dulu."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Guru al-Junaid kemudian berkata, "Kemurahan hati adalah tidak menyamakan kemurahan hati dengan dirimu sendiri, dan tidak mempertimbangkannya."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Abu Hafsh berkomentar, "Perkataan Syeikh sangat bagus. Tetapi aku merasa bahwa kemurahan hati berarti melakukan keadilan tanpa menghendaki keadilan."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Al-Junaid berkata pada yang lain, "Berdirilah kalian semua! Karena Abu Hafsh melebihi Adham dan seluruh bangsanya."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Abu Hafsh pernah berkata, "Aku meninggalkan kerja, dan kemudian kembali. Lalu kerja meninggalkanku, dan aku tidak pernah kembali."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;(Hujwiri: The Revelation of the Veiled)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;ASY-SYIBLI DAN AL-JUNAID&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/h3&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Abu Bakr ibnu Dulaf ibnu Jahdar ('asy-Syibli'), dan Abul Qasim al-Junaid, si 'Merak Kaum Terpelajar', adalah dua guru Sufi awal. Mereka berdua hidup dan mengajar lebih dari seribu tahun yang lalu. Kisah tentang masa belajar asy-Syibli di bawah al-Junaid, diberikan di sini, diambil dari The Revelation of the Veiled, salah satu dari buku-buku penting dalam bidangnya. al-Junaid sendiri memperoleh spiritualitasnya melalui pengaruh Ibrahim ibnu Adham ('Ibnu Adhem' dalam puisi Leigh Hunt), ia sebagaimana Budha, adalah seorang pangeran yang turun tahta mengikuti tarekat (Jalan), dan meninggal pada abad kedelapan.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Asy-Syibli, anggota istana yang angkuh, pergi ke al-Junaid, mencari pengetahuan sejati. Katanya, "Aku dengar bahwa engkau mempunyai karunia pengetahuan. Berikan, atau juallah padaku."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Al-Junaid berkata, "Aku tidak dapat menjualnya padamu, karena engkau tidak mempunyai harganya. Aku tidak memberikan padamu, karena yang akan kau miliki terlalu murah. Engkau harus membenamkan diri ke dalam air, seperti aku, supaya memperoleh mutiara."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;"Apa yang harus kulakukan?" tanya asy-Syibli.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;"Pergilah dan jadila
